Dari Baterai EV ke Storage Grid: Sinyal Penting untuk Indonesia

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

Pivot SK On dari baterai EV ke energy storage grid adalah sinyal penting: masa depan transisi energi butuh ESS dan AI. Indonesia sebaiknya menangkap momentum ini.

energy storageAI energitransisi energi Indonesiabaterai dan ESSsmart gridenergi terbarukanstrategi utilitas
Share:

Featured image for Dari Baterai EV ke Storage Grid: Sinyal Penting untuk Indonesia

Mengapa Pivot SK On Harus Jadi Wake-Up Call untuk Indonesia

Ford kehilangan lebih dari USD 5,1 miliar di divisi EV pada 2024. Di saat yang sama, mitra baterainya, SK On, justru memutuskan mengalihkan fokus ke stationary energy storage system (ESS) untuk jaringan listrik. Satu kejadian, dua pesan besar: pasar mobil listrik melambat, tapi bisnis penyimpanan energi untuk grid justru makin strategis.

Ini sangat relevan buat Indonesia. PLN lagi dikejar target integrasi energi terbarukan, sementara sistem masih didominasi batubara dan PLTG. Tanpa energy storage yang cerdas, panel surya dan PLTB yang terus bertambah hanya akan menambah pusing soal stabilitas jaringan.

Tulisan ini membahas:

  • Apa yang sebenarnya terjadi di balik bubarnya joint venture Ford–SK On
  • Kenapa SK On memilih berbelok ke ESS stasioner
  • Pelajaran strategis untuk transisi energi Indonesia
  • Peran AI dalam membuat proyek storage bukan sekadar demo, tapi benar-benar cuan dan andal

Apa yang Terjadi di Ford–SK On: Ringkasan Strategis

Intinya, Ford dan SK On membubarkan joint venture BlueOval SK, tapi bukan berarti produksi baterai berhenti. Malah, asetnya dipecah dan diarahkan ulang.

Fakta kunci dari kasus ini:

  • Joint venture BlueOval SK dibentuk 2021 dengan rencana investasi sekitar USD 11,4 miliar untuk 3 pabrik baterai di AS (1 Tennessee, 2 Kentucky)
  • Setelah dibubarkan:
    • Ford menguasai penuh dua pabrik di Kentucky untuk kebutuhan internal EV-nya
    • SK On mengambil alih dan mengoperasikan penuh pabrik di Tennessee
  • SK On tetap memasok baterai untuk Ford, tapi strategi barunya jelas: mengincar pertumbuhan yang lebih “profitable dan sustainable” dengan memasok ke lebih banyak pelanggan, termasuk untuk stationary ESS

Ford sendiri berada dalam posisi sulit:

  • Penjualan EV melambat
  • Insentif pajak EV federal USD 7.500 berakhir per 30/09
  • Divisi EV Ford, Model e, rugi USD 4,7 miliar (2023) dan USD 5,1 miliar (2024), dan masih merugi pada 2025
  • Ford menggeser fokus ke hybrid dan menunda beberapa proyek EV

Sementara itu, SK On membaca arah angin: permintaan baterai untuk grid dan ESS industri naik, seiring kebutuhan integrasi energi terbarukan dan fleksibilitas sistem listrik.

“Perjanjian ini memungkinkan SK On merestrukturisasi aset dan kapasitas produksi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan fleksibilitas,” – SK On

Buat pelaku energi di Indonesia, ini bukan sekadar berita korporasi global. Ini contoh pivot strategi yang sangat relevan dengan arah transisi energi kita sendiri.


Mengapa Stationary Energy Storage Jadi Target Besar

Jawabannya sederhana: tanpa storage, energi terbarukan sulit tumbuh sehat.

1. Menjawab masalah klasik: energi terbarukan itu variabel

Surya hanya produksi siang, angin tergantung cuaca. Grid tradisional Indonesia—yang dibangun untuk PLTU, PLTG, dan PLTA besar—tidak didesain untuk menghadapi output yang naik–turun cepat.

