Fractional GC plus AI sedang mengubah cara startup di Eropa membeli jasa hukum. Model ini sangat relevan untuk firma hukum Indonesia yang ingin tumbuh di era LegalTech.
Fractional GC & AI: Model Jasa Hukum yang Mulai Hilang di Indonesia
Sebagian besar startup tech di Eropa sudah menganggap Fractional General Counsel (GC) sebagai hal biasa. Sementara di Indonesia, banyak founder masih mengandalkan template kontrak acak, chat ke “teman yang kebetulan lawyer”, atau panggil firma hukum hanya saat sudah kebakaran.
Ini problem nyata. Begitu perusahaan mulai tumbuh, kompleksitas hukum naik jauh lebih cepat dibanding kapasitas tim. Rekrut GC full-time terasa terlalu mahal, tapi mengandalkan law firm per jam juga bikin cemas setiap kali harus tanya hal kecil.
Di sinilah model Fractional GC as a Service, seperti yang dilakukan Paxa di Jerman, jadi menarik. Lebih menarik lagi: model ini jadi jauh lebih kuat ketika digabung dengan AI untuk jasa hukum – sesuatu yang sangat relevan untuk pasar Indonesia di 2025.
Tulisan ini bagian dari seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech”. Fokusnya: bagaimana konsep Fractional GC dipadu dengan AI bisa menjadi model layanan hukum baru untuk firma hukum dan konsultan hukum di Indonesia.
Apa Itu Fractional GC, dan Kenapa Model Lama Mulai Ketinggalan
Fractional GC adalah inhouse counsel berpengalaman yang bekerja paruh waktu untuk beberapa perusahaan sekaligus, biasanya berbasis retainer. Bukan sekadar lawyer eksternal, tapi benar-benar diperlakukan sebagai bagian dari tim bisnis.
Poin pentingnya:
- Perusahaan dapat akses kualitas GC senior tanpa biaya full-time
- Lawyer dapat fleksibilitas kerja sambil tetap menangani pekerjaan level tinggi
- Hubungan berbasis kontinuitas, bukan hanya transaksi atau proyek sekali jalan
Di Eropa dan AS, ini sudah jamak dipakai startup dan scale-up (2–200 karyawan). Di Indonesia, landscape-nya mirip: banyak perusahaan tech, fintech, dan SaaS sedang tumbuh, tapi:
- Belum sanggup (atau belum yakin) rekrut GC full-time
- Merasa law firm tradisional terlalu fokus pada litigasi dan transaksi besar
- Butuh jawaban cepat untuk hal-hal operasional sehari-hari, bukan memo panjang
Model law firm konvensional bukan dirancang untuk kebutuhan seperti ini. Dan di titik ini, Fractional GC masuk sebagai jembatan antara inhouse dan law firm.
Studi Kasus Paxa: Fractional GC Plus LegalTech
Paxa di Jerman menarik karena mereka tidak hanya “menjual jam lawyer”. Mereka membangun platform Fractional GC dengan tiga lapis nilai:
- GC berpengalaman – biasanya eks Head of Legal atau Senior Legal Counsel
- Operasional yang rapi – billing, onboarding klien, template, workflow
- Teknologi & AI – ticketing, otomatisasi dokumen, dan LegalOps
Bagaimana Paxa Bekerja
- Mereka memasangkan perusahaan (biasanya startup/scale-up) dengan satu atau beberapa Fractional GC
- GC tersebut bekerja terintegrasi dengan tim: ikut meeting, masuk Slack/Teams, support sales, bukan hanya terima instruksi via email
- Model fee: retainer bulanan atau paket jam yang jelas dan transparan
Dari pengalaman mereka:
- Sekitar 70% mandat fokus pada commercial & sales enablement – kontrak, deal desk, GTM
- Sisanya di area corporate & HR, SaaS/IT/IP, data protection, dan ekspansi internasional
Poin yang menarik untuk konteks Indonesia: Legal bukan lagi rem tangan, tapi pendorong omzet. GC tidak diminta menulis memo tebal, tapi mengambil keputusan dan mengamankan deal.
“Klien kami tidak butuh legal opinion 20 halaman, mereka butuh keputusan,” kira-kira begitu semangat model Fractional GC.
