Filipina sudah menyalakan musim Natal dengan listrik surya di atap-atap mal. Apa yang bisa ditiru Indonesia, dan bagaimana AI membuat model ini efisien dan menguntungkan?

Natal Meriah, Tagihan Listrik Turun: Bukan Mimpi
Di Filipina, satu pusat perbelanjaan bisa memasang hampir 7.000 panel surya di atapnya dan tetap terang benderang sepanjang musim Natal tanpa bikin tagihan listrik melonjak. Sistem 3,785 MWp di SM City Fairview menghasilkan sekitar 5.960 MWh per tahun dan menyumbang 11% konsumsi listrik tahunan mal tersebut.
Ini menarik buat Indonesia karena pola kita mirip: budaya belanja kuat, mal jadi ruang publik utama, dan konsumsi listrik melonjak saat libur panjang. Bedanya, Filipina sudah memanfaatkan atap mal sebagai “pembangkit listrik mini”, sementara di Indonesia potensinya masih besar dan belum tergarap serius. Di sinilah kombinasi energi surya skala komersial dan AI untuk sektor energi bisa jadi resep transisi energi yang masuk akal – bukan sekadar wacana.
Tulisan ini membedah bagaimana jaringan mal terbesar di Filipina memakai surya untuk menghidupi dekorasi Natal dan operasi harian, apa yang bisa ditiru Indonesia, dan peran konkret AI untuk membuat semua ini efisien, aman, dan menguntungkan.
Studi Kasus: Mal Filipina yang Digerakkan Matahari
Model SM Prime Holdings di Filipina sederhana: gunakan atap mal sebagai pembangkit surya skala besar, kombinasikan dengan efisiensi energi (LED, desain gedung), lalu lengkapi dengan strategi pembelian listrik hijau dari pihak ketiga.
Beberapa angka kuncinya:
-
SM City Fairview
- Kapasitas: 3,785 MWp
- Luas atap: 4,3 hektare
- Panel: 6.882 unit
- Produksi: ±5.960 MWh/tahun
- Porsi ke konsumsi mal: 11%
- Pengurangan emisi: ±4.133 ton CO₂/tahun
-
Total jaringan (per Juli 2025)
- 88 mal sudah terpasang surya atap
- Total kapasitas: 73 MWp (target 100 MWp akhir 2025)
-
50% listrik sudah dari energi terbarukan (kombinasi surya, panas bumi, dsb.)
Yang menarik, semua ini diuji justru di periode paling berat: musim Natal. Lampu dekorasi menyala dari September sampai Januari, jam buka mal diperpanjang, pengunjung membludak, AC bekerja ekstra. Kalau sistem energi tetap stabil di titik beban puncak seperti ini, berarti modelnya cukup tangguh.
Buat Indonesia, ini bukan sekadar cerita sukses tetangga. Ini blueprint praktis: kalau mereka bisa memasang puluhan MWp di atap mal di tengah musim hujan tropis dan badai, kita tak punya alasan untuk terus menunda.
Apa Pelajarannya untuk Mal dan Kawasan Komersial di Indonesia?
1. Atap Mal adalah “Tambang Surya” yang Selama Ini Terbengkalai
Hampir semua kota besar Indonesia punya deretan mal besar—Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, hingga kota-kota satelit seperti BSD, Bekasi, dan Denpasar. Atapnya luas, struktur bangunannya kuat, dan beban listriknya tinggi sepanjang hari.
Dari pengalaman SM Prime, pola yang terbukti efektif:
- Mulai dari pilot (seperti mereka mulai 2014 di satu mal) untuk belajar teknis, operasional, dan bisnis.
- Skalakan cepat begitu model finansial terbukti: mereka naik ke 73 MWp di 88 mal dalam sekitar satu dekade.
- Jangan hanya mengandalkan PLTS atap sendiri. Mereka juga meneken perjanjian pembelian listrik (PPA) dengan pengembang panas bumi dan surya.
Untuk Indonesia, ini bisa diterapkan misalnya:
- Jaringan mal nasional atau regional (Lippo Malls, Pakuwon, Summarecon, dsb.) membuat roadmap PLTS atap 10–50 MWp secara bertahap.
