DeepJudge meraih pendanaan US$10,7 juta untuk AI legal. Apa artinya bagi firma hukum Indonesia dan bagaimana mulai membangun “knowledge assistant” versi Anda sendiri.
AI LegalTech Makin Serius: DeepJudge Kunci Dana US$10,7 Juta
US$10,7 juta dana seed untuk satu startup AI legal bukan sekadar angka. Itu sinyal keras bahwa pasar global percaya AI untuk jasa hukum sudah masuk tahap “harus”, bukan “nanti saja”. DeepJudge, startup yang lahir tahun 2021, baru saja menutup pendanaan ini dan meluncurkan produk baru bernama Knowledge Assistant.
Kenapa ini relevan untuk firma hukum di Indonesia? Karena masalah yang mereka selesaikan di Eropa dan Amerika persis sama dengan yang dialami banyak kantor hukum dan legal department di sini: dokumen menumpuk, pengetahuan tersebar di mana-mana, dan waktu partner habis hanya untuk mencari, bukan berpikir strategis.
Dalam seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech” ini, artikel ini membahas:
- Apa yang sebenarnya dikerjakan DeepJudge
- Mengapa investor berani menaruh US$10,7 juta
- Pelajaran praktis untuk firma hukum Indonesia yang ingin mulai memakai AI untuk riset hukum, analisis kontrak, dan manajemen pengetahuan
Apa yang Dilakukan DeepJudge: Dari Pencarian ke “Asisten Pengetahuan”
DeepJudge fokus pada satu masalah besar: bagaimana menemukan dan memanfaatkan pengetahuan internal firma hukum dengan cepat dan akurat.
Secara garis besar, ada dua produk utama:
-
DeepJudge Knowledge Search
Mesin pencari internal yang memungkinkan firma hukum:- Menemukan dokumen relevan di seluruh enterprise (DMS, Microsoft 365, dan tools lain)
- Menggunakan natural language query (bahasa alami), bukan sekadar keyword
- Mengurangi waktu lawyer “menggali” dokumen lama sebelum mulai mengerjakan sesuatu
-
DeepJudge Knowledge Assistant
Ini level berikutnya: antarmuka AI generatif yang tidak hanya mencari, tapi juga:- Membaca dokumen internal firma
- Menggunakan teknik Retrieval-Augmented Generation (RAG)
- Memberikan jawaban yang mengutip dokumen internal sebagai dasar
Sederhananya: bukan sekadar chatbot pintar, tapi chatbot yang “diisi otak” dengan semua dokumen firma Anda.
Pendekatan RAG penting karena jawaban AI tidak hanya mengandalkan model bahasa umum, tetapi selalu ditopang dokumen aktual dari database internal. Ini mengurangi risiko jawaban “ngarang” dan jauh lebih cocok untuk konteks hukum.
Mengapa Investor Serius: Sinyal untuk Pasar LegalTech
Pendanaan seed US$10,7 juta (sekitar Rp170+ miliar) untuk DeepJudge dipimpin oleh Coatue, dengan partisipasi beberapa angel investor terkenal di dunia teknologi. Untuk ukuran seed, ini jumlah yang besar. Artinya:
- Investor melihat AI di sektor hukum sebagai pasar yang sangat menjanjikan
- Masalah yang diselesaikan DeepJudge (knowledge management & legal research) dianggap kritis
- Ada bukti awal adopsi yang kuat di firma-firma besar
Salah satu contoh yang diungkap adalah Homburger, salah satu firma hukum terbesar di Swiss. Mereka melaporkan:
- Lebih dari 80% legal professional di firma tersebut sudah memakai DeepJudge Knowledge Search
- Tingkat keterlibatan sangat tinggi dibanding tools legal tech lain
- Lawyer merasa pengalaman pencariannya mirip menggunakan Google, tapi untuk dokumen internal kantor
Angka 80% adopsi di firma besar bukan hal biasa. Banyak proyek legal tech mati karena adopsi di bawah 20–30%. Fakta ini menunjukkan dua hal:
- Antarmuka dan pengalaman penggunaan AI harus sesederhana yang sudah biasa dipakai lawyer (misalnya Google, email, Word)
- Solusi yang langsung memotong waktu kerja (seperti mencari dokumen) jauh lebih mudah diterima dibanding tools yang mengubah total cara kerja
Bagi pasar Indonesia, ini sinyal kuat: investasi dan adopsi global sedang lari kencang. Kalau firma hukum di sini terlalu lama menunggu, gap produktivitas dengan firma global akan makin lebar.
