BAKTI Kominfo membuka jalan bagi AI perbankan dan pertanian cerdas di 2.500 desa terakhir. Begini cara konektivitas nasional mengubah keuangan dan sawah Indonesia.

BAKTI Kominfo, AI, & Bank Digital untuk Desa-desa RI
Pada 2026, pemerintah menargetkan 2.500 desa terakhir yang belum terhubung internet akhirnya online. Di atas kertas ini soal konektivitas. Di lapangan, ini soal siapa yang bisa mengakses layanan keuangan, pertanian cerdas, dan peluang ekonomi baru – atau tertinggal.
Di seri “Pertanian Cerdas dengan AI: Solusi untuk Petani Indonesia”, konektivitas bukan aksesoris. Tanpa sinyal stabil, semua janji AI dalam perbankan, digital banking, dan pertanian cerdas cuma jadi presentasi PowerPoint. Di sinilah peran BAKTI Kominfo (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) jadi krusial: membangun “jalan tol digital” yang akan dipakai bank, startup agritech, sampai koperasi untuk melayani desa.
Tulisan ini membahas bagaimana program pemerataan konektivitas nasional – termasuk target 2.500 desa yang disorot CNBC Indonesia – menjadi fondasi AI perbankan dan pertanian cerdas. Bukan teori, tapi arah praktis: apa yang bisa dilakukan bank, BPR, BPRS, fintech, dan pelaku agribisnis begitu sinyal benar-benar masuk desa.
1. Konektivitas Nasional: Pondasi AI di Bank & Sawah
Konektivitas yang merata adalah syarat utama sebelum bicara AI di perbankan dan pertanian.
Tanpa internet yang stabil dan terjangkau:
- Aplikasi mobile banking tidak jalan.
- Chatbot AI tidak bisa menjawab nasabah.
- Sistem scoring kredit petani tidak bisa memproses data.
- Platform pertanian cerdas tidak bisa kirim rekomendasi ke petani.
Program BAKTI Kominfo selama ini fokus ke:
- Pembangunan BTS dan jaringan fiber di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
- Layanan satelit untuk lokasi yang sangat terpencil.
- Penyediaan akses internet di fasilitas publik: sekolah, puskesmas, kantor desa.
Target pemerintah 2026 untuk menghubungkan 2.500 desa yang belum terkoneksi bukan cuma angka proyek. Begitu desa terkoneksi, langsung terbuka tiga jalur besar:
- Akses layanan keuangan digital: rekening, pinjaman, asuransi, tabungan emas, dll.
- Akses solusi pertanian cerdas berbasis AI: prediksi cuaca, rekomendasi pupuk, deteksi hama.
- Akses pasar dan harga: petani bisa memantau harga komoditas, menjual langsung ke pembeli.
Tanpa internet, inklusi keuangan dan pertanian cerdas hanyalah wacana. Dengan internet, keduanya bisa menjadi standar layanan di desa.
2. Dari Sinyal ke Dompet: AI Digital Banking di Desa
Begitu sinyal masuk, bank dan fintech yang siap akan menang lebih dulu. AI menjadi mesin utama untuk melayani jutaan masyarakat underbanked secara efisien.
2.1. Chatbot & Asisten Virtual Berbahasa Lokal
AI memungkinkan bank menyediakan layanan 24/7 via WhatsApp, aplikasi, atau web:
- Jawab pertanyaan sederhana: saldo, mutasi, jadwal cicilan.
- Edukasi: cara buka rekening, beda deposito vs tabungan, risiko pinjaman.
- Dukungan bahasa lokal: Jawa, Sunda, Bugis, Batak, bahkan campuran bahasa daerah + Indonesia.
Bayangkan petani di desa baru terhubung internet:
- Dia tidak harus datang ke kantor cabang puluhan kilometer.
- Cukup chat asisten virtual bank, tanya soal KUR atau kredit usaha tani.
- Semua bisa dilakukan di luar jam kerja, bahkan malam hari setelah pulang dari sawah.
2.2. Scoring Kredit Petani Berbasis Data
AI di perbankan mengubah cara menilai kelayakan kredit. Bukan cuma berdasarkan slip gaji (yang jelas banyak petani tidak punya), tapi juga:
- Riwayat transaksi di warung mitra.
