CoCounsel Drafting: AI yang Serius untuk Drafting Kontrak

AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech••By 3L3C

CoCounsel Drafting menunjukkan bagaimana AI bisa memangkas jam kerja drafting kontrak tanpa mengorbankan kualitas, dan apa artinya bagi firma hukum Indonesia.

CoCounsel DraftingAI untuk jasa hukum Indonesialegaltechotomatisasi kontrakThomson Reuterscontract draftingin-house legal
Share:

CoCounsel Drafting: AI yang Serius untuk Drafting Kontrak

Sebagian besar firma hukum di Indonesia masih menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk markup draf kontrak di Microsoft Word. Banyak yang sudah pakai template, tetapi ujungnya tetap: revisi manual, copy-paste pasal, cek konsistensi, dan bolak-balik cari contoh klausul lama.

Di saat yang sama, di luar negeri, tool seperti CoCounsel Drafting dari Thomson Reuters mulai jadi standar kerja baru: AI yang tertanam langsung di Word, bisa mencari klausul, membandingkan kontrak, sampai otomatis bikin redline. Bukan lagi konsep masa depan—ini sudah dipakai pengacara sungguhan, di transaksi sungguhan.

Untuk seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech”, artikel ini membedah apa itu CoCounsel Drafting, bagaimana cara kerjanya, dan yang lebih penting: apa artinya untuk firma hukum dan divisi legal di Indonesia yang ingin masuk ke era AI tanpa mengorbankan kualitas analisis hukum.


Apa Itu CoCounsel Drafting dan Kenapa Penting untuk Praktik di Indonesia?

CoCounsel Drafting adalah fitur baru dari Thomson Reuters CoCounsel, asisten GenAI profesional yang dirancang khusus untuk pekerjaan hukum. Fokus utamanya: membantu pengacara menyusun, mengedit, dan meninjau dokumen kontrak langsung di Microsoft Word.

Kenapa ini relevan untuk Indonesia?

  1. Word adalah habitat asli pengacara Indonesia. Hampir semua kontrak, legal opinion, dan perjanjian kerja sama dibuat di Word. Integrasi langsung berarti hambatan adopsi jauh lebih rendah.
  2. Volume kontrak makin tinggi, tenggat makin pendek. Klien minta respon cepat, tapi standar quality control tetap tinggi. Tanpa automasi, yang dikorbankan biasanya: waktu lembur atau ketelitian.
  3. AI khusus legal jauh lebih aman dibanding AI umum. CoCounsel dibangun di atas konten tepercaya dan dirancang untuk pekerjaan hukum, bukan sekadar chatbot generik.

Tool seperti ini bukan pengganti pengacara. CoCounsel Drafting mengambil alih kerja repetitif, supaya pengacara bisa fokus di hal yang benar-benar bernilai: strategi, negosiasi, dan analisis risiko berdasarkan hukum Indonesia.


Fitur Utama CoCounsel Drafting: Apa yang Sebenarnya Bisa Dilakukan?

Jawaban pendeknya: CoCounsel Drafting meng-cover hampir seluruh siklus drafting kontrak, dari titik awal sampai review akhir.

1. Menemukan Starting Point Terbaik

CoCounsel Drafting membantu pengacara memilih draf awal yang paling relevan dari beberapa sumber:

  • Repository kontrak internal firma atau perusahaan
  • Template dari Contract Express
  • Dokumen standar dari Practical Law

Di konteks Indonesia, bayangkan divisi legal perusahaan besar punya puluhan draf perjanjian distributor, franchise, atau kerja sama investasi. Biasanya tim:

  • Cari file lama di folder Shared Drive
  • Ingat-ingat transaksi yang mirip
  • Copy-paste pasal yang dirasa cocok

Dengan AI, memilih starting point bisa lebih sistematis: cari berdasarkan jenis transaksi, profil counterparty, atau risiko tertentu. Hasilnya, konsistensi meningkat, waktu pencarian turun drastis.

