Kolaborasi AI ala Legora & Harvey mulai menggantikan e-mail. Apa artinya untuk firma hukum dan legal in-house Indonesia, dan bagaimana memulainya secara praktis?
Kolaborasi AI Mulai Menggeser E-mail di Dunia Hukum
Rata-rata lawyer korporasi bisa menghabiskan lebih dari 30% waktunya hanya untuk urusan e-mail dan manajemen dokumen internal. Bukan riset hukum, bukan strategi kasus—hanya koordinasi.
Di saat yang sama, di Eropa dan AS, pemain LegalTech seperti Legora dan Harvey mulai meluncurkan fitur kolaborasi AI yang pelan-pelan menggantikan pola kerja berbasis e-mail dan lampiran dokumen. Bukan cuma lebih rapi, tapi juga jauh lebih aman dan terstruktur.
Buat ekosistem jasa hukum Indonesia yang sedang mengejar transformasi digital, perkembangan ini bukan sekadar “berita luar negeri”. Ini adalah bocoran masa depan: bagaimana kerja sama antara firma hukum, legal in-house, dan klien akan terlihat 2–3 tahun ke depan kalau kita serius dengan AI dan LegalTech.
Artikel ini membahas:
- Apa yang sebenarnya dilakukan Legora Portal dan Harvey Shared Spaces
- Mengapa kolaborasi berbasis AI jauh lebih masuk akal dibanding e-mail
- Bagaimana konsep ini bisa diterapkan di firma hukum dan departemen hukum Indonesia
- Langkah praktis yang bisa Anda mulai dalam 3–6 bulan ke depan
Apa yang Baru dari Legora & Harvey: Kolaborasi jadi Fitur Inti
Inti inovasi Legora dan Harvey sederhana: mereka mengubah AI dari “asisten individual” menjadi “ruang kerja bersama”.
Legora Portal: Ruang Kerja Bersama untuk Lawyer & In-house
Pada 07/11/2025, Legora memperkenalkan Legora Portal, sebuah ruang kerja digital yang menyatukan:
- Pengetahuan hukum internal perusahaan
- Workflow spesifik (misalnya alur review kontrak vendor)
- Playbook digital (kebijakan standar, template klausul, panduan negosiasi)
- Manajemen dokumen terpusat
- Kolaborasi langsung dengan klien dan tim internal
Ciri kuncinya:
- Satu portal terpusat, bukan ratusan rantai e-mail
- Versi dokumen jelas, bukan file “Kontrak-Final-Rev2-Fix-Akhir-Beneran.docx”
- Keamanan tingkat enterprise (enkripsi, audit trail, standar seperti SOC 2/ISO)
- Klien bisa komentar, mengunggah, dan ikut dalam workflow tanpa mengacaukan struktur kerja
Singkatnya, Legora Portal mengubah hubungan firma hukum–klien dari “kirim e-mail + lampiran” menjadi bekerja dalam ruang digital yang sama.
Harvey Shared Spaces: Kolaborasi untuk Semua Pihak Terkait
Pada 04/12/2025, Harvey merilis Shared Spaces. Konsepnya mirip:
satu ruang kerja aman di mana semua pihak—firma hukum, in-house, bahkan pihak ketiga—bisa bekerja, mengotomasi, dan berbagi hasil kerja AI secara terkontrol.
Beberapa fitur kunci:
- Bisa melibatkan orang tanpa akun Harvey lewat akses tamu
- Pengaturan hak akses detail per orang/per tim
- Log aktivitas lengkap (siapa melakukan apa, kapan)
- Semua data tetap dikuasai oleh firma/organisasi yang menggunakan
Kalau Legora lebih menonjol di sisi portal kerja klien–lawyer, Harvey menunjukkan bagaimana GenAI legal bisa benar-benar dipakai bersama, bukan cuma di meja satu associate yang paling tech-savvy.
Mengapa Pola Kolaborasi Ini Relevan untuk Jasa Hukum Indonesia
Kolaborasi berbasis AI seperti Legora Portal dan Harvey Shared Spaces menjawab tiga masalah klasik layanan hukum di Indonesia:
- Dokumen tercecer di mana-mana (e-mail, WhatsApp, Google Drive, server kantor)
- Koordinasi berlapis dan lambat antara firma hukum, legal in-house, dan unit bisnis
- Kurangnya transparansi untuk manajemen dan klien: posisi perkara/kontrak sudah sampai mana?
