BAKTI Kominfo, AI Banking & Pertanian Cerdas 3T

Pertanian Cerdas dengan AI: Solusi untuk Petani Indonesia••By 3L3C

BAKTI Komdigi membangun fondasi konektivitas 3T yang jadi kunci lahirnya AI banking dan pertanian cerdas untuk petani Indonesia. Ini dampak praktisnya.

BAKTI KomdigiAI bankingpertanian cerdasinklusi keuanganwilayah 3Tdigital banking desa
Share:

Featured image for BAKTI Kominfo, AI Banking & Pertanian Cerdas 3T

BAKTI Komdigi, AI Perbankan & Pertanian Cerdas di Daerah 3T

Mayoritas petani kecil di Indonesia masih mengandalkan uang tunai, buku catatan kusut, dan informasi harga dari mulut ke mulut. Di sisi lain, bank bicara soal AI, digital banking, dan scoring otomatis. Jurangnya lebar banget.

Di sinilah peran pemerataan konektivitas digital jadi penentu. Tanpa sinyal yang stabil dan terjangkau, mimpi AI banking dan pertanian cerdas cuma berhenti di slide presentasi. Program BAKTI Komdigi yang disorot CNBC Indonesia hari ini (15/12/2025) sebenarnya sedang membangun fondasi yang menentukan masa depan keuangan digital dan pertanian di seluruh Nusantara.

Tulisan ini mengurai hubungan tiga hal yang sering dipisah-pisah: konektivitas BAKTI Komdigi, digital banking berbasis AI, dan pertanian cerdas di wilayah 3T. Kalau Anda pelaku perbankan, agrifinance, atau sedang mengembangkan solusi AI untuk petani, ini langsung menyentuh model bisnis Anda beberapa tahun ke depan.


Kenapa Konektivitas 3T Jadi Syarat Utama AI Perbankan

AI perbankan cuma sekuat data dan aksesnya. Pemerataan konektivitas membuat:

  1. Data petani dan UMKM desa bisa dikumpulkan secara real-time
  2. Layanan perbankan digital benar-benar bisa dipakai, bukan cuma di kota
  3. Model AI untuk kredit, asuransi, dan manajemen risiko jadi jauh lebih akurat

BAKTI Komdigi, lewat perluasan jaringan di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), sebenarnya sedang menyediakan “jalan tol datanya” dulu. Tanpa itu, aplikasi perbankan dan pertanian cerdas di ponsel petani nggak akan pernah aktif.

Konektivitas adalah “irigasi data” bagi AI. Tanpa aliran data, model secanggih apa pun jadi kering.

Di 2025, lompatan pemerataan konektivitas yang disorot CNBC Indonesia menunjukkan satu hal penting: momentum untuk menguji dan menggelar solusi AI perbankan dan pertanian cerdas di luar kota besar sudah datang. Bank dan fintech yang lambat membaca sinyal ini akan tertinggal.


Dari Sinyal ke Rupiah: Jalur Logis BAKTI → AI Banking → Petani

Cara paling gampang memahami peran BAKTI untuk ekosistem keuangan digital petani adalah melihat alurnya secara runtut:

  1. BAKTI bangun konektivitas di desa 3T
    Menara BTS, akses internet satelit, dan jaringan serat optik diperluas ke daerah yang dulu gelap sinyal.

  2. Warga mulai terbiasa dengan internet
    Anak sekolah memakai video pembelajaran, warga pakai chat dan media sosial, pelaku usaha mulai jualan lewat marketplace.

  3. Bank & fintech masuk lewat aplikasi digital
    Mulai dari pembukaan rekening tanpa buku tabungan, dompet digital, sampai kredit mikro lewat aplikasi.

  4. AI bekerja di belakang layar

    • Menilai kelayakan kredit dari pola transaksi
    • Mendeteksi risiko gagal bayar lebih awal
    • Menawarkan produk keuangan yang lebih relevan (asuransi gagal panen, tabungan musiman, dsb.)

