Akuisisi divisi power electronics Gamesa Electric oleh ABB mengubah peta teknologi energi terbarukan. Apa dampaknya bagi AI dan transisi energi Indonesia?
Akuisisi ABB–Gamesa: Apa Artinya untuk Masa Depan Energi Cerdas?
Listrik dari energi terbarukan diproyeksikan melonjak sekitar 60% dari 9.900 TWh menjadi 16.200 TWh pada 2030. Di balik lonjakan ini ada satu komponen yang sering tidak kelihatan, tapi menentukan: power electronics – otak yang mengatur aliran listrik dari turbin angin, panel surya, sampai baterai skala besar.
Di awal Desember 2025, ABB menyelesaikan pembelian divisi power electronics Gamesa Electric dari Siemens Gamesa. Bisnis yang diakuisisi ini mencetak pendapatan sekitar €145 juta (US$168,4 juta) di FY25, dengan basis terpasang konverter angin yang menambah sekitar 46 GW ke portofolio ABB.
Buat pemain energi di Indonesia, langkah ini bukan sekadar berita korporasi global. Ini adalah sinyal bagaimana AI, power electronics, dan sistem energi cerdas akan saling mengunci dalam transisi energi – dari integrasi PLTS utility-scale, PLTB, hingga sistem BESS (Battery Energy Storage System) yang makin marak di RUPTL dan proyek RUPTL hijau.
Tulisan ini membedah makna akuisisi ABB–Gamesa Electric, kaitannya dengan proyeksi IEA soal pertumbuhan energi terbarukan, dan yang paling penting: apa implikasinya bagi utilitas, IPP, dan pengembang proyek energi terbarukan di Indonesia yang mulai mendorong pemanfaatan AI dalam sistem tenaga.
Ringkasan Akuisisi: Angka Kunci dan Aset Strategis
Akuisisi ABB atas unit power electronics Gamesa Electric membawa tiga aset utama: produk, fasilitas manufaktur, dan talenta global.
1. Skala bisnis dan produk inti
Bisnis yang diambil alih menghasilkan sekitar €145 juta (±US$168,4 juta) per tahun (tahun buku hingga 30/09/2025). Portofolio produknya sangat relevan dengan transisi energi:
- Konverter angin untuk doubly fed induction generator (DFIG), yang masih menjadi konfigurasi dominan di banyak proyek PLTB onshore
- Battery Energy Storage Systems (BESS) untuk aplikasi industri dan grid
- Inverter surya skala utilitas, yang menjadi tulang punggung PLTS besar on-grid
Dengan masuk ke dalam keluarga ABB, produk ini tidak berdiri sendiri. Mereka akan terkoneksi dengan ekosistem otomasi, digitalisasi, dan AI yang sudah dimiliki ABB di lini bisnis Motion dan Electrification.
2. Fasilitas manufaktur dan basis global
Transaksi ini mencakup:
- Dua pabrik konverter di Valencia dan Madrid (Spanyol)
- Sekitar 400 karyawan yang ikut pindah, dengan basis utama di Tiongkok, India, Australia, dan AS
Artinya, ABB tidak hanya membeli teknologi, tapi juga kapasitas produksi dan jaringan global yang siap mendukung proyek skala besar, termasuk di Asia Pasifik.
"Dengan menggabungkan jangkauan global ABB dan portofolio serta keahlian Gamesa Electric, kami siap menangkap permintaan yang tumbuh dan mempercepat adopsi energi terbarukan di seluruh dunia," ujar Daniel Gerber, Head of Renewable Power, Motion High Power ABB.
Di saat Indonesia agresif mendorong PLTS dan PLTB dalam bauran energi, kehadiran pemain dengan rantai pasok kuat seperti ini berarti lebih banyak pilihan teknologi dan skema kerja sama, mulai dari EPC, OEM hingga solusi end-to-end berbasis AI.
Tren Global: Kenapa Power Electronics Jadi Medan Pertarungan Besar
Power electronics adalah layer kunci yang menghubungkan sumber energi terbarukan yang fluktuatif dengan jaringan listrik yang butuh stabilitas. Di sinilah AI makin sering masuk sebagai “otak pengambil keputusan”.
Proyeksi IEA: Terbarukan salip batu bara
Menurut laporan IEA Renewables 2025:
- Pembangkit listrik dari energi terbarukan naik sekitar 60% dari 9.900 TWh (tahun lalu) ke 16.200 TWh pada 2030
- Energi terbarukan diperkirakan menyalip batu bara sebagai sumber listrik terbesar di dunia paling lambat pertengahan 2026 (bergantung output hidro)
- PLTS menyumbang lebih dari 50% pertumbuhan ini
- Angin (onshore & offshore) berkontribusi sekitar 30%
Ini menjelaskan mengapa akuisisi seperti ABB–Gamesa Electric terjadi: pertempuran sebenarnya bukan hanya di turbin dan modul panel surya, tapi di konverter, inverter, BESS, dan sistem kendali cerdas.
