Internet Perbatasan & AI Perbankan untuk Petani 3T

Pertanian Cerdas dengan AI: Solusi untuk Petani Indonesia••By 3L3C

Internet BAKTI di Entikong bukan cuma mempercepat ekspor. Ini fondasi perbankan digital berbasis AI dan pertanian cerdas bagi petani di perbatasan dan daerah 3T.

internet perbatasanBAKTIAI perbankanpertanian cerdasinklusi keuanganwilayah 3TPLBN Entikong
Share:

Featured image for Internet Perbatasan & AI Perbankan untuk Petani 3T

Internet di Entikong: Dari Pos Lintas Batas ke Dompet Digital Petani

Ekspor lewat PLBN Entikong tembus Rp82,3 miliar hanya dalam 11 bulan 2025. Angkanya naik dari Rp72,9 miliar di 2024. Bukan karena gedung baru yang megah, tapi karena satu hal: koneksi internet yang stabil.

Di balik lonjakan itu ada peran BAKTI Komdigi yang membangun jaringan di perbatasan RI–Malaysia. Tiga BTS di Entikong (total 26 BTS di Kabupaten Sanggau) mengubah pos perbatasan dari sekadar jalur keluar-masuk barang menjadi gerbang ekonomi digital.

Ini menarik bukan cuma buat dunia logistik dan bea cukai. Buat bank, fintech, dan petani di wilayah 3T, internet seperti ini adalah pondasi untuk perbankan digital berbasis AI dan pertanian cerdas. Tanpa sinyal, jangan bicara AI, super-app, apalagi smart farming. Dengan sinyal, semuanya tiba-tiba mungkin.

Artikel ini mengurai bagaimana konektivitas di Entikong mengubah cara kerja di lapangan, lalu menghubungkannya ke dua hal penting: inklusi keuangan digital dan pertanian cerdas dengan AI di daerah perbatasan dan 3T.


Apa yang Berubah di Entikong Setelah Ada Internet BAKTI?

Intinya: Entikong jadi contoh mini bagaimana internet mempersingkat rantai birokrasi dan menaikkan angka ekspor.

BAKTI membangun 3 BTS di kawasan Entikong sebagai bagian dari 26 BTS di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dampaknya langsung terasa di PLBN Entikong, simpul penting perlintasan orang dan barang.

"Di sini semua pakai aplikasi data internet. Pemeriksaan orang, kendaraan, paspor, sampai layanan ekspor," kata Kepala Bea Cukai Entikong, Rudi Endro Pratikto.

Hampir semua proses di PLBN kini:

  • Berjalan lewat aplikasi berbasis data
  • Terhubung antarinstansi (bea cukai, imigrasi, karantina, pusat)
  • Dipantau secara real time dari pusat

Tanpa koneksi stabil, yang terjadi sederhana: antrean mengular, data telat masuk, pengawasan longgar. Dengan koneksi stabil, layanan jadi:

  • Lebih cepat: proses pemeriksaan dan ekspor lebih singkat
  • Lebih tepat: data otomatis, human error berkurang
  • Lebih transparan: data ekspor terekam dan bisa diakses lintas instansi

Lonjakan Ekspor: Angka yang Bicara

  • Nilai ekspor lewat PLBN Entikong 2024: Rp72,9 miliar
  • 11 bulan pertama 2025: Rp82,3 miliar

Naik hampir Rp10 miliar bahkan sebelum tahun buku selesai.

Faktor pendorongnya?

  • Proses izin dan dokumen kepabeanan lebih cepat karena serba online
  • Data ekspor terbuka sehingga pelaku usaha lokal bisa melihat peluang pasar
  • Pengawasan makin ketat, mengurangi praktik nakal yang merugikan negara dan pelaku usaha jujur

Buat pelaku usaha di Sanggau, data ekspor yang rapi ini jadi inspirasi:

"Ini bisa menjadi peluang bagi pengekspor untuk berbisnis di Malaysia," kata Rudi.

Kalimat ini penting. Artinya, begitu data digital terbuka, pelaku baru—termasuk petani skala kecil dan koperasi—punya pintu masuk ke rantai nilai ekspor.


Dari Data Ekspor ke Dompet Digital: Fondasi AI di Perbankan

Kalau di PLBN internet bisa memangkas waktu dan meningkatkan transparansi, logika yang sama berlaku di perbankan: koneksi adalah bahan bakar utama perbankan digital berbasis AI.

