Program 100 Kampung Nelayan Merah Putih bukan cuma soal dermaga dan pabrik es. Ini bisa jadi model inklusi keuangan digital dan pemanfaatan AI untuk nelayan dan petani.

Dari 100 Kampung Nelayan ke AI & Digital Banking
Produktivitas nelayan Indonesia selama ini sering kalah bukan karena ikannya sedikit, tapi karena rantai dari laut ke pasar berantakan: tidak ada pabrik es, tidak ada gudang beku, akses BBM subsidi ruwet, harga diatur tengkulak. Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang sekarang dibangun di 100 titik pesisir mulai membongkar pola lama itu.
Ini menarik bukan cuma untuk sektor kelautan. Cara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memodernisasi kampung nelayan sebenarnya bisa jadi peta jalan untuk hal lain yang sama pentingnya: inklusif keuangan digital dan pemanfaatan AI di daerah terpencil – dari nelayan sampai petani.
Di seri “Pertanian Cerdas dengan AI: Solusi untuk Petani Indonesia” ini, kita akan pakai cerita 100 kampung nelayan modern sebagai cermin. Bagaimana model modernisasi di laut bisa menginspirasi AI dalam industri perbankan Indonesia, khususnya untuk digital banking di desa-desa, kawasan pesisir, dan sentra pertanian.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di 100 Kampung Nelayan?
Intinya, KNMP adalah program modernisasi kampung nelayan secara menyeluruh, bukan sekadar bangun dermaga baru.
Beberapa poin penting dari program ini:
- 100 lokasi kampung nelayan dipilih sebagai tahap awal (dari sekitar 12.000 desa pesisir di Indonesia)
- 65 lokasi sudah jalan pekerjaan fisiknya, 35 lokasi segera menyusul
- Target jangka lanjut: 1.000 kampung nelayan modern
- Role model: Samber Binyeri, Biak Numfor, Papua yang dianggap berhasil
Fasilitas yang dibangun (bukan lagi kampung nelayan “biasa”)
Setiap Kampung Nelayan Merah Putih disiapkan fasilitas standar yang saling terhubung:
- Tambatan perahu & docking untuk sandar dan perawatan kapal
- Shelter nelayan & kantor pengelola
- Kios nelayan untuk jual beli kebutuhan dan alat
- Tempat pembuangan sampah & IPAL (instalasi pengolahan air limbah)
- SPBUN (Stasiun Pengisian BBM untuk Nelayan) dengan sistem penyaluran BBM subsidi yang lebih tertata
- Sarana penangkapan: kapal, mesin, alat tangkap (rata-rata ±10 kapal per titik, disesuaikan kebutuhan)
- Rantai dingin (cold chain): gudang beku, pabrik es, kendaraan berpendingin, cool box
Dampaknya jelas: ikan tidak cepat rusak, posisi tawar nelayan naik, dan proses usaha jadi lebih efisien.
Modernisasi proses, bukan cuma fisik
Yang menarik, KNMP tidak berhenti pada infrastruktur. KKP juga:
- Menurunkan penyuluh untuk mendampingi nelayan selama ±1 tahun
- Mengajarkan penangkapan ikan ramah lingkungan
- Mengedukasi peningkatan kualitas hasil tangkapan dan tata kelola penjualan
- Menertibkan akses BBM subsidi dengan integrasi data bersama BPH Migas dan Pertamina
Penetapan lokasi pun dilakukan secara bottom up: diusulkan pemerintah daerah, disurvei, baru ditetapkan. Syarat utamanya: mayoritas penduduk adalah nelayan aktif dengan aktivitas produksi perikanan nyata.
Polanya jelas: fasilitas terintegrasi + pendampingan intensif + data & sistem yang rapi. Ini pola yang sama yang sebenarnya dibutuhkan untuk inklusi keuangan dan digital banking di desa nelayan maupun desa tani.
Dari Dermaga ke Dompet Digital: Jembatan ke Inklusi Keuangan
Kalau kita tarik garis, masalah nelayan dan petani ada kemiripan:
- Produksi musiman, pendapatan naik turun
- Lemah di akses pembiayaan formal (bank, koperasi sehat)
- Minim data historis usaha, jadi sulit dinilai risikonya
- Tergantung tengkulak untuk modal dan pembelian hasil panen/tangkapan
KNMP sedang bereskan sisi fisik dan operasional. Langkah berikutnya yang logis: merapikan sisi finansial, dan di sinilah AI + digital banking masuk.
