Dari Pabrik Gula ke AI: Sinyal Penting untuk Perbankan

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

Emiten pabrik gula mulai akuisisi AI. Ini sinyal kuat buat perbankan dan energi: AI bukan lagi proyek IT, tapi aset strategis untuk digital banking dan transisi energi.

akuisisi AIdigital bankingtransisi energismart gridperbankan Indonesiaholding investasiindustri energi
Share:

Featured image for Dari Pabrik Gula ke AI: Sinyal Penting untuk Perbankan

Dari Pabrik Gula ke AI: Sinyal Penting untuk Perbankan dan Energi

Laba PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) naik 37% per September 2025, padahal mereka baru saja banting setir: dari properti ke pabrik gula, lalu kini melirik akuisisi perusahaan Artificial Intelligence (AI).

Ini menarik bukan hanya buat investor saham, tapi juga buat ekosistem keuangan dan energi di Indonesia. Kalau emiten yang awalnya fokus properti dan agribisnis saja sudah serius masuk ke AI, sektor perbankan dan energi nggak punya banyak waktu untuk ragu.

Tulisan ini membedah apa makna langkah INDO ini, lalu mengaitkannya dengan dua hal penting: masa depan digital banking dan transisi energi Indonesia yang makin bergantung pada AI—dari smart grid sampai prediksi permintaan listrik.


1. Strategi INDO: Dari Properti, Pabrik Gula, hingga Incar AI

Langkah INDO cukup jelas: mereka sedang membangun holding company investasi yang nggak bergantung pada satu sektor saja.

Beberapa poin kunci dari langkah mereka:

  • Menggeser fokus dari property-centric menjadi perusahaan investasi
  • Mendirikan PT Ratu Gula Asia (RGA) di Kediri untuk memproduksi brown sugar
  • Menyelesaikan pabrik dengan kapasitas 2.000–3.000 ton per bulan
  • Setor modal hingga Rp97 miliar dan memegang 71,68% saham RGA
  • Di saat yang sama, membidik akuisisi perusahaan AI sebagai bagian transformasi jangka panjang

“Sebagai perusahaan investasi, kami akan fokus membangun portofolio yang solid dan berorientasi masa depan. Akuisisi perusahaan AI ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat transformasi kami.” – Leslie Soehedi, Direktur Utama INDO

Kenapa kombinasi gula + AI itu masuk akal?

Kelihatannya jauh: pabrik gula di Kediri dan perusahaan teknologi AI. Tapi secara strategi, ini cukup masuk akal:

  1. Gula merah (brown sugar) mengincar tren konsumen yang lebih peduli kesehatan.
  2. AI mengincar tren digitalisasi yang akan menyentuh semua sektor—dari manufaktur, logistik, sampai keuangan dan energi.
  3. Sebagai holding, mereka butuh portofolio yang:
    • Punya cashflow stabil (bisnis riil seperti gula)
    • Punya potensi pertumbuhan tinggi (teknologi AI)

Pelajarannya: diversifikasi mereka bukan sekadar “nyebar risiko”, tapi membangun jembatan antara ekonomi riil dan ekonomi digital.


2. Apa Hubungannya dengan Perbankan dan Energi?

Jawaban singkatnya: AI lagi naik kelas jadi aset strategis, bukan cuma proyek IT. Dan ini berlaku lintas sektor—agribisnis, perbankan, sampai energi.

Kalau emiten berbasis pabrik berani akuisisi AI, ada dua sinyal penting:

  1. AI mulai dipandang sebagai “core business enabler”, bukan bonus.
  2. Sektor tradisional ingin lompat kurva, bukan sekadar ikut arus.

Dampaknya ke perbankan digital

Perbankan Indonesia sebenarnya sudah pakai teknologi, tapi banyak yang masih setengah hati di AI. Padahal, AI bisa jadi “otak” dari digital banking:

  • Analitik risiko kredit yang lebih akurat
  • Chatbot yang paham bahasa lokal dan logat daerah
  • Deteksi fraud real-time
  • Penawaran produk yang benar-benar personal, bukan spam massal

Saat perusahaan non-bank mulai mengakuisisi perusahaan AI, bukan cuma menyewa jasa, pesan tersiratnya jelas:

“AI itu infrastruktur masa depan, bukan sekadar tools.”

