Kontrak bukan lagi sekadar dokumen. Dari langkah Jason Barnwell ke Agiloft, ada pelajaran penting soal CLM, data, dan AI untuk firma hukum Indonesia.
Pelajaran CLM & AI dari Kepindahan Jason Barnwell
Ketika seorang pemimpin legal ops yang sudah 15+ tahun di Microsoft pindah ke perusahaan Contract Lifecycle Management (CLM), itu bukan sekadar berita karier. Itu sinyal kuat ke seluruh industri jasa hukum: kontrak + data + AI sekarang jadi pusat strategi bisnis, bukan lagi urusan administratif di belakang layar.
Itu yang terjadi saat Jason Barnwell meninggalkan Microsoft dan bergabung sebagai Chief Legal Officer (CLO) di Agiloft, salah satu pemain besar CLM global. Buat firma hukum dan legal in-house di Indonesia, langkah ini sebenarnya adalah “spoiler” tentang arah masa depan: legal yang paham teknologi, terutama CLM dan AI, akan memimpin, bukan hanya mendukung.
Tulisan ini bagian dari seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech”. Di sini saya akan bahas:
- Kenapa kepindahan Barnwell ke Agiloft penting untuk dipahami pelaku jasa hukum Indonesia
- Apa itu pendekatan data-first CLM yang dia dorong
- Bagaimana firma hukum dan korporasi Indonesia bisa mulai menerapkan pola pikir yang sama, dengan langkah yang realistis dan bisa dieksekusi sekarang
Mengapa Kepindahan Jason Barnwell ke Agiloft Penting?
Barnwell bukan sekadar pengacara yang pindah perusahaan teknologi. Di Microsoft, dia memegang peran sebagai General Manager dan Associate General Counsel untuk Monetization and Business Planning. Artinya, dia duduk di titik temu antara hukum, bisnis, teknologi, dan uang.
Beberapa hal kunci dari perannya di Microsoft:
- Dia memimpin transformasi digital fungsi legal dalam organisasi Corporate, External, and Legal Affairs.
- Dia mendesain dan mengawasi strategi hukum di balik "global contracting engine" Microsoft, yaitu mesin kontrak global yang mendukung pengadaan bernilai miliaran dolar.
- Dia fokus pada proses legal berbasis data yang terhubung ke supply chain global.
Jadi ketika orang dengan profil seperti ini memutuskan pindah ke perusahaan CLM seperti Agiloft, pesannya jelas:
Kontrak bukan lagi sekadar dokumen. Kontrak adalah data, alur kerja, dan sumber nilai bisnis yang harus dikelola secara sistematis dengan teknologi – terutama AI.
Di Indonesia, banyak general counsel dan managing partner yang masih melihat kontrak sebagai dokumen Word di folder server. Cerita Barnwell ini menunjukkan standar baru: kontrak dikelola sebagai sistem, bukan file.
Apa Itu Pendekatan “Data-First CLM” yang Dibawa ke Agiloft?
Data-first CLM berarti: kita memperlakukan setiap kontrak sebagai sumber data terstruktur yang bisa dianalisis dan diotomasi, bukan hanya PDF yang disimpan.
Eric Laughlin, CEO Agiloft, menyebut Barnwell sebagai orang yang tahu cara:
- “Unlock potensi tim legal”
- “Memanfaatkan AI dan data”
- “Menjadikan contracting sebagai pendorong nilai bisnis”
Terjemahan praktisnya dalam konteks CLM dan AI untuk jasa hukum:
1. Kontrak Sebagai Mesin Bisnis, Bukan Arsip
Sebagian besar perusahaan Indonesia masih:
- Menyimpan kontrak di shared folder
- Mencari pasal kritikal manual
- Mengandalkan memori orang ketika ada dispute atau renegosiasi
Dalam pendekatan data-first CLM:
- Setiap kontrak masuk ke sistem CLM
- Klausul penting (harga, SLA, penalti, jangka waktu, kewajiban utama) ditandai dan di-capture sebagai data
- Manajemen bisa melihat
- berapa banyak kontrak yang akan berakhir 3 bulan lagi,
- berapa potensi penalti,
- dan berapa nilai komersial yang sedang berjalan.
