BESS & AI: Kunci Jaringan Listrik Cerdas Indonesia

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

Derrymeen BESS 100MW di Irlandia Utara menunjukkan bagaimana BESS dan AI bisa jadi fondasi jaringan listrik cerdas dan mendukung transisi energi Indonesia.

battery energy storage systemAI energismart gridtransisi energienergi terbarukanjaringan listrik Indonesia
Share:

Featured image for BESS & AI: Kunci Jaringan Listrik Cerdas Indonesia

Investasi 100MW di Irlandia Utara dan Pelajaran untuk Indonesia

Sebagian besar sistem listrik modern sedang berlari mengejar satu target: bagaimana menjaga keandalan jaringan sambil menaikkan porsi energi terbarukan. Irlandia Utara baru saja memberi contoh nyata lewat keputusan final investasi (Final Investment Decision/FID) proyek Derrymeen Battery Energy Storage System (BESS) 100MW milik SSE.

Proyek ini bukan sekadar pasang baterai besar di samping gardu induk. Derrymeen BESS dirancang untuk menstabilkan jaringan yang makin dipenuhi energi angin dan surya, sekaligus terintegrasi langsung ke pasar listrik terintegrasi di pulau Irlandia. Kalau kita tarik ke konteks Indonesia, pola ini sangat relevan untuk transisi energi berkelanjutan yang sedang dikejar PLN, pemerintah, dan pelaku usaha.

Tulisan ini membedah apa yang dilakukan SSE di Derrymeen, bagaimana peran BESS dalam transisi energi, dan yang paling penting: bagaimana AI bisa membuat BESS jauh lebih pintar — serta apa artinya untuk masa depan sektor energi di Indonesia.


Apa Itu Proyek Derrymeen BESS dan Kenapa Penting?

Derrymeen BESS adalah fasilitas penyimpanan energi berbasis baterai berkapasitas 100MW dengan durasi 2 jam (200MWh) yang akan dibangun di County Tyrone, Irlandia Utara, bersebelahan dengan gardu induk Tamnamore 275/110kV dekat Dungannon.

Beberapa poin kunci dari proyek ini:

  • Kapasitas: 100MW, 2 jam penyimpanan (200MWh)
  • Lokasi: Tepat di samping gardu induk besar (275/110kV)
  • Koneksi: Tersambung langsung ke jaringan transmisi dan ikut dalam Integrated Single Electricity Market (I-SEM) seluruh pulau Irlandia
  • Jadwal: Konstruksi utama dimulai akhir 2026, setelah desain detail dan pengadaan peralatan kritikal
  • Dampak ekonomi: Sekitar 30 lapangan kerja penuh saat puncak konstruksi
  • Model bisnis: Sudah mengantongi kontrak capacity remuneration market 10 tahun mulai Oktober 2028

Secara fungsi, Derrymeen akan:

  • Menyimpan listrik saat produksi energi terbarukan (misalnya angin) sedang tinggi dan permintaan rendah
  • Melepaskan energi tersebut saat beban puncak atau saat pembangkit terbarukan turun
  • Membantu menjaga frekuensi dan stabilitas sistem dengan respon cepat (milidetik–detik)

Dalam bahasa sederhana: BESS mengubah energi terbarukan yang fluktuatif menjadi pasokan yang terasa stabil di mata sistem.


Mengapa BESS Menjadi Fondasi Jaringan Listrik Modern

BESS seperti Derrymeen menjawab tiga masalah klasik sistem kelistrikan yang sedang bertransisi ke EBT.

1. Variabilitas angin dan surya

Energi angin dan surya itu intermittent — kadang berlimpah, kadang turun drastis. Tanpa penyimpanan, operator sistem pakai dua cara mahal:

  • Menjaga banyak pembangkit fosil dalam posisi siaga (spinning reserve)
  • Melakukan curtailment (mematikan pembangkit EBT) saat produksi berlebih

Dengan BESS, pola ini bisa berubah:

  • Saat angin kencang di malam hari dan beban rendah: BESS menyimpan daya
  • Saat siang hari terik lalu tiba-tiba mendung: BESS mengisi “gap” dalam hitungan detik

2. Kebutuhan fleksibilitas dan respon cepat

BESS bisa:

  • Merespons perubahan frekuensi dalam <1 detik
  • Menyediakan ramping yang halus ketika pembangkit konvensional belum sempat naik atau turun beban
  • Mengurangi kebutuhan menyalakan pembangkit puncak berbahan bakar mahal

Ini yang dimaksud Heather Donald (Director of Projects Onshore Ireland, SSE Renewables) saat menyebut bahwa battery storage esensial untuk sistem listrik berbasis EBT: bukan hanya soal menyimpan energi, tapi memberikan fleksibilitas ke sistem.