Stationary ESS, terutama baterai lithium-ion skala besar, memberikan fungsi kunci:

  • Shifting energi: menyimpan produksi PLTS siang hari, digunakan saat beban puncak malam
  • Frequency & voltage support: merespons gangguan dalam hitungan milidetik
  • Demand peak shaving: mengurangi kebutuhan membangun pembangkit baru hanya untuk beberapa jam puncak

Di AS, storage makin dilihat sebagai aset grid, bukan pelengkap. SK On masuk ke ranah ini karena:

  • Margin jangka panjang lebih stabil dibanding hanya bergantung ke industri otomotif
  • Proyek ESS utility-scale (ratusan MWh) mulai jadi standar di proyek PLTS besar

2. Koneksi langsung ke target Indonesia

Indonesia sudah punya target 23% energi terbarukan pada 2025 dan komitmen Net Zero Emission 2060. Masalahnya:

  • Banyak sistem kelistrikan sudah overcapacity di jam tertentu (misalnya Jawa–Bali), sementara beban puncak tetap jadi tantangan
  • Penetrasi PLTS atap dan PLTS utility-scale masih dibatasi karena kekhawatiran stabilitas dan surplus siang hari

ESS memberi solusi praktis:

  • PLN bisa membangun atau menggandeng IPP untuk proyek PLTS + BESS (battery energy storage system) ketimbang PLTU baru
  • Sistem pulau-pulau (Nusa Tenggara, Maluku, Papua) bisa kurangi ketergantungan diesel dengan kombinasi surya–storage

Dengan kata lain, langkah SK On mengalihkan satu pabrik besar untuk pasar ESS sejalan dengan kebutuhan negara seperti Indonesia yang sedang menggenjot energi terbarukan.


Dari Perspektif Indonesia: Pelajaran Strategi dari SK On

Kita bisa melihat langkah SK On sebagai semacam “blueprint” bagaimana pemain teknologi membaca masa depan energi.

1. Jangan hanya mengejar tren EV, pikirkan ekosistem energi

Banyak diskusi di Indonesia fokus pada mobil listrik, motor listrik, dan charging station. Padahal, nilai besar lain ada di:

  • Baterai second-life dari EV yang bisa jadi ESS
  • Pembangunan industri baterai lokal bukan hanya untuk otomotif, tapi juga untuk grid storage

Langkah SK On jelas: mereka tidak mau dikurung di satu segmen (EV). Mereka mengonversi kapasitas produksi ke segmen lain yang:

  • Masih butuh teknologi yang sama (baterai canggih)
  • Punya profil risiko yang berbeda dan lebih menyebar (pelanggan utility, data center, pabrik, dsb.)

Buat Indonesia, ini berarti:

  • Kebijakan hilirisasi baterai jangan semata diarahkan ke EV, tapi juga ke ESS untuk PLN dan industri
  • Insentif dan regulasi perlu mengakui storage sebagai infrastruktur strategis, bukan hanya perangkat tambahan

2. Diversifikasi model bisnis: dari hardware ke layanan energi

Pemain seperti SK On tidak hanya bisa menjual baterai. Dengan kombinasi software dan AI, mereka bisa naik kelas menjadi penyedia layanan:

  • Energy-as-a-Service untuk kawasan industri atau kota baru
  • Solusi microgrid dengan PLTS + storage + sistem kontrol pintar

Di Indonesia, ini membuka peluang bagi:

  • Pengembang energi terbarukan untuk menawarkan proyek PLTS + AI-based storage optimization ke pelanggan besar
  • Konsorsium lokal–internasional yang menggabungkan manufaktur, software AI, dan integrasi sistem

Kuncinya: jangan berhenti di pemasangan baterai secara fisik. Nilai tambah besar justru ada di lapisan optimasi dan orkestrasi.


Di Mana AI Masuk? Dari Baterai Jadi Otak Sistem Energi

ESS modern tanpa AI ibarat punya gudang besar tanpa sistem manajemen stok. Mahal, dan sering tidak efisien.

1. Prediksi beban dan produksi energi terbarukan

Untuk mengoperasikan storage dengan optimal, operator butuh tahu: kapan menyimpan dan kapan melepaskan energi.

Model AI dapat:

  • Memprediksi beban listrik hingga level jam-per-jam berdasarkan historis, cuaca, hari libur, pola industri
  • Memprediksi output PLTS dan PLTB dengan mengolah data radiasi matahari, kecepatan angin, awan, temperatur

Dari sini, sistem bisa menentukan strategi otomatis:

  • “Charge” baterai saat harga/biaya marjinal rendah atau surplus PLTS
  • “Discharge” saat mendekati beban puncak atau saat ada ancaman gangguan

2. Optimasi operasi ESS: dari teknis sampai finansial

AI bisa mengoptimasi ESS pada dua level:

Teknis:

  • Mengurangi degradasi baterai dengan mengatur depth of discharge dan pola siklus
  • Menjaga state of health (SoH) melalui monitoring dan prediksi kegagalan (predictive maintenance)

Finansial:

