SK On beralih dari fokus baterai EV ke penyimpanan energi stasioner. Ini sinyal kuat bahwa masa depan smart grid dan transisi energi Indonesia ada pada ESS + AI.

Dari BlueOval SK ke Penyimpanan Stasioner: Sinyal Besar untuk Transisi Energi
Ford kehilangan satu mitra besar di bisnis baterai EV-nya. SK On justru memutar haluan dan menjadikan penyimpanan energi stasioner sebagai fokus baru. Di balik berita korporasi ini, ada pesan penting untuk Indonesia: masa depan energi bersih tidak hanya soal mobil listrik, tapi juga soal baterai besar yang diam di satu tempat, menopang jaringan listrik.
Dalam seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” ini, kasus SK On di AS menarik karena menggambarkan tren global: permintaan EV melambat, sementara kebutuhan stationary energy storage system (ESS) dan smart grid justru menguat. Dan di titik inilah AI menjadi pembeda utama — baik untuk utilitas, IPP, maupun pengembang proyek energi terbarukan di Indonesia.
Tulisan ini membahas:
- Apa sebenarnya yang terjadi antara Ford dan SK On
- Mengapa SK On berputar ke penyimpanan energi stasioner
- Apa hubungannya dengan transisi energi dan smart grid Indonesia
- Bagaimana AI bisa membuat proyek ESS jauh lebih menguntungkan dan andal
Apa yang Terjadi: Ford–SK On Bubar, Pabrik Tetap Jalan
Intinya: joint venture Ford–SK On (BlueOval SK) bubar, tapi pabrik baterai jalan terus — hanya saja orientasinya melebar, termasuk ke penyimpanan energi stasioner.
Beberapa poin penting dari kasus ini:
- Ford dan SK On sepakat membubarkan joint venture BlueOval SK yang dibentuk 2021 dengan nilai investasi sekitar USD 11,4 miliar.
- Dari tiga pabrik baterai:
- 2 pabrik di Kentucky jadi milik penuh Ford.
- 1 pabrik di Tennessee diambil alih penuh SK On.
- SK On tetap memasok baterai EV ke Ford, tapi secara bisnis mereka mengarahkan pabrik Tennessee untuk:
- Menjual baterai ke pelanggan lain
- Masuk agresif ke pasar baterai untuk sistem penyimpanan energi stasioner (ESS)
- Alasan strategis SK On jelas: mengejar “pertumbuhan yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan” dengan memperluas basis pelanggan dan aplikasi, tidak hanya bergantung pada EV.
Latar belakangnya juga cukup keras: penjualan EV di AS melambat, insentif pajak EV berkurang, dan divisi EV Ford merugi miliaran dolar dalam beberapa tahun terakhir. Ford lalu menunda beberapa peluncuran EV dan kembali menggenjot hybrid. Kapasitas baterai yang awalnya dibutuhkan jadi berlebih.
Artinya, untuk pemain baterai global, pasar ESS mulai terlihat lebih menarik ketimbang hanya mengejar volume EV.
Mengapa Penyimpanan Energi Stasioner Jadi Primadona Baru
Penyimpanan energi stasioner kini menjadi komponen inti transisi energi: menstabilkan jaringan, menyerap surplus energi surya–angin, dan menggantikan PLTG/PLTD sebagai pembangkit puncak.
Di luar negeri, terutama di AS, Eropa, dan Australia, tren ini sudah terlihat jelas:
- Farm surya dan angin nyaris selalu dikawinkan dengan baterai.
- Utility memasang baterai skala besar (ratusan MWh–GWh) sebagai “peaking plant baru” pengganti pembangkit fosil yang mahal dan lambat.
- Data center, kawasan industri, dan bahkan kota kecil mulai menggunakan ESS untuk peak shaving, backup, dan peningkatan keandalan.
Untuk Indonesia, relevansinya malah lebih besar:
-
Integrasi PLTS dan PLTB
RUPTL hijau dan target net zero berarti kapasitas PLTS dan PLTB akan terus naik. Tanpa ESS, grid PLN akan kesulitan menerima penetrasi energi terbarukan tinggi karena:- Variabilitas cuaca
- Lonjakan beban lokal
- Keterbatasan jaringan transmisi di daerah terpencil
-
Mengurangi ketergantungan pada PLTD/PLTG
Banyak sistem kelistrikan di Indonesia Timur masih bertumpu pada PLTD mahal. Kombinasi PLTS + ESS + AI untuk optimasi operasi bisa:- Mengurangi biaya BBM
- Mengurangi emisi
- Meningkatkan jam nyala listrik di daerah 3T
-
Mendukung smart grid dan tarif dinamis
Ketika nanti tarif listrik makin dinamis (time-of-use, demand charge, dsb.), ESS di gardu, kawasan industri, atau bahkan perumahan akan jadi alat penting untuk:- Menggeser konsumsi ke jam lebih murah
- Menjaga power quality
- Meredam lonjakan beban EV charging di malam hari
SK On melihat potensi ini — bukan hanya di AS, tapi global. Mereka membawa kapasitas produksi baterai kelas otomotif ke pasar ESS, yang butuh kualitas dan reliability tinggi.