2. AI Bekerja di Tengah, Bukan di Pinggir
Barnwell bilang:
“Contracts are where the human, the process, and the machine meet.”
Inilah titik manis AI untuk jasa hukum Indonesia:
- AI menganalisis draf kontrak dan memberi peringatan jika ada klausul di luar playbook standar.
- AI membantu ekstraksi data dari kontrak lama yang masih dalam bentuk PDF/scan.
- AI memprediksi risiko berdasarkan pola kontrak dan performa historical (misalnya vendor tertentu sering telat, jenis kontrak tertentu sering berujung dispute).
Manusia tetap mengambil keputusan, tapi AI mengangkat beban kerja repetitif dan analitis yang makan waktu.
3. Pola Kerja yang Bisa Diskalakan (Patterns That Scale)
Barnwell menyebut fokusnya adalah membuat “patterns that scale”:
- Smarter workflows → alur kerja kontrak yang jelas, bukan chat WA yang berserakan
- Talented teams that lift each other up → pengetahuan dikodifikasi dalam template, clause library, dan playbook, bukan hanya di kepala partner/senior counsel
- Legal operations yang menggerakkan hasil bisnis → tim legal diukur bukan cuma dari jumlah kontrak selesai, tapi juga dari risiko yang diturunkan, pendapatan yang diamankan, dan kecepatan siklus kontrak
Bagi firma hukum dan korporasi di Indonesia, ini intinya: kalau proses kontrak Anda tidak bisa diskalakan dengan teknologi, Anda akan kalah dari yang bisa.
Apa Relevansinya untuk Firma Hukum dan In-House Indonesia?
Relevansinya besar. Banyak perusahaan Indonesia – khususnya yang sedang ekspansi regional, IPO, atau go-digital – sudah pelan-pelan menuntut:
- Turnaround time kontrak yang lebih cepat
- Transparansi status pekerjaan legal
- Standarisasi risiko dan klausul
- Integrasi dengan sistem lain (ERP, CRM, procurement)
Semua itu sulit dipenuhi kalau kontrak masih dikelola:
- Manual
- Fragmented antara Word, email, chat
- Tanpa single source of truth
Tantangan Khas di Indonesia
Beberapa hambatan yang sering saya lihat:
-
Budaya “semua by request”
Setiap kontrak diperlakukan unik, padahal 60–70% isinya sebenarnya mirip. -
Ketergantungan pada individu kunci
Kalau satu senior counsel resign, pengetahuan soal negosiasi historis ikut hilang. -
Kurangnya data untuk ambil keputusan
Berapa banyak kontrak yang lewat jatuh tempo? Berapa nilai kontrak yang tidak diperpanjang padahal menguntungkan? Banyak yang tidak tahu.
Pendekatan seperti yang dibawa Barnwell ke Agiloft memberi arah:
Legal yang modern bukan legal yang paling sibuk, tapi yang punya data paling rapi, alur kerja paling jelas, dan integrasi teknologi paling kuat.
5 Langkah Praktis Membangun “Mini-CLM” di Indonesia
Tidak semua organisasi di Indonesia siap langsung membeli CLM enterprise. Tapi Anda bisa mulai dengan pola pikir dan fondasi yang sama. Berikut langkah yang realistis:
1. Petakan Siklus Hidup Kontrak Anda
Jawab dua pertanyaan dasar:
- Dari siapa permintaan kontrak datang?
- Lewat jalur apa kontrak dibuat, dikaji, dinegosiasi, ditandatangani, dan dipantau?
Buat diagram sederhana:
Request → Draft → Review Legal → Negosiasi → Approval Internal → Tanda Tangan → Penyimpanan → Monitoring & Renewal
Begitu alur terlihat jelas, Anda akan menemukan:
- Titik bottleneck
- Tahap yang bisa dipersingkat
- Tahap yang bisa didukung AI (misalnya review awal, clause check, ekstraksi data)
2. Standarkan Template dan Clause Library
Ini inti dari CLM dan dasar untuk AI legal yang efektif.
- Identifikasi jenis kontrak utama: misalnya vendor, customer, NDA, employment, reseller.
- Untuk tiap jenis, buat:
- 1–2 template standar
- Daftar klausul alternatif (fallback) dengan tingkat risiko
Lalu tandai:
- Klausul mana yang wajib,
- Mana yang boleh dinegosiasi,
- Mana yang sebaiknya dihindari.
