Jawa Tengah punya potensi energi terbarukan 197,96 GWp, tapi pemanfaatannya tertahan. Forum Energi Daerah dan AI bisa jadi kombinasi kunci untuk mengejar ketertinggalan.
Kolaborasi & AI untuk Akselerasi Energi Terbarukan Jateng
Tahun 2024, bauran energi terbarukan Jawa Tengah baru menyentuh 18,58%, masih di bawah target 21,32% yang dicanangkan untuk 2025. Di sisi lain, studi IESR menunjukkan potensi energi terbarukan Jawa Tengah mencapai 197,96 GWp. Jurangnya sangat lebar: potensi hampir tak terbatas, pemanfaatan masih tertahan.
Ini bukan sekadar soal panel surya dan turbin angin. Tantangannya ada di koordinasi, pendanaan, data, teknologi, hingga perubahan perilaku. Kabar baiknya, Jawa Tengah mulai serius merapikan semua itu lewat pembentukan Forum Energi Daerah (FED), dan ke depan peran kecerdasan buatan (AI) bisa membuat transisi energi jauh lebih cepat dan terukur.
Tulisan ini membahas:
- Kenapa kolaborasi multipihak jadi kunci transisi energi di Jawa Tengah
- Apa peran konkret Forum Energi Daerah
- Bagaimana PLTS, biogas, dan program Desa Mandiri Energi sudah mengubah peta energi lokal
- Di mana AI untuk sektor energi Indonesia bisa masuk: dari perencanaan sampai operasi harian
- Peluang praktis bagi pemerintah daerah, industri, dan pelaku energi untuk mulai sekarang
1. Mengapa Jawa Tengah Butuh Lompatan, Bukan Sekadar Kenaikan Biasa
Jawa Tengah sudah berada di jalur transisi energi, tapi kecepatannya belum cukup. Angka 18,58% bauran energi terbarukan pada 2024 menunjukkan ada progres, namun belum sejalan dengan skala potensi 197,96 GWp yang dimiliki.
Masalah utamanya apa?
- Perencanaan energi daerah belum sepenuhnya berbasis data yang kuat dan terkini
- Kebijakan pusat-daerah kadang tidak sinkron dalam implementasi
- Informasi potensi lokal (misal lokasi ideal PLTS, potensi biogas, atau gas rawa) belum termanfaatkan maksimal
- Industri dan UMKM yang ingin beralih ke energi bersih sering terkendala skema pembiayaan dan kepastian regulasi
Di titik ini, kolaborasi lintas aktor dan pengelolaan data yang cerdas jadi dua fondasi utama. Di sinilah Forum Energi Daerah dan pemanfaatan AI mulai terasa relevan.
2. Forum Energi Daerah: Wadah Kolaborasi, Bukan Sekadar Struktur Baru
Pembentukan Forum Energi Daerah Provinsi Jawa Tengah lewat Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/398 Tahun 2025 adalah sinyal kuat: transisi energi tak lagi dipandang sebagai proyek sektoral, tapi agenda bersama.
Struktur yang sengaja dirancang untuk kerja nyata
Forum ini disusun dengan tiga lapis utama:
- Dewan Pengarah – mengarahkan kebijakan dan prioritas strategis
- Badan Pelaksana Harian – mengkoordinasikan program dan tindak lanjut
- Empat Kelompok Kerja (Pokja) yang fokus pada:
- Regulasi dan data
- Pendanaan
- Teknologi dan infrastruktur
- Edukasi dan pemberdayaan masyarakat
Desain ini menarik karena menyentuh empat titik tumpu transisi energi: aturan main yang jelas, uang, teknologi, dan penerimaan sosial.
“Forum Energi Daerah diharapkan menjadi pusat kolaborasi yang mendorong kemajuan nyata dalam pengembangan energi terbarukan di Jawa Tengah.” – Agus Sugiharto, Kepala Dinas ESDM Jateng
Menjembatani pusat dan daerah
Bappenas menekankan, FED bukan hanya forum sharing, tapi mekanisme sinkronisasi perencanaan. Artinya:
- RUED Provinsi bisa diperbarui dengan data paling baru dan target yang lebih realistis
- Kebutuhan daerah (misal jaringan listrik di kawasan industri baru) bisa masuk ke dokumen perencanaan nasional
- Program pusat tidak lagi “jatuh” ke daerah tanpa penyesuaian konteks lokal
Di titik ini, AI dapat membantu FED menyusun skenario energi yang lebih presisi: dari proyeksi permintaan listrik per kabupaten, simulasi bauran energi, sampai pemetaan paling efisien lokasi PLTS dan PLTB berdasarkan cuaca, beban jaringan, dan pola konsumsi.
