Pelajaran dari BESS Finlandia untuk Jaringan Listrik Indonesia

AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan••By 3L3C

BESS 125 MW di Finlandia menunjukkan bagaimana AI, penyimpanan energi, dan smart grid bisa mendukung transisi energi. Apa pelajarannya untuk Indonesia?

AI energibattery energy storage systemsmart grid Indonesiaenergi terbarukanstabilitas jaringan listriktransisi energi Indonesia
Share:

Featured image for Pelajaran dari BESS Finlandia untuk Jaringan Listrik Indonesia

Dari Finlandia ke Indonesia: BESS Pintar & Masa Depan Grid

125 MW. Itu kapasitas proyek Battery Energy Storage System (BESS) terbesar di Finlandia yang sedang dibangun di Haapajärvi dan dijadwalkan beroperasi pertengahan 2027. Proyek ini bukan sekadar gudang baterai raksasa; ini adalah contoh konkret bagaimana negara maju menyiapkan jaringan listrik mereka untuk masa energi terbarukan.

Kenapa ini relevan buat Indonesia? Karena persoalan dasarnya sama: bagaimana menjaga stabilitas jaringan listrik saat porsi energi surya, angin, dan EBT lain terus naik. Bedanya, Finlandia sudah mulai menjawabnya dengan BESS skala besar plus sistem kontrol cerdas. Indonesia sedang menuju ke sana — dan di sinilah AI untuk sektor energi jadi pembeda.

Di artikel seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” ini, saya akan bahas:

  • Apa yang sebenarnya dilakukan BESS 125 MW di Haapajärvi
  • Peran AI di balik manajemen BESS dan stabilitas grid
  • Apa pelajaran praktis untuk Indonesia: PLN, IPP, dan pengembang proyek EBT

Apa yang Menarik dari Proyek BESS 125 MW di Haapajärvi?

BESS Haapajärvi dikembangkan oleh Alpiq (perusahaan energi asal Swiss), dengan Hitachi Energy dan Nordic Electro Power (NEPower) sebagai mitra teknologi kunci. Fungsinya jelas: menyokong pasar cadangan (reserve market) Fingrid dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan konsumsi energi.

Intinya, sistem ini akan:

  • Menyimpan kelebihan energi saat produksi (misalnya dari angin) tinggi
  • Melepaskan energi saat beban naik atau ketika pembangkit lain turun
  • Menyediakan layanan stabilitas frekuensi dan tegangan untuk grid Finlandia

Solusi Hitachi Energy di proyek ini mencakup:

  • Sistem konversi daya baterai (power conversion system)
  • Transformator dan ring main unit
  • Power plant controller
  • Sistem manajemen energi berbasis SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition)
  • Dukungan instalasi, commissioning, integrasi, serta pemeliharaan

Matti Vaattovaara, Managing Director Hitachi Energy Finland, merangkum perannya dengan cukup tajam:

“Energy storage, power electronics, automation, dan electrification adalah kunci menjaga stabilitas dan fleksibilitas grid saat transisi energi semakin cepat.”

Poin pentingnya: BESS bukan hanya soal baterai, tapi soal kecerdasan sistem. Dan di situlah AI masuk.


Kenapa BESS Penting untuk Integrasi Energi Terbarukan?

Jawabannya sederhana: energi terbarukan itu fluktuatif, tapi pelanggan butuh listrik yang stabil.

Tanpa BESS dan sistem kontrol pintar, grid akan menghadapi masalah:

  • Frekuensi dan tegangan mudah goyah saat beban naik-turun drastis
  • Surplus listrik surya/angin terbuang (curtailment)
  • Kebutuhan menyalakan pembangkit fosil sebagai cadangan (spinning reserve) tetap tinggi

BESS skala besar seperti di Finlandia memungkinkan hal-hal ini:

Article image 2

  1. Penyeimbang beban (load balancing)
    BESS merespons dalam hitungan milidetik–detik untuk menyerap atau menyuplai daya saat terjadi lonjakan atau penurunan beban.

  2. Frequency & voltage regulation
    Sistem konversi daya dan kontrolnya bisa memberikan layanan ancillary seperti primary reserve, secondary reserve, dan reactive power support.

  3. Mengurangi ketergantungan pada pembangkit fosil
    Semakin besar kapasitas BESS, semakin banyak peran cadangan yang bisa dipindahkan dari PLTG/PLTU ke sistem baterai.

IEA memproyeksikan kapasitas penyimpanan energi global akan naik enam kali lipat pada 2030. Artinya, negara yang serius dengan transisi energi tidak bisa menghindari BESS.

