Telkom AI CoE jadi fondasi penting ekosistem AI Indonesia. Bahas peran, dampak ke UMKM, dan langkah praktis agar bisnis ikut memanfaatkan peluang ini.

Telkom AI CoE dan Masa Depan Ekosistem AI Indonesia
Pada 2023, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan menembus ratusan miliar dolar, tapi kontribusi pemanfaatan AI di level nasional masih jauh dari potensinya. Di tengah situasi ini, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk meluncurkan Telkom AI Center of Excellence (AI CoE) sebagai langkah serius membangun ekosistem AI nasional berbasis kolaborasi.
Kabar baiknya: inisiatif seperti Telkom AI CoE bukan cuma urusan perusahaan besar atau kampus top. Kalau dirancang dengan benar, ekosistem semacam ini bisa mengalir sampai ke level UMKM, startup daerah, dan talenta muda di kota-kota kedua.
Tulisan ini membahas apa itu Telkom AI CoE dalam konteks ekosistem AI Indonesia, mengapa pendekatan collaborative ecosystem sangat krusial, dan apa dampak nyatanya bagi pelaku bisnis, UMKM, dan pengembang AI lokal—beserta langkah praktis yang bisa mulai dilakukan sekarang.
Apa Itu Telkom AI CoE dan Mengapa Pendekatan Ekosistem Penting
Telkom AI CoE adalah inisiatif strategis Telkom untuk menjadi pusat kolaborasi, riset, pengembangan produk, dan pemanfaatan AI di Indonesia, dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan sekaligus.
Bukan sekadar lab riset, AI CoE berfungsi sebagai:
- Pusat riset dan inovasi model AI lokal (bahasa Indonesia, bahasa daerah, konteks regulasi lokal)
- Hub kolaborasi antara BUMN, swasta, startup, kampus, komunitas, dan pemerintah
- Pusat standardisasi dan tata kelola AI (governance, keamanan data, etika)
- Mesin pengembang talenta data scientist, ML engineer, product manager AI, dan praktisi bisnis berbasis data
Dari proyek sporadis ke strategi nasional
Selama ini, banyak inisiatif AI di Indonesia berjalan sendiri-sendiri:
- Startup bikin model sendiri
- Korporasi beli solusi impor
- Kampus riset tapi jarang sampai tahap komersial
Akibatnya:
- Biaya tinggi karena duplikasi kerja
- Produk tidak terstandar
- Talenta bingung arah karier, hanya "coba-coba" model terbaru
AI CoE menyatukan arah dan sumber daya sehingga riset, data, dan produk bisa saling berbagi, bukannya terkotak-kotak. Ini yang membuat pendekatan center of excellence jauh lebih efektif dibanding proyek AI yang berdiri sendiri di tiap perusahaan.
Pilar Ekosistem Telkom AI CoE: Kolaborasi Multipihak
Ekosistem AI yang sehat selalu dibangun di atas kolaborasi lintas sektor, bukan hanya kekuatan teknologi. Telkom AI CoE secara logis akan bermain di beberapa poros utama berikut.
1. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Regulator
AI tidak bisa jalan tanpa kejelasan regulasi, terutama terkait:
- Perlindungan data pribadi
- Keamanan siber
- Standar penggunaan AI di sektor publik (kesehatan, pendidikan, pelayanan publik)
Telkom sebagai BUMN berada di posisi unik untuk:
- Menjadi jembatan antara kebutuhan industri dan arah kebijakan pemerintah
- Menguji coba sandbox regulasi untuk use case AI tertentu (misalnya analitik dokumen, chatbot layanan publik, sistem rekomendasi bantuan sosial)
Kalau ini berjalan, UMKM dan startup tidak perlu menebak-nebak lagi: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan AI di Indonesia.
2. Sinergi dengan Kampus dan Pusat Riset
Kampus biasanya kuat di teori dan riset dasar, tapi lemah di distribusi produk. Industri sebaliknya. AI CoE bisa mempertemukan dua dunia ini.
Contoh bentuk sinergi yang masuk akal:
- Program riset bersama: kampus mengembangkan algoritma, Telkom menguji di skala nasional
- Data bersama (dengan anonymization): dataset lokal untuk riset NLP Bahasa Indonesia atau visi komputer
- Program magang dan fellowship AI: mahasiswa S1/S2 langsung mengerjakan proyek nyata, bukan hanya tugas akhir
Hasil akhirnya: riset kampus tidak berhenti di jurnal, tapi muncul sebagai produk nyata yang dipakai jutaan orang.
