Telkom AI CoE membuka jalan ekosistem AI Indonesia. Artikel ini membahas dampaknya bagi UMKM dan langkah praktis memulai AI di bisnis Anda.

Telkom AI CoE dan Peluang Besar AI untuk UMKM
Pada 2024, nilai ekonomi digital Indonesia sudah menembus ratusan triliun rupiah, dan sebagian besar perputaran itu datang dari UMKM. Tapi ada satu fakta yang agak mengganggu: sebagian besar pelaku UMKM masih jauh dari pemanfaatan AI (kecerdasan buatan) secara nyata di bisnis mereka.
Di sisi lain, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk meluncurkan Telkom AI Center of Excellence (AI CoE) sebagai upaya membangun ekosistem AI nasional berbasis kolaborasi multipihak. Kalau dibaca sekilas, ini terdengar sangat “korporat”. Tapi kalau ditarik ke bawah, sebenarnya ini menyentuh satu hal penting: bagaimana UMKM Indonesia bisa ikut naik kelas dengan ekosistem AI yang sedang dibangun sekarang.
Tulisan ini membedah apa itu Telkom AI CoE, kenapa ekosistem kolaboratif penting buat masa depan AI Indonesia, dan yang paling praktis: apa artinya semua ini buat UMKM dan bagaimana Anda bisa mulai memanfaatkan AI hari ini.
Apa Itu Telkom AI CoE dan Kenapa Penting untuk Indonesia
Telkom AI Center of Excellence pada dasarnya adalah pusat koordinasi, riset, pengembangan, dan kolaborasi AI di lingkungan Telkom Group yang dibuka untuk bekerja sama dengan pemerintah, kampus, komunitas, dan industri.
Fungsi utama Telkom AI CoE
Secara praktis, Telkom AI CoE bisa dilihat sebagai:
- Laboratorium inovasi untuk mengembangkan produk dan solusi berbasis AI
- Hub kolaborasi antara Telkom, startup, universitas, dan komunitas teknologi
- Pusat standardisasi dan tata kelola (governance) AI yang bertanggung jawab
- Enabler bagi sektor lain, termasuk UMKM, agar lebih mudah mengadopsi AI tanpa harus membangun semuanya dari nol
Kenapa ini penting?
Tanpa ekosistem, AI hanya jadi demo teknologi. Dengan ekosistem, AI bisa jadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi.
Indonesia punya bonus demografi, pasar digital besar, dan data dalam jumlah masif. Tapi tanpa koordinasi, masing‑masing pemain akan jalan sendiri, mengulang kesalahan yang sama, dan membakar biaya di tempat yang sama. AI CoE seperti ini memotong jalur itu.
Ekosistem Kolaboratif: Siapa Saja yang Terlibat?
Ekosistem AI yang sehat tidak bisa dibangun oleh satu perusahaan saja. Minimal ada empat kelompok besar yang harus jalan bareng:
1. Pemerintah dan Regulator
Pemerintah berperan di:
- Menyusun kebijakan dan regulasi AI yang aman, adil, dan pro-inovasi
- Menetapkan standar keamanan data, privasi, dan etika
- Menjadi pengguna awal (early adopter) di sektor publik: kesehatan, pendidikan, layanan publik
Kehadiran Telkom AI CoE membantu menjembatani kebutuhan teknologi dengan arah kebijakan nasional. Ini krusial supaya inovasi AI tidak jalan tanpa rambu.
2. BUMN dan Korporasi Besar
Telkom dan BUMN lain punya tiga hal yang jarang dimiliki startup:
- Akses ke data skala besar
- Infrastruktur (cloud, jaringan, data center)
- Kapasitas investasi untuk riset jangka panjang
Dengan AI CoE, aset‑aset ini bisa disinergikan dan dibuka aksesnya secara lebih terstruktur bagi partner, termasuk pelaku startup dan penyedia solusi untuk UMKM.
3. Kampus dan Komunitas Riset
Tanpa talenta, AI hanya tinggal slogan. Kolaborasi dengan kampus dan komunitas riset membantu:
- Menghasilkan engineer, data scientist, dan AI specialist baru
- Mendorong riset terapan yang langsung bisa diimplementasikan di industri
- Menguji model AI dengan data dan kasus nyata di lapangan
4. Startup, Komunitas Tech, dan UMKM
Di sinilah dampaknya mulai terasa buat dunia nyata:
- Startup AI bisa mengembangkan solusi spesifik untuk sektor tertentu (pertanian, logistik, finance, dll.) di atas infrastruktur yang sudah ada
- Komunitas tech berperan sebagai penggerak edukasi dan adopsi
- UMKM menjadi pengguna akhir yang menikmati efisiensi, peningkatan omzet, dan perluasan pasar berkat solusi AI yang lebih terjangkau
Tanpa pengguna akhir, ekosistem hanya jadi eksperimen. UMKM membuat ekosistem AI Indonesia benar‑benar hidup.
