Agentic AI mengubah cara firma hukum Indonesia melakukan riset, analisis kontrak, dan strategi perkara—bukan sekadar lebih cepat, tapi lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Agentic AI: Dari Jawaban Cepat ke Cara Berpikir Hukum Baru
Sebagian besar firma hukum di Indonesia masih mengukur teknologi dari seberapa cepat bisa menemukan pasal atau putusan. Sementara itu, di Amerika, pengadilan federal dan puluhan ribu firma sudah mulai mengandalkan agentic AI untuk menyusun strategi, menganalisis risiko, sampai memverifikasi riset hukum mereka.
Ini penting untuk pasar Indonesia karena klien sudah membandingkan layanan hukum dengan standar digital industri lain: cepat, transparan, dan bisa dijelaskan. Bukan lagi sekadar "bisa", tapi bisa dan bisa dipertanggungjawabkan.
Tulisan ini bagian dari seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech” dan fokus pada satu tema: bagaimana agentic AI mengubah praktik hukum – dan apa artinya untuk firma hukum Indonesia yang ingin tetap relevan 3–5 tahun ke depan.
Apa Itu Agentic AI dalam Konteks Praktik Hukum?
Agentic AI di jasa hukum bukan sekadar chatbot yang menjawab pertanyaan. Agentic AI adalah sistem yang bisa merencanakan, mengeksekusi, dan mengecek pekerjaannya sendiri berdasarkan konteks hukum yang tepat.
Perbedaannya dengan AI generatif “biasa” yang sekadar membuat teks:
- AI generatif: memberi jawaban sekali jadi, sering tanpa rencana kerja yang jelas.
- Agentic AI: menyusun rencana, memecah tugas menjadi beberapa langkah, memakai berbagai sumber data dan alat, lalu menyajikan jawaban + jalur logika + bukti pendukung.
Dalam praktik hukum, satu agentic AI yang baik minimal bisa:
- Menyusun rencana riset hukum (apa yang akan dicari dan kenapa).
- Membaca putusan, peraturan, dan dokumen internal kantor secara terstruktur.
- Menyusun laporan dengan sitasi jelas dan alasan hukum yang eksplisit.
- Meminta agent lain (multi-agent) untuk cross-check dan mencari celah argumen.
Jadi fokusnya bukan hanya “menemukan jawaban”, tapi “membangun argumen yang bisa dipertanggungjawabkan”.
Dari Riset ke Reasoning: Apa yang Sebenarnya Berubah?
Transformasi terbesar dari agentic AI adalah pergeseran dari riset ke reasoning.
Kalau sebelumnya:
- Junior associate menghabiskan waktu berjam-jam mencari putusan MA dan regulasi.
- Partner hanya melihat ringkasan akhir dan kadang tidak tahu mengapa referensi itu dipilih.
Dengan agentic AI yang terintegrasi di sistem firma hukum:
-
AI menyusun rencana riset lebih dulu
Misalnya Anda tanya: “Apa risiko jika klien kami memutus sepihak kontrak distribusi dengan skema eksklusif?”
Agentic AI akan menjelaskan dulu: ia akan mencari:- Pasal relevan di KUHPerdata dan UU terkait
- Putusan MA/PN yang mirip
- Doktrin/komentar ahli (jika tersedia dalam basis data kantor)
-
AI menjalankan beberapa langkah riset otomatis
- Mengambil pasal spesifik dan menandai frasa kunci
- Mencari putusan dengan pola fakta serupa
- Membandingkan beberapa putusan untuk melihat tren putusan hakim
-
AI menyusun laporan terstruktur
Berisi:- Ringkasan isu hukum utama
- Analisis penerapan hukum ke fakta klien
- Potensi kontra-argumen lawan
- List lengkap referensi (pasal, nomor perkara, kutipan relevan)
-
AI lain memeriksa hasil (multi-agent check)
Satu agent fokus cek konsistensi, yang lain cek sitasi, yang lain lagi mencari “argumen yang hilang”.
Hasil akhirnya bukan hanya “jawaban panjang” tapi sebuah produk kerja yang siap menjadi dasar memo hukum atau pendapat hukum, lengkap dengan jejak audit.
