Telkom raih Green Leadership Award 2025. Apa yang bisa dipelajari bank dan sektor energi tentang AI, digital banking, dan keuangan hijau dari langkah Telkom?
Telkom, Green Leadership, dan Arah Baru Keuangan Hijau Berbasis AI
IHSG sudah berkali-kali mencetak rekor baru, tetapi satu tren yang jauh lebih penting buat masa depan: perusahaan besar mulai dinilai bukan cuma dari laba, tapi juga dari seberapa hijau dan transparan cara mereka beroperasi.
Telkom baru saja meraih Green Leadership & Corporate Governance Transformation Award di CNBC Indonesia Awards 2025 (12/12/2025). Ini bukan sekadar trofi tambahan buat BUMN telekomunikasi. Ini sinyal kuat: pasar mulai menghargai perusahaan yang serius menggabungkan transformasi digital dengan transformasi hijau.
Buat sektor perbankan dan energi – dua tulang punggung ekonomi Indonesia – contoh Telkom ini relevan banget. Bank sedang agresif ke arah digital banking dan AI, sementara Indonesia menargetkan net zero emission 2060 atau lebih cepat. Pertanyaannya: bisakah bank mendorong digitalisasi, memakai AI secara masif, dan tetap hijau?
Jawabannya: sangat bisa. Dan pola yang ditunjukkan Telkom justru jadi peta jalan yang menarik untuk perbankan dan juga perusahaan energi yang sedang membangun AI untuk transisi energi berkelanjutan.
Artikel ini membahas:
- Apa makna penghargaan Telkom bagi dunia korporasi Indonesia
- Bagaimana pendekatan Telkom bisa diadaptasi bank dan pelaku sektor energi
- Contoh konkret penggunaan AI untuk bikin digital banking dan transisi energi jadi lebih ramah lingkungan
- Langkah praktis yang bisa ditempuh bank sekarang juga
Apa yang Bisa Dibaca dari Penghargaan Telkom di CNBC Indonesia Awards 2025
Penghargaan Green Leadership & Corporate Governance Transformation Award untuk Telkom menunjukkan satu hal jelas: sustainability di Indonesia sudah naik kelas dari sekadar CSR jadi inti strategi bisnis.
Beberapa poin penting dari penghargaan ini:
-
Green leadership itu kepemimpinan, bukan proyek satuan
Telkom diapresiasi karena kepemimpinan hijau — artinya isu lingkungan dibawa sampai level strategi, bukan cuma penanaman pohon tahunan. -
Transformasi tata kelola (corporate governance) ikut berubah
Bicara hijau tanpa perbaikan tata kelola biasanya mentok di slogan. Transformasi Telkom menyasar:- transparansi data dan pelaporan
- pengelolaan risiko ESG (Environmental, Social, Governance)
- integrasi target keberlanjutan ke KPI manajemen
-
Teknologi jadi enabler utama
Sebagai perusahaan telekomunikasi dan digital, Telkom sangat mungkin mengandalkan:- data analytics untuk jejak karbon operasional
- otomatisasi untuk efisiensi energi di jaringan & data center
- digital services yang mengurangi ketergantungan proses fisik
Ini persis puzzle yang sedang dihadapi perbankan Indonesia: bagaimana memakai AI dan digital banking untuk meningkatkan efisiensi dan pendapatan, sambil memenuhi tuntutan regulasi dan pasar terkait keuangan hijau (green finance).
Mengapa Bank Harus Meniru Pola “Green + Digital” ala Telkom
Bank sering berpikir hijau itu urusan pembiayaan proyek energi terbarukan. Itu penting, tapi sempit. Telkom menunjukkan bahwa cara perusahaan beroperasi sehari-hari juga menentukan seberapa hijau mereka.
Untuk bank, ada tiga lapis integrasi hijau + digital yang relevan:
1. Operasional Bank yang Lebih Hijau
Digital banking berbasis AI justru bisa memangkas jejak karbon kalau diarahkan dengan benar.
Contoh konkret:
- Paperless end-to-end: pembukaan rekening, KYC, tanda tangan, sampai dokumen kredit serba digital.
Satu bank besar di Asia Tenggara pernah melaporkan pengurangan penggunaan kertas lebih dari 70% setelah e-statement dan e-contract diterapkan luas. - Cabang fisik yang lebih ramping: AI chatbot, e-form, dan video banking mengurangi kebutuhan nasabah datang ke cabang.
- Optimalisasi data center & jaringan: sama seperti Telkom, bank dapat memakai AI untuk mengatur load server, penggunaan pendingin, dan pemakaian listrik agar lebih efisien.
