Program 1 Desa 1 Megawatt bisa mengubah ekonomi 80 ribu desa. Kuncinya: PLTS, baterai, SDM lokal, dan AI untuk merencanakan, mengelola, dan mengoptimalkannya.

Satu Desa, Satu Megawatt: Kenapa Program Ini Krusial untuk Transisi Energi Indonesia
Biaya listrik dari genset diesel di desa 3T bisa tembus Rp6.000–10.000 per kWh. Padahal tarif listrik rumah tangga biasa jauh di bawah itu. Selisihnya dibayar dengan kualitas hidup yang tertinggal dan aktivitas ekonomi yang serba mahal.
Program “1 Desa 1 Megawatt” PLTS + baterai yang diumumkan Presiden Prabowo, dengan target 100 GW PLTS dan pemasangan 1 MW PLTS + 4 MW baterai di 80.000 desa, langsung menyentuh akar masalah: akses energi yang mahal, kotor, dan tidak andal di desa-desa Indonesia.
Ini tidak hanya soal memasang panel surya. Ini soal mengubah struktur ekonomi perdesaan dan mempercepat transisi energi nasional. Dan kalau mau program sebesar ini benar-benar jalan, bukan cuma jadi slogan, kita butuh otomatisasi, prediksi, dan optimasi. Di sinilah AI untuk sektor energi mulai terasa relevan.
Dalam tulisan ini, saya akan uraikan:
- Kenapa program 1 Desa 1 MW adalah langkah strategis untuk Indonesia
- Tantangan teknis dan sosial yang sering bikin proyek energi desa mandek
- Bagaimana AI bisa membuat proyek sebesar 80.000 desa jadi lebih cepat, murah, dan terkelola
- Apa yang perlu dilakukan pemerintah daerah, BUMDes, dan pelaku energi terbarukan sekarang
Dari Diesel ke Surya: Menggeser Fondasi Energi Perdesaan
Inti program 1 Desa 1 MW adalah menggantikan dominasi pembangkit diesel dengan PLTS dan baterai di desa-desa, terutama desa 3T.
Realitas pahit listrik desa berbasis diesel
Menurut pemaparan Fabby Tumiwa (CEO IESR), desa 3T saat ini sangat bergantung pada pembangkit diesel kecil milik PLN atau swasta. Masalahnya jelas:
- Biaya operasi tinggi: bisa mencapai Rp6.000–10.000 per kWh
- Ongkos logistik berat: distribusi solar ke daerah terpencil sering tersendat, apalagi saat cuaca buruk atau badai
- Jam nyala terbatas: banyak desa hanya menikmati listrik beberapa jam per hari
- Emisi tinggi: diesel menyumbang polusi udara dan emisi gas rumah kaca
PLN sendiri punya sekitar 3 GW pembangkit diesel yang saat ini menjadi “titik masuk cepat” untuk program PLTS desa. Artinya, ada ruang nyata untuk mengkonversi beban diesel menjadi beban surya + baterai.
Mengapa PLTS 1 MW per desa masuk akal
PLTS 1 MW di satu desa, dipadu baterai 4 MW, punya beberapa keunggulan:
- Sumber energi lokal: sinar matahari ada di hampir semua wilayah Indonesia
- Biaya jangka panjang lebih rendah: investasi awal besar, tapi biaya operasi dan perawatan jauh lebih murah dibanding solar
- Kemandirian energi: desa tidak lagi sepenuhnya tergantung pada BBM yang didatangkan dari luar
- Kualitas layanan naik: potensi listrik 24 jam, bukan hanya 4–6 jam sehari
Ini bukan sekadar proyek listrik. Ini fondasi ekonomi baru: jika listrik andal dan murah tersedia, skala usaha warga bisa berubah total.
Dua Kunci Sukses: Permintaan Ekonomi dan SDM Lokal
Mayoritas proyek listrik perdesaan gagal bukan karena teknologinya jelek, tapi karena permintaan energi rendah dan pengelolaan lemah. Fabby menyoroti dua hal krusial yang sering diabaikan.
1. Permintaan listrik harus diciptakan, bukan ditunggu

Kalau desa hanya memakai listrik untuk lampu dan TV, PLTS 1 MW akan menganggur. Itu pemborosan investasi.