Di perbatasan dan daerah 3T, masalah klasik perbankan selalu sama:

  • Jarak jauh ke kantor cabang
  • Minim riwayat transaksi formal
  • Mayoritas pakai tunai

Dengan internet yang layak, tiga masalah itu mulai runtuh satu per satu.

1. Mobile banking & e-wallet: Bank ada di kantong, bukan di kota

Begitu sinyal stabil hadir di desa perbatasan atau sentra pertanian, layanan seperti:

  • mobile banking
  • dompet digital
  • QRIS

bukan lagi fitur kota, tapi jadi alat harian. Petani bisa:

  • terima pembayaran hasil panen via transfer atau QR
  • bayar pupuk, benih, dan sewa alat secara digital
  • kirim uang ke keluarga tanpa perlu naik motor berjam-jam ke kota

Ini membuka jalan untuk sesuatu yang lebih canggih: AI dalam perbankan.

2. Data transaksi: Bahan baku AI untuk kredit petani

AI di perbankan butuh data perilaku finansial. Di kota, data ini datang dari kartu kredit, belanja online, cicilan, dan sebagainya. Di desa perbatasan? Hampir nol—kalau semuanya masih tunai.

Begitu petani dan pedagang kecil mulai:

  • terima pembayaran secara digital
  • mencicil modal lewat aplikasi
  • menabung di rekening yang aktif

bank punya dataset baru. Dari sini, AI bisa:

  • menyusun profil risiko kredit petani
  • memberi skor kredit meski petani tidak punya agunan formal
  • memprediksi kemampuan bayar berdasarkan pola panen dan harga komoditas

Hasilnya: kredit mikro yang lebih adil dan cepat buat petani dan UMKM di perbatasan.

3. Chatbot & asisten virtual berbahasa lokal

Untuk wilayah seperti Entikong dan Sanggau, layanan bank jarak jauh butuh pendekatan kultural.

Dengan internet yang stabil, bank bisa menghadirkan:

  • chatbot berbasis AI di WhatsApp atau aplikasi perbankan
  • dukungan bahasa Indonesia non-formal, bahkan ke depan bisa dialek lokal
  • panduan step-by-step: buka rekening, cek saldo, ajukan kredit, semua lewat chat

Buat petani yang baru pertama kali pakai aplikasi keuangan, asisten virtual yang sabar dan aktif 24 jam jauh lebih ramah dibanding brosur tebal yang sulit dipahami.

4. Deteksi fraud & keamanan transaksi di daerah rawan

Perbatasan sering identik dengan risiko:

  • perdagangan ilegal
  • pencucian uang
  • penipuan lintas negara

AI di perbankan punya peran vital:

  • mendeteksi pola transaksi mencurigakan secara real time
  • memblokir transaksi berisiko otomatis
  • memberi peringatan ke nasabah lewat notifikasi

Semua ini hanya mungkin kalau jaringan internet di kawasan seperti Entikong stabil dan andal. Di sinilah konektivitas BAKTI bukan cuma soal akses, tapi juga soal keamanan sistem keuangan.


Mengaitkan dengan Pertanian Cerdas: Petani 3T Butuh Sinyal Dulu, Baru AI

Dalam seri “Pertanian Cerdas dengan AI: Solusi untuk Petani Indonesia”, ada satu pola yang selalu muncul: tanpa konektivitas, AI hanya tinggal wacana.

Apa pun bentuk smart farming—dari prediksi panen, deteksi hama lewat kamera, sampai optimasi irigasi—semuanya butuh dua hal:

  1. Data lapangan (cuaca, tanah, foto tanaman, histori panen)
  2. Jalur kirim data (internet)

Entikong memberi gambaran yang sangat praktis bagaimana hal ini bisa berjalan.

Contoh skenario: Petani lada di Entikong

Bayangkan kelompok petani lada di Kabupaten Sanggau yang:

  • lahannya dekat perbatasan, akses fisik ke kota sulit
  • harga sering dipermainkan tengkulak karena minim informasi

Dengan internet BAKTI + layanan perbankan digital berbasis AI, alurnya bisa seperti ini:

  1. Akses informasi harga
    Petani cek harga lada di Pontianak, Jakarta, bahkan Malaysia via aplikasi. Mereka tahu posisi tawar, tidak lagi gelap soal harga.

  2. Pencatatan hasil panen digital
    Melalui aplikasi pertanian, setiap panen tercatat: jumlah, kualitas, tanggal. Data ini tersimpan di cloud.

