Pertumbuhan ekonomi dan komitmen iklim Indonesia bisa jalan bareng. Kuncinya: target sektor yang jelas, teknologi rendah karbon, dan AI di sistem energi.
Menurunkan Emisi Tanpa Mengorbankan Pertumbuhan: Bukan Mitos
Perekonomian Indonesia ditargetkan tumbuh di kisaran 5–7% sampai 2030, sementara komitmen iklim menuntut penurunan emisi yang cepat agar tetap di jalur 1,5 °C. Banyak pengambil keputusan yang masih berasumsi: kalau ikuti komitmen iklim terlalu ketat, ekonomi bisa melambat. Pandangan ini sudah ketinggalan zaman.
Di COP30 Belem, dunia mengakui satu hal pahit: komitmen iklim global masih jauh dari cukup. Tidak ada kesepakatan jelas soal penghentian bertahap (phase-out) energi fosil, dan masih ada defisit penurunan emisi global 9–15 gigaton CO2e untuk sekadar menjaga pemanasan di bawah 2 °C. Indonesia, sebagai negara kepulauan yang rentan, tidak punya kemewahan untuk menunda.
Berita baiknya, pertumbuhan ekonomi dan penurunan emisi justru bisa berjalan bareng jika didukung teknologi rendah karbon dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor energi. Di seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” ini, tulisan ini membahas sisi yang sering dihindari: bagaimana menyelaraskan komitmen iklim dengan ambisi ekonomi, secara praktis dan berbasis data.
Mengapa Komitmen Iklim Indonesia Perlu Naik Kelas
Kunci menyelaraskan iklim dan ekonomi adalah memperkuat komitmen iklim nasional sambil merancang jalur pertumbuhan baru berbasis energi bersih.
Tantangan dari COP30: Defisit Emisi Global
Dokumen Global MutirĂŁo: Uniting Humanity in Global Mobilization Against Climate Change mengingatkan bahwa:
- Dengan komitmen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) saat ini, masih ada defisit 9–15 Gt CO2e untuk jalur di bawah 2 °C.
- Jendela peluang untuk jalur 1,5 °C makin sempit menjelang 2030.
Artinya, Second NDC Indonesia harus jauh lebih ambisius kalau kita ingin aman dari lonjakan suhu dan tetap kompetitif dalam ekonomi hijau global.
Realitas Indonesia: Rentan Tapi Punya Peluang
Indonesia berada di posisi unik:
- Negara kepulauan yang sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan gagal panen.
- Salah satu produsen dan konsumen batu bara terbesar, dengan PLTU yang masih mendominasi sistem kelistrikan.
- Sekaligus punya potensi raksasa energi terbarukan (surya, angin, panas bumi, bioenergi) dan pasar domestik yang besar.
Jadi, ini bukan sekadar soal moral menjaga iklim global. Ini soal melindungi stabilitas ekonomi sendiri dan membuka pasar baru: industri hijau, ekspor produk rendah karbon, hingga layanan digital energi berbasis AI.
Tidak Ada Konflik Bawaan: Iklim vs Pertumbuhan Ekonomi
Fabby Tumiwa (CEO IESR) menegaskan hal penting: kita tidak perlu mempertentangkan pertumbuhan ekonomi dengan penurunan emisi. Benturannya hanya muncul kalau kita bersikeras memakai pola lama: energi fosil murah sekarang, biaya kerusakan iklim dan kehilangan daya saing nanti.
Mengapa Pertumbuhan Ekonomi Justru Butuh Transisi Energi
Ada tiga alasan kenapa ekonomi Indonesia justru bisa tumbuh lebih kuat lewat transisi energi rendah karbon:
-
Biaya energi terbarukan terus turun
Biaya listrik surya dan angin global turun drastis dalam 10–15 tahun terakhir. Di banyak negara, levelized cost of electricity (LCOE) surya dan angin sudah lebih murah dari PLTU baru. Indonesia mulai merasakan tren yang sama, apalagi dengan dukungan teknologi digital dan AI untuk optimasi desain dan operasi. -
Pasar ekspor butuh produk rendah emisi
Uni Eropa menerapkan CBAM, negara lain menyusul. Produk intensif karbon (baja, semen, aluminium, dll.) akan kena "pajak karbon tidak langsung" saat masuk pasar global. Industri Indonesia yang tidak dekarbonisasi akan kalah bersaing. -
Penciptaan lapangan kerja baru
Sektor energi terbarukan, efisiensi energi, dan teknologi digital energi (termasuk AI) menciptakan pekerjaan baru: data engineer untuk sistem energi, teknisi panel surya, analis sistem jaringan cerdas, dan seterusnya.
Intinya: transisi energi dan teknologi rendah karbon adalah strategi pertumbuhan, bukan sekadar biaya tambahan.
Tiga Tuas Besar Penurunan Emisi: Metana, Listrik, dan Industri
Untuk menyelaraskan komitmen iklim dan pertumbuhan ekonomi, Indonesia butuh fokus pada beberapa tuas besar yang cepat, terukur, dan punya nilai ekonomi. Di sini AI bisa jadi akselerator.