Beberapa peluang yang kebuka lebar:
1. Semua transaksi terdata → bahan baku AI perbankan
Begitu kampung nelayan mulai punya SPBUN, pabrik es, gudang beku, dan kios nelayan yang terkelola, muncul peluang besar:
- Pembelian BBM tercatat
- Penggunaan cold storage dan pabrik es tercatat
- Volume ikan masuk-keluar gudang bisa dilacak
Kalau semua ini dikaitkan dengan rekening bank atau dompet digital nelayan, bank bisa punya profil risiko yang jauh lebih akurat:
- Seberapa sering nelayan melaut
- Rata-rata volume dan frekuensi hasil tangkapan
- Pola pendapatan bulanan/musiman
Dengan data ini, AI risk scoring di bank bisa:
- Menghitung plafon kredit yang lebih adil
- Menawarkan tenor dan jadwal angsuran yang mengikuti musim tangkap/panen
- Membedakan nelayan/petani yang benar-benar aktif vs yang fiktif
Ini mirip yang sedang didorong di pertanian cerdas: data panen, data pemakaian pupuk, dan data harga pasar dipakai untuk credit scoring petani.
2. Subsidi tepat sasaran & jadi pintu masuk keuangan digital
KKP sudah menekankan integrasi sistem informasi dengan BPH Migas dan Pertamina untuk memastikan BBM subsidi hanya untuk nelayan legal yang punya izin dan NIB. Kalau skema ini disambungkan ke perbankan dan AI, manfaatnya bisa melebar:
- Nelayan/petani yang menerima subsidi otomatis punya identitas digital terverifikasi
- Data penerima subsidi bisa dihubungkan ke rekening tabungan basic atau e-wallet yang simple
- Perbankan bisa menawarkan produk dasar: tabungan, asuransi mikro, hingga pinjaman kecil
Dengan kata lain, subsidi BBM, pupuk, atau bantuan sosial bukan cuma transfer uang, tapi jadi pintu masuk ekosistem keuangan digital yang terukur.
Bagaimana AI Bisa Mengubah Layanan Keuangan di Kampung Nelayan & Tani
Jawaban pendeknya: AI punya kemampuan untuk membaca pola dari data yang tadinya tercecer, lalu mengubahnya jadi keputusan finansial yang masuk akal dan personal.
Mari pecah jadi beberapa contoh praktis.
1. Skoring kredit berbasis aktivitas riil
Daripada hanya menilai dari agunan dan slip gaji (yang jelas tidak relevan untuk nelayan/petani), AI di perbankan bisa menggabungkan:
- Data penggunaan SPBUN (berapa liter BBM, seberapa sering)
- Data cold storage / gudang beku (volume ikan yang disimpan)
- Data transaksi di kios nelayan atau kios tani
- Data pembelian sarana produksi (pupuk, pakan, benih)
Hasilnya:
- Profil risiko yang lebih adil untuk pelaku usaha kecil
- Bank bisa menyetujui kredit tanpa agunan besar, karena punya data operasional yang kuat
- Bunga dan limit kredit bisa menyesuaikan profil masing-masing, bukan rata untuk semua
Skema yang sama bisa diterapkan di sentra pertanian: data panen dari smart farming, sensor irigasi, hingga harga jual gabah bisa masuk ke model AI.
2. Rekomendasi produk keuangan yang betul-betul relevan
Nelayan dan petani butuh produk keuangan yang beda dengan pekerja kantoran. AI bisa membantu bank mendesain dan menawarkan:
- Tabungan musiman: auto-park dana lebih besar di bulan panen/tangkapan tinggi, dengan notifikasi pengingat
- Asuransi cuaca & gagal panen/tangkapan: premi otomatis disesuaikan profil risiko wilayah
- Skema cicilan alat kerja (kapal kecil, mesin, traktor, pompa air) yang sinkron dengan kalender musim
Semua bisa muncul sebagai rekomendasi personal di aplikasi mobile banking atau lewat agen laku pandai di kampung.
3. Chatbot & asisten keuangan berbahasa lokal
Satu masalah klasik: literasi keuangan di desa pesisir dan desa tani masih rendah, sementara bahasa teknis perbankan kadang bikin orang mundur duluan.
AI yang digunakan di perbankan bisa:
- Menyediakan chatbot berbahasa Indonesia yang sederhana, bahkan didesain dengan dialek lokal
- Menjawab pertanyaan seputar: cara buka rekening, simulasi cicilan, cara klaim asuransi, dsb
- Memberi edukasi finansial mikro lewat percakapan: misalnya mengingatkan untuk menabung saat hasil panen/tangkapan lagi bagus
Interaksi semacam ini yang akan membuat digital banking terasa dekat, bukan asing.
