Cari Kerja Sulit? Peluang Baru di AI & Bank Digital

AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis••By 3L3C

Profesi tradisional tertekan AI, tapi bank digital dan fintech justru buka peluang karier baru. Begini cara karyawan dan UMKM Indonesia ikut naik kelas.

pekerjaan terancamai perbankanbank digitalkarier masa depanfuture of workumkm digitaltransformasi profesi
Share:

Featured image for Cari Kerja Sulit? Peluang Baru di AI & Bank Digital

Cari Kerja Makin Susah, Tapi Peluang di AI Justru Kebuka Lebar

Dalam empat tahun ke depan, Forum Ekonomi Dunia memperkirakan 83 juta pekerjaan hilang secara global imbas otomatisasi dan kecerdasan buatan. Di sisi lain, jutaan posisi baru bermunculan di bidang teknologi, data, dan AI.

Banyak orang merasakannya langsung. Mulai dari jurnalis seperti Carla McCanna di AS yang “banting setir” jadi pelatih model AI, sampai teller bank dan kasir yang pelan-pelan tergeser sistem otomatis. Polanya sama: profesi rutin berulang tertekan, profesi digital naik.

Di Indonesia, perubahan ini sangat terasa di industri perbankan dan keuangan. Bank beralih ke digital banking, AI dipakai untuk melayani nasabah, menganalisis risiko kredit, sampai mendeteksi fraud. Buat yang masih cari kerja atau lagi mikir ganti profesi, ini bukan cuma ancaman — ini juga bisa jadi jalur baru karier.

Tulisan ini membahas:

  • Kenapa banyak profesi tradisional terancam di era AI
  • Bagaimana AI mengubah wajah perbankan Indonesia
  • Jenis karier baru di bank digital dan fintech yang justru makin dicari
  • Langkah praktis buat karyawan, pencari kerja, dan UMKM yang mau ikut “naik kelas” ke ekonomi digital

1. Dari Jurnalis ke Pelatih Model AI: Gambaran Perubahan Profesi

Inti ceritanya sederhana: skill inti tetap dipakai, cuma konteks kerjanya pindah ke dunia AI.

Carla McCanna, lulusan jurnalistik di AS, sulit mendapatkan pekerjaan tetap di media. Data dari Challenger, Gray & Christmas menunjukkan sekitar 5.000 pekerja media kehilangan kerja dalam setahun, naik 59% dibanding tahun sebelumnya. Media berhemat, otomatisasi penulisan, dan pergeseran ke konten digital bikin posisi tradisional menyusut.

Tapi Carla tidak berhenti di situ. Ia justru direkrut jadi pelatih model AI di sebuah perusahaan bernama Outlier, lewat platform rekrutmen online.

“Perekrut bilang keahlian saya cocok untuk peran ahli penulisan, dan saya akan melatih model AI untuk mengoptimalkan akurasi dan efisiensi,” kata Carla.

Dia tidak punya latar belakang data science atau machine learning. Yang dia punya:

  • Kemampuan menulis
  • Riset dan pengecekan fakta
  • Pengalaman di redaksi media

Semua itu ternyata sangat berguna untuk melatih model AI agar menghasilkan teks yang akurat, logis, dan bisa dipercaya. Hasilnya? Carla bisa bekerja full remote dan dibayar sekitar US$35 per jam (sekitar Rp569 ribu per jam jika kurs Rp16.250), jauh di atas gaji entry-level banyak profesi tradisional.

Contoh Carla penting buat kita di Indonesia karena menunjukkan satu hal:

Banyak profesi tidak hilang total. Fungsinya bergeser ke pekerjaan baru yang memanfaatkan AI sebagai “partner kerja”, bukan musuh.


2. 15 Profesi Terancam: Peringatan Dini Buat Pencari Kerja Indonesia

Laporan Future of Work 2023 dari WEF menggambarkan tren yang harus kita waspadai. Antara 2023–2027, sekitar 23% jenis pekerjaan berubah, dan jutaan posisi lama akan berkurang.

Article image 2

Beberapa di antaranya dekat sekali dengan kondisi di Indonesia:

  • Teller bank
  • Kasir dan loket pembayaran
  • Petugas pos
  • Staff data entry
  • Sekretaris dan admin
  • Staf stok (stock-keeping)
  • Staf akuntansi, pembukuan, dan payroll
  • Satpam
  • Manajer kredit dan pinjaman
  • Penguji software manual
  • Relationship manager yang tugasnya hanya administratif

Apa yang sama dari profesi ini?

