Legal GenAI bergerak ke arah kolaborasi: dari email dan lampiran ke ruang kerja bersama yang aman. Ini peluang besar bagi firma hukum dan in-house legal Indonesia.
Kolaborasi Legal AI: Sinyal Penting untuk Jasa Hukum Indonesia
Sebagian besar firma hukum masih mengandalkan email dan WhatsApp sebagai “tulang punggung” komunikasi dengan klien. Praktis, iya. Efisien dan aman untuk jangka panjang? Jelas tidak.
Di Eropa dan AS, tren sudah bergeser. Dalam beberapa minggu terakhir, dua pemain besar Legal GenAI – Legora dan Harvey – merilis fitur baru yang fokus pada kolaborasi digital yang aman antara firma, in-house legal, dan klien. Ini bukan sekadar fitur tambahan, tapi perubahan cara kerja: dari email & lampiran ke ruang kerja bersama berbasis AI.
Bagi ekosistem jasa hukum Indonesia yang sedang serius bicara LegalTech dan otomatisasi, ini sinyal keras: masa depan bukan cuma AI yang pintar menjawab, tapi AI yang menjadi ruang kerja bersama.
Tulisan ini membahas:
- Apa sebenarnya inovasi Legora Portal dan Harvey Shared Spaces
- Mengapa model kolaborasi ini relevan untuk firma hukum dan corporate legal di Indonesia
- Contoh skenario praktis: kontrak, litigasi, dan manajemen perkara
- Langkah konkret jika kantor hukum atau legal department ingin mulai bertransformasi
Apa yang Baru dari Legora Portal dan Harvey Shared Spaces?
Intinya: Legora dan Harvey sedang memindahkan kerja sama hukum dari email ke portal kolaboratif berbasis GenAI yang aman dan terstruktur.
Legora Portal: Ruang Kerja Terpadu untuk Firma & In-House Legal
Pada 07/11/2025, Legora meluncurkan Legora Portal. Konsepnya: satu ruang kerja digital di mana firma hukum dan in-house legal bisa bekerja di dokumen, workflow, dan pengetahuan perusahaan yang sama, tanpa chaos versi dokumen.
Beberapa fitur kunci yang relevan untuk konteks Indonesia:
- Workspace terpusat: semua dokumen, playbook, template, dan catatan analisis ada di satu portal, bukan tercecer di email, folder random, atau flashdisk.
- Digital playbook & workflow: tahapan kerja (misalnya proses review kontrak vendor) bisa distandarkan, didokumentasikan, dan dijalankan berulang kali.
- Kolaborasi langsung dengan klien: klien bisa:
- komentar di dokumen
- unggah berkas
- review versi terbaru
- ikut workflow yang sudah didefinisikan
- Keamanan & audit trail: penyimpanan terenkripsi, jejak aktivitas lengkap, standar keamanan seperti SOC 2 dan ISO.
Dari kacamata jasa hukum, Legora Portal bukan cuma soal “file sharing”. Ini lebih dekat ke operating system kerja sama antara firma dan klien.
Harvey Shared Spaces: Ruang Kolaborasi AI untuk Semua Pihak
Pada 04/12/2025, Harvey merespons dengan Shared Spaces. Arah besarnya sama: ruang kerja kolaboratif yang aman, tapi dengan fokus kuat pada pemanfaatan GenAI dalam proses hukum sehari-hari.
Ciri penting Shared Spaces:
- Satu ruang bersama untuk firma, in-house legal, dan pihak lain (misalnya konsultan, law firm partner di yurisdiksi lain).
- Tamu tanpa akun penuh: orang yang tidak punya akun Harvey tetap bisa diundang sebagai guest dengan hak akses terbatas.
- Kontrol akses granular: siapa boleh baca, edit, komentar, atau hanya melihat output AI bisa diatur per dokumen atau per ruang.
- Log aktivitas lengkap: semua interaksi tercatat, sehingga aspek pembuktian dan kepatuhan internal tetap terjaga.
- Data tetap milik pengguna: Harvey menegaskan data tetap berada di bawah kendali firma, isu penting untuk profesi hukum yang sangat sensitif terhadap kerahasiaan.
Kalau dulu AI legal identik dengan “chatbot untuk tanya pasal”, gelombang baru ini bergerak ke AI sebagai co-pilot dalam tim, di ruang kerja yang sama dengan pengacara dan klien.
Mengapa Model Kolaborasi GenAI Ini Penting untuk Indonesia?
