Desa Energi Terbarukan Bali: Fondasi AI untuk Transisi

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

Desa di Bali menurunkan tagihan listrik bale banjar dari Rp500 ribu jadi Rp4.459 dengan PLTS. Ini fondasi nyata untuk transisi energi berbasis AI di Indonesia.

transisi energidesa energi terbarukanBali NZE 2045PLTS atapAI sektor energismart grid desa
Share:

Desa Energi Terbarukan Bali: Fondasi Nyata untuk Transisi Berbasis AI

Tagihan listrik bale banjar yang dulu sekitar Rp500.000 per bulan, kini tinggal setara Rp4.459 saja. Angkanya terasa kecil, tapi dampaknya besar: posyandu jalan terus, pertemuan warga tetap nyaman, dan dana desa bisa dialihkan ke kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Itu yang terjadi di Desa Banjarasem, Buleleng, setelah memasang PLTS atap dalam proyek Desa Berbasis Energi Terbarukan (DBET). Contoh ini menggambarkan inti transisi energi yang sehat: bukan soal teknologi dulu, tapi soal manfaat nyata bagi warga.

Di saat banyak pembicaraan transisi energi fokus pada megaproyek dan regulasi, Bali memilih jalur yang sedikit berbeda: target Bali Net Zero Emission (NZE) 2045, 15 tahun lebih cepat dari target nasional, dan mendorong pendekatan bottom-up berbasis desa. Ini jauh lebih relevan bagi Indonesia, karena kita adalah negara yang struktur sosial dan ekonominya bertumpu pada desa.

Tulisan ini membahas bagaimana DBET di Bali berjalan, kenapa pelibatan masyarakat jadi kunci, dan bagaimana semua ini bisa menjadi fondasi kuat untuk pemanfaatan AI di sektor energi: mulai dari perencanaan PLTS desa sampai manajemen beban dan ekonomi lokal.


Kenapa Transisi Energi di Indonesia Harus Dimulai dari Desa

Transisi energi yang hanya berhenti di level pusat hampir pasti mandek di lapangan. Di Indonesia, listrik dan energi selalu bersentuhan dengan tiga hal yang sangat lokal:

  • budaya (cara warga berkumpul dan beraktivitas),
  • ekonomi (sumber nafkah utama),
  • dan kelembagaan sosial (desa adat, banjar, RT/RW, BUMDes).

Bali paham betul konteks ini. Target Bali NZE 2045 bukan sekadar soal mengganti PLTU dengan energi terbarukan, tapi juga memastikan:

  • akses energi bersih untuk fasilitas publik,
  • biaya listrik desa menurun,
  • kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi tetap berjalan atau malah naik kelas.

Di sinilah DBET mengambil peran: energi terbarukan ditempatkan sebagai infrastruktur sosial dan ekonomi, bukan hanya instalasi teknis.

Transisi energi yang kuat selalu punya dua kaki: teknologi yang tepat, dan masyarakat yang merasa memiliki.

Pendekatan ini relevan untuk Indonesia secara nasional, terutama ketika kita bicara integrasi PLTS atap, PLTS komunal, dan jaringan listrik cerdas (smart grid) yang nantinya akan banyak dibantu oleh AI.


DBET Bali: Dari PLTS Atap ke Ekosistem Desa Energi

Tiga desa di Bali saat ini menjadi lokus DBET:

  • Desa Baturinggit di Karangasem
  • Desa Batununggul di Nusa Penida, Karangasem
  • Desa Banjarasem di Buleleng

Masing-masing desa kini telah memiliki panel surya untuk fasilitas publik dan para “local champion” energi yang mengelola operasional dan pemeliharaan sistem PLTS.

Bale banjar sebagai pusat energi sosial

Bale banjar di Bali bukan sekadar balai pertemuan. Ini adalah:

  • ruang rapat adat dan banjar,
  • tempat kegiatan budaya dan upacara,
  • titik kumpul warga saat ada kejadian penting.

Dengan menjadikan bale banjar sebagai salah satu penerima manfaat PLTS, DBET memahami satu hal penting: jika mau warga peduli energi, pasanglah teknologi di titik yang paling sering mereka pakai dan rasakan.

Di Desa Banjarasem, PLTS atap kini menyuplai listrik untuk:

  • kegiatan posyandu ibu, balita, dan lansia;
  • pertemuan desa;
  • aktivitas komunitas lain yang butuh penerangan dan peralatan listrik.