Apa Itu RAG dan Kenapa Penting untuk Hukum
Kalau bicara AI generatif untuk jasa hukum, teknologi Retrieval-Augmented Generation (RAG) hampir selalu muncul. DeepJudge menggunakan pendekatan ini secara serius.
Secara sederhana, RAG bekerja dengan dua langkah utama:
- Retrieval – AI mencari dokumen paling relevan dari basis data internal (misalnya kontrak, opini hukum, memo, email penting)
- Generation – AI menyusun jawaban atau ringkasan berdasarkan dokumen yang ditemukan, bukan dari “ingatannya sendiri”
Kenapa ini penting untuk hukum?
- Akurat dan bisa dilacak: Lawyer bisa melihat kembali dokumen sumber yang digunakan AI
- Selaras dengan praktik firma: Jawaban AI sejalan dengan style drafting, posisi risk, dan preferensi firma sendiri
- Selalu up to date: Begitu ada dokumen baru masuk sistem, AI langsung bisa menggunakannya sebagai referensi
Untuk konteks firma hukum Indonesia, pendekatan seperti ini sangat cocok untuk:
- Menjawab pertanyaan internal seperti:
“Bagaimana posisi standar kita terhadap klausul limitation of liability di kontrak IT?” - Mencari contoh kontrak atau opini yang pernah dikeluarkan dalam sektor/isu tertentu
- Membantu tim junior memahami pola drafting partner untuk klien tertentu
RAG bukan sekadar buzzword teknis. Ini fondasi penting untuk membangun AI yang bisa dipercaya di dunia hukum.
Peluang untuk Firma Hukum Indonesia: Dari Dokumen Berantakan ke Knowledge Hub
Kalau kita jujur, banyak kantor hukum dan legal department di Indonesia punya pola yang sama:
- Dokumen tersebar di berbagai folder share drive
- Ada yang di email, ada di WhatsApp, ada di laptop pribadi
- Pengetahuan tacit disimpan di kepala partner dan senior associate
Akibatnya:
- Associate baru butuh waktu lama untuk “nyetel” dengan style kantor
- Pekerjaan berulang dikerjakan dari nol karena tidak tahu sudah pernah ada dokumen serupa
- Partner terlalu sering dicari hanya untuk tanya: “Bang, dulu kita pernah bikin opini soal ini nggak ya?”
Konsep Knowledge Search dan Knowledge Assistant seperti DeepJudge memberi arah yang cukup jelas untuk transformasi:
1. Bangun fondasi: manajemen dokumen yang rapi
Sebelum bicara AI, beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:
- Satukan dokumen penting di satu sistem (DMS atau minimal struktur folder yang konsisten)
- Tentukan standar penamaan file (tanggal, klien, jenis dokumen)
- Pastikan kontrak final, opini, dan template mudah dibedakan dari draft mentah
Tanpa ini, AI Anda nanti hanya akan menjadi “pencari kekacauan yang efisien”.
2. Mulai dari use case yang paling menyakitkan
Dari pengalaman, tiga use case AI yang paling cepat terasa manfaatnya di Indonesia:
- Pencarian dokumen internal: mencari kontrak atau opini yang mirip dengan kasus saat ini
- Ringkasan dokumen panjang: meringkas perjanjian 50–100 halaman untuk keperluan internal
- Analisis klausul kontrak: menandai isu standar (jurisdiction, limitation of liability, penalty, dsb.)
DeepJudge memilih fokus di pencarian dan knowledge assistant. Itu contoh bagus: fokus dulu di satu masalah kritis, baru berkembang ke hal lain.
