Indonesia bisa menurunkan emisi sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi dengan transisi energi berbasis EBT dan AI. Bukan pilihan biner, tapi strategi daya saing.
Menurunkan Emisi Tanpa Mengorbankan Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi 8% per tahun yang sedang dikejar Indonesia hanya mungkin bertahan lama kalau satu hal dijaga ketat: krisis iklim tidak makin parah. Di saat yang sama, COP30 di Belem menunjukkan masih ada kemunduran global, terutama karena belum adanya komitmen jelas untuk phase-out energi fosil.
Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia tidak bisa hanya menunggu konsensus dunia. Kita harus membuktikan bahwa komitmen iklim, pertumbuhan ekonomi, dan pemanfaatan AI di sektor energi justru saling menguatkan, bukan saling meniadakan.
Tulisan ini mengulas bagaimana pesan dari IESR soal menyelaraskan komitmen iklim dan pertumbuhan ekonomi bisa diterjemahkan secara praktis di Indonesia, terutama lewat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam transisi energi: dari pengelolaan metana, pengurangan emisi sektor energi, sampai efisiensi industri.
Mengapa Komitmen Iklim dan Ekonomi Sering Dianggap Bertabrakan?
Konflik antara iklim dan ekonomi biasanya muncul karena tiga hal: kekhawatiran biaya, ketakutan kehilangan lapangan kerja, dan ketidakpastian teknologi.
Di Indonesia, narasi ini sering terdengar:
- "Kalau PLTU batu bara dipensiunkan, listrik jadi mahal."
- "Dekarbonisasi industri bikin produk kita nggak kompetitif."
- "Teknologi energi terbarukan dan AI itu mahal dan rumit."
Padahal, tren global menunjukkan sebaliknya:
- Biaya listrik dari surya dan angin sudah turun drastis dalam 10 tahun terakhir.
- Negara yang lebih dulu mengadopsi teknologi rendah karbon justru mengamankan daya saing ekspornya.
- AI di sektor energi mampu memangkas pemborosan dan biaya operasional secara signifikan.
Realitasnya: tanpa dekarbonisasi yang serius, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru yang paling berisiko. Dampak banjir, kekeringan, gangguan pangan, dan risiko kesehatan akan menghantam produktivitas dan APBN.
Agenda iklim bukan penghambat, tapi filter yang menentukan mana model bisnis yang masih layak hidup di 10–20 tahun ke depan.
Pelajaran dari COP30: Defisit Emisi dan Peran Indonesia
Dalam forum CNN Indonesia Sustainability Summit, CEO IESR Fabby Tumiwa menegaskan adanya setback di COP30: belum ada kesepakatan global jelas untuk mengakhiri penggunaan fosil.
Di sisi lain, dokumen Global Mutirão menunjukkan fakta yang cukup keras:
- Dengan komitmen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) saat ini, dunia masih defisit 9–15 gigaton CO2e untuk tetap di bawah jalur pemanasan 2°C.
- Jarak dengan jalur 1,5°C makin sempit.
Bagi Indonesia, ini punya beberapa konsekuensi langsung:
- Tekanan dari pasar ekspor: Uni Eropa dan negara lain semakin ketat menerapkan standar emisi (CBAM, standar hijau, dan sebagainya).
- Akses pendanaan: Dana iklim dan investasi global akan mengalir ke negara yang punya target iklim jelas dan roadmap implementasi yang kredibel.
- Risiko aset mangkrak (stranded assets): Investasi baru di PLTU, kilang, dan infrastruktur fosil berisiko tidak ekonomis sebelum umur teknisnya habis.
Artinya, menyelaraskan komitmen iklim dan ekonomi justru soal menjaga daya saing jangka panjang, bukan sekadar memenuhi komitmen internasional.
Strategi Kunci: Metana, Energi Fosil, dan Teknologi Rendah Karbon
Jawaban praktis untuk menyelaraskan iklim dan ekonomi adalah fokus pada area emisi yang bisa dikurangi cepat dengan biaya relatif rendah. Di sinilah metana, sektor energi, dan teknologi rendah karbon jadi kunci.
1. Menangani Emisi Metana: Quick Win yang Sering Diabaikan
Fabby Tumiwa menyoroti dua sumber metana utama yang bisa ditangani cepat di Indonesia:
- Sampah kota dan TPA yang menghasilkan gas metana dari proses pembusukan.
- Flare gas dari pengeboran minyak dan gas yang selama ini dibakar percuma atau dibuang begitu saja.