  3. Pembayaran non-tunai
    Pembeli (misalnya eksportir di Entikong) bayar via transfer atau QRIS ke rekening petani atau koperasi.

  4. AI perbankan membaca pola
    Sistem bank melihat:

    • pola panen (musiman tapi konsisten)
    • nilai transaksi (misal rata-rata Rp8–10 juta per musim)
    • tingkat pengembalian pinjaman sebelumnya

    Dari situ, AI bisa memberi skor kredit yang cukup akurat meski petani tidak punya agunan formal.

  5. Kredit usaha tani lebih tepat
    Bank menawarkan kredit modal tanam berikutnya dengan limit dan tenor yang disesuaikan siklus panen lada.

  6. AI pertanian bantu teknis
    Foto daun yang menguning dikirim ke aplikasi pertanian. Model AI mendiagnosis indikasi penyakit atau kekurangan nutrisi dan menyarankan tindakan.

Seluruh rantai di atas runtuh kalau satu titik hilang: koneksi internet.


Langkah Nyata untuk Bank, Fintech, dan Pemerintah Daerah

Kalau Entikong bisa, daerah perbatasan dan 3T lain seharusnya menyusul. Tapi ini butuh kerja bareng.

1. Bank & fintech: Prioritaskan wilayah yang sudah dapat BTS BAKTI

Banyak institusi keuangan masih fokus pada kota besar padahal:

  • Jaringan di banyak wilayah 3T sudah ada berkat BAKTI
  • Kompetisi belum seketat di kota
  • Potensi volume transaksi dari pertanian sangat besar

Beberapa langkah yang masuk akal:

  • Rancang produk kredit pertanian berbasis data transaksi dan hasil panen, bukan hanya agunan tanah
  • Bangun chatbot AI ringan yang tetap nyaman dipakai di jaringan 3G/4G
  • Gandeng kios tani dan koperasi sebagai agen laku pandai yang membantu onboarding digital

2. Pemerintah daerah: Jadikan data ekspor & pertanian sebagai aset publik

Seperti di Entikong, saat data ekspor terbuka, pelaku usaha baru berani masuk.

Hal serupa bisa dilakukan untuk:

  • data volume panen komoditas unggulan
  • harga jual rata-rata di beberapa pasar
  • data produktivitas desa

Semakin rapi data, semakin mudah AI—baik di perbankan maupun pertanian—memberi rekomendasi yang tajam.

3. Pendampingan literasi digital & keuangan

Internet tanpa literasi bisa memicu masalah baru: penipuan online, pinjol ilegal, sampai judi online. Di sisi lain, literasi yang baik bisa mengubah internet jadi alat naik kelas.

Program yang realistis:

  • pelatihan singkat di balai desa: buka rekening digital, cek saldo, kenali tanda penipuan
  • demo langsung transaksi QRIS di pasar lokal
  • pelatihan untuk penyuluh pertanian agar bisa mengenalkan aplikasi AI pertanian sederhana ke petani

Saya pribadi melihat pola yang sama di banyak daerah: begitu satu-dua orang desa paham dan merasa diuntungkan, adopsi digital menyebar jauh lebih cepat.


Mengapa Ini Penting untuk Masa Depan Pertanian Indonesia

Cerita Entikong bukan sekadar soal PLBN yang jadi lebih modern. Ini gambaran kecil bagaimana konektivitas, perbankan digital berbasis AI, dan pertanian cerdas akan saling menguatkan beberapa tahun ke depan.

  • Internet BAKTI di perbatasan membuka akses layanan publik digital yang rapi dan cepat
  • Data ekspor yang terdigitalisasi menunjukkan bagaimana data bisa mengundang peluang bisnis baru
  • Dengan pola yang sama, petani di wilayah 3T bisa masuk ke ekosistem perbankan digital dan smart farming—asal sinyalnya ada

Kalau kita serius ingin petani Indonesia naik kelas, terutama di kawasan 3T dan perbatasan, urutannya cukup jelas:

  1. Bangun konektivitas (BTS, jaringan)
  2. Dorong transaksi digital dan pencatatan data
  3. Kembangkan AI perbankan dan AI pertanian di atas data tersebut

Entikong baru langkah awal. Pertanyaannya sekarang: wilayah mana berikutnya yang siap menyusul, dan siapa yang berani menjadi penggerak utama—bank, fintech, atau pemerintah daerah?