Peran AI: Dari “Nice to Have” Jadi Tulang Punggung Fractional GC
Fractional GC baru benar-benar efisien kalau didukung LegalTech dan AI. Paxa menunjukkan beberapa pola yang bisa diadopsi firma hukum Indonesia.
1. AI untuk Manajemen Tiket & Prioritas
Paxa menggunakan ticket system berbasis AI untuk:
- Menerima pertanyaan dari berbagai departemen (sales, HR, product)
- Mengklasifikasi otomatis: tipe isu, urgensi, risiko
- Men-route tiket ke GC yang paling tepat
Bayangkan ini di firma hukum Indonesia yang menawarkan layanan Fractional GC:
- Sales manager klien upload draft kontrak
- Sistem AI label: "SaaS B2B", "data processing", "urgensi tinggi"
- Otomatis diarahkan ke partner/associate yang tepat, dengan SLA yang jelas
Ini mengurangi waktu hilang di email dan WA yang berserakan, sekaligus membangun rasa aman di sisi klien: “setiap pertanyaan saya masuk ke sistem, tidak akan hilang.”
2. AI untuk Analisis & Otomatisasi Dokumen
Konstantin (founder Paxa) menyebut: 80% proses rutin bisa diambil alih AI, 20% sisanya tetap butuh judgment manusia. Untuk konteks Indonesia, kombinasi ini sangat menarik:
- AI contract review untuk spotting klausul standar: liability cap, SLA, data protection, IP assignment
- Clause library untuk fallback position yang sudah disetujui partner
- Document automation untuk NDA, kontrak kerja, MSA, DPA, ESOP, dsb.
Workflow-nya bisa seperti ini:
- AI melakukan first-pass review
- Sistem memberikan ringkasan risiko dan rekomendasi perubahan
- Fractional GC fokus ke 10–20% bagian yang benar-benar tricky: alokasi risiko, strategi negosiasi, konsekuensi bisnis
Hasilnya:
- Turnaround time turun drastis
- Biaya per dokumen lebih rendah
- Lawyer bisa pegang lebih banyak klien Fractional GC tanpa mengorbankan kualitas
3. AI untuk Knowledge Management & Playbook
Salah satu problem besar di firma hukum Indonesia: knowledge berserakan di folder, email, atau kepala partner senior.
Untuk model Fractional GC, ini bahaya. Klien butuh konsistensi dan kecepatan.
Di sini AI bisa:
- Menjadi knowledge hub: semua template, memo, posisi standar dikurasi
- Menjawab pertanyaan dasar internal: “Kalau kontrak SaaS dengan perusahaan publik, batas liability maksimum kita apa?”
- Menghasilkan playbook negosiasi per jenis kontrak dan per industri
Paxa membangun ini dengan kombinasi automation platform dan workflow yang rapi. Firma Indonesia bisa melakukan hal serupa dengan tool LegalTech lokal maupun global.
Relevansi untuk Indonesia: Dari Firma Litigasi ke LegalOps Partner
Indonesia sedang berada di fase yang mirip dengan Eropa 5–7 tahun lalu: ledakan startup dan digital business, sementara model jasa hukum belum banyak bergeser.
Peluang untuk Firma Hukum Indonesia
Firma yang mau bergerak lebih cepat bisa mengembangkan unit Fractional GC berbasis AI dengan positioning jelas:
- Menyasar startup, scale-up, dan korporasi yang lagi transformasi digital
- Menawarkan retainer LegalOps + Fractional GC alih-alih sekadar “paket konsultasi”
- Menggunakan AI untuk menjaga margin tetap sehat walau fee per bulan fixed
Beberapa paket yang realistis:
-
Paket Growth:
- 20–30 jam/bulan support Fractional GC
- AI contract review untuk semua kontrak standar
- Setup workflow basic: approval kontrak, NDA, vendor onboarding
-
Paket Scale:
- 40–60 jam/bulan dengan 1 lead GC + 1 support
- Playbook sales contract + negosiasi
- Dashboard SLA dan risk mapping berbasis data
Apa yang Paling Cepat Bisa Diadopsi?