Dari perangkat keras ke sistem cerdas berbasis AI
Dalam sistem modern, power electronics tidak lagi berdiri sendiri. Mereka menjadi bagian dari:
- Sistem manajemen energi berbasis AI (AI-based Energy Management Systems)
- Grid edge platform yang mengintegrasikan PLTS atap, EV charger, dan demand response
- Microgrid cerdas untuk kawasan industri, tambang, dan pulau terpencil
Bagi Indonesia yang menghadapi tantangan geografis dan kualitas jaringan yang bervariasi antarpulau, kombinasi power electronics + AI ini sangat menarik untuk:
- Menstabilkan tegangan dan frekuensi di sistem dengan penetrasi PLTS/PLTB tinggi
- Mengoptimalkan operasi BESS untuk arbitrase energi, peak shaving, dan layanan ancillary
- Menurunkan curtailment dan meningkatkan utilisasi aset pembangkit terbarukan
Integrasi Power Electronics dan AI: Pelajaran untuk Indonesia
Untuk konteks seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan”, akuisisi ABB–Gamesa ini relevan di tiga area: desain sistem, operasi real-time, dan pemeliharaan prediktif.
1. Desain sistem yang siap AI sejak awal
Banyak proyek di Indonesia masih memisahkan urusan hardware dan software cerdas sebagai dua paket yang berbeda. Pengalaman global menunjukkan, itu bikin integrasi mahal dan lambat.
Pendekatan yang lebih efektif:
- Memilih inverter/konverter dan BESS yang sudah siap integrasi dengan platform AI (memiliki API terbuka, dukungan protokol standar, dan data historian yang kaya)
- Menggunakan model AI sejak tahap studi kelayakan untuk mensimulasikan:
- Variabilitas produksi PLTS/PLTB
- Beban lokal dan profil konsumsi
- Strategi kontrol BESS (charge/discharge) untuk meminimalkan biaya dan menjaga kualitas daya
Contoh praktis: pengembang PLTS 50 MWp dengan BESS 25 MWh bisa menggunakan AI untuk menskenariokan berbagai pola operasi selama 10–15 tahun ke depan, dibanding hanya mengandalkan model statis.
2. Operasi real-time: dari SCADA ke AI Ops
SCADA tradisional cenderung reaktif: sistem merespons ketika ada alarm. Kombinasi power electronics modern + AI menggeser pendekatan ini menjadi proaktif dan prediktif.
Beberapa penerapan yang relevan untuk PLN, IPP, dan operator kawasan industri:
- Predictive curtailment: AI memprediksi kondisi jaringan (tegangan, frekuensi, loading trafo) lalu memerintahkan inverter untuk mengatur output PLTS/PLTB secara halus, menghindari trip massal
- Optimal dispatch BESS: algoritma pembelajaran mesin mengatur kapan baterai diisi/dikuras untuk:
- Mengurangi pembelian energi saat jam puncak
- Memberikan layanan penyangga frekuensi (frequency regulation)
- Menjaga faktor daya di titik interkoneksi
- Dynamic setpoint: batas tegangan, frekuensi, dan ramp rate di konverter diubah secara dinamis berdasarkan kondisi real-time, bukan nilai tetap di awal proyek
Di sini, keunggulan pemain seperti ABB yang menggabungkan perangkat keras konverter dengan solusi digital dan AI menjadi relevan. Bagi pengguna di Indonesia, yang penting adalah memastikan kontrak pengadaan sejak awal membuka ruang integrasi AI, bukan sekadar beli perangkat fisik.
3. Pemeliharaan prediktif dan manajemen siklus hidup
Dengan bertambahnya basis terpasang sekitar 46 GW konverter angin, ABB otomatis mengelola data operasi dalam skala besar. Data ini sangat berharga untuk membangun:
- Model kegagalan komponen (failure modes)
- Model degradasi performa konverter, inverter, dan BESS
- Library pola anomali yang dapat dipakai lintas proyek dan negara
Bagi pemilik aset di Indonesia, manfaat langsungnya bisa berupa:
- Interval perawatan yang berbasis kondisi (condition-based), bukan jadwal waktu semata
- Pengurangan downtime tak terencana
- Perpanjangan umur aset dengan penyesuaian strategi operasi berbasis rekomendasi AI
Kunci praktisnya: minta akses data dan laporan analitik yang cukup rinci dari OEM/penyedia solusi, sehingga tim internal juga bisa belajar dan mengembangkan model AI sendiri di masa depan.
Peluang dan Tantangan bagi Pelaku Energi di Indonesia
Akuisisi ABB–Gamesa memberikan beberapa sinyal penting bagi pelaku energi Indonesia – dari PLN, IPP, sampai pengembang kawasan industri.