Bagi pasar Indonesia, model kolaborasi Legal GenAI ini menjawab tiga tantangan klasik: komunikasi bertele-tele, versi dokumen berantakan, dan kekhawatiran keamanan data.
1. Efisiensi: Dari Email Thread 50 Balasan ke Satu Ruang Kerja
Praktik umum di firma hukum Indonesia:
- Kirim draf kontrak via email
- Klien download, edit, kirim balik sebagai
v3_final_revisi_dari_client_FINAL_benar2.docx - Associate lain tidak sengaja pakai
v2_final_fix_bgt.docx
Semua orang tahu ini kacau, tapi sudah terlanjur jadi kebiasaan.
Dengan portal kolaboratif berbasis AI:
- Hanya ada satu sumber kebenaran untuk setiap dokumen
- Perubahan tercatat sebagai riwayat versi, bukan file baru
- Komentar, catatan hukum, dan rekomendasi AI menempel langsung di dokumen yang sama
- AI bisa membantu membuat redline, menjelaskan perbedaan versi, bahkan menyarankan penyatuan klausa
2. Transparansi dan Keterlibatan Klien
Klien korporasi di Indonesia makin kritis. Mereka ingin:
- tahu progres pekerjaan secara real time
- mengerti logika di balik rekomendasi hukum
- punya dokumentasi jelas untuk internal mereka sendiri (manajemen, auditor, pemegang saham)
Ruang kerja kolaboratif memberi:
- dashboard progres: perkara A tahap apa, kontrak B sudah sampai mana, siapa yang sedang review
- jejak digital: kapan draf diunggah, siapa memberi komentar, kapan revisi disetujui
- akses pengetahuan: internal legal bisa belajar dari review sebelumnya karena diskusi hukum terdokumentasi rapi
3. Keamanan Data yang Lebih Serius daripada Email Biasa
Banyak kantor hukum Indonesia sudah sadar isu keamanan, tapi praktiknya masih:
- kirim dokumen sangat sensitif via email biasa
- share data lewat aplikasi chat tanpa enkripsi end-to-end yang terkelola
- menyimpan berkas di laptop pribadi tanpa proteksi memadai
Platform seperti Legora Portal dan Harvey Shared Spaces menunjukkan standar baru:
- penyimpanan terenkripsi
- kontrol hak akses terukur
- audit trail yang penting kalau suatu hari ada sengketa atau investigasi internal
Untuk firma yang ingin melayani klien multinasional atau korporasi terbuka, level keamanan ini pelan-pelan akan menjadi syarat, bukan bonus.
Contoh Skenario: Dari Kontrak Vendor sampai Sengketa Kompleks
Cara termudah memahami manfaat Legal GenAI kolaboratif adalah dengan melihat skenario kerja nyata.
Skenario 1: Review Kontrak Vendor untuk Perusahaan Nasional
Bayangkan sebuah perusahaan distribusi nasional dengan ratusan vendor di berbagai kota. Setiap tahun, ada ratusan kontrak baru dan perpanjangan.
Dengan ruang kerja GenAI kolaboratif:
- In-house legal membuat template kontrak standar dan playbook negosiasi (klausa yang fleksibel, klausa yang tidak boleh diubah).
- Firma hukum eksternal membantu menyusun dan menyempurnakan playbook langsung di portal yang sama.
- Saat kontrak vendor baru masuk:
- Kontrak diunggah ke portal
- AI melakukan analisis otomatis: deteksi risiko, pengecekan deviasi dari template, highlight klausul yang tidak biasa
- Klien, firma, dan vendor (jika perlu) mengakses dokumen yang sama:
- memberi komentar
- menyetujui versi
- menyimpan negotiation history secara terstruktur
Hasilnya:
- waktu review bisa turun dari beberapa hari menjadi beberapa jam
- standar risiko lebih konsisten karena semua merujuk ke playbook yang sama
Skenario 2: Sengketa Bisnis Multi-Pihak
Dalam perkara litigasi atau arbitrase dengan banyak pihak dan dokumen:
- Tim internal klien mengunggah semua kronologi, bukti, dan dokumen pendukung ke dalam satu ruang perkara.
- Firma hukum utama membuat struktur folder dan workflow: pengumpulan bukti, legal research, penyusunan dokumen gugatan/jawaban.
- Firma partner di luar kota/luar negeri diundang sebagai guest untuk bagian tertentu saja.
- GenAI membantu:
- merangkum dokumen panjang
- menyiapkan draf awal kronologi
- mengelompokkan bukti berdasarkan isu hukum
Ruang kerja bersama memotong sangat banyak koordinasi manual yang biasanya terjadi di email dan grup chat.
