Penghargaan Green Leadership Telkom bukan sekadar trofi. Ini fondasi penting untuk digital banking berbasis AI yang hijau, efisien, dan mendorong inklusi keuangan.
Transformasi Hijau Telkom & Masa Depan Digital Banking Berbasis AI
Pada CNBC Indonesia Awards 2025, Telkom diganjar Green Leadership & Corporate Governance Transformation Award. Itu bukan sekadar trofi tambahan di lemari penghargaan BUMN, tapi sinyal keras: strategi hijau dan transformasi digital sudah jadi standar baru, bukan bonus.
Kenapa ini relevan buat dunia perbankan digital dan juga transisi energi di Indonesia? Karena bank, fintech, dan seluruh ekosistem keuangan bergantung pada infrastruktur digital โ jaringan, data center, cloud โ yang sebagian besar berada di bawah pemain seperti Telkom. Kalau fondasinya hijau, efisien, dan dikelola dengan baik, seluruh ekosistem di atasnya ikut terdorong jadi lebih berkelanjutan.
Di tulisan ini, kita bahas bagaimana langkah Telkom dalam transformasi hijau bisa jadi acuan untuk:
- Membangun digital banking yang ramah lingkungan
- Memanfaatkan AI untuk efisiensi energi dan peningkatan layanan
- Mendukung inklusi keuangan sampai ke pelosok dengan infrastruktur digital berkelanjutan
1. Kenapa Transformasi Hijau Telkom Penting untuk Perbankan Digital
Transformasi hijau Telkom bukan cuma urusan PR atau laporan keberlanjutan. Ini menyentuh jantung operasional digital banking di Indonesia.
Alasannya sederhana:
-
Bank sangat bergantung pada infrastruktur Telkom
- Jaringan internet dan seluler untuk mobile banking & super-app finansial
- Data center dan cloud untuk core banking system
- Jaringan fiber untuk kantor cabang, ATM, dan agen laku pandai
-
Jejak karbon digital itu nyata
Layanan yang kita anggap "tidak kelihatan" โ transaksi via aplikasi, notifikasi, internet banking โ semuanya menghabiskan energi. Data center, jaringan backbone, router, server AI, semuanya menyedot listrik. -
Regulasi dan tekanan investor makin kencang
Bank dan BUMN mau tak mau akan ditanya: seberapa hijau rantai nilai digital kalian? Penghargaan ke Telkom di aspek Green Leadership & Corporate Governance Transformation menunjukkan arah bahwa tata kelola keberlanjutan mulai dianggap sama seriusnya dengan laporan keuangan.
Transformasi hijau di infrastruktur digital adalah fondasi untuk membangun ekosistem perbankan yang rendah emisi dan berkelanjutan.
Buat bank dan fintech, artinya: memilih partner infrastruktur yang punya komitmen hijau seperti Telkom bukan lagi "nice to have", tapi bagian dari strategi risiko dan reputasi.
2. Dua Sisi Mata Uang: Transformasi Hijau & Digital Banking
Transformasi hijau dan digital banking sering dibahas terpisah, padahal keduanya dua sisi dari satu mata uang. Saat bank beralih ke layanan digital, risiko energinya bisa naik atau turun, tergantung bagaimana infrastruktur dan teknologinya diatur.
Dari Cabang Fisik ke Layanan Digital
Secara logika, berkurangnya cabang fisik, kertas, dan perjalanan nasabah harusnya menurunkan emisi. Tapi ada konsekuensi lain:
- Jumlah transaksi digital melonjak ratusan persen
- Kebutuhan kapasitas server & penyimpanan data naik drastis
- Layanan real-time dan 24/7 menuntut infrastruktur yang terus menyala
Di sinilah transformasi hijau Telkom jadi relevan. Kalau:
- Data center Telkom memakai pendinginan efisien,
- Sumber listriknya makin banyak disuplai energi terbarukan,
- Jaringan dikelola dengan optimasi energi berbasis AI,
maka lonjakan transaksi digital banking tidak otomatis berbanding lurus dengan lonjakan emisi.