Indonesia sudah ikut Global Methane Pledge dengan target pengurangan emisi metana 30% pada 2030. Tantangannya bukan di teknologinya—teknologi penangkapan dan pemanfaatan gas metana sudah ada—melainkan di skala implementasi dan koordinasi.
Di sinilah AI mulai terasa gunanya:
- Model AI bisa memetakan TPA dengan potensi metana tertinggi, mengurutkan prioritas proyek penangkapan gas.
- AI analitik dapat membaca data operasi lapangan migas untuk mengidentifikasi titik kebocoran metana dan flare gas berlebih secara real-time.
2. Mengurangi Ketergantungan Energi Fosil Tanpa Mengguncang Ekonomi
Banyak yang berpikir pengurangan batu bara otomatis berarti listrik mahal dan industri kolaps. Nyatanya, pendekatan yang tepat justru bisa menurunkan biaya jangka menengah.
Beberapa langkah realistis yang bisa diambil:
- Menghentikan pembangunan PLTU baru dan mengoptimalkan pembangkit eksisting sambil mempercepat penambahan PLTS, PLTB, dan panas bumi.
- Mendorong PLTS atap industri dan komersial, mengurangi beban jaringan dan subsidi.
- Menjalankan program pensiun dini PLTU secara bertahap dengan skema pembiayaan transisi.
Peran AI di sini cukup konkret:
- Optimasi sistem ketenagalistrikan: AI bisa menghitung kombinasi operasi pembangkit fosil dan EBT yang paling murah dan paling rendah emisi setiap jam.
- Prediksi permintaan listrik yang lebih akurat mengurangi kebutuhan cadangan berlebih (yang biasanya di-cover PLTU tidak efisien).
3. Teknologi Rendah Karbon sebagai Motor Pertumbuhan Baru
IESR berkali-kali menekankan: teknologi rendah karbon bukan beban, tapi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Contoh peluangnya di Indonesia:
- Manufaktur modul surya, baterai, komponen turbin angin.
- Layanan energi seperti ESCO (energy service company), audit energi berbasis AI, dan platform smart metering.
- Industri hijau (misalnya smelter rendah karbon, pabrik semen rendah klinker) yang akan lebih mudah menembus pasar ekspor.
Teknologi AI memperbesar efek positifnya:
- Pabrik bisa menerapkan AI untuk efisiensi energi proses produksi, menurunkan intensitas energi per unit produk.
- Perusahaan listrik bisa membangun grid cerdas (smart grid) yang kuat mengintegrasikan EBT dengan fluktuasi tinggi.
Peran AI yang Nyata dalam Transisi Energi Indonesia
Dalam seri "AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan", satu benang merahnya jelas: AI bukan aksesori, tapi alat kerja yang sangat praktis.
Berikut beberapa contoh penerapan yang langsung nyambung dengan komitmen iklim dan pertumbuhan ekonomi.
AI untuk Optimasi Jaringan dan Integrasi EBT
Transisi dari sistem listrik berbasis PLTU ke sistem berbasis EBT (surya, angin, panas bumi, biomassa) membuat sistem jauh lebih dinamis. AI membantu di titik paling kritis:
- Forecasting cuaca dan produksi PLTS/PLTB per jam dan per lokasi, sehingga operator jaringan bisa mengatur pasokan jauh lebih presisi.
- Unit commitment dan dispatch berbasis AI untuk menentukan pembangkit mana yang harus menyala, berapa besar, dan kapan — dengan mempertimbangkan biaya dan emisi sekaligus.
- Deteksi gangguan dan prediksi kegagalan peralatan (predictive maintenance) sehingga keandalan sistem tetap terjaga meski pola operasi berubah.
Dampaknya langsung ke ekonomi:
- Biaya bahan bakar fosil berkurang.
- Biaya gangguan listrik (outage) yang menghantam industri bisa ditekan.
- Investasi baru di EBT jadi lebih menarik karena sistem mampu menerima porsi EBT yang lebih besar.
AI untuk Prediksi Permintaan dan Efisiensi Industri
Di sisi permintaan, AI membantu dua kelompok besar: utility dan pelaku industri.
Untuk utility (PLN dan IPP):
- Model prediksi beban yang lebih akurat mengurangi kebutuhan cadangan berlebih.
- Segmentasi pelanggan berbasis data konsumsi untuk menawarkan program efisiensi energi yang tepat sasaran.
Untuk industri:
- AI menganalisis pola pemakaian listrik dan panas di pabrik, lalu merekomendasikan jam operasi paling hemat dan konfigurasi peralatan paling efisien.