Dari E-mail ke Workspace: Perubahan Cara Kerja, Bukan Sekadar Tools
Mayoritas firma hukum Indonesia masih bertumpu pada:
- E-mail sebagai kanal utama komunikasi
- Word + track changes untuk negosiasi kontrak
- Spreadsheet manual untuk tracking perkara/kontrak
- Grup WhatsApp untuk “koordinasi cepat” yang ujungnya sulit diarsipkan
Model Legora/Harvey memperlihatkan alternatif yang jauh lebih sehat:
- Satu workspace per perkara/kontrak/klien, bukan puluhan e-mail berantakan
- Setiap perubahan dokumen tercatat dan bisa diaudit
- AI membantu merapikan, meringkas, dan menganalisis langsung di dalam workspace
- Hak akses bisa diatur granular: partner, associate, paralegal, in-house, user bisnis, manajemen
Ini penting untuk Indonesia karena:
- Perusahaan makin sering meminta transparansi dan laporan real-time
- Isu kerahasiaan data dan keamanan informasi makin disorot, terutama sejak maraknya kebocoran data
- SKKNI dan standar tata kelola TI di banyak korporasi mulai mensyaratkan jejak audit yang jelas
Kesesuaian dengan Regulasi dan Budaya Kerja Lokal
Memang, kita belum punya platform lokal persis seperti Legora/Harvey dengan sertifikasi SOC 2 atau ISO yang dibahas di sana. Namun prinsip dasarnya selaras dengan kebutuhan di Indonesia:
- Kerahasiaan advokat–klien: terjaga karena akses benar-benar dibatasi dan bisa dilacak
- Kepatuhan internal korporasi: jejak aktivitas jelas, memudahkan audit internal maupun eksternal
- Budaya kerja kolaboratif: departemen hukum yang biasa “sendirian” mulai bisa benar-benar bekerja bersama user bisnis dan firma hukum dalam satu ruang kerja
Saya cukup yakin, firma hukum dan legal in-house yang mulai mengadopsi pola ini akan terlihat beda di mata klien: lebih modern, lebih terukur, dan lebih mudah diajak kerja sama.
Contoh Penerapan Model Legora/Harvey di Indonesia
Untuk memindahkan ide global ke konteks Indonesia, bayangkan beberapa skenario berikut.
1. Review Kontrak Vendor di Perusahaan Multinasional
Saat ini pola yang sering terjadi:
- User bisnis kirim draf vendor via e-mail ke legal in-house
- Legal revisi, kirim balik via e-mail
- Kalau rumit, baru libatkan firma hukum eksternal
- Semua diskusi berserakan: e-mail, chat, telepon, meeting offline
Dengan workspace kolaboratif berbasis AI:
- Dibuat satu ruang kerja kontrak vendor X
- Semua versi kontrak disimpan terpusat
- Firma hukum eksternal punya akses terbatas hanya ke folder/kasus itu
- AI di dalam sistem bisa:
- membandingkan versi vendor vs template standar perusahaan
- menandai klausul yang menyimpang dari policy
- menyusun ringkasan risiko untuk manajemen dalam bahasa non-teknis
Hasilnya:
- Waktu review bisa turun dari minggu menjadi hari, bahkan jam untuk kontrak rutin
- Manajemen tidak perlu baca 30 halaman; cukup baca brief AI + catatan lawyer
2. Manajemen Perkara Litigasi Bersama Firma Hukum
Alih-alih spreadsheet dan folder server kantor:
- Dibuat workspace per perkara: misalnya “Gugatan Perdata – PT ABC vs PT XYZ”
- Semua:
- dokumen persidangan
- kronologi
- bukti
- strategi
- notulen meeting disimpan di satu tempat
- AI membantu:
- menyusun timeline kasus otomatis dari dokumen dan e-mail
- membuat draft ringkasan untuk direksi menjelang rapat
- menyiapkan template jawaban berdasarkan pola kasus sejenis
Departemen hukum, firma hukum eksternal, dan kadang-kadang unit bisnis terkait bisa melihat status yang sama, tanpa perlu bertanya “versi paling baru yang mana?” atau “siapa yang sudah review?”