Apa yang Perlu Disiapkan Firma Hukum dan In-House Legal di Indonesia?
Teknologi Legal GenAI kolaboratif hanya berguna kalau organisasi menyiapkan proses dan budaya kerja yang tepat.
1. Standarkan Cara Kerja sebelum Meng-"AI"-kan
AI bekerja paling baik kalau ada pola yang jelas. Sebelum pakai platform apa pun, sebaiknya:
- petakan jenis pekerjaan utama: kontrak, litigasi, kepatuhan, regulasi sektor tertentu
- buat workflow standar untuk tiap jenis pekerjaan, minimal di level langkah besar
- susun template dokumen dan panduan singkat (playbook) yang bisa dijadikan basis AI
Tanpa ini, portal kolaboratif hanya akan menjadi “folder bersama yang lebih mewah”.
2. Kebijakan Data & Kerahasiaan yang Jelas
Untuk profesi hukum, isu kerahasiaan tidak bisa dikompromikan. Maka:
- tetapkan kebijakan internal: jenis data apa yang boleh/ tidak boleh diunggah ke platform AI
- pastikan penyedia teknologi yang dipilih:
- menyimpan data di lingkungan yang aman
- menyediakan kontrol akses yang jelas
- menghormati kewenangan firma atas data
- latih tim untuk tidak sembarang copy-paste dokumen rahasia ke tools publik tanpa pengaturan yang tepat
3. Edukasi Klien: Cara Kerja Baru, Nilai Tambah Baru
Perubahan ke model kolaboratif juga butuh edukasi klien:
- jelaskan bahwa portal bukan “ribet baru”, justru mengurangi email dan file berserakan
- tunjukkan manfaat konkret: transparansi progres, satu versi dokumen, keamanan yang lebih baik
- untuk klien korporasi, tonjolkan aspek audit trail dan kepatuhan internal
Di sinilah posisi strategis firma: bukan hanya penyedia jasa hukum, tapi mitra transformasi digital legal bagi klien.
Langkah Praktis Memulai Kolaborasi Legal AI di Indonesia
Berita dari Legora dan Harvey bisa dijadikan momentum untuk mulai roadmap LegalTech di Indonesia, bukan sekadar bahan diskusi seminar.
Beberapa langkah praktis yang realistis untuk 6–12 bulan ke depan:
-
Mulai kecil, pilih satu use case
Misalnya: hanya untuk review kontrak vendor, atau hanya untuk manajemen perkara litigasi tertentu. -
Gunakan platform AI yang bisa disesuaikan dengan konteks Indonesia
Fokus pada:- dukungan bahasa Indonesia & Inggris
- opsi penyimpanan dan keamanan yang jelas
- kemampuan mengelola workflow dan peran pengguna
-
Bangun “knowledge base” internal
Kumpulkan:- template kontrak yang sering dipakai
- memo hukum yang bisa dianonimkan
- daftar klausa standar dan non-negotiable
-
Tetapkan indikator keberhasilan (KPI)
Misalnya:- waktu rata-rata review kontrak berkurang x%
- pengurangan jumlah versi dokumen yang beredar
- peningkatan kepuasan klien terhadap transparansi proses
-
Iterasi dan perluas
Setelah satu use case berjalan baik, baru diperluas ke area lain: compliance, legal risk management, bahkan manajemen kantor hukum.
Penutup: Masa Depan Jasa Hukum Indonesia Lebih Kolaboratif dan Digital
Gelombang baru Legal GenAI yang ditunjukkan oleh Legora Portal dan Harvey Shared Spaces mengirim pesan jelas: AI untuk jasa hukum bukan lagi soal chatbot, tapi soal cara kerja kolaboratif yang aman, terstruktur, dan bisa diskalakan.
Bagi firma hukum dan in-house legal di Indonesia, ini momen yang tepat untuk:
- meninjau ulang ketergantungan pada email dan dokumen tercecer
- mulai membangun ruang kerja digital yang rapi, terdokumentasi, dan AI-ready
- menawarkan pengalaman kerja sama yang lebih transparan dan modern bagi klien
Seri "AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech" akan terus mengulas bagaimana AI bisa masuk ke analisis kontrak, riset hukum, prediksi perkara, dan manajemen kantor secara praktis. Pertanyaannya sekarang: apakah tim Anda siap menjadikan AI sebagai bagian dari ruang kerja bersama dengan klien, bukan hanya sebagai alat sampingan?