Integrasi dengan Transisi Energi Indonesia
Seri "AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan" selalu kembali ke satu poin: AI dipakai untuk membuat sistem energi kita lebih efisien, lebih cerdas, dan lebih ramah lingkungan.
Telkom, dengan skala infrastrukturnya, bisa menjadi jembatan antara:
- Sektor energi: smart grid, smart metering, pemantauan konsumsi listrik
- Sektor keuangan: digital banking, kredit hijau, pembiayaan energi terbarukan
Contoh konkret:
- Data konsumsi listrik dari smart meter (yang diolah AI) bisa dipakai bank untuk menilai profil risiko kredit proyek energi terbarukan.
- Layanan pembayaran tagihan energi dan top up kendaraan listrik via super-app perbankan berjalan di atas jaringan hijau dan efisien.
Ini bukan visi futuristik. Teknologinya sudah ada; yang lagi bertransformasi adalah tata kelola, prioritas bisnis, dan keberanian mengintegrasikan data lintas sektor.
3. Peran AI: Dari Efisiensi Energi sampai Layanan Perbankan Hijau
AI jadi benang merah antara transformasi hijau Telkom, transisi energi, dan digital banking. Kalau dipakai serius, AI bisa menghemat energi sekaligus meningkatkan kualitas layanan.
3.1 AI untuk Efisiensi Energi Infrastruktur Digital
Dalam konteks energi, AI bisa:
-
Mengoptimalkan konsumsi listrik di data center
AI memprediksi lonjakan beban (misalnya jam gajian, promo e-commerce, atau momen besar nasional) dan menyesuaikan daya server & pendinginan. Hasilnya:- Server idle berkurang
- Sistem pendingin bekerja pada titik paling efisien
-
Mengatur jaringan secara dinamis
AI bisa mematikan atau menurunkan kapasitas perangkat jaringan di area yang trafiknya rendah pada jam tertentu dan menaikkannya di area padat. Efeknya langsung ke tagihan listrik dan jejak karbon. -
Integrasi dengan energi terbarukan
Di beberapa negara, data center sudah mulai menyesuaikan operasi dengan produksi energi surya/angin. Pola ini sangat mungkin diadopsi di Indonesia: AI memprediksi ketersediaan energi surya di siang hari dan menggeser sebagian beban komputasi ke jam tersebut.
3.2 AI untuk Pengalaman Digital Banking yang Lebih Baik
Di sisi bank dan fintech, AI sudah banyak dipakai untuk:
- Chatbot dan virtual assistant yang menjawab pertanyaan nasabah 24/7
- Fraud detection yang memantau jutaan transaksi dalam hitungan detik
- Personalized offers yang menyesuaikan produk dengan perilaku nasabah
Kalau infrastruktur yang menopang AI ini sudah lebih hijau (seperti yang Telkom kejar lewat transformasi hijau), maka setiap peningkatan layanan tidak otomatis menambah beban emisi sebesar sebelumnya.
AI yang berjalan di atas infrastruktur hijau menciptakan efek ganda: efisiensi operasional dan pengurangan emisi.
4. Digitalisasi Berkelanjutan & Inklusi Keuangan: Dampak Nyata di Lapangan
Transformasi hijau sering terasa abstrak. Dampak nyatanya baru terasa saat kita bicara inklusi keuangan dan akses layanan sampai ke pelosok.
4.1 Jaringan Hijau yang Menjangkau Daerah 3T
Untuk memperluas inklusi keuangan, bank dan fintech butuh:
- Jaringan internet yang stabil sampai desa
- Biaya operasional yang cukup rendah agar layanan tetap terjangkau
Kalau jaringan dan data center boros energi, biayanya tinggi dan sering berujung ke tarif yang mahal atau coverage yang terbatas.
Transformasi hijau yang mengandalkan efisiensi energi bisa:
- Menurunkan biaya operasional jaringan
- Membuka ruang bagi paket data murah dan layanan digital banking yang lebih terjangkau
- Mendukung ekspansi agen bank digital dan fintech di daerah 3T
4.2 AI untuk Menilai Risiko dan Menjangkau Unbanked
AI dalam sektor finansial sudah dipakai untuk alternative credit scoring: menilai kelayakan kredit orang yang belum punya riwayat kredit formal dengan menggunakan data lain.
