Rombak manajemen Telkom kirim sinyal kuat: infrastruktur dan tata kelola untuk AI, digital banking, dan jasa akuntansi berbasis data di Indonesia sedang naik kelas.

Telkom Rombak Manajemen, Sinyal Serius ke Ekosistem AI & Digital Banking
Tanggal 12/12/2025, Telkom resmi mengangkat Budi Satria Dharma Purba sebagai Direktur Wholesale & International Service dan Rofikoh Rokhim sebagai Komisaris Independen. Buat banyak orang, ini sekadar berita korporasi. Buat pelaku perbankan digital, akuntan publik, hingga startup fintech, ini alarm keras: infrastruktur digital Indonesia sedang dipersiapkan untuk lompatan berikutnya – termasuk di AI perbankan dan keuangan digital.
Artikel ini membahas kenapa perubahan di Telkom penting untuk:
- masa depan digital banking dan AI di industri perbankan,
- peluang kolaborasi bank–telco,
- dan dampaknya ke jasa akuntansi dan keuangan digital di Indonesia.
1. Apa Makna Rombak Direksi & Komisaris Telkom Bagi Ekosistem Digital?
Perombakan manajemen di Telkom bukan sekadar rotasi jabatan BUMN. Jajaran barunya cukup jelas menggambarkan fokus: penguatan bisnis internasional, wholesale, dan tata kelola yang prudent.
Dua figur kunci yang baru masuk:
- Budi Satria Dharma Purba – kini Direktur Wholesale & International Service, sebelumnya CEO Telin (anak usaha Telkom untuk bisnis internasional). Pengalaman >15 tahun di telekomunikasi dan bisnis internasional.
- Rofikoh Rokhim – Komisaris Independen, akademisi dan ekonom dengan rekam jejak kuat di tata kelola dan pernah menjadi komisaris di Bank BRI.
Kenapa dua profil ini relevan untuk dunia perbankan dan keuangan digital?
- Wholesale & international service adalah tulang punggung konektivitas data lintas negara yang dibutuhkan digital banking, cross-border payment, hingga cloud AI.
- Komisaris berlatar ekonomi & tata kelola bank cenderung mendorong pengembangan bisnis digital yang agresif tapi tetap dalam koridor manajemen risiko dan prinsip keberlanjutan.
Pergeseran manajemen seperti ini biasanya jadi sinyal kuat: perusahaan sedang menyiapkan ekspansi layanan digital yang makin kompleks, termasuk infrastruktur untuk AI dan layanan keuangan berbasis data.
2. Telkom, Infrastruktur Data, dan Masa Depan AI Perbankan
AI dalam industri perbankan – mulai dari credit scoring, fraud detection, sampai chatbot – butuh tiga hal: data masif, konektivitas stabil, dan komputasi kuat. Ketiganya sangat terkait dengan peran Telkom.
2.1. Peran Telkom di Balik Layar Digital Banking
Di balik aplikasi bank digital yang halus, ada lapisan infrastruktur yang jarang dibahas di media marketing bank:
- Jaringan fiber dan mobile yang memastikan transaksi real-time.
- Data center dan cloud tempat core banking, sistem analitik, dan model AI berjalan.
- Konektivitas internasional untuk remittance, cross-border payment, dan integrasi dengan fintech global.
Sebagai pemain besar telekomunikasi dan data center, Telkom berada di posisi strategis untuk:
- Menyediakan jalur data prioritas dan aman bagi bank dan fintech.
- Menawarkan layanan cloud lokal untuk menyimpan data keuangan di wilayah yurisdiksi Indonesia (isu krusial untuk kepatuhan regulasi).
- Menjadi partner teknologi AI bersama bank, bukan sekadar vendor jaringan.
2.2. Mengapa Direktur Wholesale & International Service Penting?
Dengan Budi Satria – yang berpengalaman di Telin dan bisnis internasional – kursi Direktur Wholesale & International Service berpotensi mendorong:
- Perluasan kapasitas internasional: bandwidth dan konektivitas ke data center global tempat banyak layanan AI kelas dunia beroperasi.
