Pesanan 191 MW turbin Vestas di Eropa menunjukkan bagaimana AI, data, dan perencanaan rapi bisa mempercepat energi angin. Indonesia bisa meniru polanya.

Eropa Tambah 191 MW Angin – Sinyal Kuat untuk Indonesia
Jerman dan Polandia baru saja mengunci pesanan turbin angin baru dari Vestas sebesar 191 MW. Sementara itu, di Indonesia, banyak proyek energi terbarukan masih tersendat di tahap studi, perizinan, atau isu keekonomian.
Kontras ini menarik. Bukan karena Eropa “lebih maju”, tapi karena mereka sudah menemukan pola: perencanaan jangka panjang, skala proyek yang jelas, dan pemanfaatan teknologi – termasuk AI – untuk menekan risiko teknis dan finansial.
Tulisan ini membahas apa yang dilakukan Vestas di Jerman dan Polandia, bagaimana AI dipakai untuk mengoptimalkan energi angin, dan apa saja pelajaran praktis bagi transisi energi Indonesia dalam konteks seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”.
Apa yang Terjadi: Detail Pesanan 191 MW Vestas
Intinya, Vestas mengamankan tiga proyek baru di Eropa:
-
Schnabelwaid (Jerman) – 79 MW
- 11 turbin V172-7,2 MW
- Pengiriman: mulai Q1 2027
- COD (commissioning): mulai Q3 2027
- Kontrak layanan AOM 5000 selama 25 tahun
-
Reinstedt (Jerman) – 80 MW (repowering)
- 11 turbin V162-6,2 MW + 2 turbin V150-6,0 MW
- Repowering: mengganti turbin lama dengan yang lebih efisien
- Pengiriman: mulai Q2 2026
- COD: mulai Q4 2026
- Kontrak layanan AOM 4000 selama 15 tahun
-
Lubień (Polandia) – 32 MW
- 8 turbin V150-4,0 MW
- Pengiriman: mulai Q1 2027
- COD: mulai Q2 2027
- Kontrak layanan AOM 5000 selama 20 tahun
Vestas sendiri sudah memasang lebih dari 197 GW turbin angin di 88 negara. Artinya, yang kita lihat di Jerman dan Polandia ini bukan uji coba, tapi kelanjutan dari model bisnis yang sudah terbukti.
Kenapa detail ini penting bagi Indonesia? Karena angka-angka di atas menunjukkan kepastian jadwal, jenis turbin, kapasitas, sampai durasi layanan purna jual. Di balik kepastian itu, ada satu faktor besar: data dan kecerdasan buatan yang membuat risiko teknis dan finansial dapat dihitung dengan jauh lebih presisi.
Pelajaran Kunci dari Jerman & Polandia untuk Indonesia
Pelajaran utama dari proyek-proyek Vestas ini sebenarnya cukup sederhana:
"Energi angin bisa tumbuh cepat kalau risikonya bisa dihitung dan dikelola dari awal."
Tiga hal yang bisa langsung dicuri ilmunya oleh Indonesia:
1. Repowering sebagai strategi, bukan sekadar proyek baru
Di Reinstedt, Jerman tidak hanya membangun farm baru, tapi repowering: mengganti turbin lama dengan turbin baru yang lebih besar dan efisien.

Manfaat repowering:
- Kapasitas naik di lokasi yang sama
- Infrastruktur jaringan (kabel, gardu, akses jalan) sudah ada
- Dampak sosial-lingkungan relatif lebih mudah dikelola, karena masyarakat sudah familiar dengan proyeknya
Untuk Indonesia, pola ini bisa dipakai di:
- PLTU tua yang bisa diganti bertahap dengan PLTB atau PLTS (melalui proyek hybrid, co-location, atau justru pensiun dini yang terencana)
- PLTB yang mungkin akan dibangun sekarang, lalu di-upgrade 15–20 tahun ke depan dengan basis data performa dan angin yang solid
Di sini AI untuk analitik performa aset jadi krusial: data operasi 10–15 tahun ke depan akan jadi dasar keputusan repowering berikutnya.
2. Kontrak layanan jangka panjang yang berbasis data
Semua proyek Vestas di Jerman dan Polandia ini memakai kontrak layanan jangka panjang (15–25 tahun) seperti AOM 4000 dan AOM 5000.
