HVDC, Smart Grid, dan AI: Pelajaran dari Skotlandia

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

Proyek HVDC Skotlandia dari Hitachi Energy jadi contoh jelas bagaimana HVDC, smart grid, dan AI bisa mempercepat transisi energi Indonesia.

HVDCsmart gridAI energitransisi energi Indonesiaenergi terbarukangrid moderninfrastruktur kelistrikan
Share:

Featured image for HVDC, Smart Grid, dan AI: Pelajaran dari Skotlandia

Bagaimana Proyek HVDC Skotlandia Menggambarkan Masa Depan Jaringan Listrik Indonesia

Proyek transmisi baru di Skotlandia yang digarap Hitachi Energy dan SSEN Transmission bukan sekadar kabar kontrak miliaran pound. Ini contoh konkret bagaimana HVDC, smart grid, dan AI disatukan untuk mendukung transisi energi bersih.

Bagi Indonesia yang sedang mengejar target bauran energi terbarukan dan menghubungkan ribuan pulau, cerita Skotlandia ini relevan sekali. Di sana, dua subsea cable link besar akan beroperasi sebelum 2030. Di sini, kita bicara interkoneksi Kalimantan–Sulawesi, Bali–Nusa Tenggara, sampai potensi kabel bawah laut ke kawasan industri hijau.

Tulisan ini mengurai apa yang dilakukan Skotlandia, peran teknologi HVDC, bagaimana AI membuat jaringan seperti ini jauh lebih efisien, dan apa artinya untuk strategi AI untuk sektor energi Indonesia.


Ringkas Proyek: Apa yang Sedang Dibangun di Skotlandia?

Inti beritanya: Hitachi Energy mendapat kontrak dari SSEN Transmission untuk memasok stasiun konverter HVDC (high‑voltage direct current) pada dua proyek kabel bawah laut di Skotlandia.

Dua proyek kunci:

  1. Link Spittal–Peterhead

    • Menghubungkan Spittal di Caithness dengan Peterhead di Aberdeenshire.
    • Berfungsi sebagai “koridor energi” utama di utara Skotlandia.
  2. Link Western Isles–Mainland

    • Menghubungkan Kepulauan Barat (Western Isles) dengan daratan utama Skotlandia.
    • Memungkinkan ekspor energi terbarukan dari pulau (angin, mungkin gelombang & surya) ke grid nasional.

Hitachi Energy akan menangani desain, pengadaan, manufaktur, instalasi, dan commissioning teknologi konverter HVDC di kedua ujung kabel. Ini bagian dari program investasi SSEN Transmission senilai ÂŁ22 miliar untuk memperkuat jaringan transmisi Skotlandia utara.

Keduanya ditargetkan beroperasi sebelum 2030, berkontribusi pada keamanan pasokan dan target listrik bersih Inggris Raya.

Niklas Persson, Managing Director Grid Integration Hitachi Energy, menegaskan bahwa proyek ini memperkuat jaringan transmisi UK dan mempercepat transisi energi, dengan kolaborasi mendalam antara pelaku industri dan operator jaringan.


Kenapa HVDC Jadi Tulang Punggung Integrasi Energi Terbarukan

HVDC adalah teknologi transmisi tegangan tinggi arus searah yang sangat efisien untuk jarak jauh dan interkoneksi antar sistem. Untuk integrasi energi terbarukan skala besar, HVDC hampir selalu muncul di skenario teknis.

Keunggulan HVDC untuk sistem modern

Beberapa alasan kenapa HVDC dipilih di Skotlandia — dan juga relevan untuk Indonesia:

  • Rugi-rugi transmisi lebih rendah pada jarak jauh dibanding HVAC, terutama untuk kabel bawah laut atau bawah tanah.
  • Kapasitas daya besar: cocok untuk membawa ratusan sampai ribuan MW dari klaster pembangkit angin lepas pantai atau surya skala utilitas.
  • Kontrol aliran daya yang presisi: operator bisa “mengatur” berapa besar daya mengalir dari satu titik ke titik lain secara digital.
  • Interkoneksi sistem yang tidak sinkron: bisa menghubungkan dua grid dengan frekuensi atau karakteristik berbeda tanpa masalah kestabilan.

Di Skotlandia, Western Isles kaya sumber daya angin, tapi jauh dari pusat beban utama. Tanpa HVDC, banyak potensi listrik hijau itu hanya akan jadi “curtailment” – pembangkit dipaksa menurunkan output karena jaringan tak sanggup menyalurkan.

Indonesia menghadapi persoalan mirip:

  • Potensi angin dan surya besar ada di Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan Timur, Maluku, bukan hanya Jawa.
  • Beban terbesar masih terkonsentrasi di Jawa–Bali.
  • Interkoneksi antar pulau butuh kabel bawah laut berjarak ratusan kilometer dengan rugi yang harus ditekan.