- Kerja sama B2B yang lebih agresif dengan bank, asuransi, dan kantor akuntan besar yang mulai mengadopsi AI untuk analitik keuangan.
- Integrasi infrastruktur AI lintas negara, misalnya untuk:
- trade finance berbasis data,
- analisis risiko portofolio lintas pasar,
- dan layanan treasury canggih.
Di level praktik, ini berarti:
Bank digital, fintech lending, sampai kantor akuntan yang ingin pakai AI untuk analitik laporan keuangan klien akan lebih mudah mendapat akses ke infrastruktur yang andal – baik untuk menyimpan, memproses, maupun mengamankan data.
3. Tata Kelola, Risiko, dan AI: Peran Penting Komisaris Independen
AI di perbankan dan keuangan digital itu sensitif: menyentuh data nasabah, skor kredit, profil risiko, hingga kepatuhan pajak. Salah desain tata kelola, dampaknya bisa serius: kebocoran data, bias algoritma, sampai sanksi regulator.
Masuknya Rofikoh Rokhim sebagai Komisaris Independen Telkom menarik karena:
- beliau berlatar ekonomi dan administrasi publik,
- punya pengalaman pengawasan di BRI,
- dan dikenal vokal soal good corporate governance (GCG) dan manajemen risiko yang prudent.
3.1. Kenapa Ini Relevan untuk AI di Sektor Keuangan?
Dalam adopsi AI di perbankan dan jasa akuntansi, isu yang paling sering muncul:
- Apakah model AI transparan dan bisa diaudit?
- Bagaimana manajemen risiko terkait keputusan otomatis (misalnya dalam persetujuan kredit)?
- Bagaimana perlindungan data nasabah ketika data diproses di cloud Telkom atau mitra lain?
Komisaris independen dengan mindset tata kelola kuat biasanya akan mendorong:
- Kebijakan data dan AI yang jelas: siapa boleh mengakses apa, di mana disimpan, berapa lama.
- Audit berkala atas sistem penting, termasuk sistem berbasis AI untuk fraud monitoring atau anomaly detection transaksi.
- Kolaborasi erat dengan regulator (OJK, BI, DJP) agar inovasi AI tetap patuh aturan.
Ini kabar baik buat bank, multifinance, dan kantor akuntan yang ingin mengadopsi AI tapi khawatir risiko kepatuhan.
Semakin kuat tata kelola di penyedia infrastruktur seperti Telkom, semakin tenang bank dan akuntan saat memindahkan proses keuangan dan pelaporan mereka ke sistem digital dan AI.
4. Peluang Kolaborasi Telkom–Bank di Era AI dan Keuangan Digital
Kalau ditarik ke konteks AI untuk jasa akuntansi dan keuangan digital, kombinasi Telkom + perbankan + kantor akuntan sebenarnya bisa sangat kuat.
4.1. Contoh Skema Kolaborasi Nyata
Beberapa skenario yang sangat mungkin terjadi beberapa tahun ke depan:
-
Platform pembukuan & akuntansi berbasis AI di atas cloud Telkom
- UMKM menggunakan aplikasi pembukuan otomatis.
- Data transaksi mengalir lewat jaringan Telkom, diproses AI untuk:
- klasifikasi akun,
- rekonsiliasi otomatis,
- dan pembuatan laporan keuangan.
- Bank memanfaatkan data terstruktur ini untuk credit scoring UMKM dengan biaya lebih rendah.
-
Layanan e-KYC dan anti-fraud terintegrasi
- Telkom menyuplai data dan infrastruktur konektivitas.
- Bank dan fintech menambahkan layer AI untuk deteksi wajah, pola login, dan perilaku transaksi.
- Kantor akuntan memanfaatkan data bersih dan tervalidasi untuk audit berbasis data.
-
Ekosistem pajak digital & pelaporan otomatis
- Software akuntansi AI terhubung ke bank digital dan sistem pembayaran.
- Transaksi otomatis di-tag pajak, dihitung, dan disiapkan untuk pelaporan.
- Semua berjalan di atas jaringan dan data center lokal Telkom, memudahkan kepatuhan regulasi lokasi data.