Sebelum PLTS, tagihan listrik bale banjar sekitar Rp500.000 per bulan. Setelah instalasi Agustus 2025, pemakaian listrik dari PLN untuk Agustus–Oktober hanya 4 kWh (sekitar Rp4.459) karena masih memakai kredit prabayar lama. Selisih biaya ini adalah bukti paling konkret bahwa energi terbarukan bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga strategi pengelolaan keuangan desa.

Local champion: kunci keberlanjutan teknis dan sosial

Setelah PLTS dipasang, pekerjaan justru baru dimulai. Sistem bisa rusak, inverter butuh dicek, panel harus dibersihkan, dan pemanfaatannya perlu diarahkan agar memberi nilai ekonomi.

Di sinilah local champion energi jadi tokoh penting:

  • Mereka paham dasar teknis sistem PLTS.
  • Mereka jadi penghubung antara desa, pemerintah daerah, dan lembaga pendukung.
  • Mereka bisa menjadi operator awal saat nanti desa memakai smart meter, aplikasi pemantau energi, atau sistem berbasis AI.

Bagi saya, membentuk local champion jauh lebih penting daripada sekadar menambah kapasitas terpasang. Tanpa orang yang mengurus, sistem akan jadi besi tua yang mahal.


Lebih dari Sekadar Potensi Surya: Parameter Sosial yang Menentukan

Kebanyakan proposal proyek energi terbarukan berhenti di kalimat, “potensi surya/angin di wilayah ini sangat besar”. Secara teknis benar, tapi secara praktik kurang.

DBET menunjukkan pendekatan yang lebih sehat. Selain potensi teknis, ada beberapa parameter yang diperhitungkan:

  • Demografi desa: jumlah penduduk, komposisi usia, pola aktivitas harian.
  • Kebutuhan energi fasilitas publik: bale banjar, posyandu, sekolah, kantor desa.
  • Mata pencaharian utama: apakah energi bisa dipakai untuk usaha seperti pengeringan hasil panen, pendingin ikan, wisata desa, UMKM?
  • Minat dan kesiapan masyarakat: apakah warga berminat terlibat, bukan hanya jadi penerima bantuan?
  • Dukungan pemerintah daerah: komitmen regulasi, anggaran, dan pendampingan.

Pendekatan ini membuat proyek punya peluang jauh lebih besar untuk berkelanjutan secara teknis, finansial, dan sosial.

Di mana peran AI mulai relevan?

Kalau hanya satu desa, semua bisa diatur dengan Excel dan rapat desa. Tapi begitu kita bicara ratusan atau ribuan desa energi terbarukan di seluruh Indonesia, persoalan menjadi jauh lebih kompleks. Di titik ini, AI untuk sektor energi punya peran strategis:

  1. Pemilihan desa prioritas
    AI bisa mengolah data demografi, konsumsi listrik, potensi surya, kemiskinan energi, dan kesiapan sosial untuk menyusun peta prioritas pengembangan desa energi terbarukan.

  2. Perencanaan kapasitas dan desain sistem
    Model AI bisa memprediksi pola beban listrik harian/musiman, lalu merekomendasikan kapasitas PLTS, baterai, dan skema koneksi ke jaringan yang paling efisien.

  3. Simulasi dampak ekonomi
    Dengan model yang baik, pemerintah daerah atau pengembang bisa melihat proyeksi: berapa penghematan biaya listrik desa, potensi kenaikan pendapatan UMKM, sampai pengurangan emisi.

Di seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” ini, DBET Bali adalah contoh ideal bahwa data sosial dan perilaku masyarakat harus masuk ke dalam model AI, bukan cuma data teknis.


Dari Energi Bersih ke Ekonomi Desa: Langkah Praktis yang Bisa Diambil

Energi terbarukan di desa baru terasa manfaat penuhnya ketika terkoneksi dengan kegiatan ekonomi. PLTS untuk bale banjar dan posyandu adalah langkah awal. Tahap berikutnya bisa jauh lebih produktif.

