Literasi Digital Medan & Masa Depan Bank Berbasis AI

AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis••By 3L3C

Program literasi digital MyRepublic di Medan bukan sekadar CSR. Ini pondasi nyata buat digital banking berbasis AI yang inklusif bagi sekolah, UMKM, dan masyarakat.

literasi digitalAI perbankandigital bankingUMKM Indonesiainklusi keuanganCSR teknologi
Share:

Literasi Digital Medan & Masa Depan Bank Berbasis AI

Sebagian besar bank dan perusahaan teknologi sibuk bicara AI, chatbot, dan big data. Tapi di Medan, satu langkah sederhana justru jauh lebih menentukan: memberi internet gratis 500 Mbps ke sebuah SMA yang baru saja terdampak bencana.

Inisiatif MyRepublic Indonesia di SMA Swasta Dharmawangsa Medan ini kelihatannya hanya soal CSR dan koneksi internet. Nyatanya, ini pondasi nyata buat sesuatu yang jauh lebih besar: ekosistem keuangan digital dan perbankan berbasis AI yang benar-benar bisa dipakai masyarakat, bukan cuma jadi jargon di konferensi.

Tulisan ini membedah apa yang dilakukan MyRepublic, mengaitkannya dengan literasi digital, inklusi keuangan, dan digital banking berbasis AI, lalu menarik garis ke hal yang paling dekat dengan kita: bagaimana peluang ini bisa dimanfaatkan oleh UMKM dan masyarakat di kota-kota seperti Medan.


Dari Bantuan Internet ke Fondasi Ekosistem Digital

Inti dari langkah MyRepublic di Medan dan wilayah Sumatra lain cukup jelas: membangun akses digital dulu, baru bicara manfaat lain.

Beberapa hal penting dari program mereka:

  • Internet gratis 500 Mbps selama 1 tahun untuk SMA Swasta Dharmawangsa Medan
  • Gratis tagihan internet bagi pelanggan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang terdampak bencana
  • Bantuan kemanusiaan (selimut, makanan, air minum, perlengkapan sekolah) bekerja sama dengan Save the Children dan mitra lain
  • Program literasi digital bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)

Ini menarik karena tiga layer dasar ekosistem digital terpenuhi sekaligus:

  1. Infrastruktur – internet cepat dan stabil
  2. Keamanan & keberlangsungan – keringanan tagihan dan bantuan di masa krisis
  3. Literasi digital – edukasi cara menggunakan internet secara aman dan produktif

Tanpa tiga hal ini, ngomong soal digital banking, mobile banking, atau bahkan AI di perbankan hanya akan berhenti di papan presentasi.

Ekosistem perbankan berbasis AI butuh tiga hal: koneksi yang kuat, pengguna yang paham digital, dan rasa aman. Program seperti di Medan mengisi semua titik itu sekaligus.


Mengapa Literasi Digital Menentukan Masa Depan Digital Banking

Digital banking di Indonesia sudah tumbuh cepat: hampir semua bank besar punya aplikasi, banyak bank digital baru muncul, dan pemerintah mendorong pembayaran nontunai di berbagai sektor. Tapi ada satu jurang besar: gap literasi digital & keuangan.

Tantangan nyata di lapangan

Di banyak daerah, masalahnya bukan sekadar “tidak ada aplikasi bank”, tapi:

  • Warga belum percaya transaksi digital
  • Takut uang hilang karena penipuan online
  • Bingung cara membedakan situs/aplikasi asli dan palsu
  • Belum terbiasa mengelola uang lewat aplikasi

Program literasi digital seperti yang digelar MyRepublic dan Komdigi di Medan menyentuh titik ini. Ketika siswa dan guru:

  • Terbiasa memakai internet cepat untuk belajar
  • Paham cara mengamankan akun, password, dan data pribadi
  • Mulai mengakses materi belajar, kursus, bahkan konten keuangan online

Mereka jadi jauh lebih siap menggunakan:

  • Mobile banking
  • E-wallet
  • Aplikasi investasi
  • Fitur-fitur AI di perbankan (misalnya chatbot, rekomendasi keuangan, scoring kredit digital)

Ini penting buat bank dan pelaku fintech yang sedang membangun AI dalam industri perbankan Indonesia. Tanpa pengguna yang melek digital, semua fitur canggih hanya jadi menu yang tidak pernah disentuh.