Bank yang masih menunda adopsi AI yang serius akan tertinggal, baik dari sisi efisiensi biaya maupun kedekatan dengan nasabah.

Kaitan ke sektor energi dan transisi berkelanjutan

Dalam seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”, ada benang merah yang sama:

  • Transisi energi butuh data dan keputusan cepat
  • AI adalah mesin yang mengubah data jadi keputusan

Contoh penerapan AI di energi yang sudah relevan hari ini:

  • Optimasi jaringan listrik (smart grid): AI mengatur aliran listrik agar lebih efisien dan mengurangi loss
  • Integrasi energi terbarukan: AI memprediksi produksi PLTS/PLTB yang fluktuatif
  • Prediksi permintaan listrik: supaya pembangkit nggak kelebihan atau kekurangan produksi
  • Smart metering: pemakaian listrik rumah tangga dan industri dipantau dan dianalisis secara real-time

Kalau holding seperti INDO mulai melihat AI sebagai aset strategis, perusahaan energi dan utilitas seharusnya lebih dulu berada di depan.


3. AI sebagai Aset, Bukan Sekadar Proyek IT

Ini poin yang, menurut saya, paling banyak salah dimengerti di Indonesia:

Banyak perusahaan masih memperlakukan AI seperti proyek IT musiman, padahal yang menang justru yang menjadikan AI sebagai kapabilitas inti perusahaan.

Langkah INDO membidik akuisisi perusahaan AI punya beberapa makna penting:

  1. Kontrol Penuh atas Teknologi
    Dengan mengakuisisi, mereka bisa:

    • Mengembangkan solusi AI yang benar-benar sesuai kebutuhan bisnis
    • Menjaga data tetap di dalam grup
    • Bangun kompetensi internal, bukan tergantung vendor selamanya
  2. Nilai Tambah ke Bisnis Riil
    Jangan lupa, mereka punya pabrik gula. AI bisa dipakai untuk:

    • Optimasi rantai pasok tebu
    • Prediksi permintaan dan harga gula
    • Efisiensi energi di pabrik (ini nyambung ke tema energi berkelanjutan)
  3. Pintu Kerja Sama dengan Sektor Lain
    Perusahaan AI yang mereka akuisisi berpotensi:

    • Menjual solusi ke bank (chatbot, scoring kredit, fraud detection)
    • Menjual solusi ke perusahaan energi (forecast beban, smart grid analytics)

Di titik ini, AI bukan lagi sekadar “departemen IT canggih”, tapi unit bisnis baru yang bisa menghasilkan pendapatan dan sinergi.


4. Pelajaran untuk Bank: Dari Chatbot Biasa ke AI yang Paham Nasabah

Kalau ditarik ke konteks digital banking, langkah INDO ini memberi wake-up call: AI bukan opsional.

Di mana posisi perbankan saat ini?

Banyak bank di Indonesia sudah punya:

  • Aplikasi mobile banking
  • Chatbot di WhatsApp/website
  • Sistem scoring kredit internal

Masalahnya, sering kali:

  • Chatbot cuma bisa jawab pertanyaan standar
  • Sistem scoring masih kaku dan kurang memanfaatkan data alternatif
  • Pengalaman nasabah terasa “satu template untuk semua”

Apa yang seharusnya dilakukan bank dengan AI?

Beberapa langkah yang menurut saya krusial:

  1. Bangun fondasi data yang rapi
    AI nggak ada gunanya kalau data berantakan. Bank perlu:

    • Menyatukan data transaksi, interaksi, dan profil nasabah
    • Membersihkan dan menstandardisasi data
  2. Gunakan AI untuk personalisasi, bukan sekadar otomasi
    Contoh praktis:

    • Rekomendasi produk berdasarkan pola transaksi, bukan sekadar umur/pekerjaan
    • Notifikasi finansial yang kontekstual: “Tagihan listrik Anda cenderung naik 15% di akhir tahun, mau dibuatkan anggaran khusus?”
  3. Chatbot berbasis bahasa lokal
    Di Indonesia, ini kunci inklusi keuangan:

    • Chatbot yang paham campuran bahasa Indonesia + daerah
    • Suara/nada percakapan yang akrab, tapi tetap aman dan patuh regulasi

Di sini, sinergi dengan tren energi juga kebayang:

  • Bank bisa bekerja sama dengan perusahaan energi yang pakai smart meter dan AI
  • Nasabah bisa mendapat insight: “Pemakaian listrik Anda di atas rata-rata kompleks, mau cicilan panel surya dengan skema kredit hijau?”

