Energi Hijau & AI: Pelajaran untuk UMKM dari Google

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

Kerja sama energi hijau TotalEnergies–Google bisa jadi panduan praktis bagi UMKM Indonesia untuk memakai AI secara efisien, hemat biaya, dan lebih ramah lingkungan.

energi terbarukanAI untuk UMKMdata centerefisiensi energitransisi energiteknologi hijaustrategi bisnis UMKM
Share:

Featured image for Energi Hijau & AI: Pelajaran untuk UMKM dari Google

Energi Hijau & AI: Pelajaran untuk UMKM dari Google

Pada 2023, pusat data global diperkirakan mengonsumsi hingga 2% listrik dunia. Google adalah salah satu pemain terbesar, dan kini mereka menggandeng TotalEnergies untuk memasok energi terbarukan selama 21 tahun untuk pusat data Google di Malaysia. Kontrak sepanjang itu bukan sekadar proyek energi; ini sinyal keras bahwa masa depan digital akan ditopang energi hijau.

Untuk pelaku UMKM Indonesia, kabar ini terdengar jauh. Google di Malaysia, energi terbarukan, kontrak miliaran dolar. Tapi justru di sinilah poin menariknya: strategi energi dan teknologi yang dimainkan raksasa dunia sebenarnya bisa disalin dalam versi kecil oleh UMKM, termasuk saat mulai pakai AI untuk operasional harian.

Tulisan ini bagian dari seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”. Fokusnya: apa pelajaran dari kerja sama TotalEnergies–Google, dan bagaimana UMKM Indonesia bisa memikirkan energi, teknologi, dan AI secara lebih cerdas, efisien, dan ramah lingkungan.


Apa Makna Kerja Sama TotalEnergies–Google untuk Ekosistem Digital

Kerja sama 21 tahun antara TotalEnergies dan Google di Malaysia menunjukkan satu hal sederhana: komputasi dan AI butuh energi yang besar, dan energi itu makin hari harus hijau.

Kenapa pusat data Google butuh energi hijau?

Pusat data (data center) menjalankan ribuan hingga ratusan ribu server yang:

  • harus menyala 24/7
  • butuh pendinginan terus-menerus
  • menjalankan beban komputasi berat, termasuk AI dan machine learning

Tanpa strategi energi yang tepat, jejak karbonnya bisa sangat besar. Karena itu, perusahaan teknologi seperti Google mengejar target:

  • menggunakan listrik dari energi terbarukan (surya, angin, hidro, dll.)
  • mengikat kontrak jangka panjang (20+ tahun) agar pasokan dan harga lebih stabil
  • mengurangi emisi COâ‚‚ per kWh komputasi

TotalEnergies sebagai perusahaan energi baru dan terbarukan masuk sebagai pemasok. Mereka menyediakan infrastruktur pembangkit listrik hijau yang hasilnya dialokasikan untuk kebutuhan pusat data Google.

Hubungannya dengan AI

Semua layanan yang mengandalkan AI – mulai dari pencarian pintar, rekomendasi produk, sampai chatbot – akhirnya berujung ke pusat data. Semakin banyak bisnis memakai AI, semakin besar kebutuhan listrik di balik layar.

Setiap kali UMKM memakai AI di cloud, secara tidak langsung mereka ikut bergantung pada strategi energi pusat data.

Kerja sama seperti TotalEnergies–Google memperlihatkan arah baru: pertumbuhan AI harus jalan seiring dengan pertumbuhan energi bersih. Ini bukan cuma isu korporat besar, tapi juga menyentuh citra dan keberlanjutan rantai pasok digital yang dipakai UMKM.


Pelajaran Utama untuk UMKM: Mulai Pikir “Efisien & Hijau” Sejak Dini

Most UMKM biasanya fokus di satu hal: omzet. Wajar. Tapi pola perusahaan besar menunjukkan hal lain: efisiensi energi dan keberlanjutan itu bukan “bonus”, tapi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

1. Transformasi digital = transformasi energi

Begitu UMKM mulai:

  • pakai POS digital,
  • pakai aplikasi akuntansi cloud,
  • jalankan iklan online,
  • eksperimen dengan AI (chatbot, analitik penjualan, dll.),

maka konsumsi energi juga naik, baik di sisi perangkat (laptop, HP, router) maupun di sisi server (cloud, data center).