Di titik ini, HVDC bukan lagi “opsi premium”, tapi makin mendekati kebutuhan strategis.


Dimana AI Masuk? Smart Grid Bukan Hanya Soal Kabel dan Konverter

Teknologi HVDC adalah hardware. Supaya benar-benar optimal, kita butuh otak digital di baliknya. Di sinilah kecerdasan buatan (AI) memainkan peran penting.

1. Optimasi aliran daya secara real-time

Dalam jaringan modern yang penuh pembangkit terbarukan, aliran daya berubah cepat. Angin naik turun, beban rumah tangga dan industri fluktuatif, dan harga energi juga dinamis.

AI dapat:

  • Memprediksi produksi angin dan surya beberapa jam hingga beberapa hari ke depan berdasarkan data cuaca dan histori.
  • Mengoptimalkan setpoint konverter HVDC untuk mengalirkan daya dari lokasi surplus ke lokasi defisit dengan rugi dan biaya minimum.
  • Membantu operator memilih rute aliran daya terbaik di jaringan interkoneksi yang kompleks.

Hasilnya: kapasitas HVDC yang mahal bisa dimanfaatkan maksimal, bukan hanya jadi “pipa cadangan” yang jarang dipakai penuh.

2. Manajemen kemacetan jaringan (congestion management)

Di Skotlandia, link Spittal–Peterhead berfungsi sebagai koridor energi. Di Indonesia, kita bisa bayangkan koridor Kalimantan Timur (industri hijau) – Jawa (konsumen besar).

Tanpa AI, pengelolaan kemacetan biasanya:

  • Mengandalkan aturan konservatif.
  • Sering berujung pada curtailment pembangkit terbarukan.

Dengan AI dan analitik canggih, operator bisa:

  • Mengantisipasi titik-titik kemacetan berjam-jam sebelum terjadi.
  • Menyusun skenario redispatch pembangkit secara otomatis.
  • Mengatur konfigurasi HVDC, capacitor, dan FACTS device untuk menjaga kestabilan.

3. Pemeliharaan prediktif untuk aset HVDC

Stasiun konverter HVDC penuh dengan komponen kritis: valve, trafo, sistem pendingin, kontrol digital. Downtime tidak bisa dianggap enteng.

AI membantu dengan:

  • Menganalisis ribuan parameter operasi (suhu, arus, tegangan, getaran) secara terus-menerus.
  • Mendeteksi pola anomali sebelum menjadi gangguan serius.
  • Merekomendasikan jadwal maintenance prediktif, bukan hanya preventive berbasis kalender.

Dampaknya langsung ke keandalan pasokan dan biaya O&M. Bagi Indonesia yang sensitif terhadap tarif listrik, efisiensi seperti ini sangat berharga.


Pelajaran Strategis untuk Indonesia: Dari Western Isles ke Nusantara

Kalau ditarik ke konteks transisi energi Indonesia, proyek SSEN–Hitachi ini memberi beberapa pelajaran penting.

1. Infrastruktur dulu, tapi harus “digital-ready”

Skotlandia tidak hanya membangun kabel dan gardu baru. Mereka membangun infrastruktur yang siap dioptimalkan secara digital.

Untuk Indonesia, artinya:

  • Setiap rencana interkoneksi HVDC antar pulau sebaiknya dirancang sejak awal agar terintegrasi dengan platform digital: SCADA generasi baru, Advanced EMS, dan modul AI.
  • Standar data dan protokol komunikasi harus disepakati lebih awal, agar integrasi antar vendor dan antar sistem lebih mudah.

Jika tidak, kita akan punya banyak aset fisik mahal yang sulit dioptimalkan karena “terkunci” dalam silo teknologi.

2. Mulai dari koridor prioritas

SSEN fokus pada area yang paling kritis: utara Skotlandia dan Western Isles yang kaya energi terbarukan.

Indonesia bisa mengambil pendekatan serupa dengan memilih koridor prioritas HVDC + AI seperti:

  • Kalimantan Timur – Jawa: mendukung kawasan industri hijau, hilirisasi nikel, dan pusat data.
  • Sulawesi – Jawa/Bali: menyalurkan listrik dari klaster PLTA dan PLTB.
  • Bali – Lombok – Nusa Tenggara: sebagai pilot renewable corridor dengan penetrasi surya dan angin tinggi.

Di koridor ini, implementasi AI untuk optimasi jaringan listrik bisa dijadikan living lab yang kemudian digandakan ke wilayah lain.

3. Menyiapkan SDM dan ekosistem data

SSEN menekankan aspek social value: penciptaan lapangan kerja lokal, pengembangan keahlian, dan manfaat jangka panjang bagi komunitas.

