Panas bumi generasi terbaru bisa memenuhi hingga 90% kebutuhan panas industri Indonesia. Dengan AI, potensi 2.160 GW ini bisa jadi tulang punggung transisi energi.
AI, Panas Bumi, dan Masa Depan Energi Indonesia
Di balik target Net Zero 2060, ada satu fakta yang sering diremehkan: panas bumi generasi terbaru diperkirakan bisa memenuhi hingga 90% kebutuhan panas industri Indonesia. Bukan angka kecil, terutama kalau kita bicara dekarbonisasi pabrik semen, baja, tekstil, hingga kawasan industri data center yang makin tumbuh di Jawa dan Sumatra.
Rilis laporan The Future of Geothermal in Indonesia oleh Project InnerSpace pada 02/12/2025 mengonfirmasi sesuatu yang selama ini banyak orang curigai: kita duduk di atas “tambang” energi hijau yang sangat besar, tapi belum dimonetisasi dengan serius. Dan di seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” ini, panas bumi bukan hanya soal sumur dan turbin — tapi juga soal bagaimana AI bisa membuat setiap megawatt panas bumi lebih cepat ditemukan, lebih murah dikembangkan, dan lebih optimal dimanfaatkan.
Tulisan ini membahas tiga hal: skala potensi panas bumi Indonesia, apa yang berbeda dari panas bumi generasi terbaru, dan bagaimana AI bisa mempercepat transisi energi melalui pemanfaatan panas bumi untuk industri, data center, dan sistem pendinginan kota.
1. Potensi Panas Bumi Indonesia: Jauh Lebih Besar dari Angka Resmi
Jawabannya cukup tegas: potensi teknis panas bumi Indonesia jauh melampaui angka yang selama ini dipakai di perencanaan energi.
Laporan Project InnerSpace memperkirakan Indonesia punya potensi teknis panas bumi sekitar 2.160 GW. Angka ini bukan sekadar “lebih besar sedikit” dari estimasi hidrotermal konvensional; ini loncatan beberapa tingkat. Kalau dikelola dengan benar, panas bumi ini dapat:
- Memenuhi hingga 90% kebutuhan panas proses industri di sektor manufaktur utama
- Mengurangi ketergantungan pada PLTU batu bara dan bahan bakar impor
- Menciptakan lebih dari 650.000 lapangan pekerjaan baru
Kenapa angka 2.160 GW ini penting?
Karena selama ini, diskusi transisi energi Indonesia sangat didominasi oleh PLTS dan PLTB, sementara panas bumi sering dianggap “sulit dan mahal”. Potensi 2.160 GW mengubah peta permainan:
- Panas bumi bukan lagi pemain pelengkap, tapi tulang punggung energi bersih baseload
- Panas bumi bisa mengisi celah yang tidak bisa dipenuhi PLTS/PLTB: pasokan panas industri dan pendinginan kota
- Dengan dukungan AI dan teknologi pengeboran terbaru, risiko eksplorasi dan biaya bisa turun signifikan
Kalau kita bicara dekarbonisasi pabrik semen di Jawa Barat atau kawasan industri di Kalimantan, panas bumi generasi terbaru sangat masuk akal — terutama bila dikombinasikan dengan AI untuk optimasi lokasi, desain sumur, dan operasi.
2. Apa yang Berbeda dari Panas Bumi Generasi Terbaru?
Panas bumi generasi terbaru (sering disebut next-generation geothermal atau advanced geothermal systems) mengubah satu asumsi besar: kita tidak lagi bergantung pada reservoir alami.
“Sistem panas bumi generasi terbaru ini berbeda karena tidak memerlukan reservoir bawah tanah alami dan karenanya dapat dikembangkan di mana saja yang memiliki sumber daya panas bumi yang memadai.” – Fabby Tumiwa, CEO IESR
Kontras dengan panas bumi konvensional
Panas bumi konvensional butuh kombinasi alam yang cukup langka:
- Reservoir air panas bawah tanah
- Permeabilitas batuan yang cukup
- Lokasi yang seringkali berada di kawasan lindung, pegunungan, atau dekat pemukiman
Ini yang bikin banyak proyek panas bumi tertahan: aspek sosial, tata ruang, dan perizinan jadi rumit.