Hubungan Langsung ke Indonesia: Dari EV ke Grid Cerdas
Perubahan fokus SK On mengirim pesan yang relevan untuk Indonesia: jangan terpaku hanya pada ekosistem EV. Ekosistem penyimpanan energi untuk grid jauh lebih luas dan strategis.
Ada beberapa pelajaran yang cukup tajam bila kita tarik ke konteks Indonesia:
1. Kebijakan bisa menggeser pasar dalam hitungan tahun
Di AS, perubahan standar efisiensi bahan bakar (CAFE), pengurangan insentif EV, dan perlambatan permintaan membuat pabrik baterai yang tadinya diproyeksikan penuh, tiba-tiba kelebihan kapasitas.
Di Indonesia, skenario serupa bisa terjadi di:
- Program EV jika insentif baterai/PPnBM berubah
- Program PLTS atap jika aturan ekspor impor kWh atau tarif berubah
- RUPTL jika revisi asumsi pertumbuhan beban
Solusinya: portofolio yang fleksibel. Pemain baterai dan utilitas sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu segmen (misalnya EV), tapi juga ESS untuk grid, industri, dan komersial.
2. Kapasitas baterai EV bisa “diputar” ke ESS
Pengalaman teknis di baterai EV bisa langsung diturunkan ke:
- Baterai skala grid dengan standar keamanan tinggi
- Teknologi second-life battery EV untuk ESS
- Battery management system (BMS) yang lebih canggih
Untuk Indonesia yang ingin jadi hub baterai dan EV di Asia Tenggara, strategi seperti SK On menarik:
- Bangun pabrik baterai yang tidak terkunci hanya untuk mobil
- Siapkan lini produk khusus ESS, baik skala grid maupun behind-the-meter
- Integrasikan sejak awal dengan platform AI untuk optimasi operasi ESS
3. ESS adalah fondasi smart grid Indonesia
Smart grid bukan hanya soal smart meter dan SCADA yang modern. Tanpa fleksibilitas dari ESS, PLN dan IPP akan tetap kesulitan:
- Mengelola fluktuasi PLTS/PLTB
- Menghadapi lonjakan beban musiman (Lebaran, Natal, cuaca ekstrem)
- Mengintegrasikan beban baru seperti EV charging hub dan data center
ESS + AI = “otot” dan “otak” smart grid.
Baterai menyediakan fleksibilitas energi, AI yang menentukan kapan, berapa, dan untuk apa fleksibilitas itu digunakan.
Di Mana Peran AI dalam Penyimpanan Energi Stasioner?
AI membuat ESS jauh lebih bernilai: meningkatkan pendapatan, menurunkan degradasi baterai, dan menjaga keandalan sistem. Tanpa AI, baterai mudah salah operasi dan rugi.
Beberapa use case AI yang paling relevan dengan konteks SK On dan Indonesia:
1. Optimasi pengisian–pengosongan (charge–discharge)
AI bisa:
- Memperkirakan beban 24–72 jam ke depan
- Memprediksi output PLTS/PLTB berbasis cuaca
- Mengantisipasi harga listrik (jika nanti ada pasar atau tarif dinamis)
Dari situ, sistem menentukan:
- Kapan baterai diisi (misalnya saat harga rendah atau surplus PLTS)
- Kapan baterai dikosongkan (saat beban puncak atau gangguan jaringan)
- Batas state of charge aman untuk menjaga umur baterai
Hasilnya:
- Pendapatan meningkat (karena arbitrase energi dan layanan keandalan)
- Degradasi berkurang (karena siklus yang direncanakan)
- ESS lebih mudah bankable di mata investor dan perbankan
2. Prediksi degradasi dan kesehatan baterai
Baterai adalah aset mahal. Umurnya bergantung pada:
- Pola siklus charge–discharge
- Suhu operasi
- Cara penyimpanan dan perawatan
Model AI bisa belajar dari:
- Data tegangan, arus, suhu, dan siklus
- Pola operasi historis
- Data kegagalan di armada baterai lain
Lalu mengeluarkan:
- Estimasi State of Health (SoH) per string/modul
- Perkiraan sisa umur pakai (RUL)
- Rekomendasi pola operasi yang memperpanjang umur
Untuk pemilik aset di Indonesia, ini berarti:
- Bisa merencanakan penggantian modul jauh-jauh hari
- Negosiasi O&M dan warranti dengan dasar data, bukan asumsi
- Menghindari catastrophic failure yang berpotensi memicu kebakaran
3. Manajemen portofolio ESS multi-lokasi
Begitu ESS mulai dipasang di banyak titik (gardu induk, kawasan industri, pulau kecil), kompleksitas meningkat.