Indonesia sebaiknya memanfaatkan proyek HVDC dan smart grid untuk:

  • Mengembangkan talenta lokal di bidang data science energi, AI untuk grid, dan teknik sistem tenaga modern.
  • Membangun pusat data energi nasional yang mengumpulkan, membersihkan, dan membuka akses data operasional jaringan (dengan tetap menjaga keamanan dan privasi).

Tanpa SDM dan data, proyek AI untuk sektor energi hanya akan berhenti di level proof of concept.


Contoh Use Case AI untuk Proyek HVDC di Indonesia

Supaya lebih konkret, berikut beberapa skenario praktis AI + HVDC + smart grid yang bisa diterapkan di Indonesia.

A. Prediksi permintaan dan produksi di sistem kepulauan

Bayangkan sistem kelistrikan Nusa Tenggara yang terhubung HVDC:

  • PLTS, PLTB, dan PLTD tersebar di banyak pulau.
  • Permintaan melonjak pada musim liburan dan turun saat low season.

Model AI bisa:

  • Memprediksi pola permintaan per pulau hingga resolusi per 15 menit.
  • Menggabungkannya dengan prediksi output surya dan angin.
  • Memberi rekomendasi dispatch, termasuk kapan HVDC harus mengalirkan daya dari Jawa/Bali atau sebaliknya.

Ini sangat membantu perencanaan operasi harian (unit commitment & economic dispatch) operator sistem.

B. Smart protection dan respon gangguan

Di jaringan interkoneksi besar, gangguan di satu titik bisa menyebar jadi pemadaman meluas. HVDC punya keunggulan karena bisa mengisolasi gangguan.

Ditambah AI, sistem bisa:

  • Mendeteksi pola gangguan secara cepat (misalnya osilasi frekuensi abnormal).
  • Menentukan skenario pemutusan dan restorasi yang paling aman dengan mempertimbangkan kondisi real-time.

Hasilnya: waktu padam lebih pendek, area terdampak lebih kecil, dan kepercayaan publik meningkat.

C. Optimasi tarif dan layanan baru

Dengan smart metering dan analitik AI, operator bisa mengembangkan:

  • Tarif dinamis yang mencerminkan kondisi jaringan (surplus/defisit).
  • Layanan demand response untuk industri dan komersial besar di koridor HVDC.

Ini membuat investasi HVDC punya model bisnis yang lebih kuat, tidak hanya mengandalkan tarif transmisi reguler.


Menyusun Roadmap: Dari Insight ke Implementasi

Proyek SSEN–Hitachi di Skotlandia menunjukkan bahwa grid modern tidak bisa dipisahkan dari tiga hal: infrastruktur fisik (HVDC), digital (smart grid & data), dan kecerdasan (AI).

Untuk Indonesia yang sedang mendorong AI untuk sektor energi dan mengejar transisi energi berkelanjutan, langkah-langkah berikut layak dipertimbangkan:

  1. Masukkan HVDC dan smart grid sebagai pilar eksplisit dalam rencana jangka panjang ketenagalistrikan dan kebijakan interkoneksi antar pulau.
  2. Rancang setiap proyek HVDC dengan arsitektur data dan AI-ready: standar data, API, integrasi ke EMS/DMS, dan ruang untuk algoritma prediktif.
  3. Bangun konsorsium AI energi yang melibatkan utilitas, pengembang pembangkit, kampus, dan startup untuk menguji algoritma pada data operasi nyata.
  4. Mulai dari satu atau dua koridor prioritas sebagai contoh sukses, lalu kembangkan ke seluruh Nusantara.

Saya melihatnya begini: HVDC akan jadi “tulang punggung listrik antar pulau”, smart grid jadi “saraf”, dan AI jadi “otak” yang mengoordinasikan semuanya. Tanpa salah satu, sistem akan pincang.

Jika Indonesia bisa belajar dari proyek seperti di Skotlandia dan berani berinvestasi bukan hanya pada kabel dan gardu, tapi juga pada data dan kecerdasan buatan, transisi menuju sistem energi bersih, andal, dan efisien akan jauh lebih realistis tercapai sebelum 2030‑an.


Penutup: Saatnya Merancang Grid yang Cerdas Sejak Hari Pertama

Most companies get this wrong: mereka membangun infrastruktur dulu, baru memikirkan digital dan AI belakangan. Skotlandia memberi contoh berbeda — grid baru mereka dirancang sejak awal untuk dunia yang serba terbarukan dan serba digital.

Indonesia sedang berada di momen yang sama pentingnya. Keputusan hari ini soal teknologi transmisi, standar data, dan pemanfaatan AI akan menentukan apakah kita punya jaringan listrik yang siap untuk 30–40 tahun ke depan.

Kalau Anda terlibat di utilitas, pengembang energi terbarukan, kawasan industri, atau penyedia solusi AI, sekarang saatnya bertanya:
“Bagaimana proyek dan sistem saya disiapkan untuk HVDC, smart grid, dan AI, bukan hanya untuk 2025, tapi juga 2040?”