AI Kontrak di Word: CoCounsel & Masa Depan Firma Hukum

AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTechBy 3L3C

AI kontrak seperti CoCounsel Drafting menunjukkan masa depan penyusunan kontrak di Word: lebih cepat, lebih rapi, dan tetap di bawah kendali lawyer Indonesia.

LegalTechAI untuk jasa hukumkontrak digitalCoCounselMicrosoft Wordotomatisasi kontrak
Share:

AI Kontrak di Word: CoCounsel & Masa Depan Firma Hukum

Di banyak firma hukum besar dunia, pekerjaan menyusun dan mereview kontrak sudah mulai dipotong 1–2 jam per dokumen hanya dengan bantuan AI. Bukan karena lawyer-nya kurang teliti, tapi karena mereka berhenti mengerjakan hal yang sebenarnya bisa dikerjakan mesin: mengulang-ulang template, mengecek deviasi, menghapus typo, dan memperbaiki struktur kalimat.

Seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech” kali ini membahas salah satu contoh nyata yang lagi ramai di dunia legal global: CoCounsel Drafting dari Thomson Reuters. Bukan untuk promosi produk, tapi untuk menunjukkan seperti apa masa depan penyusunan kontrak dengan AI, dan apa artinya untuk firma hukum dan legal in-house di Indonesia.

Buat konteks: CoCounsel Drafting adalah fitur baru dari CoCounsel, asisten GenAI profesional milik Thomson Reuters, yang terintegrasi langsung di Microsoft Word. Lawyer tetap bekerja di Word seperti biasa, tapi di dalamnya ada “co-counsel digital” yang membantu mencari clause terbaik, membandingkan kontrak, dan mengoreksi draft.

Artikel ini membahas:

  • bagaimana AI seperti CoCounsel mengubah cara penyusunan kontrak,
  • apa saja fitur kunci yang sebenarnya relevan untuk praktik di Indonesia,
  • risiko dan batasannya,
  • dan bagaimana firma hukum lokal bisa mulai bergerak ke arah yang sama, step by step.

1. Mengapa Penyusunan Kontrak Harus Mulai Dibantu AI

Penyusunan kontrak adalah salah satu aktivitas paling boros waktu di dunia hukum. Banyak lawyer di Indonesia menghabiskan 40–60% waktunya di Word: mengedit, meng-copy-paste, menggabungkan clause dari dokumen lama, dan cek ulang format.

Masalahnya:

  • pekerjaan ini tinggi waktu, rendah nilai tambah;
  • risiko human error selalu ada, bahkan pada partner berpengalaman;
  • klien makin menekan turnaround time dan fee.

Di level global, Thomson Reuters mencatat dari pengalaman user beta mereka, waktu drafting bisa dipotong drastis, misalnya:

  • satu managing partner di AS menyebut hemat 1–2 jam per proyek;
  • in-house counsel lain menyebut waktu respons bisa turun dari 3–4 hari kerja menjadi 1–2 hari.

Ini penting untuk Indonesia karena pola kerjanya mirip:

  • mayoritas firma hukum tetap hidup di ekosistem Microsoft Word;
  • kontrak berbahasa Indonesia sering kali memakai kombinasi clause dari banyak file lama;
  • tekanan untuk kerja cepat tinggi, apalagi di akhir tahun seperti Desember sekarang, ketika pipeline transaksi dan perpanjangan kontrak menumpuk.

Jadi pertanyaannya bukan lagi “apakah AI akan masuk ke penyusunan kontrak?”, tapi seberapa cepat firma hukum Indonesia mau menyiapkan diri.


2. Apa Itu CoCounsel Drafting dan Mengapa Penting

Secara singkat, CoCounsel Drafting adalah fitur AI untuk penyusunan dan review kontrak yang hidup di dalam Microsoft Word. Lawyer tidak perlu pindah aplikasi, tidak perlu meng-upload dokumen ke situs aneh, dan tidak perlu scripting.

Beberapa kemampuan utamanya:

  1. Menemukan titik awal terbaik (best starting point)
    AI bisa mencari:

    • template internal firma;
    • dokumen standar dari Practical Law;
    • atau kombinasi keduanya.
  2. Mencari bahasa klausul yang spesifik
    Lawyer bisa meminta clause tertentu, misalnya:

    • klausul ganti rugi dengan batasan liability;
    • klausul force majeure dengan detail tertentu;
    • atau merujuk pada library clause internal.
  3. Mendraft dan memodifikasi klausul dengan bahasa natural
    Lawyer cukup mengetik instruksi:

    • “Perhalus klausul ini untuk transaksi joint venture, tapi pertahankan posisi klien kami soal hak veto.”
  4. Mereview kontrak terhadap playbook
    AI membandingkan kontrak pihak lawan dengan playbook kontrak:

    • mendeteksi klausul yang hilang;
    • menandai deviasi dari standar;
    • mengusulkan redline otomatis.
  5. Mengurangi kesalahan drafting
    AI membantu mendeteksi:

    • referensi pasal yang salah;
    • istilah yang tidak konsisten;
    • typo dan struktur kalimat yang membingungkan.