Article image 2

  1. Petani merasakan dampaknya di sawah
    Ketika kampanye “pertanian cerdas dengan AI” berjalan, petani bisa:
    • Dapat rekomendasi tanam dari aplikasi AI
    • Ajukan kredit input tani lewat smartphone
    • Terima pembayaran hasil panen langsung ke rekening atau e-wallet

Tanpa langkah nomor 1 (konektivitas BAKTI), langkah 2 sampai 5 berhenti total. Inilah alasan saya cukup keras berpendapat: bank yang serius dengan AI dan inklusi keuangan wajib memandang proyek BAKTI sebagai komponen inti strategi, bukan sekadar program pemerintah di berita.


AI Banking untuk Petani: Contoh Nyata di Lapangan

Begitu konektivitas sudah masuk, apa saja bentuk konkret AI perbankan dan pertanian cerdas yang relevan untuk petani di Indonesia?

1. Skoring Kredit Berbasis Data Pertanian

Model lama: petani sulit dapat kredit karena tak punya agunan, riwayat keuangan, dan dokumen formal.

Model baru dengan AI:

  • Bank menarik data dari:
    • Riwayat pembelian pupuk & benih di merchant lokal
    • Transaksi hasil panen yang masuk ke rekening atau e-wallet
    • Prediksi produksi lahan dari model AI pertanian (citra satelit, kondisi cuaca, pola tanam)
  • AI lalu membangun profil risiko kredit tiap petani, walau mereka belum pernah pinjam bank sebelumnya.

Hasilnya:

  • Petani 3T dapat akses KUR digital khusus pertanian dengan bunga masuk akal
  • Proses persetujuan lebih cepat karena sebagian besar analisis dilakukan otomatis oleh AI

2. Asuransi Usaha Tani Berbasis Cuaca

Dengan konektivitas, sensor cuaca lokal dan data satelit bisa diolah oleh AI untuk:

  • Mengukur risiko banjir, kekeringan, atau gagal panen
  • Menentukan premi asuransi yang relevan per desa, bukan rata nasional
  • Memicu klaim otomatis jika indikator bencana melewati ambang batas

Bagi bank dan mitra asuransi, ini mengurangi risiko kredit macet di sektor pertanian. Bagi petani, ini jadi jaring pengaman saat alam tidak bersahabat.

3. Asisten Finansial & Agronomi di Genggaman

Bayangkan petani di Sabu atau Entikong yang baru punya sinyal stabil berkat BAKTI. Di ponsel mereka bisa ada satu aplikasi yang:

  • Memberi rekomendasi jenis varietas yang cocok musim ini
  • Mengingatkan jadwal pemupukan dan irigasi
  • Menghitung kebutuhan modal dan langsung menghubungkan ke produk kredit bank
  • Mengedukasi soal tabungan, cicilan alat tani, hingga rencana pensiun

Article image 3

Semua itu digerakkan oleh AI multibahasa yang bisa berinteraksi via suara (karena tidak semua nyaman mengetik). Lagi-lagi, tanpa jaringan yang stabil, pengalaman seperti ini mustahil.


Tantangan Nyata: Infrastruktur Saja Nggak Cukup

Seberapa kuat pun peran BAKTI memperluas konektivitas, ekosistem AI perbankan dan pertanian cerdas tetap menghadapi beberapa tantangan besar.

1. Literasi Digital & Keuangan di Desa

Banyak petani yang baru pertama kali memegang smartphone. Kalau bank hanya lempar aplikasi kompleks penuh istilah teknis, tingkat adopsi pasti rendah.

Beberapa hal yang menurut saya wajib dilakukan:

  • Desain aplikasi ultra-sederhana: ikon besar, bahasa lokal, panduan suara
  • Pendampingan lapangan: kolaborasi dengan penyuluh pertanian, koperasi, dan BUMDes
  • Edukasi berbasis kasus nyata: bukan sekadar “cara pakai aplikasi”, tapi skenario sehari-hari, misalnya:
    • Cara bayar pupuk pakai e-wallet
    • Cara cek saldo hasil panen
    • Cara ajukan kredit bibit tanpa harus ke kantor cabang

2. Keberlanjutan Model Bisnis Bank di 3T

Wilayah 3T sering dianggap tidak menarik secara komersial: jarang penduduk, penghasilan rendah, dan biaya operasional tinggi. Di sini, AI membantu menekan biaya dan risiko, tapi bank tetap perlu strategi cerdas:

  • Menggabungkan layanan perbankan, pertanian, dan sosial dalam satu platform
  • Bekerja sama dengan:
    • Offtaker hasil pertanian
    • Distributor input tani
    • Pemerintah daerah dan BUMDes
  • Memakai model kemitraan kluster: membiayai kelompok tani, bukan hanya individu.