Fabby mengusulkan pendekatan demand creation: aktivitas ekonomi harus dirancang dan digerakkan bersamaan dengan pembangunan PLTS. Contohnya:
- Agroindustri desa: penggilingan padi, pengeringan hasil panen, pabrik es untuk nelayan, pengolahan kopi/kakao
- Usaha kecil berbasis listrik: freezer untuk produk laut, bengkel, percetakan, pengolahan makanan kemasan
- Layanan publik produktif: cold storage BUMDes, klinik dengan peralatan medis, fasilitas pendidikan digital
Program 1 Desa 1 MW baru terasa dampaknya ketika konsumsi listrik desa naik karena ekonomi bergerak, bukan hanya karena semua rumah punya lampu LED.
2. SDM lokal adalah penentu umur proyek
Sebagus apa pun sistem PLTS, kalau tidak ada yang bisa mengoperasikan dan merawat di lapangan, umur teknisnya pendek.
Dua langkah praktis yang sangat relevan:
- Pelatihan operator desa: warga lokal dilatih menjadi operator dan teknisi dasar PLTS serta sistem baterai
- Pendampingan EPC & penyedia layanan: kerja sama jangka pendek dengan perusahaan EPC PLTS dan perusahaan layanan operasi–pemeliharaan, sambil pelan-pelan mengalihkan kapasitas ke SDM lokal
Di sinilah AI bisa memperkuat SDM lokal, misalnya lewat sistem monitoring yang mudah dipahami, notifikasi otomatis, dan panduan perbaikan berbasis aplikasi.
Di Mana Peran AI dalam Program 1 Desa 1 Megawatt?
Untuk program sebesar 80.000 desa, pendekatan manual jelas tidak cukup. Perencanaan, pembangunan, sampai operasi harian butuh otomatisasi dan kecerdasan prediktif. AI bukan tambahan mewah, tapi alat untuk membuat program ini realistis.
1. Pemetaan lokasi PLTS yang lebih tepat dan cepat
Sebelum membangun PLTS desa, pemerintah perlu menjawab beberapa pertanyaan:
- Desa mana yang layak diprioritaskan?
- Berapa kapasitas yang ideal per desa (betul-betul 1 MW, atau perlu disesuaikan)?
- Di mana lokasi terbaik untuk instalasi (aspek teknis, sosial, dan risiko bencana)?
AI untuk sektor energi bisa membantu dengan:
- Analisis citra satelit: mengidentifikasi lahan kosong, atap bangunan publik, dan potensi bayangan (shading)
- Model cuaca dan radiasi surya: memprediksi potensi energi surya tahunan di tiap titik desa
- Analisis sosial-ekonomi: menggabungkan data kependudukan, tingkat kemiskinan, akses jalan, potensi komoditas lokal, untuk menentukan desa dengan potensi dampak ekonomi terbesar
Hasilnya: prioritas dan desain proyek yang berbasis data, bukan sekadar pertimbangan politik atau insting.
2. Prediksi permintaan dan desain sistem yang efisien
Salah satu kesalahan umum dalam proyek energi terbarukan pedesaan adalah oversizing atau undersizing kapasitas.

AI dapat:
- Memprediksi pertumbuhan permintaan listrik per desa dengan memasukkan variabel: perkembangan usaha, koneksi rumah tangga baru, program bantuan, dan digitalisasi layanan
- Mengoptimalkan kombinasi PLTS, baterai, dan cadangan diesel (jika masih dipakai) sehingga biaya sistem levelized cost of energy (LCOE) bisa ditekan
- Menyusun skenario pemanfaatan listrik per jam (profil beban) untuk memastikan baterai tidak cepat aus dan PLTS beroperasi optimal
Hasilnya, investasi lebih tepat sasaran dan sistem lebih stabil.
3. Pengoperasian dan pemeliharaan berbasis data
Begitu sistem beroperasi, tantangan berikutnya adalah menjaga performa sebaik hari pertama.
Dengan smart metering dan IoT, data operasi bisa dikumpulkan dari ribuan desa. AI kemudian:
- Mendeteksi anomali performa: produksi turun di luar batas wajar, konsumsi melonjak tidak normal
- Mengirim peringatan dini ke operator desa: misalnya, kemungkinan kerusakan inverter, degradasi panel, atau masalah baterai
- Menyusun jadwal perawatan prediktif, bukan menunggu rusak dulu
Buat desa yang SDM teknisnya masih terbatas, sistem seperti ini bisa jadi “asisten teknisi virtual” yang sangat membantu.
