Tembusu Law di Singapura membuktikan webinar hukum gratis bisa jadi mesin edukasi sekaligus sumber klien. Begini cara firma Indonesia menirunya dengan bantuan AI.
Mengapa Webinar Hukum Gratis seperti Tembusu Law Patut Ditiru di Indonesia
Di banyak kota besar Indonesia, tarif konsultasi hukum dasar bisa setara gaji harian bahkan mingguan pekerja. Di daerah, tantangannya beda: bukan cuma soal biaya, tapi soal ketersediaan pengacara dan akses informasi hukum yang tepercaya.
Di saat yang sama, masyarakat makin sering berhadapan dengan masalah hukum: sengketa kerja, kontrak sewa, pinjol, hingga waris. Kesenjangannya jelas: kebutuhan hukum naik, akses ke pengetahuan hukum masih tertinggal.
Langkah Tembusu Law di Singapura yang meluncurkan webinar hukum on-demand gratis, e-book, dan sesi tanya jawab publik sebetulnya menjawab problem yang sama yang kita hadapi di Indonesia. Bedanya, mereka sudah mengemasnya dengan pendekatan LegalTech yang serius.
Tulisan ini membedah apa yang dilakukan Tembusu Law, mengapa model ini relevan untuk konteks Indonesia, dan bagaimana firma hukum di sini bisa menggabungkan webinar, konten digital, dan AI untuk memperluas layanan, sekaligus menghasilkan klien baru secara berkelanjutan.
Apa yang Dilakukan Tembusu Law dan Kenapa Itu Penting
Inti inisiatif Tembusu Law sederhana tapi kuat: akses ke keadilan dimulai dari akses ke informasi. Mereka tidak cuma menulis artikel blog, tapi membangun satu ekosistem konten:
- Webinar hukum on-demand bertema isu sehari-hari
- Video penjelasan singkat
- Ringkasan audio
- E-book yang bisa diunduh
- Sesi Q&A dengan pengacara secara berkala
Topik yang diangkat sangat praktis:
- Perselisihan kerja
- Konflik pemilik-kos / pemilik-penyewa
- Perencanaan waris dan keluarga
- Dasar-dasar hukum pidana bagi orang awam
“Access to justice begins with access to information,” kata Jonathan Wong, Managing Director Tembusu Law.
Pendekatan ini punya beberapa pelajaran penting untuk firma hukum Indonesia:
-
Bahasa awam, bukan bahasa undang-undang
Edukasi hukum publik harus mengutamakan pemahaman, bukan pamer pasal. -
Multi-format
Tidak semua orang suka baca PDF panjang. Ada yang lebih cocok dengan video 10 menit, ada yang lebih nyaman dengar audio sambil di perjalanan. -
Selalu on-demand
Orang ingin belajar kapan saja: malam hari setelah kerja, akhir pekan, atau saat kepepet menghadapi masalah. -
Terbuka dan gratis di depan, berbayar di belakang
Edukasi umum dibuka selebar-lebarnya. Layanan spesifik dan kasus kompleks tetap jadi ruang jasa profesional.
Model seperti ini sangat sejalan dengan tren AI untuk jasa hukum yang mulai tumbuh di Indonesia: teknologi dipakai bukan untuk menggantikan pengacara, tapi untuk memperbesar jangkauan dan efisiensi.
Peluang untuk Firma Hukum Indonesia: Dari Webinar ke Lead
Jawaban singkatnya: ya, model Tembusu Law sangat mungkin—dan justru strategis—diterapkan di Indonesia.
1. Kebutuhan Pasar: Edukasi Hukum Masih Minim
Berdasarkan berbagai survei akses keadilan, mayoritas masyarakat Indonesia tidak tahu harus mulai dari mana ketika menghadapi masalah hukum. Di sinilah webinar dan konten digital berperan sebagai “pintu pertama”.
Beberapa tema webinar yang sangat relevan untuk konteks Indonesia:
- Sengketa PHK, gaji terlambat, dan hak karyawan
- Masalah pinjol, debt collector, dan restrukturisasi hutang
- Sengketa waris dan pembagian harta bersama (gono-gini)
- Kontrak sewa rumah / kos, dan pengosongan paksa
- Dasar-dasar pidana: penipuan, penggelapan, ITE, dan laporan polisi
Tema-tema ini bisa disusun sebagai seri webinar, bukan satu kali acara besar lalu hilang.
