AI, Data Center, dan Jaringan Listrik: Pelajaran dari Keputusan FERC

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

Lonjakan beban data center dan AI mengubah cara jaringan listrik diatur. Dari kasus FERC–PJM, ada pelajaran penting bagi Indonesia untuk mengelola colocation dan transisi energi dengan AI.

AI energidata centersmart gridtransisi energikebijakan energicolocation beban besar
Share:

AI, Data Center, dan Jaringan Listrik: Pelajaran dari Keputusan FERC

Lonjakan permintaan listrik dari data center dan beban AI di Amerika Serikat sudah sampai di titik di mana regulator energi federal (FERC) harus turun tangan mengatur cara mereka tersambung ke jaringan. Satu langkah kuncinya: aturan baru soal colocation beban besar di pembangkit listrik di wilayah PJM, salah satu operator sistem terbesar di dunia.

Kenapa ini relevan untuk Indonesia yang lagi serius mendorong transisi energi dan mulai membangun ekosistem AI dan data center? Karena masalahnya sama: beban besar, pertumbuhan cepat, jaringan listrik yang belum tentu siap, dan target dekarbonisasi yang semakin ketat. Bedanya, kita masih punya waktu untuk menyiapkan aturan, infrastruktur, dan solusi AI untuk sektor energi sebelum krisis keandalan datang.

Artikel ini membahas apa yang sedang terjadi di AS (FERC–PJM), lalu menerjemahkannya menjadi pelajaran praktis untuk Indonesia: dari desain kebijakan, peran AI dalam optimasi jaringan listrik, sampai peluang bagi PLN, pengembang IPP, dan operator data center.


Apa yang Sebenarnya Diatur FERC di PJM?

Intinya, FERC sedang memutuskan bagaimana beban besar seperti data center boleh “numpang” di lokasi pembangkit (colocation), sering kali dengan skema behind-the-meter (BTM): data center dipasok langsung dari pembangkit di lokasi yang sama, meminimalkan pemakaian jaringan transmisi.

Beberapa poin penting dari proses di PJM:

  • Pemain utama:
    • FERC (regulator federal di AS)
    • PJM Interconnection (operator sistem/tranmsisi regional)
    • Pemilik pembangkit (nuklir, gas) seperti Constellation, Talen
    • Utilitas/transmission owner seperti Exelon, FirstEnergy, PPL
    • Konsumen besar: perusahaan data center, termasuk raksasa cloud/AI
  • Isu teknis & komersial:
    • Apakah data center boleh membeli listrik langsung dari pembangkit di lokasi yang sama tanpa membayar penuh biaya jaringan?
    • Apakah colocation ini mengurangi kapasitas yang tersedia untuk konsumen lain dan menaikkan harga kapasitas di pasar?
    • Model apa yang adil: apakah “bring your own generation” (BYOG), IPP dedicated untuk data center, atau skema hybrid?

FERC sebelumnya menolak satu perjanjian interkoneksi yang melibatkan pembangkit nuklir Susquehanna dan data center Amazon karena dinilai belum selaras dengan aturan PJM. Setelah itu, FERC membuka kajian lebih luas tentang aturan colocation beban besar.

Para analis menilai, dimasukkannya isu ini ke agenda rapat terbuka FERC 18/12/2025 adalah sinyal bahwa FERC akan mengarahkan PJM untuk mempercepat skema colocation dengan beberapa prinsip:

  • Membuka peluang kontrak langsung antara pembangkit dan data center
  • Tetap menjaga resource adequacy (kecukupan pasokan sistem)
  • Menjaga keadilan biaya bagi pengguna jaringan lain

Buat pemilik pembangkit nuklir dan gas, ini kabar bagus: mereka bisa mengamankan kontrak jangka panjang dengan data center AI. Untuk operator jaringan, ini alarm: kalau terlalu banyak kapasitas “diparkir” di belakang meteran data center, cadangan sistem untuk pengguna lain bisa menipis.


Kenapa Colocation Data Center Jadi Isu Panas?

Jawabannya sederhana: beban data center + AI itu brutal. Di beberapa negara bagian AS, proyeksi pertumbuhan beban dari AI dan data center bisa dua digit per tahun. Satu kampus data center hyperscale bisa menyedot ratusan megawatt.

Pola ini mulai terlihat di Indonesia juga:

  • Pertumbuhan data center di Jabodetabek dan Batam melonjak, didorong cloud, fintech, e-commerce, dan inisiatif nasional AI.
  • Banyak proyek mulai melirik pembangkit captive (PLTG, PLTS, bahkan opsi PLTU existing) khusus untuk data center.
  • Grid PLN di beberapa kantong beban besar sudah mulai “ketat” – baik dari sisi kapasitas maupun kualitas tegangan.

Colocation jadi menarik karena:

  1. Keandalan lokal lebih tinggi
    Data center bisa langsung terkoneksi ke pembangkit besar yang stabil, mengurangi ketergantungan penuh pada jaringan transmisi yang jauh.

  2. Ekonomi kontrak lebih atraktif
    Pembangkit bisa menawarkan tarif kompetitif via PPA langsung, data center dapat kepastian harga jangka panjang.