- Kerja sama dengan pengembang surya lokal lewat skema
build-own-operateatauPPAjangka panjang. - Sinkron dengan target nasional: bauran EBT 23% pada 2025 dan 31% pada 2050 (atau target terbaru yang sedang dibahas).
2. Efisiensi Energi Itu Separuh Perang
SM Supermalls sudah mengonversi 100% pencahayaan menjadi LED sejak 2018 di 85 mal. Hasilnya:
- Penghematan energi lampu sekitar 50%.
- Tetap mampu membuat dekorasi Natal yang megah dan terang.
Pengalaman saya melihat proyek efisiensi di gedung komersial: sering kali, ROI penggantian ke LED + sistem kontrol pintar lebih cepat daripada investasi PLTS atap. Kombinasi keduanya membuat kapasitas PLTS yang dibutuhkan jadi lebih kecil tapi dampaknya sama atau lebih besar.
Untuk operator mal Indonesia, langkah realistis:
- Audit energi: berapa kWh/m² per tahun?
- Ganti ke LED berkualitas + sensor gerak/occupancy di area parkir dan koridor.
- Integrasikan dengan building management system (BMS) yang kelak bisa di-upgrade dengan modul AI.
3. Tradisi dan Bisnis Jalan, Emisi Turun
Filipina mulai merayakan Natal sejak September. Indonesia punya pola mirip untuk Ramadhan, Lebaran, dan akhir tahun: pusat perbelanjaan penuh dekorasi, promo, acara musik, sampai jam buka diperpanjang.
Pelajarannya:
- Tradisi tak perlu dipangkas. Yang diubah adalah cara menyuplai energinya.
- Lampu hias, panggung musik, wahana permainan—semua tetap ada, tapi sebagian dayanya datang dari matahari di siang hari dan di-smoothing dengan manajemen energi pintar.
Bagi manajemen mal di Indonesia, argumen bisnisnya kuat:
- Penghematan listrik langsung di tagihan.
- Citra merek: pengunjung makin peduli pada keberlanjutan.
- Mitra penyewa (tenant) besar—khususnya global brand—mulai menuntut bukti jejak karbon yang lebih rendah.
Di Mana Peran AI dalam Model seperti Filipina Ini?
Energi surya itu variabel: tergantung cuaca, awan, musim. Saat terhubung ke jaringan dan beban besar seperti mal, AI menjadi alat penting untuk menjaga efisiensi, keandalan, dan biaya.
Berikut beberapa peran konkret AI dalam konteks AI untuk sektor energi Indonesia:
1. Prediksi Produksi Surya & Permintaan Beban
Model machine learning bisa memprediksi:
- Berapa output PLTS atap beberapa jam ke depan, berdasarkan data cuaca lokal, historis produksi, dan pola musiman.
- Berapa beban listrik mal hari ini, weekend vs weekday, libur panjang, atau saat event besar.
Dengan prediksi ini, operator bisa:
- Menentukan kapan mengurangi pembelian dari jaringan dan memaksimalkan surya.
- Menyiapkan genset atau baterai kalau diprediksi ada lonjakan beban dan cuaca mendung panjang.
- Mengatur jadwal operasi sistem HVAC (AC sentral) dan chiller agar beban puncak “digeser” ke jam dengan produksi surya tertinggi.
2. Optimasi Real-Time Konsumsi Energi di Mal
AI bisa menjadi “otak” di building energy management system:
- Mengatur set-point AC di area yang sedang sepi vs ramai.
- Meredupkan otomatis sebagian lampu dekorasi di jam yang sepi pengunjung tanpa merusak estetika.
- Mengatur lift, eskalator, dan sistem parkir otomatis agar konsumsi energi sejalan dengan trafik nyata, bukan jadwal statis.
Dalam praktik, ini sering menghasilkan penghematan tambahan 5–15% di atas penghematan dari hardware (LED, chiller efisien, dsb.).
3. Integrasi dengan Jaringan & Program Respons Beban
SM Supermalls ikut program Interruptible Load Program (ILP): saat jaringan sedang kritis, mereka memakai genset sendiri supaya tidak menambah beban grid.
Di Indonesia, konsep mirip demand response mulai dibahas untuk kawasan industri dan komersial. Di sinilah AI bisa:
- Menghitung kapan paling murah dan aman bagi mal untuk mengurangi pengambilan daya dari PLN.