3. Legal Playbook Digital untuk Bisnis Cepat Tumbuh
Start-up dan perusahaan yang tumbuh cepat biasanya kewalahan:
- Kontrak partnership menumpuk
- NDA, kerja sama marketing, kerja sama teknologi—semua butuh kecepatan
Dengan pendekatan ala Legora Portal:
- Dibuat playbook digital yang berisi:
- template kontrak standar
- batas negosiasi klausul
- panduan “boleh–tidak boleh” untuk tim bisnis
- AI membantu user bisnis memahami klausul:
- menjelaskan dalam bahasa sederhana
- memberi peringatan kalau ada permintaan vendor yang keluar dari batas
Legal tidak harus ikut di semua e-mail. Mereka cukup mengontrol di level rule, template, dan eskalasi—sisanya dibantu AI dan workflow.
Langkah Praktis: Dari E-mail ke Kolaborasi AI di Firma Hukum Anda
Tidak perlu menunggu ada “Legora versi Indonesia” atau “Harvey versi lokal” untuk mulai mengubah cara kerja. Beberapa langkah realistis dalam 3–6 bulan:
1. Pilih Satu Use Case Prioritas
Jangan langsung mengubah semua hal sekaligus. Pilih satu:
- Review kontrak standar berulang (NDA, vendor kecil, jasa konsultan)
- Manajemen perkara litigasi tertentu
- Dokumentasi dan kolaborasi legal untuk satu klien korporasi besar
Fokus di situ dulu. Pengalaman saya, proyek kecil yang sukses jauh lebih kuat efeknya untuk mengubah budaya kerja dibanding “transformasi besar” yang abstrak.
2. Bangun Ruang Kerja Terstruktur
Gunakan kombinasi tools yang sudah ada, lalu pelan-pelan tambahkan AI:
- Folder terstruktur (per klien/per perkara)
- Sistem manajemen dokumen (kalau sudah ada DMS, optimalkan)
- Satu kanal komunikasi utama per perkara (bukan campur aduk)
Lalu tambahkan AI legal (atau general-purpose AI yang diatur dengan hati-hati) untuk:
- meringkas dokumen
- membuat perbandingan versi
- menyusun ringkasan untuk manajemen
Prinsipnya: satu tempat, satu sumber kebenaran, satu alur kerja.
3. Atur Hak Akses dan Jejak Audit
Ambil pelajaran dari Legora dan Harvey:
- Tentukan siapa bisa melihat apa
- Pisahkan dengan jelas:
- partner vs associate
- legal in-house vs user bisnis
- klien vs vendor
- Simpan log aktivitas: siapa mengunggah, menghapus, mengubah dokumen
Ini akan sangat membantu saat ada:
- sengketa internal
- audit kepatuhan
- pergantian personel di tim hukum
4. Bangun Kebiasaan, Bukan Sekadar Implementasi Tools
Kolaborasi AI di LegalTech bukan hanya soal software. Yang lebih sulit adalah mengubah kebiasaan:
- Mendorong lawyer untuk tidak lagi kirim file kontrak via e-mail, tapi selalu lewat workspace
- Meminta klien besar untuk ikut masuk ke portal/ruang kerja bersama
- Melatih tim membaca ringkasan AI sebagai entry point, bukan selalu dari dokumen penuh
Di sinilah sponsor internal penting: partner senior atau Head of Legal yang benar-benar memakai sistem ini, bukan sekadar menyuruh.
Masa Depan Kolaborasi Legal di Indonesia: Dari Now ke Next
Apa yang dilakukan Legora dan Harvey hari ini memberi gambaran jelas untuk seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech”: AI bukan lagi hanya alat analisis kontrak atau chatbot tanya-jawab hukum. AI sedang berubah menjadi “ruang kerja kolaboratif” yang menyatukan firma hukum, in-house, dan klien dalam satu sistem yang terstruktur dan aman.
Untuk ekosistem Indonesia, ini berarti:
- Firma hukum yang mengadopsi pola kerja seperti ini akan tampak jauh lebih profesional dan transparan di mata klien korporasi
- Departemen hukum perusahaan bisa menunjukkan nilai bisnis yang lebih jelas, bukan hanya sebagai cost center
- Klien mendapatkan kontrol dan visibilitas lebih besar atas kasus dan kontraknya
Langkah selanjutnya ada di tangan Anda:
- Proses mana di firma atau departemen hukum Anda yang paling sakit karena e-mail dan dokumen berantakan?
- Bagian mana yang paling masuk akal untuk dijadikan pilot project kolaborasi AI di 3 bulan pertama 2026?
Kalau seri ini ada satu pesan utama, itu ini: firma hukum Indonesia yang mulai bereksperimen hari ini akan memimpin pasar besok—bukan karena teknologinya paling canggih, tapi karena cara bekerjanya paling bersih, transparan, dan terukur.