- Data pembelian pupuk dan benih.
- Pola pembayaran pinjaman sebelumnya di koperasi atau BPR.
- Data hasil panen dan pola produksi (yang bisa diambil dari aplikasi pertanian cerdas).
Dengan konektivitas internet:
- Data dari aplikasi pertanian cerdas mengalir ke sistem bank.
- AI membuat profil risiko lebih akurat untuk petani.
- Petani yang selama ini diangap “tidak bankable” punya jejak data untuk dinilai.
Hasilnya:
- Akses kredit lebih luas.
- Suku bunga bisa lebih adil karena risiko diukur lebih tepat.
- Bank mengurangi kredit macet karena keputusan lebih berbasis data.
2.3. Agen & Branchless Banking yang Lebih Cerdas
Model agen laku pandai dan branchless banking sudah terbukti efektif di desa. Dengan AI dan konektivitas yang lebih baik:
- Aplikasi agen bisa punya rekomendasi produk otomatis: misalnya menawarkan asuransi gagal panen saat musim hujan ekstrem.
- Sistem bisa mengidentifikasi pola transaksi tidak wajar untuk mencegah penipuan.
- Agen mendapatkan insight sederhana: “30 nasabah di desa ini belum punya tabungan pendidikan anak, tawarkan produk X.”
BAKTI yang memastikan jaringan sampai ke desa berarti agen tidak lagi tergantung koneksi lemah yang sering putus tiap transaksi.
3. Pertanian Cerdas + AI Banking: Satu Ekosistem
Pertanian cerdas dan AI perbankan sebenarnya saling menguatkan. Keduanya butuh konektivitas, dan datanya bisa saling melengkapi.
3.1. Skenario Nyata di Desa yang Baru Terkoneksi
Mari ambil satu contoh desa di wilayah 3T yang baru tersentuh program BAKTI tahun 2026.
- Petani mengunduh aplikasi pertanian cerdas dari smartphone murah yang dicicil.
- Aplikasi AI:
- Membaca cuaca lokal dan pola historis.
- Memberi rekomendasi jadwal tanam dan pemupukan.
- Meminta petani foto daun tanaman untuk deteksi dini hama.
- Data hasil panen, luas lahan, dan pola tanam terekam di aplikasi.
- Bank digital atau BPR syariah yang bekerja sama dengan platform tersebut:
- Menggunakan data itu untuk membuat profil risiko kredit petani.
- Menawarkan pinjaman musiman dengan tenor yang disesuaikan masa tanam–panen.
- Menyediakan asuransi cuaca berbasis indeks.
Semua ini hanya bisa berjalan kalau:
- Desa punya internet stabil (peran BAKTI Kominfo dan operator).
- Bank punya infrastruktur AI yang siap.
- Ada kemitraan antara bank – agritech – pemerintah daerah.
3.2. Data Lapangan Jadi Aset Keuangan
Dulu, data petani berhenti di kertas:
- Catatan panen di buku tulis.
- Catatan utang di buku warung atau koperasi.
Dengan pertanian cerdas dan konektivitas:
- Data itu berubah jadi aset digital.
- AI perbankan dapat melihat pola jangka panjang, bukan hanya potret sesaat saat pengajuan kredit.
- Bank lebih berani masuk ke sektor pertanian karena punya visibilitas lebih baik.
Semakin baik data pertanian, semakin kuat argumen bahwa petani layak dipercaya bank.
Ini sebabnya proyek seperti BAKTI tidak boleh dilihat terpisah dari strategi pembiayaan pertanian nasional.
4. Tantangan: Sinyal Bukan Satu-satunya Jawaban
Konektivitas penting, tapi tidak otomatis membuat AI perbankan & pertanian cerdas sukses. Ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi bersama.
4.1. Literasi Digital & Keuangan di Desa
Begitu internet masuk, masalah baru muncul:
- Banyak pengguna pertama kali memegang smartphone.
- Nasabah belum percaya transaksi tanpa uang tunai.
- Bahaya penipuan digital (phishing, social engineering, modus Wangiri, dan lainnya) meningkat.
Bank dan penyedia solusi AI perlu:
- Menyediakan antarmuka super sederhana: bahasa lokal, ikon jelas, langkah terbatas.