- Menyusun strategi kapan memakai PLTS atap, kapan tarik listrik PLN, kapan menyalakan baterai/genset jika ada.
- Mengelola banyak lokasi (puluhan mal di berbagai kota) sebagai satu portofolio energi, bukan gedung yang berdiri sendiri.
Buat perusahaan energi Indonesia—baik PLN, IPP, maupun pengelola kawasan—ini membuka model bisnis baru:
- Jasa virtual power plant (VPP) yang mengelola gabungan PLTS atap + baterai + beban fleksibel di banyak gedung.
- Skema tarif dinamis yang dioptimasi otomatis oleh AI di sisi pelanggan besar.
Bagaimana Korporasi Indonesia Bisa Mulai Meniru – dengan Sentuhan AI
Langkah 1: Peta Potensi & Data Dulu, Investasi Belakangan
Pengalaman saya, proyek energi yang berhasil selalu dimulai dari data yang rapi.
Untuk jaringan mal, kawasan industri, atau superblok:
- Kumpulkan data 12–24 bulan: profil beban tiap 15–30 menit, tagihan listrik, faktor beban, dan pola operasional.
- Petakan luas atap dan orientasinya: berapa MWp PLTS realistis yang bisa dipasang.
- Mulai jalankan proof of concept AI sederhana: prediksi beban, deteksi anomali konsumsi, dan simulasi skenario PLTS.
Dari sini, business case akan kelihatan lebih jelas, bukan tebak-tebakan.
Langkah 2: Pilot PLTS Atap + Sistem Manajemen Energi Berbasis AI
Alih-alih langsung 10 MWp, mulai dengan:
- 0,5–1 MWp di satu lokasi besar.
- BMS yang sudah mendukung integrasi data real-time.
- Modul AI untuk prediksi dan optimasi energi.
Ukuran pilot ini cukup besar untuk mendapat pelajaran teknis dan finansial, tapi cukup kecil untuk risiko yang bisa ditanggung.
Langkah 3: Scale-Up Portofolio, Bukan Per Gedung
Begitu modelnya jelas, lakukan seperti SM Prime:
- Tetapkan target kapasitas PLTS portofolio (misal 20–50 MWp dalam 5 tahun).
- Kombinasikan PLTS atap, PPA dengan pengembang surya/panas bumi, dan efisiensi energi.
- Gunakan platform AI terpusat untuk memantau dan mengoptimasi semua lokasi sekaligus.
Di titik ini, perusahaan bukan lagi sekadar “pemakai listrik”, tapi mulai berperan sebagai bagian dari infrastruktur energi terdistribusi.
Kenapa Ini Penting untuk Transisi Energi Indonesia Sekarang?
Transisi energi sering terdengar abstrak. Padahal kasus Filipina ini menunjukkan sesuatu yang jauh lebih konkret:
Tradisi besar seperti Natal bisa berjalan lebih meriah justru karena energi terbarukan dan manajemen energi yang cerdas.
Indonesia menghadapi tekanan ganda: kebutuhan listrik tumbuh, target iklim makin ketat, dan biaya energi fosil yang tidak pasti. Di sisi lain, kita punya:
- Ribuan hektare atap gedung komersial dan industri.
- Biaya teknologi surya dan sensor yang terus turun.
- Ekosistem startup dan talenta AI yang berkembang cepat.
Seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” ada untuk menunjukkan bahwa gabungan PLTS atap + efisiensi + AI bukan sekadar wacana teknologi, tapi alat yang bisa dipasang, dioperasikan, dan menghasilkan rupiah sekarang juga.
Jadi pertanyaannya bukan lagi, “Bisakah Indonesia meniru Filipina?” tetapi, siapa yang mau menjadi SM Prime-nya Indonesia—mengubah atap-atap mal, gudang, dan pabrik menjadi pembangkit surya pintar yang menghidupi momen-momen terbesar kita, dari Ramadhan sampai Natal, dengan emisi yang jauh lebih rendah.
Kalau Anda mengelola aset energi besar—mal, kawasan industri, atau perusahaan energi—ini saat yang tepat untuk mulai memetakan potensi PLTS atap dan menyiapkan fondasi data untuk solusi AI energi. Semakin cepat mulai, semakin besar ruang penghematan dan peluang bisnis yang bisa Anda ambil.