Mengapa UMKM Harus Peduli dengan Telkom AI CoE
Untuk pelaku UMKM, istilah seperti “Center of Excellence” sering terasa jauh. Tapi efeknya bisa sangat nyata dalam beberapa tahun ke depan.
1. Akses Teknologi AI yang Lebih Murah dan Mudah
Dengan adanya pusat AI seperti ini, arah pengembangan biasanya menuju:
- Platform AI lokal berbasis bahasa Indonesia dan konteks budaya lokal
- Layanan AI berbasis cloud yang bisa dipakai pakai skema berlangganan murah
- Integrasi dengan layanan digital yang sudah familiar, misalnya dashboard penjualan, marketplace, atau aplikasi kasir
Artinya, Anda tidak perlu membangun tim data scientist sendiri hanya untuk punya sistem rekomendasi produk atau chatbot.
2. Solusi yang Relevan dengan Kebutuhan Lokal
Salah satu masalah ketika mengandalkan solusi AI luar negeri adalah kurang paham konteks Indonesia:
- Bahasa campur‑campur (Indonesia + daerah + slang)
- Perilaku konsumen yang unik
- Regulasi dan cara kerja bisnis lokal
AI CoE yang beroperasi di Indonesia punya keuntungan memahami data lokal. Model bahasa bisa dilatih dengan:
- Percakapan pelanggan Indonesia
- Pola transaksi lokal
- Tren musiman seperti Ramadan, Lebaran, Harbolnas, dan lainnya
Ini membuat solusi AI lebih akurat dan terasa “nyambung” dengan keseharian bisnis Anda.
3. Edukasi dan Pendampingan
Ekosistem AI yang sehat biasanya tidak hanya menyediakan teknologi, tapi juga program pelatihan, workshop, bootcamp, dan pendampingan.
Bagi UMKM, ini membuka kesempatan untuk:
- Belajar dasar‑dasar AI tanpa bahasa teknis yang rumit
- Mencoba langsung tools AI untuk keperluan marketing, operasional, dan pelayanan pelanggan
- Mendapatkan studi kasus nyata dari bisnis sejenis di Indonesia
Di sinilah UMKM bisa mulai naik kelas, bukan sekadar ikut tren.
Contoh Penerapan AI untuk UMKM Indonesia
Supaya tidak mengawang, mari lihat beberapa contoh praktis penerapan AI yang realistis untuk UMKM dengan dukungan ekosistem seperti Telkom AI CoE.
1. Chatbot Layanan Pelanggan Berbahasa Indonesia
AI bisa membantu menjawab pertanyaan standar pelanggan 24/7:
- Cek ongkir dan resi
- Ketersediaan stok
- Jam operasional atau lokasi toko
- Informasi promo dan paket
Dengan model bahasa Indonesia yang bagus, chatbot bisa menangani bahasa yang campur‑campur:
“Kak, ini ready?”
“Kalo beli 3 bisa kurang ga?”
Hasilnya:
- Respons lebih cepat, pelanggan merasa dihargai
- Admin tidak tenggelam di chat yang berulang
- Biaya operasional CS bisa ditekan
2. Rekomendasi Produk dan Upselling Otomatis
AI bisa menganalisis pola pembelian pelanggan:
- Pelanggan yang beli produk A cenderung beli produk B
- Pola belanja saat gajian, Ramadan, atau Harbolnas
- Preferensi kategori, warna, ukuran, hingga harga
Dari sini, sistem bisa otomatis memberikan rekomendasi seperti:
- “Pelanggan yang membeli jilbab ini juga sering membeli inner berwarna senada.”
- “Pelanggan yang membeli kopi kemasan ini sering beli paket 3 bungkus.”
Dampaknya:
- Average order value naik
- Stok bisa diatur lebih presisi
3. Perencanaan Stok dan Prediksi Permintaan
Ini masalah klasik UMKM: stok kebanyakan, duit nyangkut; stok kurang, pelanggan kabur.