3. Contoh Nyata: PLTS, Biogas, Desa Mandiri Energi, dan Industri “Sangat Hijau”
Transisi energi di Jawa Tengah bukan lagi konsep di atas kertas. Sudah ada contoh konkret yang bisa dijadikan fondasi untuk skala lebih besar.
Lonjakan kapasitas PLTS: dari <2 MW jadi >50 MW
IESR mencatat, sejak 2019 kapasitas PLTS di Jawa Tengah meningkat dari kurang dari 2 MW menjadi lebih dari 50 MW. Pemicunya cukup jelas:
- Tuntutan pasar global: industri berorientasi ekspor harus membuktikan penggunaan energi terbarukan
- Dukungan APBD: PLTS untuk pesantren dan UMKM, serta program Desa Mandiri Energi
Ini menunjukkan satu hal penting: ketika insentif ekonomi dan kebijakan publik ketemu di titik yang tepat, adopsi energi terbarukan bisa melompat, bukan sekadar naik pelan.
Masyarakat sebagai produsen energi
PLTS atap, biogas, dan gas rawa memungkinkan warga dan komunitas menjadi produsen energi, bukan hanya konsumen. Dampaknya:
- Tagihan listrik bisa turun, bahkan netral jika skema net-metering atau serupa berjalan baik
- UMKM lebih kompetitif karena biaya energi lebih rendah dan citra usaha lebih hijau
- Desa punya sumber daya energi lokal yang memperkuat kemandirian
Di sinilah pendekatan AI untuk sektor energi punya peluang besar: dari memprediksi produksi PLTS atap rumah tangga, mengoptimalkan penggunaan biogas, sampai memberi rekomendasi pola konsumsi hemat energi melalui smart metering.
Industri “sangat hijau”: contoh dari PT Djarum Oasis
PT Djarum Oasis sudah menerapkan konsep “very green” bahkan sebelum jargon transisi energi ramai. Beberapa langkah mereka:
- Konservasi energi, air, dan lingkungan
- Pembangunan PLTS untuk suplai listrik bersih
- Penggantian bahan bakar boiler dari solar ke CNG dan biomassa
- Pemanfaatan woodchip dan peningkatan efisiensi energi di proses produksi
“Upaya dekarbonisasi bukan sekadar memenuhi standar, tetapi menjadi strategi bisnis jangka panjang kami.” – Suwarno, PT Djarum Oasis
Ini contoh jelas bahwa energi bersih bukan beban biaya, tapi strategi bisnis. Dengan bantuan AI, perusahaan seperti ini bisa:
- Mengoptimalkan operasi boiler dan PLTS secara real time
- Memonitor emisi dan konsumsi energi per lini produksi
- Menyusun laporan ESG yang berbasis data detail, bukan asumsi kasar
4. Di Mana Peran AI dalam Forum Energi Daerah Jawa Tengah?
Kalau FED fokus pada koordinasi dan kebijakan, AI bisa menjadi “mesin analitik” di belakang layar. Kombinasi keduanya yang akan mempercepat transisi energi.
4.1. Perencanaan energi berbasis data dan prediksi
AI bisa membantu pemerintah provinsi dan FED di beberapa titik kritis:
- Prediksi permintaan energi per sektor (rumah tangga, industri, komersial) hingga per kabupaten
- Pemodelan bauran energi: apa yang terjadi pada biaya dan emisi kalau porsi PLTS dinaikkan jadi 30% atau 40%?
- Identifikasi lokasi potensial PLTS, PLTB, PLTMH berbasis data radiasi matahari, kecepatan angin, topografi, dan jaringan listrik
Hasilnya, pembaruan RUED tidak sekadar dokumen formal, tapi benar-benar jadi peta jalan berbasis simulasi yang bisa diuji dan direvisi secara berkala.
4.2. Optimasi jaringan listrik dan integrasi energi terbarukan
Integrasi energi terbarukan dalam skala besar selalu membawa tantangan: intermitensi. Matahari tidak selalu bersinar, angin tidak selalu berhembus.