Secara arsitektur, kekuatan CoCounsel ada pada kombinasi:

  • GenAI (untuk memahami perintah bahasa natural dan menghasilkan teks);
  • konten terstruktur yang tepercaya (Practical Law, template, playbook);
  • integrasi langsung dengan Word.

Ini blueprint yang sangat relevan untuk pengembangan LegalTech kontrak berbahasa Indonesia: AI + data legal yang terstruktur + hidup di tools yang sudah dipakai (Word).


3. Penerapan untuk Kontrak di Indonesia: Dari NDA sampai PJBTL

Bagian menariknya: konsep CoCounsel Drafting sangat mudah dibayangkan dipakai untuk pasar Indonesia, walaupun produknya sendiri belum resmi dirilis di sini.

3.1. Use case untuk firma hukum komersial

Bayangkan sebuah firma di Jakarta yang rutin menangani:

  • NDA bilingual (Indonesia–Inggris),
  • perjanjian sewa kantor,
  • perjanjian kerja sama distribusi,
  • financing agreement,
  • dan dokumen proyek infrastruktur (EPC, O&M, dll).

Alur yang bisa di-AI-kan:

  1. Penyusunan draft pertama

    • Lawyer memilih template NDA standar firma;
    • AI menyesuaikan party, governing law (hukum Indonesia), venue arbitrase, dan lingkup kerahasiaan;
    • sistem langsung menghasilkan draft bilingual berdasarkan preferensi standar firma.
  2. Penyesuaian khusus klien
    Lawyer bisa minta:

    • “Tingkatkan proteksi untuk penerima informasi, karena posisi tawar dia kuat;”
    • atau “Sesuaikan limitation of liability dengan kebijakan klien X yang limit-nya 100% dari nilai kontrak dalam 12 bulan terakhir.”
  3. Review draft lawan

    • Kontrak dari pihak lawan dibandingkan dengan playbook internal;
    • AI menandai: “batasan liability di sini melampaui standar firma; biasanya maksimum 100%, di sini ‘without limitation’.”

Hasilnya: lawyer tetap mengambil keputusan strategis, tapi pekerjaan manual yang repetitif diambil alih mesin.

3.2. Use case untuk legal in-house

Untuk legal in-house di perusahaan Indonesia, urgensinya bahkan lebih tinggi. Mereka sering kewalahan:

  • volume kontrak besar (vendor, customer, HR);
  • tim legal kecil;
  • tuntutan unit bisnis untuk SLA cepat.

Dengan pola seperti CoCounsel Drafting, in-house bisa:

  • Membuat playbook kontrak
    Misalnya untuk kontrak pemasok:

    • klausul yang boleh dinegosiasikan;
    • klausul yang “merah” (tidak boleh diubah tanpa persetujuan Head of Legal);
    • opsi fallback yang dapat diterima.
  • Membiarkan AI melakukan pre-review
    Kontrak masuk di-scan dulu oleh AI;

    • hasil output: ringkasan risiko, deviasi dari standar, poin yang perlu escalated;
    • legal hanya fokus pada 20–30% kontrak yang bermasalah.

Di akhir tahun seperti sekarang (Desember), saat banyak kontrak diperpanjang atau dinegosiasi ulang, pendekatan ini bisa membedakan tim yang burnout dan tim yang tetap produktif.


4. Integrasi di Microsoft Word: Kunci Adopsi di Indonesia

Hal paling cerdas dari CoCounsel Drafting menurut saya bukan hanya AI-nya, tapi di mana AI itu ditempatkan: langsung di Microsoft Word.

Realitas di Indonesia:

  • hampir semua firma hukum dan legal corporate hidup di Word dan Excel;
  • adopsi aplikasi baru sering terhambat faktor change management;
  • training yang terlalu teknis biasanya gagal, apalagi untuk partner senior.

Integrasi AI di Word membuat beberapa hal jadi jauh lebih mudah:

  1. Kurva belajar rendah
    Lawyer tidak merasa sedang belajar software baru; mereka hanya melihat panel tambahan di Word.

  2. Workflow tidak terpecah
    Tidak perlu copy-paste ke platform lain, tidak perlu bolak-balik browser.

  3. Keamanan lebih terkendali
    Secara konsep, integrasi enterprise bisa diatur agar dokumen tidak sembarangan keluar dari ekosistem organisasi.

Untuk pengembangan LegalTech Indonesia, pelajarannya jelas: kalau ingin AI dipakai sungguh-sungguh oleh lawyer, taruh di tempat mereka sudah menghabiskan waktu setiap hari.