Kontrak layanan ini biasanya mencakup:
- Pemeliharaan preventif dan korektif
- Monitoring kondisi turbin secara real-time
- Jaminan ketersediaan (availability) tertentu, misalnya > 97%
Model seperti ini hanya masuk akal kalau:
- Produsen punya model AI prediktif untuk meminimalkan downtime
- Pengembang proyek dan bank punya model risiko yang kuat untuk memproyeksi arus kas
Indonesia butuh pola serupa supaya bank dan investor lebih nyaman membiayai PLTB. AI diposisikan sebagai "mesin kepercayaan" yang mengurangi ketidakpastian produksi.
3. Perencanaan jadwal yang presisi
Perhatikan jadwal:
- Reinstedt: pengiriman 2026, operasi 2026 akhir
- Schnabelwaid & Lubień: pengiriman 2027, operasi mulai 2027
Semua sudah di-lock bertahun-tahun sebelum COD. Ini bukan sekadar kehebatan manajemen proyek; di belakangnya ada:
- Peramalan angin multi-tahun untuk memvalidasi kelayakan finansial
- Studi integrasi jaringan agar tidak mengganggu stabilitas sistem
- Simulasi curtailment dan skenario kelebihan/defisit daya
Semua tugas ini sekarang banyak dibantu machine learning dan sistem simulasi berbasis AI. Indonesia, dengan jaringan yang jauh lebih kompleks (pulau-pulau, sistem terpisah, ketergantungan diesel), justru lebih butuh lagi kemampuan ini.
Di Mana Peran AI dalam Proyek Angin seperti Vestas?
AI bukan sekadar fitur tambahan. Dalam proyek-proyek modern seperti milik Vestas, AI ada di hampir setiap tahap siklus hidup proyek.
1. Pra-konstruksi: memilih lokasi dan menghitung bankability
Sebelum satu tiang pun berdiri, AI dipakai untuk:
- Analisis data angin historis 5–20 tahun dari satelit, LIDAR, dan met mast
- Simulasi pola turbulensi lokal (kontur tanah, pepohonan, bangunan) untuk menentukan layout turbin
- Optimasi tata letak (layout optimization): kombinasi posisi turbin dan tipe turbin (V150, V162, V172, dst.) untuk memaksimalkan produksi dan meminimalkan wake effect
Untuk Indonesia:
- Data angin di beberapa wilayah (Sulawesi, NTT, NTB, Maluku) masih terbatas dan tersebar
- AI bisa menggabungkan data satelit, data cuaca BMKG, dan data lokal untuk membuat peta potensi angin yang jauh lebih kaya dan akurat

2. Konstruksi: koordinasi rantai pasok dan jadwal
Logistik turbin angin itu rumit: blade bisa sampai 80 meter, tower berton-ton, lokasi sering terpencil.
AI membantu dengan:
- Optimasi rantai pasok: kapan komponen dikirim, lewat pelabuhan mana, moda transport apa
- Simulasi risiko cuaca saat pemasangan crane dan pengangkatan blade
- Penjadwalan tim konstruksi dan subcontractor untuk menghindari bottleneck
Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau justru akan sangat terbantu kalau perencanaan logistik PLTB didukung AI. Tanpa itu, risiko molor dan pembengkakan biaya sangat besar.
3. Operasi: prediksi produksi dan perawatan
Di fase operasi, AI biasanya dipakai untuk tiga hal utama:
-
Peramalan daya jangka pendek (short-term forecasting)
- Horizon: menit–hari
- Dipakai oleh operator sistem (PLN) untuk menyusun jadwal pembangkit lain (PLTU, PLTG, hidro) agar sistem stabil
-
Predictive maintenance
- Menganalisis getaran, suhu, suara, dan parameter lainnya
- Memprediksi kerusakan gear box, generator, atau blade sebelum benar-benar gagal
- Mengurangi downtime tak terencana
-
Optimasi sudut pitch dan yaw
- Menyesuaikan posisi turbin terhadap arah angin secara real time
- Menghasilkan energi maksimal tanpa melebihi batas beban mekanis
Kalau Indonesia ingin sistem yang banyak PLTB tapi tetap stabil, AI jenis ini harus terintegrasi dengan:
- SCADA pembangkit
- Pusat kontrol sistem PLN
- Sistem manajemen portofolio energi milik IPP besar
Menghubungkan ke Indonesia: Grid, AI, dan Transisi Berkelanjutan
Dalam konteks seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”, energi angin bukan sekadar menambah MW hijau. Tantangannya adalah bagaimana MW tersebut terintegrasi tanpa membuat sistem goyah dan tanpa membebani PLN dengan biaya cadangan yang tinggi.