3. Keamanan Data & Kepercayaan

AI banking bergantung pada data yang sangat sensitif. Di desa, sekali ada kasus saldo lenyap atau penipuan digital, kepercayaan bisa runtuh bertahun-tahun.

Beberapa prinsip penting:

  • Otentikasi dua faktor yang user-friendly (misalnya PIN + verifikasi SMS/suara)
  • Edukasi anti-scam dalam bahasa lokal: contoh pesan penipuan, cara melapor, dll.
  • Transparansi: petani harus paham data apa yang dipakai AI dan untuk apa.

Strategi Praktis untuk Bank & Startup di Era BAKTI

Buat lembaga keuangan dan startup AI yang ingin serius masuk ke pertanian cerdas dan inklusi keuangan di 3T, ini beberapa langkah yang menurut saya paling masuk akal.

Article image 4

1. Petakan Daerah BAKTI sebagai “Zona Prioritas AI”

Gunakan daftar wilayah cakupan BAKTI sebagai panduan prioritas ekspansi:

  • Tahap 1: desa dengan konektivitas kuat dan aktivitas ekonomi pertanian yang sudah tinggi
  • Tahap 2: desa dengan konektivitas baru, tapi ada potensi komoditas kuat (kopi, kakao, rumput laut, dsb.)

Jadikan ini semacam “peta panas” di peta ekspansi AI banking Anda.

2. Bangun Produk Bersama, Bukan Sendirian

AI pertanian dan AI banking sebaiknya tidak berjalan terpisah.

  • Startup pertanian cerdas bisa menyediakan data produksi dan risiko cuaca
  • Bank menyediakan produk keuangan yang menempel ke alur tanam-panen
  • BAKTI menyediakan fondasi konektivitas yang membuat semuanya jalan

Pendekatan kolaboratif seperti ini biasanya lebih cepat menemukan product–market fit daripada masing-masing jalan sendiri.

3. Ukur Dampak Bukan Hanya dari Profit

Untuk wilayah 3T, ukuran keberhasilan perlu diperluas:

  • Berapa petani yang berpindah dari tunai ke rekening?
  • Berapa desa yang mulai menggunakan AI untuk keputusan tanam?
  • Berapa banyak kredit usaha tani yang disalurkan tanpa agunan fisik berkat skoring AI?

Angka-angka ini bukan cuma bahan laporan CSR. Ini indikator seberapa kuat posisi Anda ketika pasar 3T nanti matang secara ekonomi.


Menyambut 2026: Saatnya Uji Coba Besar-besaran di Lapangan

Capaian BAKTI Komdigi sepanjang 2025 yang disorot CNBC Indonesia menunjukkan bahwa “batu pertama” sudah dipasang: konektivitas makin merata, termasuk di perbatasan dan pulau-pulau terpencil.

Ini momen yang pas untuk:

  • Bank menguji model AI perbankan mereka langsung di desa, bukan hanya di sandbox kota
  • Startup pertanian cerdas memperluas uji coba dari pilot kecil ke puluhan atau ratusan desa
  • Pemerintah daerah menjahit program pertanian, UMKM, dan digitalisasi layanan publik ke satu ekosistem

Buat saya, pertanyaan kuncinya sekarang bukan lagi “kapan konektivitas masuk desa?”, tapi:

Siapa yang paling cepat mengubah konektivitas hasil kerja BAKTI menjadi layanan AI perbankan dan pertanian cerdas yang benar-benar dipakai petani?

Kalau Anda bagian dari dunia perbankan, agritech, atau kebijakan publik, ini saat yang tepat untuk keluar dari ruang rapat dan turun ke desa-desa yang baru tersambung. Di sana, masa depan AI banking Indonesia sedang dimulai—dari sawah, kebun, dan tambak yang dulu bahkan sulit mengirim pesan singkat.