Untuk Indonesia, yang menargetkan bauran EBT 44% pada 2030 dan net zero 2060, BESS + AI akan jadi kombinasi strategis, bukan pelengkap.


Di Balik Layar: Peran AI dalam Mengoptimalkan BESS

Di proyek Haapajärvi, Hitachi Energy menekankan beberapa kemampuan kunci: visibility real-time, kontrol, predictive decision-making, fault detection, dan performance optimisation. Semua ini adalah area di mana AI dan advanced analytics punya peran dominan.

1. Prediksi Permintaan & Produksi

AI bisa memproses data historis dan real-time untuk memprediksi:

  • Pola beban harian dan musiman
  • Produksi PLTS/PLTB berdasarkan cuaca, cloud cover, dan angin
  • Pola konsumsi sektor industri, komersial, dan rumah tangga

Hasilnya? Sistem bisa menentukan:

  • Kapan BESS harus diisi (charge) dengan biaya termurah
  • Kapan dilepas (discharge) untuk nilai ekonomi dan stabilitas grid tertinggi

Di Finlandia, ini penting untuk memenangkan dan memenuhi komitmen di pasar cadangan Fingrid. Di Indonesia, ini akan kritis saat PLN mulai mengembangkan pasar ancillary services dan mengintegrasikan PLTS skala besar ke sistem.

2. Manajemen Siklus Baterai

Umur baterai sangat dipengaruhi oleh:

  • Depth of discharge (DoD)
  • Suhu operasi
  • Pola charge–discharge harian

AI bisa mengoptimalkan strategi operasi agar:

  • Revenue tetap maksimal
  • Degradasi baterai tidak berlebihan

Contoh praktis:

  • Menghindari pengosongan penuh di luar kondisi darurat
  • Mengatur laju pengisian sesuai suhu dan status SoH (state of health)
  • Menentukan kapan modul tertentu harus diistirahatkan atau dipindah fungsi

Untuk IPP di Indonesia, ini langsung nyambung ke bankability proyek: proyeksi CAPEX/OPEX lebih akurat, dan risiko performa menurun di tahun ke-8 atau ke-10 bisa dikelola lebih baik.

Article image 3

3. Deteksi Gangguan & Prediksi Kegagalan

Dengan ribuan sel baterai dan peralatan elektronik daya, risiko gangguan selalu ada. AI berbasis anomaly detection bisa:

  • Membedakan pola operasi normal dan tidak normal
  • Memberi alarm dini sebelum terjadi trip atau kebakaran
  • Mengarahkan teknisi ke modul atau string yang bermasalah, bukan sekadar area umum

Ini penting terutama di proyek seperti Haapajärvi yang beroperasi di lingkungan Nordik yang ekstrem. Untuk Indonesia, tantangannya berbeda (panas, lembab, korosif), tapi prinsipnya sama: monitoring berbasis AI mengurangi downtime dan risiko keselamatan.

4. Optimasi Multi-Peran (Multi-Use Case)

BESS modern jarang hanya punya satu fungsi. Dalam satu hari, sistem bisa:

  • Pagi: frequency regulation
  • Siang: menyimpan surplus PLTS
  • Sore: peak shaving beban sistem
  • Malam: arbitrase harga energi (di pasar yang sudah membuka skema ini)

AI membantu menyusun prioritas berdasarkan:

  • Harga pasar atau nilai ekonomi tiap layanan
  • Kondisi grid saat itu
  • Batasan teknis baterai

Hasilnya adalah pendapatan maksimal dengan risiko teknis terkendali.


Relevansi untuk Indonesia: Dari PLTS Utility-Scale sampai Microgrid

Kalau Finlandia fokus di pasar cadangan Fingrid, bagaimana konteks Indonesia yang masih didominasi PLN dan IPP?