Kalau harus memilih 3 hal praktis yang bisa dimulai firma hukum Indonesia dalam 3–6 bulan ke depan:
- AI contract review untuk NDA dan kontrak sederhana
- Ticketing system untuk klien retainer, walau awalnya masih semi-manual
- Template + playbook negosiasi yang distandarkan dan diakses lewat sistem
Ini sudah cukup untuk membangun pondasi model Fractional GC ala Paxa, tanpa harus langsung membangun platform besar.
Trade-off: Efisiensi vs Kepercayaan
Setiap kali bicara AI di jasa hukum Indonesia, ada kekhawatiran yang wajar:
- “Kalau semua di-otomasi, klien masih butuh lawyer nggak?”
- “Gimana soal kerahasiaan data?”
- “Apakah AI bisa membaca nuansa bisnis klien lokal?”
Jawaban jujurnya: AI tidak menggantikan lawyer, AI menggantikan kerjaan membosankan lawyer.
Paxa memposisikan diri sangat jelas:
- AI mengurus 80%: klasifikasi, ekstraksi data, drafting dasar
- 20% terakhir tetap manusia: judgment, strategi, komunikasi dengan C-level
"Fractional GC yang baik tidak hanya membaca kontrak, tapi memahami arti bisnis dari setiap klausul." Bagian ini tidak bisa (dan tidak seharusnya) diganti AI.
Untuk pasar Indonesia, justru di sinilah diferensiasi bisa muncul:
- Firma hukum yang menggabungkan AI + kedekatan budaya + pemahaman regulasi lokal akan unggul
- Klien akan lebih percaya pada lawyer yang transparan: menjelaskan mana bagian kerja AI, mana yang dikerjakan langsung oleh tim hukum
Langkah Praktis: Membangun Model Fractional GC Berbasis AI di Indonesia
Berikut kerangka sederhana yang bisa dipakai firma hukum atau konsultan hukum korporasi:
1. Tentukan Segmen
Fokus dulu ke 1–2 segmen:
- SaaS / digital platform
- Fintech / pembayaran
- E-commerce & logistics
Segmen ini paling butuh respon cepat dan volume kontrak tinggi, cocok dengan model Fractional GC + AI.
2. Rancang Paket Layanan yang Jelas
Hindari deskripsi abstrak seperti “pendampingan hukum menyeluruh”. Ganti dengan deskripsi konkret:
- Berapa jam support per bulan
- SLA respon (misal: 4 jam kerja untuk tiket urgent)
- Jenis dokumen yang tercakup dalam otomatisasi AI
- Akses ke dashboard status kontrak dan tiket
3. Bangun Stack LegalTech Minimum
Minimal:
- Sistem manajemen tiket/permintaan (bisa mulai dari tool yang umum digunakan)
- AI review untuk jenis kontrak paling sering
- Repositori template dan playbook yang rapi
4. Edukasi Klien Soal AI
Klien Indonesia perlu diyakinkan dengan bahasa yang simpel:
- Jelaskan bahwa AI dipakai untuk kecepatan dan konsistensi, bukan menggantikan analisis
- Tegaskan soal keamanan data dan pengelolaan akses
- Tunjukkan contoh konkret: sebelum/sesudah waktu review, jumlah error, dsb.
Penutup: Saatnya Indonesia Mencoba Model Fractional GC Berbasis AI
Model yang dibangun Paxa di Jerman menunjukkan satu hal: jasa hukum bisa dibuat lebih dekat ke bisnis, lebih proaktif, dan lebih terukur ketika menggabungkan Fractional GC, LegalOps, dan AI.
Untuk Indonesia, momen ini pas. Tahun 2025, banyak perusahaan lokal mulai serius soal governance, data protection, dan ekspansi regional, tapi tetap sensitif soal biaya.
Firma hukum dan konsultan yang berani mengadopsi model Fractional GC berbasis AI akan punya posisi unik: bukan sekadar “pengacara yang dipanggil saat masalah”, tapi mitra operasi bisnis yang membantu menutup deal, mengelola risiko, dan membangun sistem.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah AI akan masuk ke jasa hukum Indonesia?”, tapi siapa yang lebih dulu membangun layanan Fractional GC yang benar-benar memanfaatkan AI secara cerdas.