2. Mencari Bahasa Klausul yang Tepat

CoCounsel Drafting memungkinkan pencarian klausul spesifik dari:

  • Kontrak-kontrak internal
  • Exhibit SEC (untuk referensi internasional)
  • Klausul terkurasi dari Practical Law

Untuk praktik Indonesia, pendekatan serupa bisa diterapkan:

  • Punya pustaka klausul internal (misal klausul indemnity, limitation of liability, force majeure, governing law, dispute resolution berbasis BANI/ARB/PN Jakarta)
  • AI membantu menemukan versi klausul yang paling sering dipakai atau yang relevan dengan tipe transaksi tertentu

Hasilnya, pengacara tidak lagi membangun klausul dari nol setiap kali, tapi memilih dan menyesuaikan versi yang sudah terbukti.

3. Menyusun dan Memodifikasi Klausul dengan Bahasa Natural

CoCounsel Drafting mendukung instruksi berbasis bahasa natural dalam Word, seperti:

  • “Perketat klausul pembatasan tanggung jawab untuk melindungi klien dari kerugian tidak langsung.”
  • “Sesuaikan klausul pembayaran agar sesuai skema milestone 30/30/40.”

AI lalu mengusulkan redaksi klausul yang lebih sesuai dengan instruksi.

Di Indonesia, ini bisa dipadukan dengan:

  • Penyesuaian ke bahasa Indonesia yang baku sesuai kaidah peraturan perundang-undangan
  • Penyesuaian ke praktik tertentu (misal proyek konstruksi, fintech, oil & gas)

Yang tetap harus dilakukan pengacara: uji kepatuhan terhadap hukum Indonesia (KUH Perdata, UU Perlindungan Konsumen, regulasi OJK, dan lain-lain). AI membantu soal struktur dan efisiensi, bukan menggantikan penilaian hukum.

4. Review Kontrak: Playbook-Based Review dan Redlining Otomatis

Bagian ini yang paling terasa efeknya di top line dan bottom line firma hukum.

CoCounsel Drafting dapat:

  • Membandingkan kontrak pihak ketiga dengan playbook kontrak (buku panduan posisi standar firma/perusahaan)
  • Menandai pasal yang hilang, menyimpang, atau berisiko
  • Menghasilkan redline otomatis berdasarkan penyimpangan terhadap playbook

Praktik di Indonesia sering kali sudah punya playbook informal:

  • “Limit of liability kita maksimal 12 bulan fee, bukan 24 bulan.”
  • “Kita tidak pernah terima uncapped indemnity.”
  • “Dispute resolution wajib arbitrase, bukan PN.”

Masalahnya, aturan ini sering hanya tersimpan di kepala partner atau di catatan pribadi senior associate. Dengan AI dan playbook tersusun rapi, standar tersebut bisa:

  • Diaplikasikan konsisten di seluruh tim
  • Dicek otomatis pada setiap kontrak pihak ketiga
  • Mengurangi risiko satu klausul berbahaya lolos ke versi final hanya karena kecepatan atau kelelahan tim

5. Menghapus Error Drafting Sehari-hari

CoCounsel Drafting juga membantu hal teknis yang selama ini menghabiskan waktu:

  • Rujukan pasal yang salah
  • Ketidakkonsistenan istilah (misal “Perusahaan” vs “Perseroan” vs “Pihak Pertama”)
  • Format yang tidak rapi
  • Kalimat berulang atau ambigu

Untuk firma yang ingin menjaga citra profesional di mata klien korporasi, konsistensi redaksi dan kerapihan dokumen bukan hal kecil. AI membuat standar ini lebih mudah dijaga bahkan ketika tim sedang di bawah tekanan tenggat akhir tahun.


Manfaat Nyata: Efisiensi Waktu, Kualitas, dan Model Bisnis Firma

Dari sisi pengguna internasional, angka yang muncul cukup jelas:

  • Managing partner Lagerlof LLP menyebut penghematan 1–2 jam per proyek hanya dari penggunaan CoCounsel Drafting.
  • In-house counsel di Systemiq menyebut waktu respons bisa turun dari 3–4 hari kerja menjadi 1–2 hari kerja.