  1. Pekerjaan bersifat rutin dan berulang
    Banyak langkah yang bisa dibakukan ke dalam sistem.

  2. Bergantung pada input data dan aturan baku
    Cocok digantikan oleh software, RPA (robotic process automation), atau AI.

  3. Interaksi manusia minim nilai tambah
    Jika peran manusia hanya jadi “perantara” transaksi, mesin sering kali lebih efisien.

Di Indonesia, bukti ini sudah kelihatan jelas di perbankan dan ritel:

  • Teller berkurang, diganti ATM setor tunai, mobile banking, dan CRM machine di cabang
  • Kasir tergeser self-checkout di ritel modern dan pembayaran QRIS
  • Admin finansial digantikan software akuntansi berbasis cloud

Ini terlihat menakutkan, apalagi buat yang belum siap. Tapi kalau kita zoom out, ceritanya tidak berhenti di situ.


3. AI di Bank Digital Indonesia: Dari PHK ke Peluang Profesi Baru

AI memang mengurangi sebagian pekerjaan manual di bank. Tapi di saat yang sama, bank dan fintech Indonesia mulai agresif rekrut talenta digital untuk menopang layanan digital banking.

Apa saja peran baru yang muncul di bank digital?

Beberapa contoh yang mulai banyak dicari bank dan fintech di Indonesia:

  1. Data Analyst & Data Scientist
    Menganalisis data transaksi, perilaku nasabah, dan risiko. Tugasnya:

    • Mengolah big data nasabah
    • Membuat model skor kredit
    • Membantu manajemen ambil keputusan berbasis data
  2. AI/ML Engineer
    Mengembangkan dan mengelola model AI, misalnya untuk:

    • Chatbot layanan nasabah 24/7
    • Sistem deteksi fraud transaksi
    • Personalized offer produk pinjaman dan tabungan
  3. Digital Product Manager (Banking)
    Menggabungkan pengetahuan keuangan dengan teknologi untuk:

    • Mendesain fitur mobile banking
    • Menyusun journey nasabah, dari buka rekening sampai ajukan kredit
  4. UX Writer & Content Specialist untuk Produk Keuangan
    Mirip kasus Carla, jago nulis bisa pindah ke:

    • Menulis konten edukasi finansial di aplikasi
    • Membuat alur percakapan chatbot
    • Menjelaskan produk bank dalam bahasa sederhana
  5. Spesialis Kepatuhan & Risk di Era AI
    Ketika AI mengambil keputusan kredit atau mendeteksi fraud, muncul kebutuhan baru:

    • Ahli yang paham regulasi OJK dan BI
    • Mampu memastikan model AI tidak diskriminatif

Article image 3

Jadi betul, jumlah teller bisa berkurang. Tapi di belakang aplikasi mobile banking yang kita pakai tiap hari, ada tim baru yang butuh orang dengan kombinasi skill: keuangan, teknologi, dan komunikasi.


4. Apa Artinya Buat UMKM dan Pekerja di Indonesia?

Buat UMKM, karyawan, maupun fresh graduate, AI dan digital banking bukan hanya urusan bank besar. Efeknya langsung ke keseharian bisnis dan karier.

a. Buat karyawan & pencari kerja

Kalau kamu hari ini bekerja atau bercita-cita kerja di:

  • Teller / kasir
  • Admin keuangan
  • Input data
  • Customer service basic

Maka ini saat yang tepat buat mulai geser fokus skill ke:

  1. Analisis dan pemahaman data
    Tidak harus langsung jadi data scientist. Mulai dari:

    • Paham dasar Excel / Google Sheets tingkat lanjut
    • Mengerti laporan keuangan sederhana
    • Mengerti pola transaksi pelanggan
  2. Digital literacy di keuangan

    • Paham cara kerja mobile banking, dompet digital, QRIS
    • Paham konsep KYC, skor kredit, dan pinjaman online yang sehat
  3. Skill komunikasi bernilai tambah
    Chatbot bisa jawab pertanyaan standar. Yang manusia perlu kuasai:

    • Negosiasi
    • Edukasi finansial
    • Menangani kasus kompleks dan sensitif

b. Buat pemilik UMKM

UMKM yang cepat adaptasi dengan AI dan bank digital cenderung:

  • Lebih mudah dapat akses modal
  • Lebih cepat mengelola arus kas
  • Lebih efisien mengelola stok dan penjualan

Beberapa langkah praktis yang realistis untuk UMKM:

  1. Gunakan bank digital & e-wallet sebagai “backbone” keuangan

    • Pisahkan rekening pribadi dan usaha
    • Pakai fitur laporan transaksi otomatis
    • Manfaatkan QRIS untuk mempermudah pembayaran
  2. Mulai pakai alat sederhana berbasis AI

    • Chatbot untuk menjawab pertanyaan dasar pelanggan
    • AI penerjemah untuk jualan ke luar kota/luar negeri
    • AI bantuan penulisan untuk buat caption promosi
  3. Pelajari skor kredit dan jejak transaksi digital
    Banyak bank dan fintech mulai menilai UMKM bukan hanya dari jaminan, tapi dari:

    • Stabilitas transaksi rekening
    • Konsistensi omzet bulanan
    • Riwayat pembayaran tagihan

Kalau UMKM disiplin pakai bank digital, secara otomatis mereka sedang membangun “CV keuangan” yang bisa dilihat sistem AI perbankan saat pengajuan pinjaman.