4. Model bisnis dan tarif yang adil dan berkelanjutan
Tarif listrik desa harus terjangkau bagi warga, tapi juga cukup untuk menutup biaya operasional dan perawatan.
AI bisa digunakan untuk:
- Menganalisis pola pembayaran dan kemampuan bayar warga
- Mensimulasikan berbagai skema tarif (flat, blok bertingkat, tarif khusus usaha produktif) dan dampaknya terhadap kas BUMDes atau koperasi desa
- Mengidentifikasi risiko gagal bayar dan membantu merancang skema subsidi silang yang lebih adil
Program ini disebut akan terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih. Kalau koperasi ini didukung sistem analitik berbasis AI, kualitas pengambilan keputusan finansial bisa meningkat drastis.
Peran Pemerintah Daerah, BUMDes, dan Pelaku Energi
Program nasional sebesar ini akan bertemu realitas sehari-hari di tingkat desa dan kabupaten. Di sini, peran lokal sangat menentukan.
Pemerintah daerah: kurator dan penghubung
Pemda bisa mengambil beberapa langkah konkret:
- Menyusun peta potensi energi surya dan aktivitas ekonomi desa di wilayahnya
- Mengintegrasikan program 1 Desa 1 MW dengan RPJMD, rencana tata ruang, dan program pengentasan kemiskinan
- Menjadi penghubung antara desa, koperasi, BUMDes, dan pengembang PLTS/EPC
Kalau pemda proaktif, program ini tidak jalan sendiri-sendiri, tapi menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah.

BUMDes dan koperasi desa: manajer bisnis energi
PLTS 1 MW bukan sekadar infrastruktur, tapi unit usaha energi.
BUMDes atau koperasi desa perlu disiapkan untuk:
- Mengelola pendapatan dan biaya operasional
- Menentukan tarif dan skema layanan (prabayar, pascabayar, paket usaha)
- Bekerja sama dengan pelaku usaha lokal untuk mendorong pemanfaatan listrik produktif
Di titik ini, penggunaan aplikasi manajemen energi berbasis AI akan sangat membantu, mulai dari pencatatan transaksi, analisis penggunaan, sampai proyeksi cashflow.
Perusahaan EPC dan startup energi: mitra teknologi dan AI
Untuk industri energi terbarukan, program 80.000 desa ini adalah pasar sekaligus tanggung jawab.
Beberapa peluang nyata:
- Menawarkan paket PLTS + baterai + platform AI monitoring sebagai satu solusi terintegrasi
- Mengembangkan dashboard energi yang ramah bagi operator desa
- Menyediakan layanan O&M jarak jauh berbasis data real-time
Perusahaan yang menggabungkan keahlian teknis PLTS dengan solusi AI untuk sektor energi Indonesia akan berada di posisi paling menguntungkan.
Menuju 80 Ribu Desa Energi Surya yang Benar-Benar Hidup
Program 1 Desa 1 Megawatt punya potensi mengubah wajah energi Indonesia: dari sistem yang tersentralisasi dan fosil, menuju sistem energi terdesentralisasi berbasis energi terbarukan.
Namun, ada beberapa syarat agar program ini tidak berhenti sebagai proyek fisik:
- Energi harus terkoneksi dengan ekonomi. Aktivitas ekonomi produktif di desa wajib dirancang sejak awal, bukan belakangan.
- SDM lokal harus naik kelas. Operator desa, teknisi lokal, manajer BUMDes—semua butuh pelatihan dan dukungan berkelanjutan.
- AI dan data perlu menjadi tulang punggung. Dari perencanaan sampai operasi, penggunaan AI untuk prediksi permintaan, optimasi jaringan mikro, dan monitoring harus dianggap standar baru, bukan tambahan opsional.
Kalau tiga hal ini terpenuhi, 1 MW di satu desa bukan hanya angka di atas kertas, tapi simbol desa yang mandiri energi dan lebih sejahtera.
Bagi Anda yang bergerak di energi terbarukan, teknologi digital, atau pemerintahan daerah, sekarang momen tepat untuk bertanya:
Di wilayah saya, desa mana yang paling siap menjadi contoh nyata “1 Desa 1 Megawatt” dengan dukungan energi surya dan AI?
Karena transisi energi yang berkelanjutan di Indonesia tidak akan dimenangkan di ruang rapat Jakarta saja, tapi di ribuan desa yang memilih beralih dari solar ke surya—dengan data dan kecerdasan buatan sebagai kompasnya.