Untuk konteks Indonesia, dampaknya bisa dilihat di tiga level:

1. Efisiensi Jam Kerja Tanpa Mengurangi Jam Tagihan (Kalau Pintar Mengatur)

Banyak partner khawatir: “Kalau pekerjaan drafting jadi lebih cepat, apa nggak turunin billable hours?” Jawabannya tergantung strategi.

Beberapa pendekatan yang masuk akal:

  • Pindah ke value-based pricing untuk jenis pekerjaan tertentu (misal paket review kontrak per tahun).
  • Gunakan efisiensi AI untuk menambah volume pekerjaan tanpa menambah headcount secara agresif.
  • Fokus jam tagihan pada bagian bernilai tinggi: negosiasi, strategi, dan konsultasi hukum mendalam.

AI bukan musuh revenue. AI musuhnya adalah jam kerja yang habis di pekerjaan yang sebenarnya bisa diotomasi.

2. Kualitas dan Konsistensi Draft Meningkat

Untuk firma yang punya beberapa kantor (Jakarta, Surabaya, Medan, Bali), tantangan besar adalah menjaga konsistensi gaya drafting dan posisi risiko.

Dengan AI yang bekerja berdasarkan:

  • Template standar
  • Playbook internal
  • Pustaka klausul terpilih

Maka associate di kantor cabang punya akses “pengalaman kolektif firma” yang sama dengan tim di HQ. Ini sangat membantu untuk mendongkrak standar kualitas regional tanpa selalu bergantung pada review detail partner pusat.

3. Pengembangan SDM: Associate Belajar Lebih Cepat

Junior lawyer yang baru masuk biasanya belajar drafting dari:

  • Copy-paste kontrak lama
  • Koreksi merah partner di print-out
  • Tugas revisi berulang sampai hafal pola

Dengan AI, pola drafting bisa terlihat lebih jelas dan bisa:

  • Memberi contoh variasi klausul untuk situasi berbeda
  • Menjelaskan pendekatan tertentu yang tertuang dalam playbook

Junior tetap harus belajar hukum materiil Indonesia, tapi kurva belajar drafting dan struktur kontrak bisa jadi jauh lebih cepat.


Tantangan Implementasi di Indonesia: Regulasi, Keamanan, dan Budaya Kerja

Adopsi AI untuk jasa hukum Indonesia tidak bisa asal “coba dulu”. Ada beberapa isu yang harus dipikirkan serius.

1. Kerahasiaan Data dan Kepatuhan

Penggunaan AI di legal harus sensitif terhadap:

  • Kerahasiaan klien dan legal privilege
  • Ketentuan perlindungan data pribadi (UU PDP dan turunannya)
  • Kebijakan internal perusahaan/firma terkait data security

Solusinya:

  • Memastikan arsitektur AI tidak menggunakan data klien untuk melatih model publik.
  • Mengatur access control yang jelas untuk repository kontrak.
  • Menetapkan kebijakan tertulis: jenis data apa yang boleh dan tidak boleh diunggah ke sistem AI.

2. Kesesuaian dengan Hukum Indonesia

CoCounsel Drafting saat ini banyak bertumpu pada Practical Law dan referensi common law (AS/UK). Untuk Indonesia, pendekatannya harus cermat:

  • AI sebagai asisten drafting, bukan sumber kebenaran hukum Indonesia.
  • Pengacara tetap wajib menguji:
    • Kepatuhan ke UU dan peraturan Indonesia
    • Persyaratan formal (misal perjanjian tertentu wajib akta notaris, PPAT, atau perlu persetujuan regulator)

Praktik yang sehat:

Gunakan AI untuk struktur dan efisiensi teknis, gunakan otak pengacara untuk substansi dan kepatuhan hukum.

