75 juta EV terjual di dunia. Ini bukan sekadar tren otomotif, tapi alarm bagi sistem energi Indonesia untuk segera mengadopsi AI dan smart grid demi transisi berkelanjutan.

Pada akhir November 2025, dunia resmi melampaui 75 juta penjualan kumulatif kendaraan plug-in (BEV + PHEV). Hanya di China, sekitar 1,3 juta unit terjual dalam satu bulan. Angka ini bukan sekadar pencapaian industri otomotif; ini sinyal keras bahwa sistem energi global – termasuk Indonesia – harus berubah jauh lebih cerdas.
Dalam seri “AI untuk Sektor Energi Indonesia: Transisi Berkelanjutan” ini, tonggak 75 juta mobil listrik adalah alarm: tanpa jaringan listrik pintar berbasis AI, pertumbuhan EV bisa jadi beban, bukan solusi. Artikel ini membahas bagaimana ledakan EV global ini berkaitan dengan Indonesia, dan apa peran AI untuk membuatnya jadi pendorong transisi energi, bukan sumber masalah baru.
Dari Nissan LEAF ke 75 Juta Unit: Evolusi EV yang Mengubah Peta Energi
Perjalanan ke 75 juta kendaraan plug-in tidak terjadi tiba-tiba. Ada beberapa fase penting yang mengubah kendaraan listrik dari niche teknologi menjadi arus utama.
1. Generasi perintis
Awal 2010-an: Nissan LEAF, Chevrolet Volt, Mitsubishi i-MiEV. Jangkauan masih pendek, harga relatif tinggi, dan infrastruktur pengisian terbatas. Namun model-model ini membuktikan bahwa EV bukan sekadar konsep.
2. Lompatan teknologi baterai & daya tarik premium
Kehadiran Tesla Model S mengubah persepsi: mobil listrik bisa cepat, menarik, dan praktis. Di sisi lain, BYD e6 mungkin tidak sepopuler Tesla, tapi punya peran penting: salah satu pionir penggunaan baterai LFP yang kini jadi tulang punggung banyak EV terjangkau.
3. Munculnya EV jarak jauh yang lebih terjangkau
Renault ZOE dengan jarak tempuh sekitar 200 mil dan kemudian Chevy Bolt serta Tesla Model 3 membuka fase baru: EV mulai masuk kategori “mobil utama” bagi banyak keluarga. Tesla Model 3 akhirnya menjadi salah satu EV paling laku sepanjang masa.
4. Dominasi volume: Tesla Model Y dan ledakan China–Eropa
Tesla Model Y kini memegang gelar mobil listrik terlaris sekaligus salah satu mobil terlaris di dunia lintas semua tipe. Dalam waktu yang sama, Eropa dan China mempercepat adopsi mobil listrik dengan kombinasi:
- regulasi emisi yang ketat,
- insentif pembelian,
- banyak pilihan model baru tiap tahun.
Hasilnya: rekor bulanan 2,1 juta registrasi EV global pada September 2025. Jika level ini konsisten, dunia bisa menambah 75 juta EV lagi hanya dalam 3 tahun. Namun tren percepatan membuat banyak analis yakin target 150 juta akan tercapai lebih cepat.
Ini penting bagi Indonesia karena rantai pasok baterai, bahan baku, dan bahkan arah kebijakan energi kita akan sangat dipengaruhi oleh kecepatan adopsi EV global.
Apa Artinya 75 Juta EV bagi Sistem Energi Indonesia?
75 juta kendaraan plug-in di dunia berarti jutaan titik beban listrik baru yang menyala setiap malam. Kalau pola ini masuk ke Indonesia tanpa persiapan, jaringan listrik bisa stres: lonjakan beban di jam tertentu, tegangan tidak stabil, hingga risiko pemadaman lokal.
Bagi Indonesia, pertumbuhan EV menyentuh beberapa isu kunci:
- Beban puncak (peak load) baru
Kalau jutaan pengemudi pulang kantor dan colok mobil jam 18.00–20.00, kita menambah puncak beban di jam yang sudah kritis. Tanpa manajemen yang cerdas, PLN harus:
- menambah kapasitas pembangkit cadangan,
- meng-upgrade jaringan distribusi,
- mengeluarkan investasi besar yang tidak efisien.
- Kualitas daya dan keandalan jaringan
Stasiun fast charging berdaya besar butuh jaringan yang kuat. Di beberapa kota besar, penambahan banyak SPKLU tanpa perencanaan berbasis data bisa bikin gangguan:
- drop tegangan di area tertentu,
- transformator cepat panas,
- frekuensi sistem lebih sulit dijaga stabil.