Pelajaran KNMP untuk Pertanian Cerdas Berbasis AI
Kalau kita bandingkan KNMP dengan inisiatif pertanian cerdas dengan AI, ada beberapa pola yang sebaiknya ditiru bareng-bareng oleh pemerintah, bank, dan pelaku teknologi.
1. Mulai dari model percontohan yang konkret
KKP jelas menunjuk Samber Binyeri di Biak sebagai role model KNMP. Setelah terbukti jalan, baru direplikasi ke 100, lalu 1.000 kampung.
Hal yang sama sebaiknya dilakukan untuk:
- Desa tani modern berbasis AI di beberapa kabupaten
- Ekosistem digital banking + AI di satu atau dua kampung nelayan/tani
Setelah ada contoh nyata yang bisa “dipegang”, adopsi ke daerah lain jauh lebih cepat. Nelayan dan petani lebih percaya bukti, bukan brosur.

2. Infrastruktur dulu, tapi jangan lupa alur data
KNMP fokus membangun infrastruktur: tambatan perahu, gudang beku, SPBUN. Di pertanian cerdas, sisi ini mirip dengan:
- Irigasi tetes dan sensor kelembapan tanah
- Gudang penyimpanan hasil panen
- Mesin pengering padi, jagung, atau hasil kebun
Bedanya, di era AI dan digital banking, setiap fasilitas fisik sebaiknya sejak awal didesain untuk menghasilkan data:
- Siapa yang pakai?
- Berapa volume?
- Seberapa sering?
Semakin rapi data yang dilahirkan infrastruktur, semakin kuat model AI yang bisa dibangun untuk mendukung inklusi keuangan.
3. Pendampingan manusia tetap wajib
KKP tidak hanya bangun fasilitas, tapi juga kirim penyuluh yang mendampingi nelayan sekitar satu tahun. Hal serupa harus ada di pertanian cerdas dan digital banking:
- Penyuluh pertanian + agen bank bisa berkolaborasi
- Edukasi tidak hanya soal teknik budidaya, tapi juga cara mengelola uang dan memanfaatkan layanan perbankan digital
AI kuat, tapi tanpa pendampingan manusia, adopsinya bisa mandek.
Apa Artinya untuk Bank & Penyedia Teknologi di Indonesia?
Buat industri perbankan dan fintech, program seperti KNMP sebenarnya adalah “panggung emas” untuk membuktikan bahwa AI dan digital banking bukan cuma untuk pengguna di kota besar.
Beberapa langkah strategis yang menurut saya masuk akal:
- Masuk sebagai mitra sejak awal di proyek KNMP dan desa pertanian cerdas, bukan belakangan saat semuanya sudah jadi
- Mendesain produk keuangan mikro yang terintegrasi dengan:
- Sistem SPBUN dan distribusi BBM
- Sistem pengelolaan cold storage dan pabrik es
- Sistem gudang dan logistik di sentra pertanian
- Mengembangkan model AI credit scoring khusus sektor maritim dan pertanian, dengan:
- Data operasional (BBM, hasil tangkapan/panen)
- Data harga pasar dan cuaca
- Data subsidi dan bantuan yang pernah diterima
- Menghadirkan aplikasi mobile banking ringan yang bisa jalan di jaringan lemah dan bekerja sama dengan agen laku pandai di kampung
Kalau ini dijalankan serius, kita bukan hanya bicara inklusi keuangan, tapi transformasi struktur ekonomi desa – nelayan dan petani naik kelas dari “komoditas” jadi pelaku usaha dengan rekam jejak finansial yang diakui.
Menutup: Dari Laut, Sawah, ke Sistem Keuangan yang Lebih Cerdas
KNMP dengan 100 kampung nelayan modern menunjukkan satu hal penting: kalau infrastruktur, pendampingan, dan data dirancang bersama, produktivitas bisa melonjak dan ekonomi lokal ikut bergerak. Proyeksi penyerapannya saja sudah sekitar 7.000 tenaga kerja permanen dan 20.000 nonpermanen di tahap awal.
Langkah berikutnya yang tidak kalah penting adalah memastikan arus uang di kampung nelayan dan kampung tani juga ikut naik kelas. Di sinilah AI dalam industri perbankan Indonesia dan digital banking punya peran strategis: menjembatani laut dan sawah dengan sistem keuangan yang lebih adil, personal, dan mudah diakses.
Kalau KNMP bisa jadi contoh untuk sektor kelautan, tidak ada alasan desa pertanian tidak bisa menyusul dengan pertanian cerdas berbasis AI plus layanan keuangan digital yang relevan. Pertanyaannya tinggal satu: siapa yang berani bergerak duluan dan benar-benar turun ke kampung, bukan hanya ke ruang rapat?