  • Mengatur strategi arbitrase energi (beli saat murah, jual saat mahal) di pasar listrik yang sudah liberal
  • Memberi rekomendasi ukuran kapasitas baterai optimal di tahap perencanaan proyek

Di Indonesia, meski belum ada full market seperti di Eropa/AS, logika ini tetap berlaku di:

  • Skema IPP: memaksimalkan availability dan mengurangi biaya O&M
  • Kawasan industri atau data center yang ingin menurunkan biaya listrik dan meningkatkan keandalan

3. Mengelola ratusan ESS sekaligus: fondasi virtual power plant (VPP)

Saat ESS tersebar di banyak titik—PLTS atap komersial, pabrik, kawasan industri—AI dibutuhkan untuk:

  • Mengkoordinasikan ratusan unit menjadi satu virtual power plant
  • Mengatur kapan tiap unit charge/discharge agar tidak menimbulkan masalah baru di jaringan lokal

Bagi PLN dan operator sistem di Indonesia, ini jadi pondasi:

  • Manajemen beban puncak tanpa harus terus membangun pembangkit puncak berbasis fosil
  • Peningkatan keandalan di wilayah dengan penetrasi PLTS atap yang tinggi

Apa Artinya bagi Perusahaan Energi dan Industri di Indonesia

Kalau ditarik ke konteks sehari-hari pelaku energi di Indonesia, sinyal dari kasus SK On cukup jelas: storage dan AI bukan lagi “opsi tambahan”, tapi fondasi strategi energi ke depan.

Pertanyaan praktis yang perlu mulai dijawab

  1. Untuk utilitas dan PLN Group

    • Di sistem mana PLTS + ESS paling masuk akal 3–5 tahun ke depan? Jawa–Bali, atau justru sistem kecil di timur Indonesia?
    • Bagaimana memasukkan model AI prediksi beban dan produksi ke dalam RUPTL dan perencanaan dispatch?
  2. Untuk IPP dan pengembang energi terbarukan

    • Apakah setiap proposal PLTS baru sudah menyertakan skenario BESS + AI optimization?
    • Model bisnis apa yang bisa ditawarkan ke pelanggan industri: sewa storage, performance-based, atau energy-as-a-service?
  3. Untuk pelaku industri & kawasan industri

    • Seberapa besar penghematan jika beban puncak sebagian ditanggung oleh ESS internal yang dikendalikan AI?
    • Bagaimana ESS bisa jadi proteksi terhadap gangguan pasokan dan fluktuasi tarif di masa depan?

Langkah awal yang realistis

Beberapa langkah taktis yang menurut saya cukup “low-regret” untuk 12–24 bulan ke depan:

  • Pilot project PLTS + ESS + AI di satu kawasan industri atau satu sistem kelistrikan pulau, dengan target KPI jelas: penghematan biaya, penurunan emisi, peningkatan SAIDI/SAIFI
  • Integrasi data: pastikan data beban, produksi, cuaca, dan histori gangguan dikumpulkan rapi—ini bahan bakar utama model AI
  • Bangun kapabilitas internal: bukan hanya beli sistem, tapi juga membentuk tim kecil yang paham data, AI, dan operasi sistem tenaga

SK On sudah menunjukkan bahwa arah industri baterai global mulai menimbang ESS sebagai tulang punggung bisnis masa depan. Menurut saya, kalau Indonesia menunggu terlalu lama untuk menjadikan ESS dan AI sebagai prioritas, biaya mengejarnya nanti akan jauh lebih mahal.


Penutup: Dari Tennessee ke Jawa–Bali, Arah Besar yang Sama

Kasus Ford–SK On mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tapi garis besarnya relevan:

  • EV hype melandai, tapi kebutuhan fleksibilitas sistem energi justru naik
  • Produsen baterai global mulai menganggap stationary energy storage sebagai pilar utama bisnis
  • AI perlahan berubah dari buzzword jadi “mesin otak” yang menentukan proyek storage untung atau rugi

Untuk seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”, pelajaran utamanya jelas:

Transisi energi Indonesia tidak cukup hanya membangun lebih banyak PLTS dan PLTB. Kita perlu jaringan yang cerdas, storage yang strategis, dan AI sebagai otaknya.

Pertanyaannya sekarang: apakah perusahaan energi dan industri di Indonesia siap menempatkan ESS dan AI di jantung strategi, bukan hanya di lampiran proposal proyek?


🇮🇩 Dari Baterai EV ke Storage Grid: Sinyal Penting untuk Indonesia - Indonesia | 3L3C