Dari Smart TV NTT ke AI Banking: Pelajaran Inklusi

AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis••By 3L3C

Dari smart TV di NTT ke AI banking: bagaimana inklusi digital mengubah akses pendidikan dan bisa jadi model membangun inklusi keuangan bagi UMKM di seluruh Indonesia.

AI perbankaninklusi keuanganUMKM Indonesiadigital bankingpendidikan digitalIndonesia Timur
Share:

Generasi muda di Sabu Raijua, NTT, mencatat lompatan besar: persentase peserta didik usia 5–24 tahun yang mengakses internet naik dari 11,76% (2019) menjadi 52,76% (2024). Angkanya mungkin tampak kecil dibanding kota besar, tapi bagi Mario, bocah 10 tahun di Ledeke, ini sudah terasa seperti keajaiban.

Di sekolahnya, smart TV 75 inci dengan koneksi internet baru saja datang. Buat Mario yang tak punya TV apalagi HP di rumah, belajar lewat layar besar yang menayangkan video sains, kisah Nabi, sampai Bahasa Inggris, rasanya seperti pintu dunia baru yang tiba-tiba dibuka.

Cerita Mario ini bukan sekadar kisah haru tentang pendidikan di daerah 3T. Ini cermin jelas tentang satu hal: begitu infrastruktur digital hadir, perilaku dan harapan masyarakat berubah total. Dan pola yang sama sedang — dan akan — terjadi di perbankan digital, termasuk AI banking, hingga level desa terpencil.

Tulisan ini bagian dari seri “AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis”. Kali ini sudut pandangnya sedikit berbeda: kita pakai kisah pendidikan di Sabu Raijua sebagai kaca pembesar untuk memahami bagaimana teknologi, AI, dan layanan keuangan digital bisa benar-benar inklusif, bukan hanya untuk orang kota dan pelaku usaha besar.

Dari Ledeke ke Layar HP: Inklusi Digital yang Benar-Benar Terjadi

Inklusi digital di Sabu Raijua terjadi bukan karena warganya tiba-tiba “melek teknologi”, tapi karena tiga hal konkret:

  1. Akses internet (BAKTI, Palapa Ring Timur, BTS baru)
  2. Perangkat pintar (smart TV, komputer, HP sederhana)
  3. Konten yang relevan (materi pelajaran, video edukasi, hiburan ringan)

Begitu tiga komponen itu bertemu, banyak hal berubah:

  • Mario belajar agama dan Bahasa Inggris dari smart TV.
  • Priskila cari kuis dan materi pelajaran lewat HP orang tua.
  • Agnes pakai HP untuk belajar dan mendalami firman Tuhan.
  • Frans rela jalan 3 km ke NOC Palapa Ring untuk cari sinyal internet demi mengerjakan PR.

Polanya jelas:

Begitu akses tersedia dan mudah dipakai, masyarakat cepat sekali mengadopsi.

Ini pelajaran penting buat dunia perbankan digital dan AI banking di Indonesia: masalah utama bukan “mereka mau pakai teknologi atau tidak”, tapi apakah akses, perangkat, dan layanan keuangan digitalnya benar-benar sampai dan relevan.

Smart TV di Kelas, Smart Banking di Genggaman

Smart TV di SDN Ledeke 2 bekerja seperti “kelas multimedia portabel”. Guru bisa memutar video sains, simulasi, peta, dan materi agama. Anak-anak yang tak punya TV di rumah bisa menikmati belajar visual dan audio.

Sekarang bayangkan analoginya di dunia perbankan:

  • Smart TV = aplikasi perbankan digital / super-app keuangan
    Satu perangkat, banyak fungsi: belajar, hiburan, kuis. Mirip dengan satu aplikasi bank yang bisa menabung, bayar, investasi, sampai edukasi finansial.

  • Konten belajar = fitur edukasi finansial & simulasi keuangan
    Seperti Mario belajar kisah Nabi, nasabah bisa belajar cara mengelola uang, cicilan, sampai simulasi tabungan dan investasi berbasis AI.

  • Guru sebagai fasilitator = petugas bank/agen & chatbot AI
    Di sekolah, guru memandu murid menggunakan smart TV. Di perbankan, agen laku pandai, petugas bank, dan chatbot AI bisa memandu nasabah pertama kali menggunakan mobile banking.

Begitu juga dengan AI dalam perbankan. Fungsinya bukan sekadar teknis, tapi “memanusiakan” layanan keuangan agar bisa dipahami dan dipakai siapa saja.