Contoh pemanfaatan energi terbarukan untuk ekonomi desa

Beberapa skenario realistis yang bisa dikembangkan di Bali dan daerah lain:

  • PLTS untuk cold storage ikan atau hasil laut di desa pesisir.
  • PLTS untuk pengeringan hasil pertanian (kopi, cengkeh, kakao, padi) dengan dryer bertenaga surya.
  • PLTS untuk homestay/desa wisata, menurunkan biaya listrik dan menarik wisatawan yang peduli keberlanjutan.
  • PLTS untuk bengkel las, mesin jahit, penggilingan padi, dan usaha kecil lain.

Saat proyek mulai masuk tahap ini, desa akan membutuhkan data penggunaan energi yang rapi, prakiraan beban, dan pengelolaan keuangan energi yang jelas. Lagi-lagi, ini adalah ruang di mana AI dan smart metering bisa masuk:

  • Smart meter mencatat pemakaian listrik tiap fasilitas/rumah.
  • Aplikasi berbasis AI menganalisis beban, memprediksi tagihan, dan memberi rekomendasi penghematan.
  • Sistem billing otomatis untuk skema “listrik komunal desa” yang dikelola BUMDes.

Energi terbarukan memberi listriknya. AI membantu mengelola, mengoptimalkan, dan mengkomersialisasi.


Bagaimana Pemerintah Daerah dan Perusahaan Energi Bisa Masuk

Bagi pemerintah daerah, BUMD energi, atau bahkan startup energi terbarukan, proyek seperti DBET menawarkan satu hal penting: model yang bisa direplikasi.

Untuk pemerintah daerah

Beberapa langkah konkret yang cukup realistis untuk 1–2 tahun ke depan:

  1. Memetakan fasilitas publik prioritas
    Fokuskan dulu pada balai desa, puskesmas, sekolah, pasar desa. Mulai dari titik yang manfaatnya dirasakan banyak orang.

  2. Mengadopsi skema local champion energi
    Formalisasikan peran mereka dalam struktur desa atau BUMDes, lengkap dengan pelatihan berkala.

  3. Mengintegrasikan data desa ke sistem perencanaan
    Susun dashboard energi desa: konsumsi listrik, tagihan, potensi penghematan, dan rencana pemanfaatan ekonomi.

  4. Berkolaborasi dengan pengembang AI energi
    Libatkan universitas, startup, dan perusahaan teknologi untuk mengembangkan model prediksi beban dan perencanaan kapasitas.

Untuk perusahaan energi dan startup AI

Perusahaan yang serius di sektor energi terbarukan dan AI bisa menjadikan desa-desa seperti Baturinggit, Batununggul, dan Banjarasem sebagai laboratorium hidup:

  • Menguji algoritma prediksi beban pada skala kecil tapi riil.
  • Membangun platform manajemen energi komunitas: monitoring PLTS, status baterai, laporan keuangan energi desa.
  • Mengembangkan model pembayaran mikro (pay-as-you-go, token listrik komunal, dsb.) yang ramah desa.

Bagi yang sedang mencari use case konkret AI untuk transisi energi Indonesia, desa berbasis energi terbarukan seperti DBET jauh lebih menarik daripada sekadar demo teknologi di kota besar.


Penutup: Dari Bali ke Ribuan Desa Energi Cerdas di Indonesia

DBET di Bali menunjukkan bahwa:

  • pelibatan masyarakat bukan pelengkap, tapi fondasi transisi energi,
  • PLTS atap di fasilitas publik bisa langsung mengurangi beban biaya desa,
  • local champion adalah jaminan keberlanjutan sistem,
  • dan energi terbarukan punya jalur alami menuju penguatan ekonomi desa.

Langkah berikutnya adalah menskalakan cerita seperti Banjarasem ke ratusan desa lain, sambil mulai mengintegrasikan AI, smart metering, dan analitik data energi. Bukan untuk menggantikan peran masyarakat, tapi untuk membantu mereka mengambil keputusan yang lebih cerdas: berapa kapasitas yang perlu dipasang, kapan perlu ekspansi, skema tarif internal desa, dan prioritas pemanfaatan energi untuk usaha produktif.

Kalau Bali bisa menargetkan NZE 2045 dengan pendekatan berbasis desa, tidak ada alasan provinsi lain tidak bisa mengikuti, dengan memadukan energi terbarukan, data yang rapi, dan solusi AI yang relevan dengan realitas desa Indonesia.

Pertanyaannya sekarang: desa Anda mau mulai dari mana — bale desa, pasar, atau usaha kecil yang paling butuh listrik stabil dan murah? Di situlah biasanya cerita transisi energi yang berhasil dimulai.