3. Optimalisasi investasi jaringan

Fakta yang sering dilupakan: investasi jaringan (line, gardu, transformator) sangat mahal dan berumur panjang. BESS yang ditempatkan strategis di titik-titik macet jaringan bisa:

  • Mengurangi kebutuhan upgrade jalur transmisi mahal
  • Mengatasi kemacetan (congestion) lokal
  • Mendukung penyaluran EBT dari daerah produksi ke pusat beban

Derrymeen ditempatkan persis di samping gardu induk 275/110kV — ini contoh penempatan yang cerdas. Bukan asal cari lahan kosong, tapi ditempatkan di titik sistemik.


Di Mana Peran AI dalam BESS seperti Derrymeen?

BESS 100MW saja belum cukup. Yang membuatnya benar-benar “cerdas” adalah lapisan AI dan analitik di atasnya. Tanpa itu, baterai besar hanya jadi aset mahal dengan pemanfaatan suboptimal.

Ada tiga area utama di mana AI mengubah cara BESS beroperasi.

1. Optimasi operasi harian dan trading energi

AI bisa memprediksi:

  • Permintaan listrik (load forecasting) per 5–15 menit
  • Produksi angin dan surya berdasarkan data cuaca granular
  • Harga listrik dalam pasar daya dan pasar jasa penunjang (ancillary services)

Dari sini, algoritma optimasi akan memutuskan:

  • Kapan BESS di-charge (mengisi baterai)
  • Kapan BESS di-discharge (melepaskan energi)
  • Berapa kapasitas yang disimpan untuk kebutuhan balancing dan stabilitas jaringan versus untuk trading harga

Hasilnya:

  • Pendapatan meningkat (karena jual saat harga tinggi, beli saat harga rendah)
  • Kontribusi teknis ke sistem lebih terarah (misal, menyisihkan sebagian kapasitas untuk respon frekuensi cepat)

Di konteks Indonesia, ini relevan misalnya untuk BESS yang terhubung ke:

  • PLTS skala besar di sistem Jawa-Bali atau Sumatera
  • PLTB di Sulawesi atau Nusa Tenggara
  • Sistem kelistrikan sistem kecil/terpencil (mini-grid) yang dikombinasikan dengan PLTS

2. Menjaga kesehatan baterai (battery health) dan memperpanjang umur aset

Umur baterai sangat dipengaruhi:

  • Pola charge/discharge
  • Temperatur operasi
  • Kedalaman pengosongan (Depth of Discharge / DoD)

AI berbasis predictive analytics bisa:

  • Menganalisis data ribuan siklus baterai
  • Memprediksi penurunan kapasitas (degradation) per modul
  • Mengatur strategi operasi supaya umur ekonomis aset memanjang

Contoh:

  • Menghindari pengisian penuh 100% dan pengosongan terlalu dalam jika tidak perlu
  • Menyebar beban ke beberapa string baterai secara dinamis

Ini berdampak langsung ke ROI proyek. Semakin panjang umur efektif baterai, semakin menarik model bisnis BESS bagi investor.

3. Manajemen jaringan dan respon cepat berbasis AI

Saat BESS terhubung ke jaringan besar seperti Derrymeen, AI juga bisa dipakai pada skala sistem:

  • Deteksi dini anomali tegangan dan frekuensi
  • Penentuan aksi korektif otomatis (misal injeksi daya reaktif, pelepasan daya aktif)
  • Koordinasi beberapa aset BESS di berbagai lokasi sebagai “pembangkit virtual” (Virtual Power Plant / VPP)

Di Indonesia, ketika jumlah PLTS, PLTB, dan BESS bertambah, AI-VPP bisa jadi cara efektif:

  • Mengelola ratusan aset terdistribusi seolah-olah satu pembangkit besar
  • Memberikan jasa keandalan (reserve, ramping, frequency response) ke sistem PLN

Relevansi Derrymeen untuk Transisi Energi Indonesia

Kalau dilihat sekilas, Derrymeen mungkin terasa jauh: Irlandia Utara, pasar listrik canggih, cuaca dingin, sistem terintegrasi. Tapi pola dasarnya sama dengan yang sedang dan akan terjadi di Indonesia.

1. Porsi EBT naik, kebutuhan fleksibilitas meledak

Indonesia sudah menargetkan Net Zero Emission 2060 dan peningkatan tajam kapasitas PLTS, PLTB, dan EBT lain. Artinya:

  • Sistem Jawa-Bali akan makin sering mengalami kelebihan daya surya di siang hari
  • Sistem kepulauan dan daerah terpencil akan banyak menggabungkan PLTS–baterai sebagai pengganti PLTD

Pengalaman Irlandia menunjukkan: tanpa BESS skala besar, penetrasi EBT akan mentok sebelum target tercapai karena masalah keandalan dan kualitas daya.