Dampaknya buat generasi muda dan UMKM

SMA Dharmawangsa Medan tak cuma melahirkan siswa; di sana ada calon:

  • Pelaku UMKM
  • Karyawan bank dan fintech
  • Data analyst dan developer AI lokal

Begitu mereka nyaman dengan dunia digital, langkah berikutnya jauh lebih mudah:

  • Buka rekening bank digital
  • Mengajukan pinjaman usaha secara online
  • Menggunakan aplikasi pembukuan otomatis
  • Mengelola keuangan lewat rekomendasi AI

Di sinilah hubungan langsungnya: literasi digital hari ini adalah akselerator literasi keuangan dan adopsi digital banking esok hari.


AI di Perbankan Butuh Pondasi: Akses, Data, dan Kepercayaan

AI sering diceritakan sebagai masa depan perbankan: dari chatbot pintar sampai credit scoring berbasis data transaksi. Tapi AI tidak berdiri di ruang hampa. Ia butuh data, konteks, dan pengguna.

Program seperti di Medan ini membantu menyiapkan tiga hal penting:

1. Akses: internet cepat = lebih banyak interaksi digital

Internet 500 Mbps di sekolah bukan cuma enak buat streaming video. Untuk ekosistem keuangan digital, ini berarti:

  • Siswa dan guru terbiasa login ke berbagai platform digital
  • Lebih banyak transaksi non-kertas (e-learning, pembayaran online, dsb.)
  • Pola penggunaan digital yang kelak terbawa saat mereka menggunakan layanan keuangan

Semakin sering orang memakai aplikasi, semakin banyak data perilaku yang nantinya bisa membuat AI perbankan lebih akurat dan personal.

2. Data: bahan bakar AI perbankan

AI di perbankan bekerja dengan mengenali pola:

  • Pola pengeluaran harian
  • Pola menabung
  • Pola pengajuan dan pembayaran pinjaman

Begitu masyarakat sudah nyaman dengan aktivitas digital, bank dapat:

  • Menganalisis kebiasaan keuangan
  • Menawarkan produk yang relevan (misalnya tabungan pendidikan, modal kerja UMKM, atau asuransi)
  • Mengurangi risiko kredit macet lewat model prediksi

Tanpa aktivitas digital yang cukup, AI jadi buta. Program yang mendorong penggunaan internet produktif sebenarnya sedang membuka jalan ke AI perbankan yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan lokal.

3. Kepercayaan: CSR sebagai jembatan emosional

Ada satu sisi yang sering dilupakan: perasaan masyarakat terhadap teknologi.

Saat warga melihat perusahaan seperti MyRepublic:

  • Menggratiskan internet untuk pelanggan terdampak bencana
  • Mengirim bantuan fisik (selimut, makanan, air, perlengkapan sekolah)
  • Hadir langsung bersama pemerintah dan sekolah

Kepercayaan mulai terbentuk. Ini penting karena:

  • Orang lebih mudah percaya memakai aplikasi yang direkomendasikan pihak yang mereka anggap “berpihak”
  • Bank yang berkolaborasi dengan perusahaan seperti ini bisa menumpang kepercayaan yang sudah terbentuk

Dalam konteks AI di industri perbankan, kepercayaan adalah mata uang utama. Nasabah tidak akan nyaman datanya dianalisis AI kalau mereka tidak merasa aman dan dihargai.


Pelajaran untuk Bank & Fintech: Kolaborasi, Bukan Sekadar Promosi

Banyak bank menggelar program edukasi keuangan, tapi sering bentuknya satu arah: seminar, brosur, atau kampanye iklan. Program di Medan memberi beberapa pelajaran praktis yang lebih efektif.

1. Masuk lewat kebutuhan paling dasar dulu

MyRepublic tidak datang dengan membawa jargon “transformasi digital”. Mereka datang dengan:

  • Internet gratis
  • Bantuan kemanusiaan
  • Literasi digital yang relevan dengan kehidupan sehari-hari

Bank bisa meniru pola ini, misalnya:

  • Memberi biaya admin gratis atau kuota transaksi nol rupiah untuk wilayah terdampak bencana atau UMKM binaan
  • Menyediakan akses WiFi publik di kantor cabang atau area komunitas
  • Menggabungkan edukasi digital banking dengan pelatihan literasi digital umum (cara jaga data pribadi, cara hindari penipuan, dsb.)

2. Gandeng sekolah dan komunitas, bukan hanya influencer

Penetapan Duta Roketin Generasi Tunas Digital untuk siswa dan guru itu cerdas. Mereka adalah role model alami di komunitasnya.