Panas bumi generasi terbaru berbeda karena:
- Mengandalkan rekayasa reservoir (misalnya dengan meningkatkan permeabilitas batuan)
- Bisa dikembangkan dekat pusat beban: kawasan industri, kota besar, hingga kampus
- Lebih fleksibel dimanfaatkan untuk:
- Listrik
- Panas langsung untuk industri (proses drying, heating, steam)
- Pendinginan terpusat (district cooling) untuk gedung perkantoran, rumah sakit, kampus
Contoh konkret: kampus dan data center
Project InnerSpace akan mendanai studi kelayakan pendinginan kampus berbasis panas bumi di Universitas Gadjah Mada. Kalau berhasil, model ini sangat menarik untuk direplikasi:
- Kampus besar di Indonesia (UGM, UI, ITB, Unair, dll.) punya konsumsi pendinginan signifikan
- District cooling berbasis panas bumi bisa mengurangi konsumsi listrik AC secara drastis
- Integrasi dengan AI untuk manajemen beban pendinginan bisa memangkas biaya operasional
Sekarang tambah satu layer lagi: data center. Ekonomi digital Indonesia tumbuh cepat, dan setiap data center butuh listrik dan pendinginan yang stabil. Panas bumi generasi terbaru + AI untuk manajemen energi data center = kombinasi yang sangat kompetitif untuk perusahaan teknologi.
3. Di Mana Peran AI dalam Ekosistem Panas Bumi?
AI relevan di hampir semua tahap siklus hidup proyek panas bumi: dari eksplorasi sampai operasi. Dan di sinilah seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia” jadi sangat nyambung dengan temuan Project InnerSpace.
3.1 Eksplorasi dan pemetaan sumber daya
Eksplorasi panas bumi selama ini mahal karena banyak ketidakpastian bawah permukaan. AI bisa memangkas bagian ini dengan:
- Analisis data geospasial dan geofisika: model AI dilatih pada data seismik, gravitasi, dan geologi untuk memprediksi zona panas tinggi
- Pemrosesan citra satelit untuk mendeteksi anomali termal dan struktur geologi yang mendukung sistem panas bumi
- Pemodelan risiko: mengestimasi probabilitas keberhasilan pengeboran berdasarkan kombinasi ratusan variabel
Hasilnya sederhana:
Lebih sedikit sumur “salah bor”, biaya eksplorasi turun, dan keputusan investasi bisa diambil lebih cepat.
3.2 Desain sumur dan optimasi pengeboran
Indonesia punya warisan kuat di sektor minyak dan gas. Kalau dikombinasikan dengan AI:
- Data historis ribuan sumur minyak/gas dapat dianalisis untuk mencari pola batuan panas yang cocok untuk panas bumi
- AI bisa membantu merencanakan lintasan pengeboran yang lebih aman dan efisien
- Sistem drilling optimization berbasis machine learning mampu menyesuaikan parameter pengeboran secara real-time untuk mengurangi non-productive time
Ini nyambung dengan rekomendasi laporan: memperluas program pelatihan dan sertifikasi teknis untuk mengalihkan keahlian migas ke panas bumi. Tambah modul AI/analitik ke dalam pelatihan itu, dan kita dapat tenaga kerja panas bumi yang jauh lebih produktif.
3.3 Operasi pembangkit, panas industri, dan district cooling
Begitu fasilitas panas bumi beroperasi, AI bisa dipakai untuk:
- Prediksi performa reservoir dan mencegah penurunan kapasitas jauh hari sebelumnya
- Optimasi dispatch listrik panas bumi di sistem kelistrikan yang punya banyak PLTS/PLTB
- Manajemen sistem panas dan pendinginan terpusat di kawasan industri atau kota:
- Menyesuaikan suplai panas/pendinginan dengan profil beban aktual
- Mengurangi puncak beban listrik AC
- Menjaga efisiensi sistem mendekati desain optimal
Untuk operator kawasan industri atau tech park yang ingin dekarbonisasi, kombinasi panas bumi + AI energy management system sering kali lebih masuk akal secara ekonomi dibanding terus mengandalkan genset diesel dan chiller konvensional.
4. Kebijakan yang Dibutuhkan: Dari Definisi hingga “Jalur Cepat” Panas Bumi
Kalau bicara AI dan teknologi tanpa membahas kebijakan, ujungnya buntu. Laporan The Future of Geothermal in Indonesia dengan cukup jelas menyebut beberapa reformasi kunci yang harus dikejar pemerintah.
4.1 Memperbarui definisi dan kerangka perizinan
Regulasi panas bumi Indonesia masih dominan memandang panas bumi sebagai sumber listrik saja, dan sangat terikat pada konsep reservoir konvensional. Untuk membuka ruang panas bumi generasi terbaru, beberapa hal krusial:
- Definisi panas bumi perlu mencakup sistem generasi terbaru, penggunaan panas langsung, dan district cooling
- Skema perizinan dan tata ruang harus mengakomodasi pengembangan dekat pusat beban, bukan hanya di wilayah gunung api
Ini juga akan membuka pintu bagi proyek skala menengah: kampus, rumah sakit besar, kawasan industri, bukan hanya PLTP ratusan MW.
