AI & Cloud Inklusif: Dari SLB ke Bank Digital

AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis••By 3L3C

Telkomsel & AWS melatih 750 talenta disabilitas di cloud dan AI. Apa hubungannya dengan bank digital, UMKM, dan inklusi keuangan di Indonesia? Lebih dekat dari yang kamu kira.

AI perbankaninklusi keuangancloud computingUMKM digitaldisabilitas dan teknologibank digital Indonesia
Share:

Featured image for AI & Cloud Inklusif: Dari SLB ke Bank Digital

AI & Cloud Inklusif: Dari SLB ke Bank Digital Indonesia

750 anak muda penyandang disabilitas di Indonesia sudah belajar cloud computing dan generative AI bersama Telkomsel dan AWS. Angkanya memang belum jutaan, tapi arah geraknya jelas: teknologi bukan cuma soal efisiensi bisnis, tapi juga soal siapa yang diajak maju bareng.

Untuk kamu yang berkecimpung di perbankan, fintech, atau UMKM yang mulai serius dengan AI untuk bisnis, cerita ini bukan sekadar berita CSR. Ini contoh nyata bagaimana keterampilan cloud dan AI bisa jadi jembatan ke inklusi digital dan inklusi keuangan – termasuk bagi kelompok yang selama ini sering tertinggal.

Di seri “AI untuk UMKM Indonesia: Panduan Implementasi Praktis” ini, tulisan kali ini akan membahas:

  • Apa yang sebenarnya dilakukan Telkomsel & AWS lewat program Terampil di Awan 2.0
  • Kenapa ini relevan dengan transformasi digital perbankan dan UMKM
  • Bagaimana kemampuan cloud & AI bisa membuka akses keuangan bagi penyandang disabilitas
  • Langkah praktis yang bisa diambil bank, fintech, dan UMKM supaya inklusif bukan cuma jadi slogan

1. Terampil di Awan 2.0: Bukan Sekadar Pelatihan, Tapi Fondasi Ekosistem

Program Terampil di Awan 2.0 adalah kolaborasi Telkomsel dan AWS yang fokus pada literasi digital inklusif. Angka utamanya cukup jelas:

  • 295 siswa dengan disabilitas
  • 85 tenaga pendidik
  • 33 Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bandung Raya
  • Total dua fase (Jabodetabek + Bandung Raya) 750 talenta digital inklusif

Mereka belajar apa saja?

  • Dasar komputasi awan (cloud computing): cara kerja infrastruktur internet modern
  • Pembuatan website: dari UI/UX sampai website statis
  • Generative AI: membangun aplikasi berbasis AI dengan AWS PartyRock
  • Pelatihan lanjutan + voucher sertifikasi untuk 50 guru (AWS Cloud Practitioner Essentials)

Seluruh sekolah juga mendapatkan akses AWS Skill Builder selama 12 bulan, artinya bukan pelatihan sekali lewat, tapi ada jalur belajar berkelanjutan.

Yang menarik, program ini sengaja dikaitkan dengan Hari Disabilitas Internasional (3 Desember) lewat awarding ceremony dan lomba karya Gen AI. Bukan cuma belajar, tapi juga unjuk karya.

Contoh proyek pemenang yang cukup “Indonesia banget” dan relevan dengan dunia usaha:

  • Dapoerku – perencana menu masakan
  • EcoRecycle Hub – panduan kerajinan tangan dari daur ulang
  • BeautyBloom – konsultan makeup pribadi
  • MotorMate – asisten modifikasi motor
  • WeatherBite – rekomendasi makanan sehat sesuai cuaca
  • WargaLink – portal masyarakat digital

Semua ini dibangun oleh siswa SLB dengan bantuan generative AI di cloud.

Pesannya jelas: kalau anak SLB bisa membangun aplikasi berbasis AI, apa alasan perusahaan besar, bank, atau UMKM untuk tidak mulai?