Bank bisa melakukan hal serupa:

  • Membentuk Duta Literasi Keuangan Digital di sekolah, kampus, dan komunitas UMKM
  • Melatih guru, ketua RT/RW, pengurus masjid/gereja, dan pengurus pasar sebagai agen edukasi

Mereka lebih dipercaya warga dibanding iklan formal.

3. Jadikan AI sebagai “asisten”, bukan “bos” bagi nasabah

Begitu literasi digital meningkat, bank bisa mulai memperkenalkan fitur AI dengan cara yang bersahabat, misalnya:

  • Chatbot yang menjawab pertanyaan sederhana dalam bahasa yang mudah
  • Rekomendasi tabungan atau investasi yang muncul berdasarkan pola belanja
  • Peringatan otomatis kalau ada transaksi mencurigakan

Kuncinya: jelaskan bahwa AI ada untuk membantu mereka, bukan mengendalikan mereka. Di kelas literasi digital, ini bisa dijelaskan sekaligus saat bicara keamanan digital.


Apa Artinya untuk UMKM di Medan dan Kota Lain?

Seri “AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis” selalu kembali ke satu titik: bagaimana pelaku usaha kecil bisa benar-benar mendapatkan manfaat dari teknologi, bukan cuma jadi penonton.

Program literasi digital di Medan memberi gambaran jalur yang cukup jelas untuk UMKM:

Langkah 1 – Mulai dari akses dan kebiasaan digital

Kalau sekolah di sekitar Anda sudah punya akses internet yang baik seperti SMA Dharmawangsa, manfaatkan itu:

  • Ajak anak atau keponakan bantu urus media sosial dan katalog produk
  • Biasakan mencatat transaksi di aplikasi pencatatan keuangan sederhana
  • Coba pakai QRIS dan mobile banking untuk transaksi harian

Langkah 2 – Naik kelas ke layanan bank digital dan AI

Begitu terbiasa, UMKM bisa mulai memanfaatkan fitur-fitur yang biasanya sudah mengandung AI di belakang layar:

  • Pengingat otomatis tagihan dan jatuh tempo
  • Analisis pengeluaran dan pemasukan usaha
  • Rekomendasi pinjaman modal kerja berdasarkan histori transaksi

Sebagian bank sudah mulai menerapkan AI untuk analisis kelayakan kredit UMKM yang tidak punya jaminan formal, tetapi punya pola transaksi yang sehat. Ini membuka jalan inklusi keuangan yang lebih luas.

Langkah 3 – Manfaatkan program kolaborasi lokal

Perhatikan kalau ada:

  • Program CSR bank atau perusahaan teknologi yang masuk ke sekolah/pasar/komunitas Anda
  • Pelatihan literasi digital dan keuangan gratis
  • Beasiswa atau program duta digital di daerah

UMKM yang aktif terlibat di program seperti ini biasanya mendapat akses awal ke produk keuangan baru, pendampingan, bahkan promosi bersama.


Menuju Ekosistem Digital Banking yang Benar-Benar Inklusif

Program MyRepublic Indonesia di Medan menunjukkan satu hal penting: transformasi digital yang sehat tidak dimulai dari AI, melainkan dari empati, akses, dan literasi.

Begitu masyarakat:

  • Punya akses internet yang andal
  • Merasa didukung saat bencana dan krisis
  • Mendapat edukasi digital yang membumi

maka pintu untuk digital banking dan perbankan berbasis AI terbuka lebar. Bukan hanya di Jakarta atau kota besar lain, tapi juga di Medan, Aceh, Sumatra Barat, dan seterusnya.

Buat bank, fintech, dan UMKM, arah ke depan cukup jelas:

  • Bangun kolaborasi akar rumput seperti yang dilakukan MyRepublic dengan sekolah dan pemerintah
  • Jadikan literasi digital dan keuangan sebagai paket satu napas
  • Gunakan AI di perbankan untuk memperkuat inklusi, bukan memperlebar jurang

Kalau ekosistem dasar seperti di Medan ini terus diperbanyak, beberapa tahun lagi kita tidak hanya bicara “internet cepat sampai ke sekolah”, tapi juga tentang UMKM yang naik kelas berkat analitik AI bank, dan generasi muda yang mengelola uang dengan bijak lewat aplikasi digital banking yang mereka percaya.

Pertanyaannya sekarang: di kota atau komunitas Anda, siapa yang berani mengambil langkah pertama membangun fondasi seperti ini?

🇮🇩 Literasi Digital Medan & Masa Depan Bank Berbasis AI - Indonesia | 3L3C