AI dapat digunakan oleh PLN dan pelaku sistem tenaga untuk:
- Memprediksi output PLTS dan PLTB beberapa jam hingga beberapa hari ke depan
- Menentukan dispatch pembangkit paling hemat biaya dan rendah emisi
- Mengurangi risiko overload di jaringan distribusi saat produksi PLTS atap tinggi
Untuk Jawa Tengah yang kapasitas PLTS-nya terus naik, penggunaan algoritma prediksi dan optimasi ini akan makin krusial supaya listrik tetap andal tanpa harus bergantung pada pembangkit fosil sebagai backup utama.
4.3. Smart metering dan perubahan perilaku energi
Salah satu tantangan yang jarang dibahas: perilaku pengguna energi. Penghematan energi sering berhenti di slogan karena pengguna tidak melihat data real-time.
Dengan smart meter berbasis AI, manfaat konkret yang bisa muncul:
- Rumah tangga dan UMKM melihat pola konsumsi per jam, lengkap dengan rekomendasi penghematan
- Tarif dinamis (misalnya lebih murah di jam beban rendah) bisa diikuti dengan otomatisasi peralatan
- Program edukasi energi di desa atau pesantren bisa diperkuat data visual yang mudah dipahami
Bagi Forum Energi Daerah, data dari smart meter ini sangat berharga untuk merancang program edukasi dan insentif yang lebih tepat sasaran.
5. Langkah Praktis bagi Pemerintah Daerah, Industri, dan Mitra Pembangunan
Transisi energi berkeadilan di Jawa Tengah hanya akan nyata kalau setiap aktor bergerak di level yang bisa mereka kontrol. Berikut langkah-langkah yang realistis namun berdampak.
Untuk pemerintah provinsi & kabupaten/kota
- Perbarui RUED berbasis data dengan melibatkan perguruan tinggi dan pakar data/AI
- Bentuk tim data energi di bawah FED yang fokus mengumpulkan, membersihkan, dan menganalisis data energi daerah
- Integrasikan indikator energi terbarukan dan efisiensi energi ke dalam RPJMD dan RKPD, bukan hanya dokumen teknis energi
- Dorong pilot project smart grid dan smart metering di beberapa kota/industri prioritas
Untuk industri dan pelaku usaha
- Mulai dengan audit energi dan pemetaan peluang efisiensi
- Pasang PLTS atap di fasilitas dengan beban siang tinggi (pabrik, gudang, pusat logistik)
- Manfaatkan solusi AI untuk optimasi energi: kontrol otomatis HVAC, monitoring beban puncak, prediksi kebutuhan energi produksi
- Jadikan dekarbonisasi sebagai bagian dari strategi bisnis dan pemasaran, terutama bagi yang menyasar pasar ekspor
Untuk perguruan tinggi, lembaga riset, dan mitra pembangunan
- Bangun platform data energi daerah yang bisa diakses terbatas oleh pemangku kepentingan
- Kembangkan model AI lokal yang dilatih dengan data iklim, konsumsi, dan infrastruktur Jawa Tengah
- Dukung pelatihan SDM pemerintah dan pelaku energi soal AI dan analitik energi, bukan hanya teknis pembangkit
6. Menjadikan Jawa Tengah Laboratorium Transisi Energi Berbasis AI
Jawa Tengah sudah punya tiga komponen penting: potensi energi terbarukan yang besar, kerangka kolaborasi lewat Forum Energi Daerah, dan contoh nyata dari desa hingga industri besar. Yang belum dimaksimalkan adalah satu lapis tambahan: kecerdasan buatan untuk mengelola kompleksitas transisi energi.
Seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” berargumen bahwa transisi energi tidak cukup mengandalkan teknologi pembangkit saja. Tanpa AI, kita seperti mengemudikan mobil modern tanpa panel instrumen: bisa jalan, tapi boros, tidak aman, dan sulit diprediksi.
Bagi Anda yang bergerak di pemerintahan daerah, industri energi, manufaktur, maupun konsultan, ini saat yang tepat untuk bertanya:
“Bagian mana dari operasi energi saya yang paling butuh data dan kecerdasan buatan hari ini?”
Jawaban jujur atas pertanyaan itu bisa menjadi titik awal kolaborasi baru di dalam Forum Energi Daerah, sekaligus pintu masuk ke solusi AI yang konkret dan menguntungkan.
Kalau Jawa Tengah berhasil menggabungkan kolaborasi multipihak, kebijakan yang konsisten, dan AI yang tepat guna, provinsi ini berpotensi menjadi rujukan nasional untuk transisi energi berkelanjutan yang bukan hanya hijau di atas kertas, tapi terasa sampai ke rumah tangga, UMKM, dan desa.