Artinya, transformasi digital dan transformasi energi selalu berjalan beriringan, walaupun skalanya beda.

2. Efisiensi itu langsung terasa di biaya

Bedanya dengan Google, UMKM bisa merasakan dampak energi di biaya harian:

  • Listrik toko dan kantor
  • Biaya kuota dan internet (perangkat boros = pemakaian data dan baterai lebih berat)
  • Server on-premise yang terus menyala (kalau ada)

Ketika UMKM mulai pakai AI – misalnya untuk:

  • rekomendasi produk ke pelanggan
  • prediksi stok
  • membuat konten marketing otomatis

maka pemakaian layanan cloud meningkat. Memilih solusi yang lebih efisien energi dan skalabel akan berdampak pada biaya jangka panjang.

3. “Ramah lingkungan” itu makin dicari konsumen

Generasi muda di Indonesia makin sadar isu iklim. Banyak yang mulai:

  • pilih brand yang peduli lingkungan
  • tertarik dengan cerita di balik produk (supply chain, energi, bahan baku)

UMKM yang sejak awal punya narasi “efisien, minim buang-buang energi, dan pakai teknologi pintar” akan lebih mudah membangun kepercayaan, terutama di segmen urban dan digital savvy.


Cara Praktis UMKM Mengadopsi Energi Hijau dan AI Secara Bertahap

UMKM jelas tidak perlu menandatangani kontrak 21 tahun seperti Google. Tapi pola pikirnya bisa diadopsi: pikirkan kombinasi teknologi + energi. Berikut beberapa langkah realistis.

1. Bereskan dulu efisiensi energi internal

Sebelum bicara panel surya atau sertifikasi hijau, bereskan yang sederhana tapi dampaknya besar:

  • Ganti ke peralatan hemat energi
    Gunakan lampu LED, AC dengan inverter, kulkas hemat energi, charger dan adaptor berkualitas.

  • Atur jam operasional perangkat elektronik
    Matikan komputer, printer, dan TV display saat tidak dipakai. Jadwalkan pemadaman perangkat secara rutin.

  • Audit energi sederhana
    Catat: perangkat apa yang paling lama menyala, berapa banyak, dan apakah benar-benar dibutuhkan.

Langkah-langkah ini bisa menekan biaya listrik hingga 10–30% tanpa investasi besar.

2. Pakai AI yang “lebih ringan” tapi tetap bermanfaat

AI untuk UMKM tidak harus selalu berupa sistem berat yang butuh server khusus. Banyak solusi AI yang:

  • berjalan di cloud,
  • bisa diakses lewat browser atau aplikasi,
  • dioptimalkan agar efisien secara komputasi.

Contoh penggunaan AI yang relevan untuk UMKM:

  • Chatbot WhatsApp sederhana untuk menjawab pertanyaan umum pelanggan
  • Analitik penjualan berbasis AI untuk melihat tren produk laris dan pola waktu pembelian
  • AI untuk konten: menyusun caption, deskripsi produk, hingga ide kampanye

Pilih penyedia layanan AI yang punya komitmen keberlanjutan atau memakai infrastruktur energi terbarukan di pusat datanya. Memang tidak selalu tertulis besar-besar, tapi tren global mengarah ke sana.

3. Pertimbangkan langkah kecil menuju energi terbarukan

Bagi UMKM dengan lokasi tetap (toko, workshop, restoran), ada beberapa opsi:

  • Panel surya skala kecil
    Untuk beban ringan seperti lampu, CCTV, dan perangkat kasir. Investasi awal ada, tapi bisa menekan tagihan listrik jangka panjang.

  • Kerja sama dengan gedung atau pengelola kawasan
    Jika menyewa ruko atau di mal, dorong pengelola menerapkan inisiatif energi hijau (pencahayaan efisien, manajemen AC terpusat, dll.).

  • Gunakan perangkat IoT sederhana
    Smart plug atau timer listrik untuk mengatur kapan perangkat menyala/mati otomatis.