2. Proyek BESS perlu diikat dengan model bisnis dan pasar yang jelas

Derrymeen sudah mengamankan kontrak kapasitas 10 tahun di pasar kapasitas. Ini memberi:

  • Kepastian pendapatan jangka panjang
  • Daya tarik lebih tinggi bagi pemodal dan lembaga keuangan

Indonesia bisa mengadaptasi prinsip yang sama lewat:

  • Skema kapasitas atau availability payment untuk proyek BESS strategis
  • Skema ancillary services yang jelas (misalnya dibayar untuk respon frekuensi cepat)
  • Mekanisme tarif atau model bisnis public–private partnership untuk BESS yang mendukung jaringan PLN

3. Integrasi perencanaan jaringan, pembangkit, dan data

Lokasi Derrymeen di samping gardu induk utama menunjukkan perencanaan sistemik: bukan memikirkan proyek secara terpisah, tapi sebagai bagian desain jaringan keseluruhan.

Di Indonesia, BESS sebaiknya direncanakan bersama:

  • RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik)
  • Rencana pengembangan transmisi dan distribusi PLN
  • Peta potensi EBT dan pola beban di masing-masing wilayah

Di titik ini, AI untuk perencanaan sistem jadi sangat berguna: mengolah data permintaan, produksi, topologi jaringan, dan potensi EBT untuk merekomendasikan lokasi-lokasi optimum BESS.


Bagaimana Perusahaan Energi Indonesia Bisa Mulai?

Untuk pelaku usaha, PLN, IPP, maupun pengembang EBT di Indonesia, ada beberapa langkah praktis yang realistis jika ingin mengikuti jejak seperti Derrymeen — tentu dengan adaptasi lokal.

1. Mulai dari studi BESS berbasis data & AI

Bukan sekadar studi kelayakan tradisional, tapi:

  • Menggunakan model AI forecasting untuk memprediksi beban dan produksi EBT
  • Menyimulasikan berbagai skenario kapasitas BESS (misalnya 20MW, 50MW, 100MW) dan durasi (1–4 jam)
  • Menghitung dampak BESS terhadap pengurangan curtailment, penghematan bahan bakar, dan keandalan

2. Bangun data pipeline kualitas tinggi

AI hanya sebagus data yang masuk.

  • Integrasikan data SCADA, metering, cuaca, dan histori gangguan
  • Standarkan format data di berbagai unit pembangkit dan gardu
  • Pastikan keamanan siber sejak awal (karena BESS dan AI akan sangat terhubung)

3. Pilih use case AI yang paling impactful lebih dulu

Contoh use case awal yang biasanya cepat terasa manfaatnya:

  • Short-term load forecasting untuk sistem tertentu (misalnya sistem Jawa-Bali atau satu pulau mini-grid)
  • Optimasi operasi BESS yang terhubung ke PLTS skala besar
  • Predictive maintenance untuk baterai dan inverter

4. Rancang skema bisnis dan kolaborasi

BESS + AI biasanya melibatkan:

  • Pengembang/owner aset fisik (BESS)
  • Penyedia teknologi AI & platform analitik
  • Utility atau offtaker (PLN, kawasan industri, dsb.)

Skema yang banyak dipakai global:

  • Energy-as-a-Service (pelanggan membayar layanan, bukan aset)
  • Skema revenue sharing atas optimasi pendapatan BESS
  • Kontrak jangka panjang untuk jasa balancing dan kapasitas

Penutup: BESS + AI Bukan Lagi Opsi, Tapi Fondasi

Derrymeen BESS di Irlandia Utara menunjukkan arah yang sudah jelas: sistem listrik berbasis EBT butuh penyimpanan energi dan kecerdasan digital di pusatnya. Kombinasi BESS 100MW dan integrasi ke pasar listrik yang dioptimalkan dengan AI memberikan tiga hal sekaligus: keandalan, efisiensi ekonomi, dan percepatan transisi energi.

Untuk Indonesia, pesan besarnya sederhana:

BESS tanpa AI hanya baterai besar. AI tanpa aset fisik hanya model di layar. Keduanya harus jalan bersama kalau kita serius dengan transisi energi berkelanjutan.

Seri "AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan" ada untuk membantu perusahaan energi, pengembang EBT, dan pembuat kebijakan menjembatani dua dunia ini. Langkah berikutnya ada di tangan Anda: mulai memetakan di mana BESS paling strategis dalam sistem Anda, dan teknologi AI apa yang bisa memberi nilai tambah terbesar.

Karena jaringan listrik Indonesia yang lebih bersih, andal, dan cerdas tidak akan datang dengan sendirinya — ia perlu dirancang, diuji, dan dibangun mulai sekarang.