AI dapat:
- Mengoptimasi operasi ESS di banyak lokasi secara terpusat
- Mengkoordinasikan respon saat gangguan sistem besar
- Mengalokasikan kapasitas baterai untuk berbagai layanan: kontinjensi, frekuensi, peak shaving, dsb.
Ini sangat relevan jika nanti Indonesia membuka lebih banyak skema pembangkitan terdistribusi (DER) dan virtual power plant (VPP).
4. Integrasi dengan smart meter dan tarif dinamis
Dalam konteks smart metering dan tarif berbasis jam, ESS di level pelanggan (industri/perumahan) bisa dioptimasi AI untuk:
- Menghindari penalty demand charge
- Mengisi baterai saat tarif rendah
- Mengosongkan baterai saat tarif tinggi atau saat sistem butuh dukungan
Perusahaan energi yang membangun layanan berbasis ini akan punya sumber pendapatan baru, misalnya:
- Energy-as-a-service dengan bundling PLTS atap + ESS + AI
- Layanan manajemen beban untuk kawasan industri
Langkah Praktis untuk Pemain Energi di Indonesia
Pelajaran dari SK On jelas: fleksibilitas model bisnis dan kesiapan teknologi (termasuk AI) akan menentukan siapa yang menang di era transisi energi.
Beberapa langkah konkret yang bisa diambil sekarang:
1. Masukkan ESS dan AI dalam perencanaan jangka menengah
Untuk PLN, IPP, dan pengembang proyek:
- Pastikan studi kelayakan PLTS/PLTB selalu menghitung opsi ESS.
- Sertakan skenario AI-based optimization dalam model finansial:
- Proyeksi pendapatan layanan keandalan
- Penurunan degradasi baterai
- Pengurangan biaya O&M dan outage
2. Bangun kemitraan teknologi sejak awal
Seperti Ford menggandeng SK On, pemain Indonesia sebaiknya:
- Bermitra dengan produsen baterai yang terbuka pada integrasi data dan AI
- Menggunakan platform AI yang sudah terbukti di sektor energi, bukan memulai dari nol
- Menyusun data strategy sejak fase desain proyek, bukan setelah COD
3. Mulai dari proyek percontohan yang terukur
Daripada menunggu “big bang project”:
- Jalankan pilot ESS + AI di satu lokasi kritis (misalnya sistem kelistrikan pulau, kawasan industri, atau gardu dengan overload rutin).
- Ukur dampaknya: biaya bahan bakar, SAIDI/SAIFI, kualitas tegangan, pendapatan tambahan.
- Gunakan hasilnya sebagai model replikasi ke lokasi lain.
Saya cukup yakin: pemain yang memulai pilot cerdas sekarang akan memegang posisi tawar yang jauh lebih kuat ketika penetrasi energi terbarukan dipercepat dan regulasi ESS mulai terbentuk.
Penutup: Baterai Bukan Lagi Sekadar Urusan Mobil
Keputusan SK On menggeser fokus dari baterai EV ke penyimpanan energi stasioner menegaskan satu hal: baterai adalah infrastruktur sistem energi, bukan hanya komponen otomotif.
Untuk Indonesia yang sedang mendorong transisi energi berkelanjutan, masa depan ada pada kombinasi ESS skala besar + integrasi energi terbarukan + smart grid + AI.
Perannya tidak hanya menjaga lampu tetap menyala, tapi juga menurunkan biaya sistem, membuka model bisnis baru, dan mempercepat pencapaian target emisi.
Jika Anda berada di PLN, IPP, pengembang proyek energi terbarukan, atau pengelola kawasan industri, pertanyaannya sekarang sederhana:
Apakah portofolio Anda 5–10 tahun ke depan masih didesain dengan asumsi “tanpa baterai dan tanpa AI” — sementara pemain global sudah bergerak ke arah sebaliknya?
Mulai dari satu proyek percontohan ESS berbasis AI hari ini akan jauh lebih murah daripada memaksa mengejar ketertinggalan beberapa tahun lagi.