2. Hubungannya dengan Perbankan: Inklusi Keuangan Dimulai dari Inklusi Digital

Kalau kita bicara AI dalam industri perbankan Indonesia, biasanya obrolannya mentok di:

  • chatbot untuk customer service,
  • analitik kredit,
  • deteksi fraud,
  • personalisasi penawaran.

Semuanya penting. Tapi ada satu lapisan yang sering terlupakan: siapa yang sebenarnya bisa menikmati semua kemudahan digital banking itu?

Article image 2

Di sinilah program seperti Terampil di Awan terasa nyambung:

  1. Keterampilan digital = tiket masuk ke layanan keuangan digital
    Seseorang yang terbiasa menggunakan website, aplikasi, dan AI:

    • lebih berani menggunakan mobile banking,
    • lebih mudah memahami e-KYC,
    • lebih nyaman mengelola keuangan lewat aplikasi.
  2. Penyandang disabilitas sering terpinggirkan dari layanan keuangan
    Bukan cuma karena akses fisik ke cabang bank, tapi juga karena:

    • antarmuka aplikasi yang tidak ramah disabilitas,
    • minimnya materi literasi keuangan yang aksesibel,
    • kurangnya pelatihan keterampilan digital.
  3. Transformasi digital perbankan harus inklusif sejak desain
    Kalau bank dan fintech hanya fokus ke segmen “melek digital” tanpa memikirkan kelompok disabilitas, kesenjangan akan makin lebar. Program Telkomsel-AWS ini menunjukkan bahwa kelompok ini bisa menguasai cloud dan AI. Jadi alasan “mereka belum siap” sudah waktunya ditinggalkan.

Dari sudut pandang bank dan fintech, talenta seperti ini justru bisa jadi:

  • user yang aktif menggunakan layanan digital;
  • co-creator fitur yang lebih aksesibel;
  • bahkan bagian dari tim atau mitra untuk menguji aksesibilitas aplikasi.

3. Dari SLB ke Dompet Digital: Cara AI & Cloud Menghapus Hambatan Akses

AI dan cloud punya satu kekuatan besar: mengurangi jarak fisik dan mempersonalisasi pengalaman. Untuk konteks inklusi keuangan dan UMKM, efeknya bisa sangat konkret.

3.1. Aplikasi berbasis AI sebagai jembatan ke layanan keuangan

Bayangkan pola seperti ini:

  • Siswa SLB yang ikut program membangun aplikasi sederhana di cloud: misalnya portal komunitas disabilitas yang membantu teman-temannya mencari informasi kerja, pelatihan, hingga produk UMKM.
  • Di tahap berikutnya, portal itu bisa diintegrasikan dengan:
    • fitur dompet digital sederhana,
    • pengingat pembayaran tagihan,
    • akses tabungan berjangka kecil.

Ini bukan konsep abstrak. Secara teknis, menghubungkan aplikasi front-end sederhana dengan API layanan keuangan digital sudah sangat mungkin di cloud saat ini.

3.2. AI untuk aksesibilitas: dari voice ke screen reader

Bank dan fintech yang serius mengadopsi AI bisa mulai dari hal sederhana tapi berdampak:

  • Voice interface: nasabah disabilitas netra bisa mengakses informasi saldo dan transaksi lewat suara.
  • Otomatisasi caption & transkripsi: seluruh materi edukasi keuangan (webinar, video edukasi cicilan, investasi) otomatis punya teks untuk teman-teman tuli.
  • Chatbot yang memahami bahasa natural: nasabah yang kesulitan dengan menu rumit dapat bertanya dengan bahasa sehari-hari, tidak harus klik banyak tombol.

Program seperti Terampil di Awan membuat kelompok disabilitas familiar dengan AI, sehingga ketika bank menghadirkan layanan seperti ini, mereka bukan sekadar penerima, tapi juga bisa memberi umpan balik yang cerdas.