2. Funnel Bisnis: Bukan Sekadar CSR
Kalau dirancang benar, edukasi hukum digital bukan hanya CSR, tapi juga mesin lead yang rapi:
- Orang menemukan webinar lewat media sosial atau pencarian Google
- Mereka daftar dengan email/WhatsApp
- Mereka menonton atau membaca materi on-demand
- Mereka mengajukan pertanyaan umum lewat formulir Q&A
- Dari situ, sebagian akan menyadari: “Masalah saya ternyata cukup rumit, saya butuh bantuan pengacara.”
- Firma hukum sudah punya data dan konteks awal untuk menawarkan konsultasi berbayar atau paket layanan
Transparan saja: edukasi hukum gratis meningkatkan kepercayaan. Dan kepercayaan itu yang paling sulit dibeli dengan iklan.
3. Diferensiasi di Pasar yang Semakin Penuh
Banyak firma hukum Indonesia sudah mulai aktif di media sosial. Tapi kebanyakan hanya:
- Posting ucapan hari besar
- Foto-foto kegiatan kantor
- Sharing berita tanpa analisis
Firma yang berani berinvestasi di konten edukasi sistematis (webinar, e-book, Q&A) + teknologi AI untuk mengelola itu akan terasa jauh berbeda di mata publik dan klien korporasi.
Menggabungkan AI dengan Webinar Hukum: Contoh Konkret
Di seri "AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech", pola yang muncul jelas: AI paling berguna ketika diposisikan sebagai co-pilot, bukan pengganti. Untuk konteks webinar dan edukasi hukum, AI bisa mempercepat banyak hal yang biasanya makan waktu tim.
1. Riset Topik dan Penyusunan Materi
AI bisa membantu menjawab dua pertanyaan kunci:
- “Topik apa yang paling banyak dicari orang Indonesia soal hukum kerja tahun ini?”
- “Pertanyaan apa yang paling sering muncul soal waris atau perceraian?”
Dengan memanfaatkan data pencarian publik dan FAQ yang sering diterima kantor, AI dapat:
- Mengusulkan daftar tema webinar berurutan
- Menyusun outline slide presentasi
- Mengonversi satu legal memo internal menjadi versi bahasa awam
Peran pengacara: mengkurasi, mengoreksi, dan menyesuaikan dengan hukum positif Indonesia.
2. Otomatisasi Produksi Konten Turunan
Satu webinar 60 menit bisa dipecah menjadi banyak aset konten. Di sinilah AI membuat skala jadi masuk akal:
- Transkrip otomatis video
- Ringkasan 3 halaman menjadi e-book singkat
- Daftar FAQ dari sesi Q&A disusun menjadi library tanya-jawab di website
- Potongan video 1–3 menit untuk Instagram, TikTok, atau YouTube Shorts
Tanpa AI, pekerjaan ini butuh tim konten penuh. Dengan AI, satu pengacara + satu staf marketing sudah cukup untuk menghasilkan konten konsisten.
3. Chatbot Hukum Dasar untuk Screening Awal
Setelah webinar berjalan, pertanyaan berulang akan muncul. AI chatbot bisa digunakan untuk menjawab:
- Pertanyaan sangat dasar (misalnya definisi PHK, apa itu somasi)
- Pertanyaan administratif (jam operasional, cara booking konsultasi)
- Screening awal: “Apakah kasus ini butuh konsultasi lanjutan?”
Poin penting: chatbot bukan pengganti nasihat hukum. Ia berfungsi sebagai filter dan pengarah: kapan cukup dengan informasi umum, kapan perlu bicara langsung dengan pengacara.
4. Analitik untuk Strategi Bisnis
Dengan bantuan AI analitik, firma hukum bisa melihat pola:
- Webinar/topik mana yang paling banyak diakses
- Pertanyaan apa yang sering muncul dari sektor industri tertentu
- Kota mana yang paling aktif mengirim pertanyaan
Data ini bisa dipakai untuk:
- Menentukan bidang praktik prioritas
- Menyiapkan paket layanan standar (misalnya paket penanganan PHK karyawan startup)
- Merancang produk legal subscription untuk UMKM atau korporasi
Langkah Praktis: Merancang Program Webinar Hukum ala Tembusu Law
Berikut kerangka sederhana yang bisa langsung dipakai firma hukum Indonesia, baik skala kecil maupun menengah.