Article image 4

5. Transisi Karier: Dari Profesi Terancam ke Profesi Berbasis AI & Keuangan

Transisi karier bukan hal mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Polanya biasanya seperti ini:

  1. Kenali skill yang sudah kamu punya
    Contoh:

    • Teller bank: paham produk keuangan, prosedur, dan interaksi nasabah
    • Admin: teliti, rapi, paham alur dokumen
    • CS: jago komunikasi dan menangani komplain
  2. Petakan ke profesi baru yang beririsan dengan AI & perbankan
    Misalnya:

    • Dari teller → customer success digital banking atau analis operasional cabang
    • Dari admin → support implementasi sistem keuangan digital atau QA untuk aplikasi internal
    • Dari CS → chatbot trainer atau analis experience nasabah
  3. Tambahkan 1–2 skill kunci yang relevan
    Bukan harus kuliah lagi. Banyak materi yang bisa dipelajari mandiri:

    • Data dasar dan visualisasi (misal: pivot table, dashboard sederhana)
    • Dasar-dasar AI generatif dan bagaimana memanfaatkannya di kerjaan
    • Pengetahuan produk-produk bank digital dan fintech lokal
  4. Bangun portofolio praktis

    • Buat contoh dashboard laporan penjualan/keuangan dari data fiktif
    • Simulasikan skenario chatbot untuk kasus layanan nasabah
    • Tunjukkan bagaimana kamu memanfaatkan AI untuk bekerja lebih cepat

Soal gaji, seperti cerita Carla, kerjaan baru yang menyentuh AI sering dibayar lebih tinggi karena masih sedikit orang yang bisa. Di Indonesia mungkin angkanya beda, tapi trennya sama: talenta yang paham bisnis dan AI di saat bersamaan jadi rebutan.


6. AI, Bank Digital, dan Inklusi Keuangan: Peluang Besar Buat Indonesia

Ada satu hal positif yang jarang disorot: AI di perbankan bisa mendorong inklusi keuangan.

Bank dan fintech mulai memakai AI untuk:

  • Menilai kelayakan kredit UMKM yang dulu dianggap “tidak bankable”
  • Menawarkan produk tabungan dan pinjaman mikro lewat aplikasi
  • Menyediakan edukasi keuangan otomatis di dalam aplikasi

Artinya:

  • Warga di daerah yang jauh dari kantor cabang tetap bisa akses layanan keuangan
  • UMKM kecil dengan transaksi digital rapi punya peluang lebih besar dapat modal
  • Tenaga kerja baru dibutuhkan untuk mengelola dan mengembangkan semua ini

Di sinilah peluang karier dan bisnis terbuka lebar untuk:

  • Anak muda yang mau serius belajar data dan AI di sektor keuangan
  • Karyawan bank tradisional yang siap upgrade skill digital
  • Pemilik UMKM yang mau naik kelas dengan memanfaatkan data transaksi dan layanan bank digital

Penutup: Jangan Hanya Takut Kehilangan Kerja, Mulai Siapkan Pekerjaan Berikutnya

Profesi seperti teller bank, kasir, dan admin memang sedang tertekan oleh AI dan digital banking. Laporan WEF dan kisah nyata seperti Carla menunjukkan pola yang sama: pekerjaan rutin hilang, pekerjaan digital dan AI bertambah.

Kalau kamu lagi cari kerja, takut kena PHK, atau sedang mikir ganti profesi, arahkan fokus ke sini:

  • Pahami cara kerja bank digital dan layanan keuangan modern
  • Bangun skill dasar data dan AI yang relevan dengan bisnismu
  • Manfaatkan AI dan perbankan digital untuk memperkuat posisi karier atau usahamu

Era ini memang bikin banyak orang waswas, tapi juga membuka pintu baru. Pertanyaannya bukan lagi, “Apakah AI akan mengambil pekerjaan saya?” melainkan, “Peran baru apa yang bisa saya ambil di dunia kerja yang dibangun bersama AI?”