5. AI untuk Energi dan Keuangan: Satu Data, Banyak Manfaat

Transisi energi Indonesia ke arah yang lebih hijau nggak akan jalan mulus tanpa AI dan dukungan sektor keuangan.

Contoh skenario yang realistis

Bayangkan ekosistem seperti ini:

  • Perusahaan energi memasang smart meter di ribuan rumah dan pabrik.
  • AI memproses data pemakaian listrik per menit: pola puncak, pemborosan, potensi efisiensi.
  • Bank terhubung ke sistem itu (dengan persetujuan nasabah dan sesuai regulasi), lalu:
    • Menawarkan produk pembiayaan energi terbarukan yang tepat sasaran (panel surya, baterai, upgrade peralatan hemat energi)
    • Memberi insentif tarif dan bunga buat pelanggan yang konsisten menurunkan konsumsi energi

Di sini, AI menjadi jembatan antara energi, data, dan pembiayaan.

Dan pola pikir yang diterapkan INDO—menggabungkan bisnis riil dengan kapabilitas AI—bisa menjadi blueprint untuk:

  • Perusahaan energi yang ingin punya unit AI internal
  • Bank yang ingin tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tapi aktif mengelola risiko dan dampak melalui data energi real-time

6. Langkah Praktis: Kalau INDO Bisa, Kenapa Bank & Utility Nggak?

Supaya nggak berhenti di wacana, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil pelaku industri:

Untuk bank dan lembaga keuangan

  1. Tetapkan AI sebagai agenda di level direksi, bukan hanya CIO/CTO.
  2. Peta-kan use case prioritas:
    • Scoring kredit berbasis data transaksi
    • Chatbot bahasa lokal
    • Deteksi fraud real-time
  3. Pertimbangkan model kolaborasi yang lebih dalam:
    • Joint venture atau investasi minoritas di perusahaan AI lokal
    • Bukannya hanya kontrak proyek jangka pendek

Untuk perusahaan energi dan utilitas

  1. Mulai dari smart metering dan analytics, walaupun pilot project terbatas.
  2. Gunakan AI untuk:
    • Prediksi beban harian/musiman
    • Optimasi operasi pembangkit
    • Deteksi anomali pemakaian (potensi kebocoran atau pencurian listrik)
  3. Bangun kemitraan dengan:
    • Startup AI lokal
    • Bank yang tertarik mengembangkan produk green financing berbasis data energi

Untuk investor dan pemegang saham

  • Lihat apakah manajemen perusahaan:
    • Punya narasi yang jelas tentang data dan AI
    • Hanya ikut tren, atau benar-benar membangun kapabilitas jangka panjang
  • Langkah seperti yang dilakukan INDO—masuk ke AI lewat akuisisi—adalah sinyal bahwa manajemen sedang memikirkan masa depan portofolio, bukan hanya laba kuartalan.

Penutup: AI Sedang Naik Kelas, Siapa yang Berani Serius?

Perubahan strategi INDO—dari properti ke gula, lalu membidik akuisisi AI—adalah gambaran jelas bahwa AI makin dianggap aset strategis lintas sektor.

Bagi sektor perbankan dan energi Indonesia, ini bukan sekadar berita korporasi, tapi semacam peringatan dini:

  • AI akan menjadi fondasi digital banking yang benar-benar personal dan inklusif.
  • AI juga akan menjadi “otak” di balik transisi energi berkelanjutan: smart grid, integrasi energi terbarukan, dan smart metering.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi, “Perlu AI atau tidak?” tapi:

“Seberapa cepat Anda menjadikan AI sebagai kapabilitas inti—bukan hanya proyek sampingan?”

Perusahaan seperti INDO sudah mulai bergerak. Bank, perusahaan energi, dan lembaga keuangan lain yang ingin relevan di 5–10 tahun ke depan perlu menjawab tantangan yang sama, hari ini, bukan nanti.

🇮🇩 Dari Pabrik Gula ke AI: Sinyal Penting untuk Perbankan - Indonesia | 3L3C