- Menggabungkan edukasi langsung lewat agen, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.
- Memakai AI untuk mendeteksi perilaku mencurigakan dan memberi peringatan otomatis ke nasabah.
4.2. Model Bisnis yang Masuk Akal di Desa
Monetisasi layanan AI di desa tidak bisa disamakan dengan kota besar.
Beberapa pendekatan yang lebih realistis:
- Paket bundling: simpan pinjam + asuransi mikro + akses aplikasi pertanian cerdas dalam satu biaya ringan.
- Skema berbasis hasil (revenue sharing) antara bank, agritech, dan offtaker (pembeli hasil panen).
- Subsidi selektif dari pemerintah daerah untuk kelompok tani yang menggunakan solusi digital.
BAKTI sudah membangun jalannya. PR berikutnya: bank dan startup harus menemukan cara berjalan di atas jalan itu tanpa membebani petani.
4.3. Keamanan Data & Kepercayaan

AI hanya sebaik datanya. Tapi data yang salah kelola bisa merusak kepercayaan permanen.
Yang perlu dijaga:
- Transparansi: jelaskan data apa yang dikumpulkan, untuk apa, dan siapa yang bisa mengakses.
- Persetujuan yang jelas: jangan sembunyi di syarat & ketentuan yang tidak terbaca.
- Perlindungan data: enkripsi, autentikasi berlapis, dan pemantauan kebocoran.
Sekali masyarakat desa merasa “datanya dimanfaatkan sepihak”, bukan cuma satu bank yang kena, tapi seluruh ekosistem digital akan dicurigai.
5. Langkah Nyata: Apa yang Harus Dilakukan Pelaku Industri?
Supaya konektivitas nasional benar-benar mengakselerasi AI perbankan dan pertanian cerdas, ada beberapa langkah konkret.
5.1. Untuk Bank & Fintech
- Petakan desa prioritas di sekitar area yang akan atau sudah terkoneksi BAKTI.
- Bangun produk khusus pertanian: kredit musiman, asuransi gagal panen, tabungan kelompok tani.
- Investasi di chatbot & asisten virtual AI yang:
- Bisa bahasa lokal.
- Mengerti konteks petani (musim tanam, panen, masa paceklik).
- Gandeng agritech lokal untuk akses data lapangan dan distribusi ke petani.
5.2. Untuk Startup & Agritech
- Desain aplikasi pertanian cerdas yang ringan, tahan sinyal lemah, dan bisa bekerja semi-offline.
- Bangun modul khusus yang bisa diintegrasikan ke sistem bank: data hasil panen, histori tanam, risiko cuaca.
- Ikut aktif dalam program pemerintah daerah dan kementerian agar solusi masuk ke jalur resmi.
5.3. Untuk Pemerintah & Regulator
- Sinkronkan program BAKTI dengan strategi inklusi keuangan nasional dan pembiayaan pertanian.
- Dorong sandbox regulasi untuk model kredit berbasis data pertanian.
- Pastikan regulasi perlindungan data pribadi ditegakkan hingga level operator lokal.
Kalau tiga pihak ini bergerak bareng, target 2.500 desa online bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi loncatan besar untuk keuangan dan pertanian desa.
Penutup: Dari Sinyal ke Kemandirian Ekonomi Desa
BAKTI Kominfo dan program konektivitas nasional sedang membangun tulang punggung digital Indonesia. Di atas tulang punggung ini, AI perbankan dan pertanian cerdas bisa berjalan dan mengubah cara petani mengelola lahan, mengakses modal, dan menjual hasil panen.
Kalau Anda pelaku bank, fintech, BPR/BPRS, atau startup agritech, ini momen yang sayang jika dilewatkan. Begitu 2.500 desa terakhir tersambung pada 2026, pertanyaannya sederhana: apakah solusi Anda sudah siap hadir di layar ponsel para petani itu?
Seri “Pertanian Cerdas dengan AI: Solusi untuk Petani Indonesia” akan terus membahas contoh-contoh praktis lain. Untuk sekarang, satu hal jelas: tanpa konektivitas merata, tidak ada AI perbankan dan pertanian cerdas yang benar-benar inklusif. Dengan konektivitas, kemandirian ekonomi desa bukan lagi wacana, tapi target yang realistis untuk dicapai bersama.