1. Menangani Emisi Metana: Cepat, Murah, dan Efektif
Metana menyumbang porsi besar pemanasan global jangka pendek. Indonesia sudah menandatangani Global Methane Pledge tahun 2021, dengan target pengurangan 30% metana global pada 2030.
Sumber utama metana di Indonesia:
- Timbunan sampah di TPA dan pengelolaan limbah yang buruk.
- Flaring dan kebocoran gas di industri minyak dan gas.
- Sektor pertanian dan peternakan.
Peran AI di pengurangan metana:
- Analitik citra satelit dan sensor untuk mendeteksi kebocoran metana secara real-time di fasilitas migas.
- Model AI untuk mengoptimalkan pengelolaan TPA: memprediksi produksi gas landfill, merancang pemanfaatan biogas, dan mengurangi pembakaran terbuka.
- Sistem pemantauan terintegrasi di kota-kota besar untuk memetakan titik emisi tertinggi dari sampah dan limbah.
Langkah-langkah ini mengurangi emisi sekaligus menciptakan peluang bisnis: proyek waste-to-energy, pemanfaatan flare gas menjadi bahan bakar, dan kredit karbon.
2. Dekarbonisasi Kelistrikan: Dari PLTU ke Sistem Cerdas Berbasis AI
Transisi dari PLTU batubara ke energi terbarukan sering dipersepsikan berisiko untuk keandalan listrik. Di sinilah AI mengubah permainan.
Kunci dekarbonisasi kelistrikan yang sejalan dengan pertumbuhan:
- Pengembangan PLTS atap dan PLTS skala utilitas, panas bumi, dan tenaga angin.
- Pengurangan bertahap PLTU, termasuk PLTU captive industri, dengan skema pensiun dini yang terencana.
- Digitalisasi sistem kelistrikan: smart grid, advanced metering infrastructure, dan sistem manajemen energi.
Apa yang bisa dilakukan AI di sistem listrik Indonesia?
-
Peramalan beban dan produksi EBT
Model AI dapat memprediksi permintaan listrik per 15 menit hingga jam-jam ke depan, sekaligus memprediksi output PLTS dan PLTB berdasarkan cuaca. Hasilnya: operator bisa mengurangi cadangan putar PLTU dan menurunkan biaya sistem. -
Optimasi operasi pembangkit campuran
Algoritma optimasi berbasis AI menentukan kombinasi pembangkit paling efisien dan paling rendah emisi setiap jam, mempertimbangkan batasan jaringan dan biaya bahan bakar. -
Smart metering dan manajemen sisi permintaan
Dengan meter pintar dan analitik AI, PLN dan pelaku usaha bisa:- Mengidentifikasi pola konsumsi yang boros.
- Mendesain tarif dinamis untuk menggeser beban dari jam puncak.
- Mengaktifkan program demand response untuk industri.
Hasil akhirnya adalah sistem listrik yang lebih andal, lebih murah dalam jangka menengah, dan jauh lebih rendah emisi.
3. Dekarbonisasi Industri: Kunci Pertumbuhan 8% ke Atas
Industri berat (baja, semen, petrokimia) adalah tulang punggung pertumbuhan PDB. Tapi sekaligus penyumbang emisi besar. IESR sudah menyoroti bahwa Indonesia perlu menggenjot dekarbonisasi industri untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8% secara berkelanjutan.
Contoh strategi dekarbonisasi industri yang pro-pertumbuhan:
- Elektrifikasi proses industri yang sebelumnya berbasis bahan bakar fosil.
- Pemanfaatan listrik terbarukan langsung (PPA hijau, PLTS atap di kawasan industri).
- Penerapan efisiensi energi berbasis data.
Peran AI di industri:
- Predictive maintenance untuk menurunkan downtime dan konsumsi energi.
- Optimasi proses (misalnya, pengaturan suhu kiln semen, proses peleburan baja) agar konsumsi energi per ton produk turun.
- Sistem manajemen energi berbasis AI yang memberi rekomendasi otomatis untuk fine-tuning operasi pabrik.
Di banyak kasus, penghematan energi 10–20% di industri berat bukan hal mustahil jika data tersedia dan algoritma diimplementasikan dengan serius.
Tiga Fondasi: Target Terukur, Teknologi Rendah Karbon, dan Pendanaan
Untuk menyelaraskan komitmen iklim dan pertumbuhan ekonomi, sekadar punya niat baik tidak cukup. Fabby Tumiwa menyoroti tiga kunci: target terukur per sektor, teknologi rendah karbon, dan pendanaan. AI bisa menempel di ketiganya.
1. Target Terukur per Sektor
Target emisi nasional harus diterjemahkan ke:
- Target bauran energi terbarukan di sektor listrik.
- Target intensitas emisi per unit output di sektor industri.
- Target pengurangan metana di sektor limbah dan migas.
AI membantu di sisi:
- Penghitungan baseline dan pemantauan realisasi target secara near real-time.
- Simulasi skenario kebijakan energi Indonesia: misalnya, bagaimana dampak percepatan PLTS atap terhadap emisi dan biaya sistem.