  3. Kontrol emisi lebih jelas
    Perusahaan teknologi ingin klaim listrik rendah karbon. Colocation dengan nuklir atau 100% PPA PLTS/PLTB lebih mudah “dihitung” dibanding campuran grid.

Tapi ada trade-off besar:

Setiap megawatt kapasitas pembangkit yang “dikunci” untuk data center adalah megawatt yang tidak lagi fleksibel untuk melayani konsumen lain.

Itu yang dikhawatirkan FERC: resource adequacy secara sistem bisa memburuk jika banyak kapasitas baseload (nuklir, gas) “pindah” ke belakang meter data center. Dampaknya: harga kapasitas naik, risiko pemadaman meningkat, dan tekanan politik ke regulator makin besar.

Indonesia rawan mengalami skenario mirip kalau:

  • IPP besar diarahkan hanya untuk data center/captive tanpa perhitungan sistem
  • Integrasi dengan RUPTL dan perencanaan sistem PLN tidak sinkron
  • Tidak ada mekanisme untuk memastikan kapasitas cadangan sistem tetap aman

Di titik inilah AI untuk sektor energi bukan lagi “nice to have”, tapi mulai jadi alat wajib.


Peran AI: Dari Prediksi Beban sampai Desain Skema Colocation

Untuk mengelola colocation beban besar dan menjaga keandalan sistem, AI menawarkan tiga lapisan manfaat utama: prediksi, optimasi, dan orkestrasi.

1. Prediksi Permintaan Beban Besar (Demand Forecasting)

Data center dan beban AI punya profil yang jauh lebih dinamis dibanding beban industri tradisional. Training model besar, batch processing, dan peak traffic bisa mengubah beban puluhan megawatt dalam hitungan menit.

Model AI/ML dapat:

  • Memprediksi profil beban harian/mingguan data center dengan tingkat presisi tinggi.
  • Mengantisipasi puncak beban saat event tertentu (misalnya promosi e-commerce, hari gajian, akhir tahun).
  • Menghasilkan skenario “what-if” untuk penambahan modul data hall baru.

Untuk Indonesia, integrasi ini bisa terjadi di:

  • Pusat pengatur beban PLN: menggabungkan data telemetering, data konsumsi historis, dan jadwal operasi data center.
  • Operator sistem daerah: memetakan pengaruh data center ke kualitas tegangan dan aliran daya di GI tertentu.

2. Optimasi Operasi Jaringan (Grid Optimization)

Colocation data center dengan pembangkit (misalnya PLTG, PLTS besar, atau PLTA) membuka ruang bagi optimasi multi-objektif:

  • Minim biaya bahan bakar dan O&M
  • Minimal rugi-rugi jaringan
  • Maksimalkan pemanfaatan energi terbarukan
  • Jaga constraint teknis (tegangan, thermal limits, reserve margins)

AI di sini bisa mengambil bentuk:

  • Optimal power flow (OPF) berbasis AI untuk skenario multi-beban
  • Sistem rekomendasi dispatch pembangkit yang memperhitungkan jadwal beban data center
  • Penentuan set point yang otomatis untuk pembangkit dan perangkat kompensasi jaringan

Contoh praktis untuk Indonesia:

  • PLTS skala besar di Jawa-Bali yang “berpasangan” dengan data center bisa dioptimalkan dengan battery energy storage dan algoritma AI, sehingga ekspor ke grid dan suplai ke data center diatur dinamis.

3. Orkestrasi Fleksibilitas: Demand Response untuk Data Center

Banyak yang menganggap data center tidak fleksibel. Itu tidak sepenuhnya benar. Ada beberapa lapis fleksibilitas yang bisa dikelola AI:

  • Penjadwalan training AI atau batch job di jam beban rendah sistem
  • Pindah sebagian workload ke lokasi lain (geo-distributed data centers)
  • Penggunaan baterai internal data center sebagai buffer untuk sistem

Kalau ini diorkestrasi dengan baik, data center bukan hanya beban besar, tapi juga sumber fleksibilitas baru. AI diperlukan untuk:

  • Menentukan kapan workload dipindah tanpa mengganggu SLA
  • Mengoptimalkan kombinasi pasokan grid, captive plant, dan baterai
  • Berkoordinasi dengan sinyal harga atau sinyal keandalan dari operator sistem

Indonesia bisa mengadopsi pendekatan ini lewat skema demand response khusus pelanggan besar, dengan data center sebagai target utama pertama.


Pelajaran untuk Indonesia: Jangan Ulangi Drama PJM–FERC

PJM sekarang harus mengubah aturan, menulis ulang tarif, dan melalui konsultasi stakeholder yang panjang setelah konflik antara utilitas, IPP, dan raksasa data center mengeras. Indonesia punya kesempatan untuk belajar lebih cepat.