-
Integrasi energi terbarukan
EV idealnya diisi dari surplus energi surya, angin, dan panas bumi, bukan dari PLTU batubara tambahan. Tanpa koordinasi, EV justru bisa membuat pembangkit fosil hidup lebih lama. -
Perencanaan jangka panjang investasi energi
Target adopsi EV nasional (mobil, motor listrik, dan bus listrik) akan memengaruhi:
- kebutuhan pembangkit baru,
- lokasi dan kapasitas gardu induk,
- rencana jaringan transmisi dan distribusi.
Di titik inilah AI untuk sektor energi jadi kebutuhan strategis, bukan lagi opsi “keren tapi tambahan”.
Di Mana Peran AI? Mengubah EV dari Beban Jadi Aset Energi
Kuncinya sederhana: EV harus diperlakukan sebagai bagian dari sistem energi, bukan hanya produk otomotif. AI adalah otak yang membuat integrasi ini berjalan rapi.
1. Prediksi Permintaan Listrik untuk Pengisian EV
AI dapat memprediksi kapan, di mana, dan seberapa besar permintaan listrik untuk pengisian EV akan muncul. Model machine learning bisa memanfaatkan data:
- pola perjalanan harian pengguna,
- hari kerja vs akhir pekan,
- cuaca (mempengaruhi penggunaan AC dan jarak tempuh),
- kalender libur nasional & musim mudik,
- tarif listrik waktu beban (time-of-use) jika diterapkan.
Dengan prediksi yang tajam, PLN dan operator SPKLU bisa:
- merencanakan operasi pembangkit lebih efisien,
- menghindari kelebihan atau kekurangan kapasitas,
- menempatkan lokasi SPKLU baru di titik yang memang membutuhkan.
2. Smart Charging: Menggeser Beban ke Jam Murah & Bersih
Smart charging memungkinkan waktu pengisian EV disesuaikan otomatis dengan kondisi jaringan. AI dapat mengatur:
- pengisian diperlambat saat beban puncak,
- dipercepat saat ada surplus energi surya siang hari,
- diatur bergelombang antar kendaraan agar tidak menimbulkan lonjakan mendadak.
Bayangkan jutaan motor dan mobil listrik di Indonesia yang rata-rata di-charge di malam hari. Dengan algoritma AI yang diintegrasikan di aplikasi pengguna atau smart charger:
- pengguna tetap bangun pagi dengan baterai penuh,
- jaringan listrik tidak kena beban puncak tambahan,
- biaya sistem lebih rendah, yang pada akhirnya bisa menekan tarif.
3. Integrasi EV dengan Energi Terbarukan (Vehicle-to-Grid & Vehicle-to-Home)
Dalam beberapa tahun ke depan, EV bukan hanya konsumen listrik, tapi juga bisa menjadi penyimpan energi bergerak.
- Vehicle-to-Home (V2H): baterai mobil menyuplai rumah saat malam atau saat gangguan, lalu diisi lagi saat siang dari PLTS atap.
- Vehicle-to-Grid (V2G): EV menyuntikkan daya kembali ke jaringan ketika sistem sedang butuh, layaknya “minipembangkit”.
Tanpa AI, koordinasi jutaan baterai EV ke jaringan akan kacau. AI akan menentukan:
- kapan mobil boleh menyuplai daya,
- berapa kapasitas yang aman agar pengguna tetap bisa berkendara,
- bagaimana memberi insentif finansial yang adil bagi pemilik EV.
4. Maintenance Prediktif untuk SPKLU dan Jaringan
SPKLU yang tiba-tiba rusak atau lambat mengisi bisa membuat pengalaman pengguna buruk dan menghambat adopsi EV.
AI dapat:
- memantau data operasional SPKLU secara real-time,
- mendeteksi pola anomali (overheating, penurunan tegangan, error berulang),
- memprediksi komponen mana yang perlu diganti sebelum rusak.
Hal yang sama berlaku di transformator, gardu, maupun kabel distribusi yang melayani area dengan kepadatan EV tinggi. Maintenance prediktif ini menghemat biaya dan meningkatkan keandalan layanan.
Pelajaran Global untuk Transisi Energi Indonesia
Pengalaman Eropa dan China menunjukkan satu hal: adopsi EV bisa melesat begitu harga turun dan infrastruktur minimum tersedia. Indonesia kemungkinan akan mengalami pola serupa, hanya dengan aksen lokal:
- Dominasi motor listrik lebih dulu: pasar roda dua jauh lebih besar di Indonesia, sehingga beban tambahan akan lebih tersebar tapi tetap signifikan di jaringan distribusi.