3.3. Talenta disabilitas sebagai penggerak UMKM dan ekonomi lokal

Banyak proyek pemenang lomba Gen AI tadi sebenarnya bisa disambungkan dengan model bisnis UMKM:

  • Dapoerku: bisa berkembang jadi aplikasi perencana menu + belanja bahan yang terhubung ke warung atau supermarket lokal, lalu pembayaran via QRIS atau e-wallet.
  • EcoRecycle Hub: bisa membantu UMKM kerajinan tangan mendesain produk baru, memberi tutorial, dan menampilkan katalog produk yang bisa dibeli langsung.
  • BeautyBloom: bisa di-bundle dengan jasa MUA UMKM lokal, paket treatment, atau penjualan produk kecantikan.

Article image 3

Begitu pembayaran dan pencatatan keuangan mulai tercatat secara digital, jalan ke akses pembiayaan UMKM (KUR digital, pinjaman modal kerja, dsb) jadi lebih terbuka.

Artinya, pelatihan AI dan cloud ke teman-teman disabilitas tidak hanya soal karier teknologi, tapi juga menghidupkan ekosistem UMKM inklusif yang siap bersentuhan dengan bank dan fintech.


4. Pelajaran untuk Bank & Fintech: Inklusivitas Itu Bisa Di-desain

Program Telkomsel-AWS ini menyimpan beberapa pelajaran praktis buat industri keuangan yang sedang menggenjot AI dan cloud.

4.1. Mulai dari kolaborasi, bukan dari nol

Telkomsel menggandeng AWS yang sudah melatih 1 juta talenta digital Indonesia sejak 2017. Di perbankan, pola yang sama bisa dipakai:

  • Kolaborasi dengan komunitas disabilitas, SLB, dan lembaga pendidikan vokasi.
  • Menggandeng penyedia cloud untuk pelatihan internal tim teknologi dan bisnis.
  • Bermitra dengan UMKM dan startup lokal untuk uji coba fitur inklusif.

Tidak perlu langsung membuat “program besar nasional”. Mulai dari pilot project yang jelas tujuannya, misalnya:

  • “100 nasabah disabilitas netra pertama yang mencoba fitur voice banking”
  • “Kemitraan dengan 10 UMKM yang dikelola penyandang disabilitas untuk sistem pembayaran digital dan pencatatan keuangan otomatis berbasis AI”

4.2. Sertifikasi dan pelatihan berkelanjutan itu krusial

Langkah memberi pelatihan lanjutan dan voucher sertifikasi ke guru SLB terlihat sederhana, tapi dampaknya panjang: kompetensi itu akan menetes turun ke ratusan siswa berikutnya.

Bank dan fintech bisa meniru pola ini dengan:

  • Program sertifikasi internal untuk AI & cloud bagi karyawan (bukan hanya tim IT, tapi juga produk, risiko, dan cabang).
  • Mengalokasikan kuota beasiswa sertifikasi cloud/AI untuk talenta disabilitas yang potensial.
  • Menjadikan keterampilan AI dan cloud sebagai bagian dari syarat promosi atau pengembangan karier.

4.3. Inklusi keuangan harus masuk ke desain produk, bukan cuma CSR

Telkomsel menyelipkan program ini dalam payung CSR “Sambungkan Senyuman”. Itu bagus sebagai awal. Namun untuk industri keuangan, pendekatannya sebaiknya:

  • CSR untuk eksperimentasi dan edukasi awal.
  • Lalu hasilnya dibawa ke inti bisnis: desain produk bank digital, superapp keuangan, dan ekosistem pembayaran.

Contoh konkret yang bisa dilakukan bank/fintech:

  • Menyertakan pengguna disabilitas dalam uji coba usability aplikasi mobile banking.
  • Menetapkan standar aksesibilitas (kontras warna, ukuran font, kompatibel screen reader, navigasi tanpa gestur rumit).
  • Menggunakan AI untuk menganalisis kendala akses yang sering dihadapi kelompok tertentu (misal: error login karena kesulitan input OTP visual, bisa dialihkan ke OTP suara).