Beberapa pelajaran kunci:

1. Aturan Colocation Harus Diseiapkan Sejak Dini

Sebelum jumlah data center hyperscale meledak, regulator Indonesia (ESDM, DJK, OJK untuk sisi pembiayaan, dan tentu PLN sebagai off-taker utama) sebaiknya:

  • Menetapkan kerangka dasar colocation:
    • Batasan kapasitas untuk skema captive/BTM
    • Kewajiban kontribusi ke cadangan kapasitas sistem
    • Prinsip keadilan biaya jaringan (wheeling, standby, dsb.)
  • Mengaitkan izin colocation dengan RUPTL dan rencana transisi energi.

Kalau ini tidak dilakukan, konflik kepentingan ala PJM–Constellation–Amazon mudah sekali muncul di sini, dengan versi lokalnya.

2. Integrasi ke Rencana Transisi Energi Nasional

Seri "AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan" berkali-kali menekankan: transisi energi bukan hanya soal menambah PLTS dan PLTB, tapi juga mengelola beban baru seperti EV dan data center.

Untuk itu, kebijakan colocation harus diselaraskan dengan:

  • Target bauran EBT nasional
  • Roadmap pensiun dini PLTU
  • Peta pengembangan jaringan transmisi Jawa-Bali, Sumatra, dan interkoneksi antar pulau

Data center yang mengklaim “green” tapi hanya mengandalkan PLTU captive jelas bertolak belakang dengan narasi transisi energi. Di sinilah regulasi perlu tegas, dan AI bisa membantu menghitung intensitas emisi nyata dari kombinasi pasokan listrik yang digunakan.

3. Mandatkan Penggunaan Sistem Cerdas untuk Perencanaan dan Operasi

Kalau FERC kini harus mengejar ketertinggalan karena beban AI tumbuh terlalu cepat, Indonesia sebaiknya ambil jalur sebaliknya: mandatkan pemanfaatan AI sejak tahap perencanaan.

Beberapa langkah konkret yang cukup realistis:

  • PLN mewajibkan studi forecast beban berbasis AI untuk setiap pengajuan koneksi data center besar di atas ambang tertentu (misalnya >10 MW).
  • Operator data center diwajibkan menyediakan data konsumsi granular (misal per 5 menit) untuk diintegrasikan ke sistem perencanaan dan operasi PLN.
  • Pilot project smart grid di kawasan industri/data center (misal di Karawang, Cikarang, Batam) yang menggabungkan:
    • Advanced metering
    • Sistem manajemen energi berbasis AI
    • Skema tarif dinamis dan demand response.

Langkah-langkah ini bukan hanya mencegah krisis keandalan, tapi juga meningkatkan bankability proyek, karena profil risiko sistemnya lebih jelas.


Dari Regulasi ke Implementasi: Di Mana Peluangnya?

Buat pembaca yang bergerak di sektor energi dan teknologi, perkembangan di PJM–FERC ini membuka beberapa peluang nyata di Indonesia:

  1. Konsultan & pengembang solusi AI energi

    • Model prediksi beban data center untuk PLN dan pengembang
    • Optimasi dispatch pembangkit + baterai untuk skema colocation
    • Sistem demand response khusus pelanggan besar
  2. Pengembang IPP & pemilik pembangkit eksisting

    • Desain skema PPA hybrid: sebagian untuk grid, sebagian untuk data center
    • Integrasi PLTS + baterai + data center sebagai satu paket investasi
  3. Operator data center & perusahaan teknologi

    • Penerapan energy management system berbasis AI di fasilitas mereka
    • Desain arsitektur multi-site yang responsif terhadap sinyal grid
  4. Regulator & pembuat kebijakan

    • Merancang aturan colocation dan captive power yang sinkron dengan transisi energi
    • Menetapkan standar transparansi data emisi dan konsumsi listrik untuk data center

Kalau dikelola dengan serius, data center bisa menjadi mitra transisi energi, bukan sekadar beban tambahan.


Menatap ke Depan: Indonesia Perlu Langkah Berani

Keputusan FERC soal colocation di PJM adalah cermin: ketika beban AI tumbuh lebih cepat daripada adaptasi regulasi dan infrastruktur, regulator terpaksa mengambil keputusan di tengah tekanan banyak pihak.

Indonesia punya keuntungan waktu. Kita sedang membangun ekosistem AI, data center, dan transisi energi hampir bersamaan. Artinya, kita bisa mendesain:

  • Aturan colocation dan captive power yang pro-transisi
  • Sistem perencanaan dan operasi grid berbasis AI dan data
  • Kemitraan PLN–IPP–data center yang menjaga keandalan, efisiensi, dan dekarbonisasi sekaligus

Kalimat tegasnya:

Kalau Indonesia ingin pertumbuhan AI dan data center tanpa krisis listrik, maka AI juga harus duduk di pusat pengambilan keputusan sektor energi.

Langkah berikutnya untuk Anda:

  • Kalau Anda di PLN, IPP, atau pengembang data center: waktunya memasukkan AI untuk optimasi jaringan dan perencanaan beban besar ke dalam rencana 2026.
  • Kalau Anda di regulator atau pembuat kebijakan: gunakan momentum ini untuk menyusun kerangka aturan colocation dan captive power yang berpihak pada transisi energi.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi perlukah AI di sektor energi Indonesia, tapi: seberapa cepat kita berani mengadopsinya sebelum beban data center benar-benar meledak?