Peluang yang bisa dimanfaatkan
-
Teknologi terbarukan yang lebih matang
Konverter angin dan inverter surya yang datang dari portofolio terintegrasi biasanya sudah memenuhi standar kode jaringan terbaru, memiliki fitur grid support seperti:- Low/High Voltage Ride Through (LVRT/HVRT)
- Pengaturan faktor daya dan injeksi daya reaktif
- Fitur black-start bila digabung dengan BESS
-
Integrasi AI lebih mudah
Vendor global mulai menyatukan solusi hardware + software + AI. Ini membantu:- Mengurangi risiko integrasi multi-vendor yang sering terjadi pada proyek EPC
- Mempercepat commissioning dan fine-tuning model AI untuk operasi pembangkit dan microgrid
-
Akses ke praktik terbaik global
Dengan basis karyawan di Tiongkok, India, Australia, dan AS, pengalaman di sistem dengan penetrasi terbarukan tinggi bisa ditransfer ke konteks Indonesia – misalnya untuk sistem seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, atau jaringan kepulauan lain.
Tantangan yang perlu diantisipasi
-
Ketergantungan pada vendor tunggal
Integrasi penuh memang nyaman, tapi bisa memunculkan lock-in. Strategi mitigasi:- Pastikan standar terbuka (Modbus, IEC 61850, OPC UA, dsb.) tetap digunakan
- Negosiasikan hak akses data (format, frekuensi, level granularitas)
-
Kesiapan SDM untuk AI di sistem tenaga
Power engineer harus mulai nyaman dengan istilah:- Model pembelajaran mesin
- Optimisasi multi-objektif
- MLOps untuk deployment model di lingkungan industri
Saya sering lihat proyek gagal bukan karena teknologinya kurang canggih, tapi karena tim operasi belum siap mengubah cara kerja.
-
Regulasi dan standar grid kode
Manfaat penuh power electronics cerdas akan terasa kalau regulasi:- Mengakui peran BESS sebagai aset jaringan, bukan sekadar tambahan pembangkit
- Memberi skema insentif untuk layanan fleksibilitas (frequency regulation, spinning reserve berbasis baterai)
- Mewajibkan kemampuan grid support tertentu untuk semua pembangkit baru
Langkah Praktis untuk Perusahaan Energi di Indonesia
Supaya berita akuisisi seperti ABB–Gamesa ini tidak hanya lewat sebagai headline, ada beberapa langkah konkret yang bisa mulai diambil hari ini.
1. Audit kesiapan AI dan power electronics di portofolio Anda
Buat daftar sederhana:
- Pembangkit PLTS/PLTB/BESS apa saja yang sudah beroperasi atau dalam pipeline?
- Jenis inverter/konverter apa yang digunakan? Sudah mendukung data logging dan integrasi API?
- Apakah sudah ada platform analitik atau AI yang membaca data real-time dan historis dari perangkat tersebut?
Dari sini, Anda bisa memetakan proyek mana yang paling siap menjadi pilot penerapan AI.
2. Masukkan persyaratan AI-ready di dokumen pengadaan
Untuk proyek baru, tambahkan klausul seperti:
- Kewajiban dukungan protokol standar dan API
- Spesifikasi data minimal (frekuensi sampel, jenis parameter, histori)
- Komitmen vendor untuk mendukung integrasi dengan sistem AI pihak ketiga atau internal
Ini sederhana, tapi efeknya besar dalam menghindari dead-end teknologi beberapa tahun ke depan.
3. Bangun tim kecil lintas disiplin
Bentuk task force AI untuk energi yang berisi:
- Engineer sistem tenaga
- Data scientist / AI engineer
- Perwakilan operasi & maintenance
Mulai dengan satu atau dua use case yang paling terasa manfaatnya, misalnya:
- Prediksi produksi PLTS + optimasi dispatch BESS
- Prediksi gangguan pada inverter di satu site PLTS besar
Skala kecil dulu, tapi rancang sejak awal supaya bisa direplikasi ke site lain.
Penutup: Dari Akuisisi Global ke Aksi Lokal Berbasis AI
Akuisisi divisi power electronics Gamesa Electric oleh ABB memperjelas satu hal: masa depan energi terbarukan akan ditentukan oleh seberapa pintar kita mengelola elektron, bukan hanya seberapa banyak kapasitas terpasang di atas kertas.
Dengan lonjakan energi terbarukan global menuju 16.200 TWh pada 2030 dan posisi PLTS/PLTB sebagai penggerak utama, Indonesia tidak bisa hanya mengejar kapasitas. Integrasi AI dalam power electronics, BESS, dan operasi jaringan harus jadi bagian tak terpisahkan dari strategi transisi energi berkelanjutan.
Bagi Anda yang terlibat di utilitas, IPP, maupun kawasan industri, sekarang momen yang pas untuk bertanya:
“Portofolio pembangkit saya sudah siap untuk dunia energi yang cerdas dan berbasis AI, atau masih diperlakukan seperti instalasi analog yang kebetulan pakai panel surya dan turbin angin?”
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Anda hanya menjadi penonton dalam pergeseran besar ini, atau justru menjadi salah satu pemain yang memimpin AI untuk sektor energi Indonesia.