Article image 4

5. Apa yang Bisa Dilakukan UMKM Hari Ini dengan AI & Cloud Inklusif?

Seri ini fokus ke AI untuk UMKM Indonesia, jadi mari turunkan ke langkah praktis.

Kalau kamu pemilik atau pengelola UMKM, beberapa ide berikut cukup realistis dilakukan di 2026 tanpa butuh tim IT besar:

  1. Pakai AI untuk konten yang lebih inklusif

    • Gunakan generative AI untuk membuat caption produk yang jelas, mudah dibaca, dan bisa dikonversi ke audio.
    • Tambahkan deskripsi produk yang detail (warna, bentuk, tekstur) yang membantu teman-teman disabilitas netra.
  2. Gunakan cloud untuk pencatatan keuangan rapi

    • Aplikasi POS dan pembukuan berbasis cloud membantu kamu punya jejak transaksi bersih. Ini nanti memudahkan kalau ingin mengajukan pembiayaan ke bank digital.
  3. Libatkan talenta disabilitas dari awal

    • Rekrut magang dari SLB atau komunitas disabilitas untuk bantu desain konten, uji aksesibilitas website/toko online, atau bahkan mengelola komunitas pelanggan.
  4. Siapkan kanal pembayaran digital standar

    • Pastikan usahamu menerima pembayaran yang familier dan mudah diakses: QRIS, transfer bank, e-wallet.
    • Banyak nasabah disabilitas lebih nyaman transaksi tanpa uang tunai karena faktor mobilitas.

Kalau Telkomsel dan AWS bisa melatih siswa SLB membangun aplikasi AI sederhana, UMKM jelas bisa mulai dari hal-hal praktis di atas.


6. Kenapa Semua Ini Penting untuk Masa Depan Bank Digital Indonesia

Transformasi digital perbankan sering dibahas dari sisi teknologi: core banking di cloud, AI untuk risiko, API untuk integrasi. Semua itu penting, tapi tidak cukup.

Yang sering saya lihat justru membedakan pemain yang bertahan lama adalah tiga hal ini:

  1. Siapa yang kamu ajak naik perahu?
    Kalau hanya melayani segmen “melek digital” yang sudah nyaman dengan aplikasi, akan selalu ada batas pertumbuhan. Mengajak kelompok disabilitas, UMKM tradisional, dan komunitas pinggiran masuk ekosistem digital butuh effort lebih, tapi efek jangka panjangnya jauh lebih besar.

  2. Apakah tim di balik produk mengerti inklusivitas?
    Program seperti Terampil di Awan 2.0 sedang membentuk generasi baru talenta yang:

    • paham cloud dan AI,
    • hidup dengan realitas disabilitas,
    • dan terbiasa membangun solusi digital.

    Mereka ini calon SDM emas untuk bank digital dan fintech yang serius ingin inklusif.

  3. Apakah AI digunakan untuk memperluas, bukan mempersempit akses?
    AI bisa dipakai untuk menolak lebih banyak aplikasi kredit, atau sebaliknya, untuk menemukan pola risiko yang lebih adil dan membuka akses bagi yang sebelumnya tak terlayani. Pilihannya ada di desain dan niat institusi.

Cerita Telkomsel dan AWS di Bandung Raya ini menunjukkan bahwa investasi di keterampilan digital inklusif bukan kegiatan pinggiran. Ini fondasi supaya AI dalam industri perbankan Indonesia benar-benar melayani semua orang, bukan hanya yang sudah mapan.

Kalau kamu di bank, fintech, atau UMKM, pertanyaannya sekarang sederhana:

Di 12 bulan ke depan, langkah konkret apa yang akan kamu ambil supaya AI dan cloud di bisnis kamu juga ikut mengurangi, bukan menambah, kesenjangan akses?