3. Keterlibatan Startup dan Komunitas
Ekosistem AI tanpa startup dan komunitas itu kering. Hackathon, meetup, dan open collaboration adalah tempat ide liar dan segar bermunculan.
Telkom AI CoE berpotensi:
- Menjadi platform go-to-market bagi startup AI lokal
- Menyediakan API, model, dan infrastruktur yang bisa digunakan startup tanpa perlu investasi besar di awal
- Mendukung komunitas (misalnya komunitas data science, developer, dan AI generatif) dengan mentoring dan akses teknologi
Bagi UMKM dan perusahaan yang lebih kecil, keberadaan startup AI lokal yang kuat akan membuka banyak pilihan solusi yang lebih terjangkau dan relevan konteks Indonesia.
Dampak Strategis bagi Indonesia: Dari Kedaulatan Data hingga Talenta
AI CoE seperti Telkom AI CoE punya dampak strategis jauh melampaui satu perusahaan. Ini menyentuh isu kedaulatan digital, daya saing nasional, hingga penciptaan lapangan kerja baru.
Kedaulatan dan Keamanan Data
Banyak solusi AI global saat ini menyimpan dan memproses data di luar negeri. Untuk sektor publik dan industri sensitif, ini problem besar.
Dengan AI CoE nasional:
- Data bisa diolah di dalam negeri
- Model bisa dilatih dengan memperhatikan standar keamanan Indonesia
- Risiko kebocoran data lintas negara bisa ditekan
Ini bukan cuma isu teknis, tapi isu kedaulatan digital.
Model AI yang Paham Indonesia
Model AI global sering kesulitan memahami konteks lokal:
- Campuran Bahasa Indonesia & bahasa daerah
- Gaya bahasa chat sehari-hari
- Istilah spesifik bisnis di Indonesia
AI CoE berpeluang besar mengembangkan:
- Model bahasa Indonesia yang lebih akurat (NLP, speech-to-text, text-to-speech)
- Model AI untuk sektor prioritas seperti logistik, agrikultur, UMKM, dan keuangan inklusif
Contoh konkret:
- Sistem analisis sentimen review produk di marketplace lokal
- Voicebot yang paham logat Jawa/Sunda/Betawi untuk call center
- Model prediksi permintaan untuk pedagang ritel yang datanya terbatas
Mesin Pencetak Talenta AI Indonesia
Indonesia kekurangan talenta AI. Banyak perusahaan berebut orang yang sama.
AI CoE bisa berperan sebagai:
- Sekolah lapangan untuk praktisi AI: intensif, berbasis proyek
- Tempat reskilling profesional IT lama (network, infra) menjadi AI engineer atau MLOps
- Rumah bagi praktisi bisnis yang ingin paham AI dari sisi value, bukan sekadar teknis
Saya pribadi percaya, negara yang menang di AI bukan cuma yang punya model canggih, tapi yang punya banyak talenta yang bisa menghubungkan AI dengan masalah nyata.
Apa Artinya Telkom AI CoE bagi UMKM dan Bisnis di Indonesia
Banyak pemilik UMKM berpikir, “AI itu buat perusahaan besar.” Justru di sini peran ekosistem seperti Telkom AI CoE menjadi krusial: membuat AI terasa dekat, terjangkau, dan masuk akal secara bisnis.
Contoh Use Case AI yang Relevan untuk UMKM
Beberapa jenis solusi AI yang sangat mungkin lahir atau diakselerasi lewat AI CoE dan langsung terasa manfaatnya bagi UMKM:
-
Chatbot layanan pelanggan berbahasa Indonesia
- Menjawab pertanyaan produk otomatis di WhatsApp/Instagram
- Menyaring pertanyaan sederhana sehingga admin fokus ke kasus kompleks
-
Sistem rekomendasi produk
- Menawarkan produk yang relevan di katalog online
- Meningkatkan nilai transaksi per pelanggan tanpa iklan berbayar berlebihan
-
Analisis penjualan dan stok otomatis
- Deteksi produk yang lambat bergerak
- Saran kapan restock dan dalam jumlah berapa
-
Konten pemasaran otomatis
- Draft caption, deskripsi produk, hingga ide promo berbasis data penjualan
Kalau AI CoE menyediakan platform dan infrastruktur, vendor atau startup lokal bisa mengemas ini dalam bentuk layanan SaaS murah yang bisa diakses UMKM per bulan, bukan proyek ratusan juta.