2. Tata Kelola & Manajemen Risiko ESG Berbasis Data
Telkom diapresiasi karena transformasi tata kelola. Di perbankan, bidang paling kritis adalah manajemen risiko kredit dan reputasi terkait ESG.
AI dapat membantu bank:
- memetakan portofolio kredit yang rentan terhadap risiko iklim (misalnya sektor yang sensitif dengan kebijakan dekarbonisasi)
- mengukur emission intensity debitur dari data operasional mereka
- menyusun laporan keberlanjutan yang konsisten, audit-ready, dan berbasis data
Ini membuat penerapan green taxonomy dan regulasi OJK soal keuangan berkelanjutan jauh lebih realistis.
3. Produk dan Portofolio Green Finance
Kepemimpinan hijau yang sebenarnya bukan cuma berbenah di dalam, tapi juga mengarahkan aliran dana ke sektor yang mendukung transisi energi Indonesia.
Peran AI di sini:
- mengidentifikasi sektor dan proyek energi yang punya profil hijau sekaligus layak bisnis
- mengukur dampak lingkungan dari portofolio pembiayaan (misalnya penurunan emisi COâ‚‚ per rupiah kredit)
- merancang skema green lending dan sustainability-linked loan dengan pricing dinamis berbasis kinerja ESG debitur
Jika Telkom bisa menyinergikan teknologi dan kepemimpinan hijau di dunia telekomunikasi, bank sangat mungkin melakukan hal serupa di keuangan.
Menghubungkan: AI, Digital Banking, dan Transisi Energi Indonesia
Seri "AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan" fokus pada bagaimana AI membantu optimasi jaringan listrik, integrasi energi terbarukan, dan smart metering. Bagaimana sektor perbankan nyambung ke sini?
Jawabannya: uang dan data.
Bank sebagai “Mesin Pendanaan” Transisi Energi
Transisi energi butuh investasi raksasa di:
- PLTS atap dan skala utilitas
- pembangkit EBT lain (angin, air, biomassa, panas bumi)
- infrastruktur jaringan pintar dan energy storage
- smart metering dan sistem manajemen permintaan (demand response)
Tanpa bank yang paham risiko dan peluang di sektor ini, proyek-proyek tadi akan seret pendanaan. AI membantu bank:
- Memetakan risiko proyek energi terbarukan
Model AI bisa menganalisis histori produksi energi, pola cuaca, hingga profil beban untuk menilai kelayakan proyek. - Memprediksi arus kas proyek EBT
Dengan data konsumsi energi dan harga listrik, AI membantu simulasi skenario optimis–moderate–pesimis. - Menentukan struktur pembiayaan
Dari tenor, covenant, sampai kebutuhan reserve account bisa dioptimalkan berbasis simulasi data.
Bank sebagai Pengelola Data ESG & Energi
Perusahaan energi di Indonesia mulai memasang smart meter, sensor jaringan, dan sistem monitoring real-time. Semua itu menghasilkan data dalam jumlah besar yang perlu diterjemahkan ke bahasa finansial dan risiko.
AI memungkinkan:
- integrasi data operasional energi (dari smart meter, SCADA, dsb.) ke model penilaian kredit
- penilaian performa proyek EBT secara near real-time
- pelaporan dampak green financing yang konkret, misalnya:
“Portofolio pembiayaan EBT bank X di 2025 mengurangi 1,2 juta ton CO₂e per tahun.”
Kuncinya: sama seperti Telkom, bank perlu merajut data, teknologi, dan tata kelola dalam satu kerangka green leadership.
Contoh Nyata: Dari Telkom ke Bank & Perusahaan Energi
Supaya lebih mudah dibayangkan, ini contoh-contoh pola yang bisa “dicuri” dari pendekatan Telkom.
1. Mengelola Infrastruktur Digital Secara Hijau
Telkom kemungkinan besar fokus ke efisiensi jaringan dan data center. Di bank dan perusahaan energi, polanya mirip:
- Konsolidasi server dan cloud yang efisien energi
Menggunakan AI untuk workload management, jadwal backup, dan pendinginan adaptif. - Green branch & green office
Sensor otomatis untuk lampu dan AC, monitoring energi berbasis IoT dan AI untuk memotong pemborosan 10–20%.