Dengan AI, UMKM bisa:
- Memprediksi penjualan minggu depan atau bulan depan berdasarkan data beberapa bulan terakhir
- Membedakan pola penjualan hari biasa vs musim tertentu (Ramadan, tahun ajaran baru, akhir tahun)
- Mengurangi risiko stok mati
Model prediksi seperti ini sangat diuntungkan oleh ekosistem data yang kuat, sesuatu yang bisa difasilitasi oleh AI CoE.
4. Konten Marketing Lebih Cepat dan Konsisten
Banyak pelaku UMKM sudah pakai AI untuk:
- Menyusun caption media sosial
- Menghasilkan ide konten harian
- Menjawab komentar pelanggan dengan template yang sopan
Dengan dukungan AI lokal, gaya bahasa bisa lebih:
- Nyantai tapi tetap sopan
- Sesuai dengan target pasar di Indonesia
- Menjaga konsistensi brand tanpa terasa “robotik”
Langkah Praktis UMKM Memulai Perjalanan AI
Ekosistem besar seperti Telkom AI CoE hanya bermanfaat kalau pelaku UMKM memulai langkah kecil yang konkret.
Berikut pendekatan yang menurut saya paling realistis:
1. Petakan Kebutuhan, Bukan Teknologinya Dulu
Jangan mulai dari “Mau pakai AI apa ya?”, tapi mulai dari:
- Masalah apa yang paling sering bikin pusing? (stok, promosi, CS, pencatatan)
- Proses mana yang paling makan waktu? (balas chat, update katalog, rekap penjualan)
- Target 3–6 bulan ke depan apa? (naik omzet, turunkan retur, tambah pelanggan repeat order)
Baru setelah itu cari tools AI yang bisa membantu menyelesaikan masalah tersebut.
2. Mulai dari Satu Use Case Kecil
Contoh langkah awal:
- Pakai AI untuk membantu jawab chat standar di WhatsApp atau media sosial
- Pakai AI untuk membuat kalender konten sebulan penuh
- Pakai AI untuk membaca laporan penjualan dan memberikan ringkasan tren
Fokus di satu hal dulu sampai terasa manfaatnya. Setelah itu baru tambah use case lain.
3. Manfaatkan Program Pelatihan dan Komunitas
Cari dan ikuti:
- Webinar seputar AI untuk bisnis
- Program pendampingan digitalisasi UMKM
- Komunitas lokal yang mulai belajar AI (baik online maupun offline)
Banyak inisiatif besar seperti AI CoE biasanya punya turunan program edukasi. UMKM yang aktif mencari informasi biasanya yang paling dulu menikmatinya.
4. Bangun Kebiasaan Data yang Rapi
AI sangat bergantung pada data yang rapi. Tanpa itu, hasilnya asal‑asalan.
Mulai dari hal sederhana:
- Catat semua transaksi, meski hanya pakai aplikasi kasir sederhana
- Pisahkan produk per kategori dengan jelas
- Simpan database pelanggan (nama, nomor, riwayat belanja) sesuai aturan privasi
Semakin rapi data Anda hari ini, semakin cepat Anda bisa memanfaatkan solusi AI yang lebih canggih besok.
Masa Depan AI Indonesia: Dari Ekosistem ke Dampak Nyata
Telkom AI CoE adalah salah satu langkah strategis untuk memastikan AI di Indonesia tidak hanya jadi konsumsi, tapi juga produksi. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi asing; kita perlu mengembangkan solusi sendiri yang paham bahasa, budaya, dan kebutuhan lokal.
Bagi UMKM, pesan utamanya sederhana:
- Ekosistem AI nasional sedang dibangun, dan Anda adalah bagian penting dari gambaran besar itu.
- Anda tidak perlu menunggu semuanya matang untuk mulai. Justru yang mulai lebih dulu biasanya yang paling diuntungkan.
Kalau beberapa tahun lalu tahapnya adalah “UMKM harus go digital”, beberapa tahun ke depan tahapnya akan bergeser ke “UMKM harus go AI” — bukan berarti semuanya serba otomatis, tapi memanfaatkan AI sebagai asisten pintar dalam bisnis sehari‑hari.
Pertanyaannya sekarang: Anda mau berada di gelombang pertama pelaku UMKM yang memanfaatkan ekosistem AI Indonesia, atau menunggu sampai semua pesaing Anda melakukannya duluan?