Contoh konkret: kalau pengalaman Mario diterjemahkan ke AI banking

Bayangkan Mario 10 tahun lagi, sudah punya usaha kecil jual hasil laut atau kerajinan:

  • Dia buka aplikasi bank di HP murah Android.
  • Ada chatbot AI berbahasa Indonesia (bahkan idealnya logat lokal) yang menjelaskan:
    • Cara buka rekening tanpa ke kantor cabang
    • Cara menabung otomatis dari setiap transaksi
    • Cara mengajukan pinjaman kecil untuk modal usaha
  • Sistem AI menganalisis pola transaksinya dan memberi saran:
    “Pendapatanmu sering turun di musim tertentu, sisihkan Rp50.000 per minggu agar aman di bulan paceklik.”

Persis seperti smart TV yang membuat belajar jadi lebih jelas buat Mario, AI bisa membuat istilah perbankan yang rumit jadi lebih sederhana dan personal.

Infrastruktur Dulu, AI Banking Menyusul

Sabu Raijua adalah contoh textbook bagaimana infrastruktur digital mengubah peta akses layanan:

  • 126 titik akses internet; 72 di antaranya di sekolah
  • Hanya 13 titik yang masih blank spot
  • Ada NOC Palapa Ring yang jadi “taman bermain digital” pelajar setiap sore

Dampak ke pendidikan sudah terasa. Tapi secara pola, ini juga membuka jalan untuk inklusi keuangan digital:

  1. Begitu internet stabil, mobile banking dan e-wallet jadi mungkin.
    Guru yang tadinya rapat harus ke kota, sekarang bisa pakai Zoom. Pola yang sama bisa terjadi ke layanan keuangan: yang tadinya harus ke cabang, kini bisa lewat HP.

  2. HP sudah mulai masuk ke hampir semua segmen.
    Dari Agnes yang dibekali pulsa Rp30.000 per bulan, sampai orang tua yang HP-nya dipinjam anak buat belajar. Ini target ideal untuk bank digital dan fintech.

  3. Anak muda sudah terbiasa dengan interaksi digital.
    Mereka main game, cari materi pelajaran, nonton video. Transisi ke transaksi keuangan digital tinggal soal desain produk dan edukasi yang tepat.

Buat bank dan pelaku fintech yang serius dengan inklusi keuangan di Indonesia Timur, data seperti ini harusnya jadi sinyal kuat: jangan tunggu “pasar matang”, karena pasar sedang matang sekarang.

Dari Pendidikan ke Inklusi Keuangan: Polanya Sama

Cara pemerintah dan guru di Sabu Raijua memanfaatkan internet bisa dijadikan template untuk strategi AI banking dan digital banking.

1. Mulai dari kebutuhan nyata, bukan fitur keren

Di Sabu Raijua, internet dipakai untuk:

  • Menayangkan video pembelajaran
  • Mengurangi beban guru di kelas penuh murid
  • Memudahkan rapat guru lewat Zoom

Bukan sekadar “agar sekolah kelihatan modern”.

Di perbankan, pendekatannya seharusnya sama:

  • Bukan duluan pamer “AI scoring canggih”, tapi:
    Apakah petani, nelayan, atau UMKM bisa lebih mudah menabung dan meminjam?
  • Bukan sekadar bikin aplikasi cantik, tapi:
    Apakah aplikasinya ringan dipakai di HP murah dan jaringan pas-pasan?

2. Edukasi digital sebagai bagian dari produk

Guru di SDN Ledeke 2 dan SMAN 1 Sabu Tengah tak cuma “nyalakan internet”, tapi mengarahkan cara pakainya:

  • Murid dibiasakan pakai komputer
  • Kelas 10 sudah dikenalkan coding
  • Smart TV dipakai untuk materi terstruktur

Bank dan fintech yang serius dengan AI banking harus melakukan hal serupa:

  • Masukkan modul edukasi finansial interaktif di aplikasi (bukan PDF panjang yang tak pernah dibuka).
  • Sediakan chatbot AI yang bisa menjelaskan perbedaan tabungan, deposito, cicilan, dan biaya admin dengan bahasa sederhana.
  • Beri reward kecil (poin, cashback, bahkan akses materi eksklusif) untuk nasabah yang menyelesaikan modul edukasi.

3. AI untuk melayani yang selama ini “tidak kelihatan”

Di Sabu Raijua, banyak murid tinggal sangat jauh dari sekolah. Sebagian harus berjalan kaki 2 jam, melewati ladang dan hutan, di bawah terik 33 derajat Celcius. Tanpa internet, mereka nyaris tak punya akses alternatif belajar.