2. Transparansi dan Pelaporan ESG yang Serius
Transformasi tata kelola ala Telkom bisa diterjemahkan di bank menjadi:
- dashboard ESG real-time untuk manajemen dan komisaris
- proses persetujuan kredit yang memasukkan skor ESG otomatis
- integrasi data ke laporan keberlanjutan tahunan tanpa proses manual berlapis
Perusahaan energi juga bisa melakukan hal yang sama untuk memantau:
- intensitas emisi per MWh
- tingkat kebocoran jaringan (losses)
- proporsi energi terbarukan di bauran produksi
3. Layanan Digital untuk Mengurangi Jejak Karbon Nasabah
Telkom mengembangkan ekosistem digital yang mendorong aktivitas online. Bank bisa melakukan hal serupa:
- super app yang menggabungkan transaksi, investasi, dan pembayaran tagihan energi dalam satu platform
- fitur green insights yang menunjukkan ke nasabah:
- berapa banyak emisi yang dihemat karena penggunaan e-statement
- estimasi jejak karbon dari pola konsumsi (misalnya tagihan listrik, bahan bakar)
- skema cashback atau suku bunga lebih rendah untuk pembelian produk ramah lingkungan (kendaraan listrik, panel surya, perangkat hemat energi)
Jika ini dipadukan dengan data dari perusahaan energi (misalnya smart meter), bank bisa menawarkan produk keuangan yang betul-betul nyambung dengan transisi energi Indonesia.
Langkah Praktis untuk Bank yang Mau Serius ke Arah “Green + AI”
Buat manajemen bank yang membaca ini dan berpikir, “Oke, tapi mulai dari mana?”, pendekatan bertahap biasanya paling realistis.
1. Tetapkan Target & Mandat Internal yang Jelas
- tetapkan target pengurangan emisi operasional (misalnya 30% di 2030)
- definisikan porsi portofolio hijau (misalnya 20% pembiayaan terkait EBT & efisiensi energi)
- masukkan KPI keberlanjutan ke penilaian kinerja manajemen puncak
2. Bangun Fondasi Data & AI untuk ESG
- rapikan data nasabah dan portofolio (sektor, lokasi, intensitas energi, emisi)
- siapkan data lake yang bisa menampung data ESG dan energi
- mulai dari satu–dua model AI sederhana:
- model prediksi risiko kredit untuk proyek energi terbarukan
- model klasifikasi portofolio berdasarkan level risiko transisi iklim
3. Gandeng Perusahaan Energi & Telco
Telkom sudah selangkah maju di kepemimpinan hijau dan infrastruktur digital. Bank bisa:
- berkolaborasi dalam pengembangan layanan smart city & smart energy (pembayaran dinamis, prepaid energy, dsb.)
- memanfaatkan infrastruktur data dan konektivitas untuk proyek pembiayaan berbasis performa (pay-as-you-save, performance-based financing)
4. Uji Coba Produk Green Finance Berbasis Data
Mulai dari pilot yang sederhana namun jelas dampaknya:
- kredit panel surya rumah tangga dengan scoring berbasis data konsumsi dan tagihan listrik sebelumnya
- pembiayaan efisiensi energi untuk UMKM dengan repayment diambil dari penghematan tagihan listrik
Di setiap tahap, pakai AI bukan hanya untuk “keren-kerenan”, tapi memecahkan masalah konkret: menekan risiko, mempercepat proses, dan mengukur dampak lingkungan secara kuantitatif.
Menatap 2026: Saat Telkom, Bank, dan Energi Berjalan Searah
Penghargaan Telkom di CNBC Indonesia Awards 2025 menunjukkan bahwa pasar Indonesia mulai menghargai perusahaan yang bisa menyatukan transformasi digital dengan transformasi hijau. Buat perbankan dan sektor energi, ini bukan sekadar inspirasi — ini peringatan dini.
Bank yang hanya mengejar digital banking dan AI dari sisi efisiensi biaya akan tertinggal dari bank yang memadukan itu semua dengan kepemimpinan hijau dan tata kelola ESG yang rapi. Begitu juga perusahaan energi yang memakai AI hanya untuk keandalan teknis, tanpa menghubungkannya ke pembiayaan hijau dan transparansi dampak.
Telkom sudah menunjukkan satu hal penting: sustainability yang kuat lahir dari kombinasi teknologi, data, dan keberanian mengubah tata kelola. Kalau perusahaan telekomunikasi bisa sampai di titik itu, tidak ada alasan bank dan pelaku energi tidak bisa.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi, “Perlu atau tidak menggabungkan AI, digital, dan hijau?” Pertanyaannya: seberapa cepat Anda berani mulai, sebelum pasar yang menjawabnya untuk Anda?