- Urban cluster: Jakarta, Bodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, dan kota wisata seperti Bali akan menjadi kantong EV pertama dengan kepadatan tinggi.
- Kombinasi PLTS atap dan EV: banyak perusahaan dan kawasan industri akan memanfaatkan panel surya + EV fleet untuk efisiensi energi.
Dari tonggak 75 juta EV global ini, ada beberapa pelajaran yang relevan untuk Indonesia:
-
Regulasi & insentif harus sinkron dengan kesiapan jaringan.
Insentif pembelian EV sebaiknya berjalan beriringan dengan pembangunan smart grid, bukan hanya penambahan SPKLU fisik. -
Data harus jadi fondasi kebijakan.
Tanpa data yang baik (profil beban, pola perjalanan, performa SPKLU, dsb.) AI tidak akan berguna. Investasi di sistem pengukuran cerdas (smart metering dan sensor jaringan) sama pentingnya dengan investasi pembangkit baru. -
Kolaborasi lintas sektor.
Perusahaan energi, utilitas, OEM otomotif, startup AI, dan regulator perlu duduk satu meja. EV bukan lagi “urusan kementerian perhubungan saja” atau “urusan PLN saja”. -
Jangan tunggu sampai masalah muncul.
Kalau menunggu adopsi EV tinggi baru membangun solusi AI dan smart grid, biaya sosial dan ekonomi akan jauh lebih besar (pemadaman, gangguan, resistensi publik).
Langkah Praktis: Dari 75 Juta Global ke Rencana Nyata di Indonesia
Untuk perusahaan energi, utilitas, dan pemangku kepentingan di Indonesia, ada beberapa langkah praktis yang bisa mulai dilakukan sekarang:
1. Bangun Peta Beban EV Berbasis Data
Mulai dengan pertanyaan sederhana: di mana EV akan tumbuh paling cepat, dan seberapa besar bebannya?
- kumpulkan data penjualan EV per wilayah,
- overlay dengan data jaringan (kapasitas trafo, beban puncak saat ini),
- gunakan model AI sederhana untuk memproyeksikan beban 3–5 tahun ke depan.
Ini akan membantu memprioritaskan investasi jaringan dan SPKLU.
2. Pilot Project Smart Charging di Beberapa Kota
Sebelum skala nasional, uji dulu konsep smart charging di:
- kawasan perumahan dengan kepemilikan EV tinggi,
- koridor utama SPKLU antar kota,
- area industri atau komersial dengan fleet EV.
Ukur dampaknya ke profil beban, respon pengguna, dan potensi penghematan biaya operasi.
3. Integrasikan EV dalam Strategi Energi Terbarukan
Saat menyusun roadmap PLTS, PLTB, dan panas bumi, masukkan skenario penyerapan energi oleh EV:
- berapa persen produksi surya siang hari yang bisa diserap EV,
- seberapa jauh EV bisa mengurangi kebutuhan pembangkit fosil di malam hari melalui V2G/V2H,
- bagaimana struktur tarif yang mendorong pengisian di jam energi terbarukan melimpah.
4. Siapkan Arsitektur Data & AI untuk Energi
Tanpa arsitektur data yang rapi, semua wacana AI akan berhenti di presentasi PowerPoint.
Mulai dari:
- standardisasi format data meter, SPKLU, dan SCADA,
- platform data terpusat untuk analitik energi,
- tim kecil data/AI yang fokus di use case energi (prediksi beban, fault detection, smart charging).
Penutup: 75 Juta EV adalah Peringatan Dini untuk Indonesia
Tonggak 75 juta kendaraan plug-in ini memberi pesan yang cukup jelas: mobilitas listrik bukan lagi masa depan jauh, tapi realitas sekarang. Gelombang berikutnya – 75 juta EV tambahan – akan datang lebih cepat, dan Indonesia tidak bisa hanya jadi penonton.
Kalau Indonesia ingin transisi energi yang berkelanjutan, bersih, dan ekonomis, maka EV dan AI untuk sektor energi harus dipikirkan sebagai satu paket: EV sebagai beban dan penyimpan energi baru, AI sebagai otak yang mengatur arus daya dan permintaan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “kapan EV akan ramai di Indonesia?”, tapi:
seberapa siap sistem energi kita menyambutnya, dan apakah AI sudah berada di pusat strategi tersebut?