Kenapa Trust dan Konteks Jadi Kunci di Dunia Hukum
Di dunia hukum, satu sitasi palsu bisa menghancurkan reputasi firma. Itu sebabnya agentic AI yang serius selalu dibangun di atas dua hal: data tepercaya dan verifikasi bawaan.
1. Data yang Tepercaya, Bukan Asal Scraping
Untuk pasar Indonesia, ini berarti:
- Menggunakan basis data putusan pengadilan yang sudah dibersihkan dan terstruktur (bukan PDF mentah tanpa metadata yang jelas).
- Menghubungkan ke regulasi resmi (UU, PP, Permen, Perda, dll) dengan versi dan status yang jelas (berlaku/diubah/dicabut).
- Menambahkan dokumen internal firma: template kontrak, opini, memo riset, standar klausul, playbook negosiasi.
AI yang hanya “mengira-ngira” dari internet tanpa sumber jelas akan berbahaya untuk praktik hukum profesional. Agentic AI yang layak dipakai di firma harus bisa menyebutkan, bukan hanya menyarankan.
2. Verifikasi Bawaan, Bukan Tambahan Manual
Sistem agentic AI modern memungkinkan:
- Traceability penuh: setiap kesimpulan bisa dilacak ke paragraf tertentu dalam putusan atau pasal tertentu dalam regulasi.
- Audit trail: siapa menanyakan apa, hasil apa yang keluar, sumber apa yang dipakai.
- Review cepat: lawyer cukup klik referensi untuk cek isi, bukan mencari manual satu per satu.
Pendekatan ini mirip komentar Colleen Nihill (Chief AI & KM Officer, Morgan Lewis) tentang produk agentic AI di AS: yang membuat mereka percaya adalah kemampuan AI menjelaskan rencana, menjelaskan logika, dan menunjukkan sumber.
Untuk konteks Indonesia, prinsipnya sama: jika tidak bisa dengan mudah diverifikasi, jangan dipakai di perkara serius.
Contoh Penerapan Agentic AI di Firma Hukum Indonesia
Cara paling realistis untuk melihat manfaat agentic AI adalah melalui skenario kerja sehari-hari di firma hukum Indonesia.
1. Litigasi: Dari Bantex Tebal ke Strategi Terukur
Bayangkan tim litigasi menangani sengketa komersial dengan bundel dokumen yang bisa mengisi dua koper.
Agentic AI yang terintegrasi bisa:
- Membaca seluruh dokumen (kontrak, korespondensi, notulen, bukti transfer).
- Menandai fakta penting (tanggal, nilai, pihak, peristiwa kunci).
- Menghubungkan fakta ke isu hukum (wanprestasi, PMH, klausul penalty, klausul arbitrase).
- Mencarikan putusan pengadilan Indonesia dengan fakta mirip.
- Menyajikan peta argumen: strength klien, potensi serangan lawan, dan risiko putusan.
Hasilnya:
- Partner bisa memutus strategi lebih cepat.
- Junior tidak tenggelam di kerja sisip-paste, tapi mengasah penilaian hukum.
- Klien bisa melihat logika dan dasar analisis, bukan hanya “feeling” lawyer.
2. Transaksi: Review Kontrak yang Konsisten dan Terukur
Di praktik komersial, agentic AI bisa membantu:
- Contract review massal misalnya untuk M&A, leasing, franchise.
- Menandai klausul berbahaya: pembatasan tanggung jawab, eksklusivitas, change of control, penalty yang berlebihan.
- Membandingkan kontrak target dengan playbook firma: standar posisi negosiasi, red flag, dan fallback clause.
Bukan hanya “highlight” risiko, tetapi menjelaskan kenapa satu klausul berbahaya dalam konteks hukum Indonesia dan bagaimana praktik pengadilan menyikapinya (jika datanya tersedia).
3. Manajemen Pengetahuan: Know-how Firma Menjadi Aset Nyata
Selama ini, pengetahuan terbaik sering hanya ada di kepala beberapa partner senior.
Dengan agentic AI yang terhubung ke:
- Bank template
- Bank memo riset lama
- Checklist DD
- Standard clause library
Firma bisa mengubah semua itu menjadi basis pengetahuan hidup yang bisa diakses associate mana pun, kapan saja.