2. Teknologi Rendah Karbon + AI sebagai Otak Sistem
Teknologi rendah karbon (EBT, kendaraan listrik, efisiensi energi) adalah hardware transisi. AI adalah otak yang membuat hardware ini bekerja optimal.
Contoh kombinasi:
-
PLTS + baterai + AI
AI menentukan kapan PLTS mengisi baterai, kapan memasok ke grid, dan kapan memasok beban lokal agar biaya listrik minimum dan emisi turun. -
Kendaraan listrik + smart charging
AI mengatur pengisian baterai EV di jam tertentu sehingga tidak menambah beban puncak, sekaligus memanfaatkan listrik dari EBT saat produksi tinggi. -
Bangunan komersial + sistem manajemen energi
Sensor, IoT, dan AI mengelola AC, pencahayaan, dan peralatan lain secara otomatis berdasarkan pola hunian dan tarif listrik.
3. Pendanaan yang Selaras dengan Iklim
Transisi energi dan digitalisasi butuh modal besar. Namun, banyak lembaga keuangan global dan domestik mulai memprioritaskan proyek rendah karbon dan teknologi bersih.
AI bisa membantu di:
- Analisis kelayakan proyek energi terbarukan dan efisiensi energi dengan cepat, berbasis data historis dan skenario harga energi.
- Pemantauan performa proyek secara transparan sehingga risiko bagi investor turun.
Kalau kebijakan nasional memberi sinyal jelas (misalnya peta jalan pengurangan PLTU dan target EBT yang kredibel), arus pendanaan akan mengikuti.
Kepemimpinan: Faktor Penentu di Atas Semua Teknologi
Ada satu hal yang tidak bisa digantikan AI: kepemimpinan yang konsisten. Tanpa arah politik dan regulasi yang tegas, teknologi dan investasi akan ragu-ragu masuk.
Kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia di era pasca-COP30:
- Berani menyatakan arah: puncak emisi kapan, PLTU berhenti beroperasi kapan, bauran EBT berapa.
- Konsisten di regulasi: tidak mengirim sinyal berlawanan antara dorongan EBT dan kebijakan yang masih memanjakan batubara.
- Mendorong kolaborasi antara pemerintah, BUMN energi, swasta, dan pelaku teknologi (termasuk startup AI energi).
Dalam konteks seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”, kepemimpinan juga berarti mengakui bahwa:
Transisi energi tanpa digitalisasi dan AI akan lebih lambat, lebih mahal, dan kurang akurat.
Sebaliknya, adopsi AI tanpa arah transisi yang jelas hanya akan menjadi proyek pilot yang tidak punya dampak sistemik.
Langkah Praktis untuk Perusahaan dan Pemerintah di 2026
Supaya tulisan ini tidak berhenti jadi wacana, berikut langkah konkret yang bisa diambil mulai 2026.
Untuk Pemerintah dan Regulator
- Memperkuat SNDC dengan target sektor energi, industri, dan limbah yang lebih rinci dan terukur.
- Menyusun peta jalan digitalisasi sistem energi nasional, termasuk standar smart metering dan pertukaran data.
- Mendesain skema insentif untuk proyek yang menggabungkan EBT dan AI (misalnya PLTS + baterai + sistem manajemen energi berbasis AI di kawasan industri).
Untuk Perusahaan Energi dan Industri
- Memulai audit energi berbasis data dan menyiapkan infrastruktur data (sensor, SCADA, meter pintar) sebagai fondasi penerapan AI.
- Mencoba proyek percontohan AI di area dengan payback cepat: peramalan beban, predictive maintenance, atau optimasi proses energi intensif.
- Menyusun peta jalan dekarbonisasi internal yang sinkron dengan target nasional dan tren pasar ekspor.
Untuk Startup dan Penyedia Teknologi AI Energi
- Fokus pada solusi yang menjawab masalah nyata pelaku energi dan industri di Indonesia: reliabilitas jaringan, tagihan listrik tinggi, regulasi ketat emisi.
- Bangun kemitraan dengan utilitas, kawasan industri, dan pemerintah daerah sebagai early adopter.
Penutup: Ekonomi Hijau Indonesia Butuh AI Sebagai Mitra
Menyelaraskan komitmen iklim dan pertumbuhan ekonomi bukan sekadar kompromi di tengah. Ini tentang mendesain ulang cara Indonesia memproduksi dan memakai energi. Tanpa perubahan, kita menghadapi risiko ganda: kerusakan iklim dan hilangnya daya saing industri.
Transisi energi berbasis EBT, pengurangan metana, dan dekarbonisasi industri memberi jalur pertumbuhan baru. AI, smart grid, prediksi permintaan, dan smart metering membuat jalur ini lebih efisien, terukur, dan menarik bagi investor.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi "bisakah" ekonomi tumbuh sambil menurunkan emisi, tapi: seberapa cepat kita berani menggabungkan kebijakan iklim yang ambisius, teknologi rendah karbon, dan AI di sektor energi? Negara dan perusahaan yang bergerak lebih dulu akan memetik manfaat lebih besar.