Template dan library ini nantinya yang akan menjadi “otak” bagi sistem CLM dan AI contract review.
3. Disiplin Satu Repositori Kontrak
Sebelum bicara sistem canggih, satu hal dulu:
- Tentukan satu repositori utama untuk semua kontrak aktif (bisa mulai dari folder terstruktur atau sistem berbasis cloud).
- Wajibkan semua kontrak masuk ke sana dengan:
- Nama file standar
- Metadata minimal: pihak, nilai, tanggal mulai, tanggal berakhir, PIC.
Ini langkah yang membosankan, tapi tanpa ini, AI dan CLM tidak bisa bekerja optimal.
4. Mulai Gunakan AI untuk Tugas yang Sangat Spesifik
Untuk konteks Indonesia, use case awal yang biasanya paling cepat terasa manfaatnya:
-
Ekstraksi data dari kontrak lama
AI membantu membaca PDF/scan dan mengisi data dasar (tanggal, pihak, nilai, durasi, jurisdiction). -
First-pass review terhadap kontrak standar lawan transaksi
AI memberi highlight klausul yang menyimpang dari playbook Anda. Associate dan in-house counsel tinggal fokus ke area merah, bukan baca dari awal sampai akhir tanpa arah. -
Ringkasan kontrak untuk manajemen
AI membuat summary 1–2 halaman yang dipahami non-lawyer, lengkap dengan poin risiko.
Anda tidak perlu langsung membeli solusi mahal. Banyak layanan AI kontrak yang bisa diuji dulu dalam skala kecil untuk membangun business case.
5. Bentuk Fungsi Legal Operations (Sekecil Apa pun)
Barnwell dikenal sebagai sosok legal ops. Di Indonesia, fungsi ini masih jarang. Padahal satu orang yang fokus ke:
- Proses
- Data
- Teknologi
bisa mengubah cara kerja satu departemen hukum.
Kalau belum bisa rekrut spesialis legal ops, lakukan ini:
- Tunjuk 1 orang lawyer yang punya minat pada proses dan teknologi sebagai “champion” LegalTech.
- Beri waktu 20–30% FTE untuk:
- Merapikan alur kerja
- Menyusun dashboard sederhana (misalnya di spreadsheet atau BI tool)
- Menguji solusi CLM/AI dalam skala terbatas.
Langkah ini kecil, tapi efek jangka panjangnya besar.
Apa Artinya Semua Ini untuk Masa Depan Jasa Hukum Indonesia?
Cerita Barnwell dan Agiloft menguatkan tren yang juga sedang kita bahas di seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech”:
- Kontrak adalah pusat permainan. Di sinilah risiko, pendapatan, dan hubungan bisnis bertemu.
- AI bukan pengganti lawyer, tetapi akselerator. AI mengurangi pekerjaan repetitif, supaya lawyer bisa fokus ke negosiasi, strategi, dan advisory bernilai tinggi.
- Firma hukum dan in-house yang menguasai CLM dan data akan lebih menarik bagi klien dan top management.
Saya cukup yakin dalam 3–5 tahun ke depan di Indonesia, tender besar dan klien korporasi akan mulai bertanya ke firma hukum:
“Bagaimana Anda mengelola kontrak kami secara digital? Apa saja insight berbasis data yang bisa Anda berikan, bukan cuma draf dokumen?”
Kalau Anda mulai membangun fondasi CLM dan AI kontrak dari sekarang, saat pertanyaan itu datang, jawabannya sudah siap — lengkap dengan proses, data, dan tim yang mampu menjalankannya.
Pertanyaan penutup:
Pada tanggal 09/12/2025 ini, melihat arah Microsoft, Agiloft, dan para pemimpin seperti Jason Barnwell, di posisi mana Anda ingin menempatkan fungsi legal Anda: sebagai cost center yang sibuk memadamkan api, atau sebagai data-driven partner yang mengendalikan risiko dan mendorong pertumbuhan lewat kontrak dan AI?
Kalau Anda memilih opsi kedua, perjalanan menuju CLM dan AI sebaiknya mulai hari ini, bukan besok.