1. Tentukan Segmen Utama
Hindari sikap “untuk semua orang”. Pilih dulu:
- Karyawan kantoran dan pekerja pabrik?
- Pemilik usaha kecil dan menengah?
- Keluarga muda perkotaan?
- Komunitas tertentu (guru, driver online, pelaku kreatif)?
Segmen ini akan menentukan bahasa, contoh kasus, dan jam tayang webinar.
2. Susun Seri, Bukan Satu Event
Misalnya segmen: karyawan dan pekerja. Susunan seri webinar bisa seperti:
- Hak Karyawan Saat PHK dan Perjanjian Kerja
- Lembur, THR, dan Upah Minimum: Apa yang Wajib Dibayar?
- Kontrak Freelance vs Karyawan Tetap: Risiko Hukum
- Etika Digital di Kantor dan Risiko UU ITE
Setiap seri punya:
- Satu sesi live (yang direkam)
- Versi rekaman on-demand di website
- Ringkasan PDF + FAQ
3. Siapkan Alur Pendaftaran yang Rapi
Gunakan halaman pendaftaran sederhana yang mengumpulkan:
- Nama
- Email / nomor WhatsApp
- Kota domisili
- Jenis masalah hukum yang paling dikhawatirkan (pilihan ganda)
Formulir ini nanti menjadi dasar segmentasi untuk follow-up yang relevan.
4. Rancang Call-to-Action yang Etis
Setelah peserta menonton webinar atau mengunduh e-book, tawarkan opsi lanjut yang jelas:
- Konsultasi singkat berbayar (mis. 30 menit)
- Paket pembuatan/ review kontrak standar
- Program pendampingan khusus (misalnya untuk restrukturisasi hutang usaha)
Semua ini dikomunikasikan tanpa menakut-nakuti. Fokus pada manfaat: mengurangi risiko, menghemat waktu, dan memberi kepastian.
5. Gunakan AI untuk Menjaga Konsistensi, Bukan Menggantikan Kualitas
Beberapa contoh penerapan yang realistis untuk firma hukum di Indonesia:
- Memakai AI untuk merapikan bahasa materi presentasi menjadi lebih komunikatif
- Menghasilkan draft awal e-book 10–15 halaman dari outline webinar
- Menyusun FAQ standar dari tumpukan pertanyaan peserta
Setelah itu, tim hukum tetap memegang keputusan akhir: mana yang layak dipublikasikan dan bagaimana memastikan kesesuaian dengan hukum nasional maupun regulasi sektoral.
Dampak Jangka Panjang: Membangun Kepercayaan dan Ekosistem LegalTech Indonesia
Kalau melihat inisiatif seperti Tembusu Law, pelajaran terbesarnya bukan sekadar “mereka bikin webinar gratis”. Pesannya lebih dalam: firma hukum yang berani membuka pengetahuan justru akan mendapatkan lebih banyak kepercayaan dan klien yang lebih teredukasi.
Untuk seri "AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech", model ini melengkapi puzzle yang sudah mulai terbentuk:
- AI untuk analisis kontrak dan riset hukum membuat kerja pengacara lebih cepat
- Sistem manajemen kantor hukum digital merapikan operasional
- Webinar + konten edukasi + AI membuka kanal baru untuk akses keadilan dan pemasaran yang sehat
Firma hukum yang mulai dari sekarang akan punya keunggulan beberapa tahun ke depan, ketika klien korporasi dan individu sudah terbiasa memilih pengacara melalui jejak digital edukatif, bukan sekadar rekomendasi mulut ke mulut.
Kalau kantor Anda sedang berpikir, “mulai dari mana?”, langkah paling ringan adalah: tentukan satu tema, siapkan satu webinar, rekam dengan rapi, lalu gunakan AI untuk mengubahnya menjadi berbagai konten turunan. Dari satu langkah itu, biasanya ide untuk langkah kedua dan ketiga akan muncul sendiri.
Pada akhirnya, akses keadilan di Indonesia tidak akan membaik hanya karena ada lebih banyak pasal atau peraturan. Akses itu membaik ketika orang bisa memahami haknya, tahu harus menghubungi siapa, dan merasa pintu ke pengacara tidak lagi tertutup oleh biaya dan jarak.
Firma hukum yang berani menggabungkan LegalTech, AI, dan edukasi publik akan berada di garis depan perubahan itu.