Agentic AI tidak hanya mencari dokumen lama, tapi juga:
- Menyimpulkan pola: misalnya bagaimana firma biasanya menangani klausul governing law untuk transaksi lintas negara.
- Menyarankan formulasi yang konsisten dengan gaya dan standar risiko firma.
Ini bukan sekadar “penyimpanan dokumen”, tapi digitalisasi intuisi firma.
Langkah Praktis Memulai Agentic AI di Firma Hukum Indonesia
Banyak firma takut memulai karena membayangkan proyek besar dan mahal. Padahal, pendekatan yang lebih realistis adalah mulai kecil, tapi benar.
Berikut pendekatan yang cukup aman dan praktis:
1. Pilih 1–2 Use Case Prioritas
Contoh yang biasanya paling berdampak di Indonesia:
- Riset hukum untuk litigasi komersial / kepailitan
- Review kontrak standar (sewa, distribusi, jasa, vendor)
- Pembuatan ringkasan putusan dan regulasi baru
Fokus di satu dulu, ukur manfaatnya, baru diperluas.
2. Rapikan Data Internal Minimal untuk Satu Use Case
- Kumpulkan semua template/memo lama terkait area tersebut.
- Rapikan folder dan beri nama file yang konsisten.
- Tandai mana yang “gold standard” (dokumen yang paling ingin Anda tiru kualitasnya).
Agentic AI hanya sebaik data yang Anda berikan. Kalau input berantakan, output akan ikut berantakan.
3. Tetapkan Aturan Main Penggunaan AI
Hal yang perlu jelas sejak awal:
- Jenis pekerjaan apa yang boleh memakai AI dan mana yang tidak.
- Tingkat review manusia yang wajib dilakukan sebelum hasil dipakai ke klien atau pengadilan.
- Kebijakan kerahasiaan data: data apa yang boleh/ tidak boleh keluar dari lingkungan firma.
Tanpa ini, Anda akan berakhir dengan percobaan ad-hoc yang sulit diulang dan sulit diukur.
4. Latih Tim: Dari "Memakai AI" ke "Mengarahkan AI"
Junior lawyer masa depan tidak diukur dari seberapa cepat mereka mengetik, tapi seberapa baik mereka mengarahkan agentic AI dan mengkritisi hasilnya.
Hal yang perlu dilatih:
- Cara menyusun prompt yang jelas dan terstruktur.
- Cara mengecek dan menguji argumen yang dibuat AI.
- Cara menggabungkan hasil AI dengan intuisi dan pengalaman hukum manusia.
Saya pribadi percaya: ini justru menjadikan masa junior lebih menarik, karena mereka lebih cepat masuk ke level argumentasi, bukan hanya kerja mekanis.
Mengapa Firma yang Kolaboratif dengan AI Akan Menang
Agentic AI tidak akan menggantikan advokat. Tapi advokat dan firma yang bisa berkolaborasi efektif dengan AI akan terlihat jauh lebih unggul di mata klien.
Beberapa keunggulan kompetitif yang akan terasa di Indonesia:
- Kecepatan dengan bukti: bisa menjawab lebih cepat, sambil menunjukkan jalur logikanya.
- Konsistensi kualitas: standar analisis yang sama, meski dikerjakan oleh tim berbeda.
- Transparansi ke klien: klien bisa melihat mengapa sebuah rekomendasi diberikan, bukan sekadar menerima kesimpulan.
Dalam jangka menengah, saya cukup yakin pasar akan bergeser:
Klien korporasi besar akan bertanya, “Bagaimana firma Anda menggunakan AI untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi layanan?”
Firma yang tidak punya jawaban konkret akan tertinggal.
Untuk Anda yang mengikuti seri “AI untuk Jasa Hukum Indonesia: LegalTech”, agentic AI adalah kelanjutan alami dari analisis kontrak berbasis AI, riset hukum otomatis, dan manajemen pengetahuan digital yang sudah kita bahas. Bedanya, di sini AI bukan hanya alat, tapi mitra berpikir.
Kalau firma Anda ingin mulai, pertanyaan paling sederhana yang bisa diajukan hari ini:
“Pekerjaan hukum apa yang paling sering diulang, paling makan waktu, tapi paling mudah diukur hasilnya?”
Di situlah biasanya agentic AI pertama Anda sebaiknya lahir.