Di perbankan, “jarak” bentuknya beda, tapi efeknya sama:

  • Tidak ada cabang bank di kecamatan tertentu
  • Biaya transport ke kota sangat besar
  • Dokumen formal (NPWP, slip gaji) tak selalu tersedia

AI bisa membantu bank membaca jejak digital yang selama ini tidak dianggap:

  • Riwayat transaksi di e-wallet
  • Pola pembelian kebutuhan usaha (misal: pakan ternak, bahan baku)
  • Pembayaran tagihan listrik, air, atau paket data

Dengan pendekatan ini, UMKM dan pekerja informal yang sebelumnya “tak bankable” mulai punya profil risiko yang bisa diukur.

Apa Artinya Semua Ini untuk UMKM di Indonesia?

Bagi UMKM, terutama di luar Jawa dan di daerah semi-perdesaan, cerita Mario dan kawan-kawan memberi gambaran masa depan yang cukup jelas:

  1. Akses digital akan makin merata.
    Proyek semacam Palapa Ring dan BAKTI sudah membuktikan hal itu. Mungkin butuh waktu, tapi trennya satu arah.

  2. Perbankan digital dan AI bukan hanya untuk kota besar.
    Begitu sinyal stabil dan HP murah makin banyak, layanan keuangan digital akan ikut masuk. Yang menentukan adalah siapa yang paling cepat menghadirkan layanan yang relevan dan mudah dipakai.

  3. UMKM perlu mulai belajar bahasa baru: data dan AI sederhana.
    Tidak harus jadi pakar. Tapi paham hal-hal dasar seperti:

    • Cara cek laporan transaksi di aplikasi
    • Cara mengatur tabungan otomatis
    • Cara menilai tawaran pinjaman (bunga, tenor, total bayar)

Sebagai bagian dari seri “AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis”, saya biasanya menyarankan tiga langkah awal yang realistis untuk pelaku usaha kecil:

  1. Biasakan semua transaksi lewat kanal digital (transfer, QRIS, e-wallet), supaya ada jejak data yang kelak membantu saat mengajukan modal ke lembaga keuangan.
  2. Pakai fitur-fitur “AI ringan” yang sudah ada di beberapa aplikasi: rekomendasi produk, laporan otomatis, pengingat tagihan, tanpa perlu paham teknis di belakangnya.
  3. Ikut pelatihan online singkat tentang keuangan digital atau AI untuk bisnis yang sering disediakan bank, fintech, atau komunitas lokal.

Dari Mario ke Generasi Emas 2045 dan AI Banking

Mario, Frans, Agnes, dan ribuan anak lain di Sabu Raijua sedang belajar di depan smart TV, komputer, dan HP dengan internet. Mereka mungkin belum memikirkan soal KUR, modal kerja, atau scoring kredit.

Tapi 10–15 tahun lagi, merekalah pemilik kios, peternak, nelayan, freelancer, content creator, dan pendiri UMKM baru di Indonesia Timur. Kalau hari ini mereka sudah akrab dengan digital, maka sangat logis besok mereka akan nyaman dengan perbankan digital dan AI banking.

Ini yang sering luput dari diskusi soal transformasi digital di perbankan:

Inklusi keuangan yang sehat tidak bisa dilepas dari inklusi digital dan pendidikan.

Cerita Mario membuktikan satu hal penting: begitu akses dibuka, kemampuan belajar dan beradaptasi masyarakat kita luar biasa cepat. Tugas perbankan dan pelaku teknologi finansial sekarang adalah menyusul dengan produk yang:

  • Ringan, bisa berjalan di koneksi pas-pasan
  • Menggunakan AI untuk mempermudah, bukan mempersulit
  • Menyasar kebutuhan hidup nyata, bukan hanya fitur keren di presentasi

Kalau internet bisa mengubah cara anak 10 tahun di Ledeke belajar, AI dalam perbankan juga bisa mengubah cara jutaan orang Indonesia menyimpan, mengelola, dan mengembangkan uangnya — asalkan benar-benar dirancang untuk mereka, bukan hanya untuk orang kota.

Dan mungkin, beberapa tahun lagi, kita akan mendengar cerita baru: bukan lagi tentang Mario yang takjub dengan smart TV, tapi tentang Mario dewasa yang bercerita bagaimana aplikasi bank berbasis AI membantunya membesarkan usaha kecil di pulau kecil di Indonesia Timur.