3. Jadikan AI sebagai “asisten riset”, bukan “pengganti lawyer”
Pendekatan komunikasi ke internal tim sangat menentukan keberhasilan adopsi. Cara paling sehat adalah memposisikan AI sebagai:
- Asisten yang menghemat waktu riset dan pencarian
- Alat yang membantu junior naik kualitas lebih cepat
- Cara untuk mengurangi kerja repetitif yang membuat burnout
Bukan: ancaman yang akan menggantikan lawyer.
Pengalaman Homburger dengan tingkat adopsi 80% menunjukkan: kalau manfaatnya jelas dan workflow-nya natural, lawyer tidak keberatan memakai AI.
Strategi Praktis: Kalau Mau “Versi DeepJudge” di Firma Anda
Tidak semua firma di Indonesia harus (atau bisa) langsung memakai produk seperti DeepJudge. Tapi pendekatannya bisa ditiru. Berikut kerangka sederhana yang bisa dipakai sebagai roadmap 6–12 bulan:
Langkah 1 – Audit pengetahuan internal (1–2 bulan)
- Inventarisasi: jenis dokumen apa saja yang paling sering dipakai (SPA, NDA, loan agreement, opini regulasi, dsb.)
- Identifikasi: mana yang sudah “golden standard” dan layak jadi referensi utama
- Tandai: mana yang outdated dan sebaiknya di-archive
Langkah 2 – Satu pintu untuk dokumen penting (2–3 bulan)
- Pilih satu tempat utama untuk dokumen final (bisa DMS, bisa SharePoint, bisa sistem lain)
- Buat struktur folder dan hak akses yang jelas
- Mulai biasakan tim: semua dokumen final harus ada di sana
Langkah 3 – Uji coba AI untuk pencarian & ringkasan (3–6 bulan)
- Pilih beberapa use case pilot: misalnya M&A, project finance, atau kontrak teknologi
- Gunakan solusi AI (internal atau pihak ketiga) untuk:
- Pencarian berbasis bahasa alami di dokumen internal
- Ringkasan otomatis kontrak
- Penandaan klausul utama
- Minta feedback rutin dari lawyer yang memakai
Langkah 4 – Kembangkan “Knowledge Assistant” versi Anda
Setelah data dan proses beres, barulah masuk ke level asisten pengetahuan:
- Buat daftar tipe pertanyaan yang sering diajukan ke partner/senior (FAQ internal)
- Latih sistem AI berdasarkan dokumen dan jawaban historis
- Uji: apakah jawaban AI sudah cukup aman dan akurat untuk dipakai tim internal
Di titik ini, Anda belum harus meniru seluruh fitur DeepJudge. Tetapi pola pikirnya sama: AI yang kuat cuma mungkin kalau datanya rapi dan relevan.
Menghubungkan dengan Seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia”
Seri ini fokus pada bagaimana firma hukum Indonesia bisa menggunakan AI untuk:
- Analisis kontrak
- Riset hukum
- Prediksi kasus
- Manajemen kantor dan pengetahuan
Kisah DeepJudge memperjelas satu hal:
Masa depan firma hukum bukan ditentukan hanya oleh siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling efisien mengelola dan memakai pengetahuannya.
Pendanaan US$10,7 juta ini memberi validasi bahwa market global yakin knowledge management berbasis AI adalah area strategis. Bagi kita di Indonesia, ini bisa dibaca sebagai ajakan: mulai sekarang, bukan nanti.
Kalau Anda sedang memimpin firma hukum, in-house legal, atau unit riset hukum, pertanyaannya cukup sederhana:
- Sudahkah pengetahuan firma Anda dikumpulkan dengan rapi?
- Kalau associate baru masuk hari ini, berapa lama sampai dia bisa menemukan contoh kontrak dan opini terbaik tanpa tanya-tanya ke semua orang?
Ada ruang besar untuk AI membantu menjawab dua pertanyaan itu. Dan seperti yang ditunjukkan DeepJudge, ketika masalah pengetahuan ini dipecahkan, produktivitas firma melonjak, kualitas layanan ke klien ikut terangkat.
Butuh diskusi lebih lanjut soal roadmap penerapan AI di firma hukum Indonesia—mulai dari analisis kontrak sampai knowledge assistant internal? Ini waktu yang tepat untuk mulai merancangnya sebelum 2026 benar-benar dikuasai firma-firma yang sudah siap secara digital.