4.2 Menetapkan target nasional dan peta jalan panas bumi
Tanpa target, panas bumi akan terus “tersisih” dalam prioritas investasi. Laporan merekomendasikan:
- Target nasional untuk listrik panas bumi sekaligus panas industri berbasis panas bumi
- Peta jalan yang mengintegrasikan:
- Pengembangan sumber daya
- Kesiapan infrastruktur jaringan listrik
- Kebutuhan panas sektor industri besar
- Kesiapan SDM dan adopsi teknologi AI/analitik
Bagi pelaku industri, keberadaan target dan peta jalan membuat keputusan investasi lebih terukur. Misalnya, pabrik baja dapat merencanakan migrasi sistem pemanas dalam 10–15 tahun ke depan dengan kepastian suplai energi panas bumi.
4.3 Jalur cepat panas bumi dan reformasi royalti
Beberapa rekomendasi lain yang cukup strategis:
- Membentuk “jalur cepat panas bumi” untuk mempercepat perizinan dan koordinasi antar kementerian
- Mereformasi skema royalti panas bumi agar manfaatnya terasa langsung oleh masyarakat sekitar proyek
Dari perspektif sosial, ini sangat penting. Proyek energi yang jelas membagi manfaat ke daerah dan warga lokal cenderung memiliki penerimaan sosial yang lebih kuat, apalagi bila disertai:
- Program pelatihan teknis (termasuk kemampuan dasar data & AI)
- Prioritas tenaga kerja lokal
- Transparansi data produksi dan penerimaan daerah
5. Apa Artinya untuk Industri, Data Center, dan Kota di Indonesia?
Kalau digabung: potensi panas bumi 2.160 GW, sistem generasi terbaru, dan pemanfaatan AI, dampaknya ke sektor energi Indonesia sangat nyata.
5.1 Untuk industri manufaktur
- Mengganti boiler berbasis batu bara atau minyak dengan panas bumi
- Mengurangi volatilitas biaya energi karena tidak tergantung harga BBM impor
- Meningkatkan daya saing ekspor dengan jejak karbon produk yang lebih rendah
Perusahaan yang menargetkan pasar Eropa/AS akan sangat terbantu karena tekanan regulasi jejak karbon produk makin keras.
5.2 Untuk ekonomi digital dan data center
- Menyediakan listrik baseload dan pendinginan yang stabil untuk data center
- Menggunakan AI untuk mengoptimasi beban server dan sistem pendinginan berbasis panas bumi
- Menjadikan Indonesia hub data center hijau di Asia Tenggara, bukan hanya murah dari sisi harga lahan dan listrik, tapi juga rendah emisi.
5.3 Untuk kota dan kampus
- Membangun district cooling berbasis panas bumi di kawasan bisnis, rumah sakit, dan kampus besar
- Mengurangi beban puncak PLN yang didominasi konsumsi AC siang hari
- Meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan termal tanpa melambungkan emisi
Project InnerSpace yang memulai studi kampus UGM sebenarnya bisa jadi “template”: kalau berhasil, pendekatan serupa bisa digabung dengan AI building management system untuk mengatur suhu, aliran udara, dan konsumsi energi secara dinamis.
Penutup: Panas Bumi + AI, Kombinasi Serius untuk Transisi Energi
Indonesia sudah punya tiga modal utama: sumber daya panas bumi yang sangat besar, keahlian teknis migas/panas bumi, dan ekosistem AI/data yang mulai matang. Laporan Project InnerSpace hanya mengkonfirmasi satu hal: kalau ketiganya disatukan dalam kerangka kebijakan yang tepat, panas bumi bisa menjadi fondasi transisi energi yang tangguh.
Untuk pelaku industri, pengembang energi, hingga pengelola kawasan industri atau kampus, ini saat yang tepat untuk bertanya:
“Bagaimana saya bisa mulai memasukkan panas bumi dan AI ke dalam strategi energi 5–15 tahun ke depan?”
Mereka yang mulai lebih dulu akan menikmati energi yang lebih murah, lebih bersih, dan lebih stabil. Dan di skala nasional, pemanfaatan panas bumi generasi terbaru yang didukung AI bisa menjadi salah satu langkah paling rasional untuk membawa Indonesia menuju sistem energi yang mandiri, rendah emisi, dan kompetitif di kawasan.