- Integrasi AI dengan smart meter memberikan insight hampir real-time ke manajemen untuk memotong konsumsi tanpa mengganggu produksi.
Hasilnya? Emisi turun, biaya energi per unit produk turun, daya saing ekspor naik.
AI untuk Pemantauan Emisi dan Transparansi
Komitmen iklim yang ambisius tanpa data yang kuat akan sulit dipercaya. AI membantu dari sisi Measurement, Reporting, and Verification (MRV):
- Mengolah data sensor di lapangan (pembangkit, pabrik, TPA, lapangan migas) untuk menghitung emisi secara berkala.
- Menggunakan citra satelit dan model AI untuk mendeteksi kebocoran metana dan perubahan penggunaan lahan.
- Menghasilkan dashboard emisi yang bisa digunakan pemerintah, pelaku usaha, dan publik sebagai dasar pengambilan keputusan.
Transparansi seperti ini meningkatkan kepercayaan investor dan akses ke pendanaan hijau, yang ujung-ujungnya mendukung pertumbuhan ekonomi.
Syarat Sukses: Target Jelas, Pendanaan, dan Kepemimpinan
Ada tiga syarat utama yang ditekankan IESR untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dan komitmen iklim. AI bisa membantu di masing-masing, tapi tetap butuh fondasi kebijakan yang kuat.
1. Target Emisi dan EBT yang Terukur per Sektor
Tanpa target yang rinci, AI hanya akan jadi nice to have.
Indonesia perlu:
- Target penurunan emisi per sektor (energi, industri, limbah, transportasi) yang konsisten dengan jalur 1,5°C.
- Roadmap kapasitas EBT per tahun, termasuk per sistem kelistrikan (Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan, Indonesia Timur).
- Target pengurangan metana yang terkuantifikasi dan melekat di regulasi.
Dengan angka yang jelas, AI dapat digunakan untuk:
- Menyusun skenario transisi energi paling efisien.
- Menghitung biaya dan manfaat tiap opsi kebijakan secara cepat.
2. Akses Pendanaan yang Serius, Bukan Sekadar Pilot Project
Transisi energi dan implementasi AI butuh investasi besar di:
- Infrastruktur EBT dan jaringan listrik.
- Digitalisasi sistem energi: smart meter, sensor, pusat data.
- Pengembangan kapasitas SDM untuk mengelola dan memanfaatkan AI.
Pendanaan publik harus disinergikan dengan:
- Pembiayaan iklim internasional.
- Skema blended finance dan instrumen hijau.
Peran AI di sini:
- Menyediakan analisis risiko dan kelayakan proyek yang lebih akurat untuk meyakinkan lembaga keuangan.
- Membantu merancang skema tarif dan insentif yang adil namun menarik bagi investor.
3. Kepemimpinan Politik yang Konsisten
Tanpa kepemimpinan yang jelas dan konsisten, semua peluang di atas hanya akan jadi wacana.
Kepemimpinan yang dimaksud bukan hanya di level nasional, tapi juga:
- Pemerintah daerah yang berani mengembangkan kota rendah karbon.
- BUMN energi yang serius melakukan transformasi digital dan energi.
- Pelaku industri yang menempatkan dekarbonisasi sebagai strategi bisnis inti, bukan CSR.
AI bisa mempercepat, tapi arahnya tetap ditentukan oleh keputusan politik dan bisnis hari ini.
Menjadikan AI sebagai Tulang Punggung Transisi Energi Indonesia
Kalau diringkas, pesan pentingnya seperti ini:
Menurunkan emisi dan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan hanya mungkin, tapi justru lebih aman dilakukan dengan mempercepat transisi energi berbasis EBT dan AI.
Dalam konteks seri "AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan", langkah praktis yang bisa mulai dipikirkan oleh pemerintah, BUMN, dan pelaku industri adalah:
- Memetakan area penggunaan AI yang berdampak langsung ke penurunan emisi: optimasi jaringan, prediksi permintaan, efisiensi pabrik, pengelolaan metana.
- Menetapkan target iklim dan EBT yang cukup ambisius agar investasi infrastruktur digital dan AI punya justifikasi bisnis kuat.
- Membangun kolaborasi antara pembuat kebijakan, pelaku energi, dan komunitas teknologi untuk mengembangkan solusi AI yang relevan dengan konteks Indonesia.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apakah" kita perlu menyelaraskan komitmen iklim dan pertumbuhan ekonomi, tetapi seberapa cepat Indonesia berani menjadikan AI dan energi bersih sebagai tulang punggung model ekonominya yang baru.