Ini beberapa area konkret di mana AI bisa langsung dimainkan di Indonesia.
1. Optimasi jaringan listrik dengan penetrasi PLTB
Masalah klasik PLN ketika menerima PLTB:
- Variabilitas tinggi
- Kurang data historis yang panjang
- Grid di daerah potensial sering lemah
AI bisa dipakai untuk:
- Simulasi ribuan skenario operasi sistem ketika angin tinggi, rendah, dan ekstrem
- Menghitung kebutuhan pembangkit cadangan (spinning reserve) dan storage secara lebih presisi
- Menentukan titik interkoneksi dan penguatan jaringan yang paling efisien biaya
Kalau PLN dan pengembang duduk di atas platform analitik yang sama, negosiasi power purchase agreement (PPA) jadi jauh lebih berbasis data, bukan asumsi kasar.
2. Prediksi permintaan dan produksi terintegrasi

Energi angin akan jauh lebih bernilai kalau digabung dengan prediksi beban (demand forecasting).
Dengan AI, utilitas di Indonesia bisa:
- Memadukan prediksi angin, surya, dan beban dalam satu model
- Mengatur jadwal PLTU dan PLTG agar tidak oversupply ketika angin sedang tinggi
- Mengurangi curtailment PLTB dan meningkatkan faktor kapasitas portofolio terbarukan
Ini inti dari transisi energi berkelanjutan: mengurangi emisi tanpa mengorbankan keandalan dan biaya.
3. Smart metering dan respons sisi permintaan
Ketika PLTB dan PLTS makin banyak, salah satu kunci menjaga stabilitas adalah demand response – menggeser konsumsi ketika produksi tinggi.
Dengan smart metering dan analitik AI:
- Industri bisa didorong memindahkan sebagian operasi ke jam produksi angin tinggi melalui skema tarif
- Komunitas bisa diberi insentif untuk konsumsi fleksibel (misalnya pengisian EV ketika angin kuat)
Hasil akhirnya: integrasi energi terbarukan jadi lebih mulus, dan ekonomi lokal ikut diuntungkan.
Langkah Praktis untuk Pemain Energi di Indonesia
Kalau Anda pengambil keputusan di utilitas, IPP, atau regulator, beberapa langkah konkret yang masuk akal sekarang:
-
Bangun data dulu, AI kemudian
- Pasang sistem akuisisi data angin dan operasi pembangkit yang rapi
- Standarisasi format data di seluruh aset dan proyek
-
Mulai dari satu use case AI yang jelas
Contoh:- Peramalan daya PLTS/PLTB + beban
- Predictive maintenance untuk satu portofolio pembangkit
-
Libatkan AI di tahap studi kelayakan
- Jangan tunggu proyek jalan dulu baru pakai AI
- Gunakan AI untuk simulasi skenario teknis dan finansial sebelum FID
-
Dorong model kontrak layanan jangka panjang berbasis data
- Tiru pola AOM Vestas: ada SLA ketersediaan, ada basis data performa
- Ini membuat bank dan investor lebih nyaman membiayai proyek angin di Indonesia
-
Bangun kolaborasi: PLN – IPP – regulator – kampus
- Model Eropa yang berhasil biasanya melibatkan banyak pihak
- Indonesia butuh ekosistem serupa untuk AI energi, bukan solusi silo dari satu vendor saja
Penutup: Dari 191 MW di Eropa ke Gigawatt di Nusantara
Proyek 191 MW Vestas di Jerman dan Polandia hanyalah sebagian kecil dari tren besar: energi angin tumbuh cepat ketika dikawinkan dengan data, AI, dan perencanaan yang disiplin.
Indonesia punya potensi angin yang besar, terutama di kawasan timur. Tantangannya bukan hanya soal kecepatan angin, tapi soal keberanian merangkul pendekatan berbasis data dan AI dalam seluruh siklus proyek – dari studi awal hingga operasi 20–25 tahun ke depan.
Kalau Jerman bisa mengubah turbin tua menjadi farm baru yang lebih efisien lewat repowering, tidak ada alasan Indonesia tidak bisa melakukan hal yang sama (atau bahkan melompat lebih jauh) dengan kombinasi AI, optimasi jaringan listrik, prediksi permintaan, dan smart metering.
Pertanyaannya sekarang: apakah proyek energi berikutnya di Indonesia masih akan dibangun dengan asumsi kasar, atau sudah mulai memakai AI sebagai “otak” transisi energi berkelanjutan?