Beberapa contoh data yang bisa dipakai:
- Pola penggunaan pulsa & data
- Pola pembayaran tagihan listrik prabayar atau pascabayar
- Aktivitas di platform digital lokal
Kalau Telkom sebagai penyedia infrastruktur dan data berkomitmen pada tata kelola yang kuat (Corporate Governance Transformation), maka pemanfaatan data untuk credit scoring bisa berlangsung dengan:
- Izin yang jelas dari pengguna
- Keamanan data yang ketat
- Transparansi algoritma di level yang wajar
Hasilnya, inklusi keuangan naik tanpa mengorbankan privasi dan etika.
5. Apa yang Bisa Dilakukan Pelaku Bank & Fintech Sekarang
Bukan cuma Telkom atau BUMN yang perlu bergerak. Bank, fintech, dan bahkan startup energi punya ruang aksi yang cukup besar.
5.1 Audit Jejak Karbon Digital
Langkah awal yang realistis:
-
Hitung konsumsi energi untuk operasi digital
- Data center (on-premise maupun cloud)
- Kantor cabang digital & ATM
- Layanan AI dan analytics
-
Identifikasi partner infrastruktur
Tanyakan ke penyedia jaringan dan cloud:- Apakah sudah punya target penurunan emisi?
- Apakah menggunakan energi terbarukan?
- Bagaimana strategi efisiensi energinya?
-
Tetapkan target penurunan intensitas emisi per transaksi digital
Misalnya, mengurangi emisi per 1.000 transaksi digital sebesar 30% dalam 3โ5 tahun.
5.2 Desain Produk Keuangan yang Dukung Transisi Energi
AI, data, dan infrastruktur hijau bisa dipakai untuk:
- Kredit hijau untuk proyek energi terbarukan berskala kecil (PLTS atap, biogas, mikrohidro)
- Skema cicilan untuk perangkat hemat energi (AC inverter, lampu LED, panel surya rumah)
- Pembiayaan inovatif berbasis data konsumsi listrik yang sudah disensor dan dianalisis dengan AI
Bank yang berani masuk ke area ini, dengan dukungan infrastruktur digital hijau, akan punya posisi yang kuat di pasar transisi energi Indonesia.
5.3 Bangun Tim โGreen Digital & AIโ Internal
Alih-alih memisahkan tim sustainability dan tim IT, perusahaan bisa membentuk kelompok kerja lintas divisi yang fokus pada:
- Optimasi energi sistem TI berbasis AI
- Integrasi data energi dengan produk finansial
- Kepatuhan ESG yang dikaitkan langsung dengan KPI digital
Di banyak perusahaan yang berhasil mengurangi emisi digitalnya, kuncinya bukan teknologi saja, tapi tata kelola dan cara kerja lintas fungsi โ persis hal yang digarisbawahi lewat penghargaan tata kelola ke Telkom.
Penutup: Dari Penghargaan ke Perubahan Sistemik
Penghargaan Green Leadership & Corporate Governance Transformation Award untuk Telkom menunjukkan bahwa Indonesia mulai menghargai perusahaan yang serius mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam inti bisnis digitalnya.
Bagi ekosistem perbankan digital dan juga agenda besar transisi energi Indonesia, maknanya cukup jelas:
- Infrastruktur digital hijau akan jadi standar baru.
- AI akan semakin banyak dipakai untuk menghemat energi sekaligus meningkatkan layanan.
- Inklusi keuangan bisa naik bersamaan dengan turunnya emisi, kalau data dan teknologi diatur dengan tata kelola yang kuat.
Langkah berikutnya ada di tangan para pengambil keputusan di bank, fintech, dan perusahaan energi: apakah transformasi hijau dan AI hanya berhenti di presentasi, atau benar-benar dijadikan dasar strategi?
Kalau fondasi infrastrukturnya sudah mengarah ke sana seperti yang dikerjakan Telkom, tidak ada alasan untuk menunda.