Gabungan AI + IoT di sektor energi ini sejalan dengan tema besar “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”: data dipakai untuk mengurangi pemborosan energi, bukan sekadar menambah konsumsi.


Contoh Nyata: Meniru Pola Google–TotalEnergies dalam Skala UMKM

Cara tercepat untuk belajar adalah meniru pola, lalu mengecilkan skalanya. Mari lihat pola kerja sama Google–TotalEnergies dan bagaimana UMKM bisa mengambil versi sederhananya.

Pola 1: Komitmen jangka panjang

Google menandatangani kontrak 21 tahun, artinya:

  • mereka serius di satu lokasi operasi,
  • perencanaannya sangat jangka panjang,
  • ada kepastian biaya dan pasokan energi.

Versi UMKM:

  • Putuskan dulu mau serius di satu lokasi produksi/toko selama minimal 3–5 tahun.
  • Dari situ, baru hitung apakah investasi efisiensi energi (misalnya panel surya kecil atau AC inverter) masuk akal.

Pola 2: Kolaborasi dengan spesialis

Google tidak membangun seluruh energi terbarukan sendiri; mereka bekerja sama dengan TotalEnergies yang memang ahli di bidang itu.

Versi UMKM:

  • Jangan paksakan semua hal dilakukan sendiri.
  • Untuk AI, cari partner atau platform yang sudah siap pakai.
  • Untuk energi, konsultasi dengan vendor energi surya lokal atau teknisi listrik terpercaya.

Kuncinya: UMKM fokus di inti bisnis, lalu gandeng mitra untuk hal-hal teknis seperti AI dan energi.

Pola 3: Data sebagai dasar keputusan

Proyek energi besar selalu memakai data: proyeksi kebutuhan listrik, pola konsumsi, potensi produksi surya/angin, dan sebagainya.

Versi UMKM:

  • Pakai data penjualan untuk melihat jam sibuk, lalu atur pemakaian AC/alat pendingin.
  • Gunakan AI sederhana untuk membaca tren stok dan permintaan, sehingga perangkat penyimpanan (kulkas, freezer) tidak terpakai berlebihan.
  • Catat tagihan listrik per bulan dan kaitkan dengan perubahan yang dilakukan (misalnya penggantian lampu, penambahan perangkat, penggunaan AI baru).

Data yang rapi membuka jalan untuk pemakaian AI yang lebih canggih di masa depan, misalnya prediksi kebutuhan energi toko atau optimasi jadwal produksi.


Menghubungkan AI, Energi, dan Daya Saing UMKM Indonesia

Seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” bukan hanya bicara tentang perusahaan listrik besar. Intinya adalah bagaimana AI dipakai untuk mengelola energi dengan lebih pintar – dan itu juga relevan untuk usaha skala kecil.

Beberapa hal yang bisa mulai dipikirkan UMKM hari ini:

  • AI bukan hanya soal marketing dan desain.
    AI juga bisa memprediksi permintaan, mengatur stok, dan mengurangi pemborosan produksi yang secara tidak langsung menurunkan konsumsi energi.

  • Energi bukan sekadar tagihan PLN.
    Cara Anda memakai listrik akan mempengaruhi margin laba, kecepatan layanan, dan citra merek.

  • Hijau itu bukan gaya, tapi strategi.
    Konsumen makin pintar membaca mana bisnis yang sungguh-sungguh mengelola usahanya dengan bertanggung jawab.

Kerja sama TotalEnergies–Google di Malaysia menunjukkan bagaimana raksasa teknologi memikirkan energi dan AI secara terintegrasi. UMKM Indonesia tidak perlu menunggu besar dulu untuk meniru pola itu. Langkah-langkah kecil seperti hemat energi, pakai AI yang efisien, dan mencatat data dengan rapi sudah cukup untuk memulai.

Kalau Anda sedang merancang langkah berikutnya dalam digitalisasi usaha—entah mau mulai pakai AI, upgrade perangkat, atau pindah ke sistem cloud—coba tanyakan satu hal tambahan: bagaimana dampaknya ke energi, dan apa yang bisa dibuat lebih efisien dan lebih hijau?

Dari situ, jalan menuju UMKM yang modern, menguntungkan, dan berkelanjutan akan terasa jauh lebih jelas.