Manfaat Tidak Langsung bagi Bisnis
Di luar produk yang langsung dipakai, ada juga manfaat tidak langsung:
- Standar keamanan dan privasi yang lebih jelas saat memakai produk AI lokal
- Kepercayaan lebih tinggi karena solusi AI berada di bawah payung ekosistem nasional
- Akses pelatihan dasar AI untuk pelaku UMKM, bukan cuma untuk engineer
Bagi banyak pemilik bisnis, manfaat seperti ini jauh lebih penting daripada bicara model apa yang dipakai di belakang layar.
Langkah Praktis: Cara Bisnis dan UMKM Bisa Ikut Terlibat
Tidak perlu menunggu semua fasilitas Telkom AI CoE matang untuk mulai bergerak. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan mulai hari ini.
1. Mulai dari Masalah Bisnis, Bukan dari Teknologi
Sebelum bicara AI, jawab dulu beberapa pertanyaan dasar:
- Waktu tim paling banyak habis di pekerjaan manual apa?
- Pelanggan paling sering komplain di bagian mana?
- Keputusan apa yang sering diambil dengan “feeling”, bukan data?
Catat 3–5 masalah teratas. Inilah kandidat awal untuk dicari solusinya dengan AI (atau otomasi sederhana).
2. Manfaatkan Pelatihan dan Komunitas
Saat ekosistem AI CoE berkembang, biasanya akan muncul:
- Webinar pengenalan AI untuk bisnis
- Bootcamp atau program pelatihan praktis
- Komunitas lokal yang membahas penerapan AI
Gabung ke beberapa, lalu fokus pada yang paling relevan dengan industri dan level bisnis Anda. Satu pelatihan yang benar-benar terpakai jauh lebih berharga daripada sepuluh sertifikat yang hanya numpang lewat di CV.
3. Uji Coba Kecil, Bukan Proyek Besar Sekaligus
Salah satu kesalahan umum: langsung bikin proyek AI besar dan mahal, padahal belum jelas manfaatnya.
Pendekatan yang lebih sehat:
- Pilih satu masalah konkret (misalnya respons chat pelanggan lambat)
- Cari solusi AI siap pakai (chatbot, autoresponder dengan NLP dasar)
- Uji di 1–2 channel dulu, ukur dampaknya 1–3 bulan
- Kalau hasil positif, baru pikir scale up atau integrasi lebih dalam
AI CoE dan para partnernya bisa menjadi sumber solusi dan panduan yang relatif lebih terkurasi, sehingga risiko coba-coba yang sia-sia bisa berkurang.
4. Bangun Kebiasaan Data Sejak Dini
AI tanpa data yang rapi itu seperti koki tanpa bahan masakan.
Hal-hal sederhana yang bisa mulai dilakukan oleh UMKM:
- Mencatat penjualan harian secara konsisten (nama produk, jumlah, harga, channel)
- Menyimpan database pelanggan (nama, kontak, histori pembelian) dengan izin yang jelas
- Mengelompokkan produk dengan kategori yang masuk akal
Ketika nanti ingin memakai solusi AI lebih canggih, Anda tidak mulai dari nol.
Masa Depan AI Indonesia: Dari Telkom AI CoE ke Ekosistem yang Dewasa
Telkom AI Center of Excellence adalah salah satu fondasi penting menuju ekosistem AI Indonesia yang mandiri, relevan, dan kompetitif. Fondasi saja tentu belum cukup, tapi tanpa fondasi yang kuat, bangunan apa pun akan mudah goyah.
Beberapa hal yang patut diawasi perkembangannya dalam beberapa tahun ke depan:
- Apakah AI CoE berhasil melahirkan produk AI lokal yang dipakai jutaan pengguna?
- Seberapa jauh UMKM dan daerah ikut merasakan manfaat, bukan hanya korporasi besar?
- Apakah terbentuk standar etika dan tata kelola AI yang jelas dan bisa dipraktikkan?
Bagi pelaku bisnis, UMKM, maupun profesional, pertanyaannya sederhana:
Saat ekosistem AI Indonesia makin matang, Anda ingin hanya jadi penonton, atau ikut jadi pemain yang memanfaatkan peluang ini seawal mungkin?
Keputusan untuk mulai belajar, mencoba, dan berkolaborasi hari ini akan menentukan seberapa besar peran Anda di peta AI Indonesia beberapa tahun ke depan.