4.2. Dampak ke Praktisi Akuntansi dan Keuangan
Buat kantor akuntan dan konsultan keuangan, tren ini punya dua sisi:
- Ancaman untuk layanan manual yang berulang dan low-value (input data, rekonsiliasi dasar).
- Peluang besar untuk naik kelas ke:
- advisory berbasis data real-time,
- analisis kesehatan bisnis klien,
- desain sistem kontrol internal bersama bank dan penyedia infrastruktur.
Saya pribadi melihat: kantor akuntan yang mau berpartner dengan bank digital dan memanfaatkan infrastruktur Telkom akan jauh lebih siap menghadapi klien yang ingin semua serba otomatis – dari pembukuan, pembayaran, sampai pelaporan pajak.

5. Strategi Praktis untuk Bank & Kantor Akuntan di 2026
Perubahan manajemen Telkom ini bisa jadi titik start yang bagus untuk menyusun ulang strategi digital dan AI Anda di 2026.
5.1. Untuk Bank dan Lembaga Keuangan
Beberapa langkah konkret yang bisa mulai disiapkan:
-
Mapping ketergantungan ke infrastruktur Telkom
Identifikasi:- cabang dan channel yang memakai jaringan Telkom,
- sistem core dan AI yang di-host di data center terkait,
- SLA dan standar keamanan yang berlaku.
-
Roadmap AI yang realistis
Prioritaskan use case seperti:- chatbot dan virtual assistant untuk nasabah,
- AML & fraud detection berbasis machine learning,
- analitik portofolio pinjaman UMKM.
-
Diskusi strategis dengan Telkom sebagai partner, bukan hanya vendor
Bahas:- co-creation produk digital,
- opsi private cloud dan edge computing,
- compliance dan audit trail untuk model AI.
5.2. Untuk Kantor Akuntan dan Konsultan Keuangan
Untuk Anda yang berada di ekosistem jasa akuntansi Indonesia:
-
Adopsi software pembukuan otomatis yang siap integrasi bank
Pilih solusi yang:- terkoneksi API dengan banyak bank digital,
- punya fitur AI untuk klasifikasi transaksi,
- mendukung ekspor data standar untuk audit dan pajak.
-
Bangun kompetensi analitik dan pemahaman AI dasar
Bukan berarti semua akuntan harus jadi data scientist, tapi minimal:- paham cara kerja model prediktif sederhana,
- bisa membaca output analitik dan mengaitkannya ke keputusan bisnis,
- mengerti risiko bias dan kualitas data.
-
Tawarkan layanan baru berbasis data real-time
Misalnya:- dashboard KPI keuangan klien,
- early warning untuk arus kas,
- simulasi pajak dan skenario bisnis.
Semua ini jadi lebih feasible kalau infrastruktur jaringan dan data center di Indonesia makin kuat – dan di sinilah posisi Telkom sangat krusial.
6. Penutup: Dari Rotasi Direksi ke Lompatan Ekosistem AI Keuangan
Rombak manajemen Telkom mungkin tampak seperti berita rutin BUMN. Tapi kalau dilihat dari kacamata AI dalam industri perbankan dan jasa akuntansi, ini adalah sinyal jelas:
- Infrastruktur data dan konektivitas sedang dipersiapkan untuk kebutuhan yang jauh lebih kompleks.
- Tata kelola dan manajemen risiko dikuatkan, agar inovasi AI tetap aman dan patuh regulasi.
- Kolaborasi telco–bank–kantor akuntan makin masuk akal, terutama untuk layanan keuangan digital yang otomatis dan berbasis data.
Bagi pelaku bank digital, fintech, dan kantor akuntan di Indonesia, 2026 bukan lagi soal “akan pakai AI atau tidak”, tapi seberapa cepat Anda bisa membangun ekosistem dan mitra yang tepat – termasuk bagaimana memanfaatkan peran pemain infrastruktur seperti Telkom.
Pertanyaannya sekarang: Anda mau jadi penonton tren ini, atau mulai merancang strategi AI dan keuangan digital yang benar-benar memanfaatkan momentum perubahan ini?