5. Risiko, Batasan, dan Cara Menggunakannya dengan Aman

AI untuk kontrak bukan tanpa risiko. Justru di bidang hukum, standar kehati-hatiannya harus ekstra tinggi.

Beberapa hal yang perlu dipahami:

5.1. AI bukan pengganti judgment hukum

CoCounsel dan tool sejenis bisa:

  • memotong waktu drafting,
  • mengurangi typo dan inkonsistensi,
  • mempercepat analisis deviasi.

Tapi AI tidak menggantikan:

  • interpretasi hukum berdasarkan UU dan yurisprudensi;
  • penilaian strategi negosiasi;
  • pemahaman konteks bisnis klien.

Posisi yang sehat: anggap AI sebagai junior associate super cepat yang butuh disupervisi, bukan sebagai partner.

5.2. Isu kerahasiaan dan data

Untuk pasar Indonesia, ada beberapa pertanyaan praktis:

  • di mana data kontrak disimpan?
  • apakah konten dipakai untuk melatih model umum?
  • bagaimana kepatuhan terhadap ketentuan kerahasiaan (NDA, rahasia dagang, kerahasiaan nasabah)?

Solusi enterprise yang serius biasanya menawarkan:

  • isolasi data klien;
  • kontrol akses yang jelas;
  • opsi on-premise atau region tertentu.

Bagi firma hukum yang mulai mengadopsi AI, perlu jelas SOP:

  • dokumen mana yang boleh diolah AI,
  • lingkungan mana yang approved (bukan sekadar tool publik gratisan),
  • siapa yang bertanggung jawab review akhir.

5.3. Kualitas data sumber

AI drafting hanya akan sebaik data dan template yang dipakainya. Kalau:

  • template internal firma berantakan,
  • clause standar tidak pernah diperbarui,
  • playbook tidak ada,

maka output AI tidak akan konsisten. Justru sebelum masuk AI, banyak organisasi perlu merapikan aset kontrak mereka dulu.


6. Langkah Praktis untuk Firma Hukum Indonesia di 2025

Mungkin CoCounsel Drafting belum tersedia resmi untuk Indonesia hari ini, tapi arah industrinya sudah sangat jelas. Firma yang mulai bergerak dari sekarang akan punya keunggulan 1–2 tahun di depan.

Beberapa langkah praktis yang realistis:

  1. Audit waktu dan jenis kontrak

    • Berapa jam per bulan dihabiskan untuk drafting & review?
    • Jenis kontrak apa yang paling sering dibuat (NDA, vendor, employment, JV)?
  2. Bangun atau perbarui playbook kontrak

    • Standarkan clause kunci (liability, indemnity, dispute resolution, force majeure);
    • bedakan level: boleh dinego, hati-hati, tidak boleh diubah.
  3. Rapikan repository kontrak dan template

    • Simpan kontrak di satu sistem terstruktur, minimal folder yang rapi;
    • tandai kontrak yang “terbaik” sebagai referensi.
  4. Mulai eksperimen dengan AI internal

    • Bisa dimulai dari tool AI text yang sudah ada, dengan tetap menjaga kerahasiaan;
    • uji di dokumen dummy atau yang sudah tidak rahasia.
  5. Bangun budaya kerja yang nyaman dengan AI

    • jadikan AI bagian dari standar kerja: drafting pertama boleh dari AI, tapi wajib direview lawyer;
    • ukur dampaknya: berapa jam yang benar-benar bisa dihemat.

Dalam seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech”, pola yang sama akan muncul di area lain: riset hukum, prediksi perkara, manajemen dokumen, sampai billing. CoCounsel Drafting hanyalah satu contoh konkret di area kontrak yang menunjukkan arah industri: AI + konten tepercaya + integrasi ke workflow sehari-hari.


Penutup: Masa Depan Kontrak Indonesia Ada di Antara Word dan AI

Realitasnya, Microsoft Word belum akan tergantikan dari meja lawyer Indonesia dalam waktu dekat. Tapi cara kita bekerja di Word akan berubah total. CoCounsel Drafting menunjukkan bahwa:

  • AI bisa menghemat jam kerja tanpa mengorbankan kualitas;
  • integrasi dengan data hukum terstruktur membuat hasilnya jauh lebih dapat diandalkan;
  • dan yang paling penting, lawyer tetap memegang kendali atas judgment hukum.

Kalau Anda mengelola firma hukum atau tim legal di Indonesia, pertanyaan strategis untuk 2025 bukan lagi “perlu AI atau tidak?”, tapi “kontrak mana yang paling masuk akal untuk diotomatisasi dulu, dan data apa yang harus disiapkan?”

Begitu fondasi itu siap, memakai AI untuk kontrak bukan lagi hal menakutkan. Justru akan terasa aneh kalau masih mengerjakan semua hal manual, baris demi baris, di layar Word yang sama.