1. Integrasi PLTS & PLTB ke Sistem PLN

Beberapa lokasi paling cocok untuk EBT di Indonesia justru jauh dari pusat beban:

  • Surya skala besar di NTT, NTB, Sulawesi
  • Angin di Sulawesi Selatan atau Nusa Tenggara

Tanpa BESS dan sistem kontrol pintar, PLN harus membatasi penetrasi PLTS/PLTB karena kekhawatiran stabilitas. Pendekatan seperti Haapajärvi menunjukkan model yang bisa diadaptasi:

  • BESS terintegrasi dengan grid sebagai penyedia layanan cadangan dan penyeimbang
  • AI untuk prediksi beban dan produksi EBT pada tiap sistem interkoneksi
  • Energy Management System (EMS) cerdas yang mengkoordinasikan pembangkit fosil, EBT, dan BESS

2. Microgrid & Sistem Isolated di Kepulauan

Banyak pulau kecil di Indonesia masih mengandalkan PLTD mahal dan polutif. Di sini, kombinasi idealnya:

  • PLTS + mungkin PLTB/PLTMH
  • BESS
  • Sistem kontrol dan AI untuk forecasting beban & cuaca

Contoh manfaat langsung AI untuk operator microgrid:

  • Menentukan kapan PLTD harus dimatikan total
  • Mengurangi konsumsi BBM dengan memaksimalkan peran baterai
  • Menjaga kualitas daya agar industri kecil tidak terganggu

Article image 4

3. Kesempatan Bisnis untuk Perusahaan Energi Indonesia

Proyek Finlandia ini menunjukkan satu hal: nilai tambah besar ada di level sistem dan software, bukan hanya jualan baterai.

Ruang yang sangat terbuka untuk pelaku Indonesia:

  • Startup dan integrator sistem yang fokus di AI untuk manajemen BESS dan smart grid
  • Konsultan teknis yang memahami standar grid dan dapat mendesain skema layanan ancillary berbasis BESS
  • Kolaborasi BUMN/PLN dengan pemain teknologi global untuk membangun kapasitas lokal di bidang EMS dan analytics

Yang sering saya lihat, banyak perusahaan fokus ke hardware (panel surya, baterai, inverter), tapi kurang investasi di otak sistemnya. Padahal, Finlandia jelas menunjukkan: software dan AI-lah yang mengubah baterai menjadi aset grid yang bernilai tinggi.


Langkah Praktis: Bagaimana Memulai AI-BESS di Indonesia?

Untuk perusahaan energi, pengembang proyek, atau unit bisnis di PLN yang ingin mulai serius, beberapa langkah realistis adalah:

  1. Mulai dari proyek pilot dengan data lengkap

    • Pilih satu lokasi PLTS/BESS atau microgrid yang sudah berjalan
    • Pastikan semua data (SCADA, meter, cuaca, log gangguan) terkumpul rapi
  2. Bangun model AI sederhana untuk satu tujuan dulu
    Contohnya:

    • Model prediksi beban harian 24 jam ke depan
    • Model prediksi produksi PLTS berbasis cuaca
    • Model deteksi anomali suhu dan arus di modul baterai
  3. Integrasikan dengan EMS atau SCADA secara bertahap
    Jangan langsung target “full autonomous”. Mulai dari:

    • Rekomendasi operasi (decision support)
    • Lalu naik ke auto-charge/discharge dalam batas yang disetujui operator
  4. Siapkan SDM lintas disiplin
    Kombinasi ini yang biasanya efektif:

    • Engineer sistem tenaga yang paham grid code
    • Data scientist yang mengerti time-series dan optimasi
    • Tim operasi lapangan yang menguji logic AI di kondisi nyata
  5. Selaraskan dengan regulasi & model bisnis PLN/IPP
    Teknologi tanpa model bisnis tidak akan jalan. Diskusikan sejak awal:

    • Skema kompensasi layanan BESS (capacity payment, energy-based, atau kombinasi)
    • Cara membagi risiko dan manfaat antara pemilik aset, PLN, dan offtaker lain

Menjadikan Finlandia Sebagai Cermin, Bukan Sekadar Inspirasi

Proyek BESS 125 MW di Haapajärvi memperlihatkan bagaimana penyimpanan energi, otomatisasi, dan AI mulai menjadi tulang punggung sistem tenaga modern. Mereka membangun kapasitas besar bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk sistem 2030–2040.

Indonesia ada di persimpangan yang sama: target EBT ambisius, jaringan yang kompleks dari Sabang sampai Merauke, dan tekanan untuk menjaga tarif tetap terjangkau. Kalau hanya mengandalkan pembangkit fosil sebagai penyangga, transisi energi akan mahal dan lambat.

Ada cara yang lebih cerdas: AI untuk sektor energi + BESS skala besar + desain grid yang siap masa depan.

Bagi Anda yang bergerak di perusahaan energi, pengembang EBT, maupun pembuat kebijakan, pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak BESS dan AI?”, tapi:
Seberapa cepat Anda siap membangun kapasitas internal untuk mengelola BESS dan smart grid seperti Finlandia — dengan konteks Indonesia?