3. Resistensi Budaya dan Pola Pikir

Sebagian pengacara senior memang skeptis terhadap AI. Biasanya karena tiga hal:

  • Takut akurasinya tidak bisa dipercaya
  • Takut model bisnis berbasis jam tagihan terganggu
  • Takut junior kehilangan kesempatan belajar dari manual work

Pengalaman saya melihat adopsi teknologi di firma: yang berhasil biasanya:

  • Memulai dari pilot kecil (misal hanya untuk jenis kontrak tertentu)
  • Menetapkan standar quality control yang jelas
  • Menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan bos baru

Begitu tim mulai melihat sendiri penghematan waktu (bahkan hanya 20–30%), resistensi biasanya turun drastis.


Langkah Praktis untuk Firma Hukum dan In-House Legal Indonesia

Untuk pembaca seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech” yang ingin mulai serius di area drafting kontrak berbasis AI, pola umumnya bisa seperti ini.

1. Audit Cara Kerja Drafting Saat Ini

Mulai dari hal konkret:

  • Berapa jam rata-rata yang dihabiskan untuk satu kontrak standar?
  • Bagian mana yang paling repetitif? (misal: cek definisi, cek referensi pasal, clean up format)
  • Di mana sumber error paling sering terjadi?

Data ini akan jadi dasar mengukur ROI ketika tool seperti CoCounsel Drafting diimplementasikan.

2. Bangun Fondasi: Template, Klausul, dan Playbook Internal

AI sekuat apa pun tetap butuh konten internal yang rapi.

Langkah realistis:

  • Standarkan 3–5 jenis kontrak utama (misal: jasa, sewa, kerja sama distribusi, NDA, employment)
  • Susun playbook posisi standar (klausul yang non-negotiable, area kompromi, rentang toleransi)
  • Kumpulkan klausul-klausul yang pernah dianggap “sudah pas” oleh partner

Saat nanti mengadopsi CoCounsel Drafting atau tool serupa, AI bisa bekerja di atas fondasi ini.

3. Mulai dengan Pilot Kecil dan Use Case Jelas

Daripada langsung mengubah seluruh cara kerja firma, lebih sehat jika:

  • Mulai dari satu jenis kontrak dengan volume tinggi
  • Bentuk tim kecil: 1 partner, 1–2 senior, 1–2 junior, dan 1 orang IT/ops
  • Ukur: waktu drafting sebelum dan sesudah, dan tingkat error

Dari sini, keputusan ekspansi ke jenis kontrak lain akan jauh lebih rasional.

4. Susun Kebijakan Internal Pemakaian AI

Minimal:

  • Batasan jenis dokumen yang boleh diolah AI
  • Prosedur review manusia wajib sebelum dokumen dikirim ke klien
  • Ketentuan logging dan audit pemakaian AI

Langkah ini akan banyak membantu saat suatu saat regulator, klien korporasi, atau auditor menanyakan bagaimana firma mengendalikan risiko AI.


Penutup: Masa Depan Drafting Kontrak di Indonesia Akan Menjadi Hybrid

CoCounsel Drafting menunjukkan satu hal penting: drafting kontrak profesional di era sekarang hampir pasti akan menjadi kombinasi antara AI dan pengacara manusia.

Bagi firma hukum dan divisi legal di Indonesia, pertanyaan utamanya bukan lagi “perlu pakai AI atau tidak?”, tetapi:

  • Seberapa cepat ingin mengurangi waktu kerja repetitif?
  • Seberapa serius ingin menaikkan standar kualitas dan konsistensi?
  • Seberapa siap mengubah model kerja dari manual ke berbasis playbook dan automasi?

Seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech” akan terus mengulas contoh konkret seperti CoCounsel Drafting ini supaya pengacara Indonesia tidak hanya jadi penonton, tapi ikut membentuk praktik hukum era AI.

Kalau tim Anda saat ini sedang dibanjiri kontrak akhir tahun, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai bertanya: bagian mana dari proses drafting yang harus tetap dikerjakan manusia, dan bagian mana yang sudah layak dialihkan ke AI?