Dari ‘Slop’ ke Smart Banking: Cara Cerdas Pakai AI

AI untuk E-commerce Indonesia: Meningkatkan Pengalaman PelangganBy 3L3C

Istilah AI ‘slop’ jadi kata tahun 2025. Apa artinya bagi bank dan e-commerce Indonesia, dan bagaimana pakai AI tanpa berubah jadi pabrik konten murahan?

slop aidigital bankingai perbankan indonesiaai untuk e-commercepengalaman nasabahfraud detectionchatbot banking
Share:

Featured image for Dari ‘Slop’ ke Smart Banking: Cara Cerdas Pakai AI

Dari ‘Slop’ ke Smart Banking: Cara Cerdas Pakai AI

Tahun 2025, satu kata tiba-tiba jadi bahan obrolan di Twitter, Reddit, sampai grup WhatsApp: slop. Merriam-Webster bahkan menobatkannya sebagai Word of the Year 2025.

Buat banyak orang, terutama di perbankan dan e-commerce, ini jadi wake-up call. AI sudah begitu dekat di keseharian kita, tapi bersamaan dengan itu, banjir konten murahan juga ikut datang. Di satu sisi ada chatbot pintar yang bantu nasabah buka rekening dalam hitungan menit. Di sisi lain, ada konten “aneh-aneh” buatan AI yang cuma kejar klik dan iklan.

Artikel ini membahas apa itu slop, kenapa istilah ini penting buat dunia digital banking dan e-commerce Indonesia, dan yang paling penting: bagaimana bank dan pelaku e-commerce bisa pakai AI tanpa terjebak jadi pabrik slop.


Apa Itu Slop dan Kenapa Bisa Jadi Kata Tahun 2025?

Slop dalam konteks AI adalah konten digital berkualitas rendah yang diproduksi massal menggunakan kecerdasan buatan, biasanya cuma demi trafik dan uang iklan.

Merriam-Webster mendefinisikan slop sebagai “konten digital berkualitas rendah yang dibuat dalam jumlah besar menggunakan AI”. Sebelum era AI generatif, kata ini lebih dekat dengan makna “sisa makanan untuk pakan ternak” atau “produk bernilai rendah”. Tahun 2025, maknanya bergeser ke dunia digital.

Contohnya:

  • Video AI yang absurd tapi viral: makhluk aneh berubah jadi laba-laba lalu jerapah di mal ramai, ditonton ratusan juta kali.
  • Gambar dan video AI yang nggak jelas konteksnya, asal heboh.
  • Artikel panjang tapi isinya muter-muter, penuh salah fakta, cuma dibuat untuk kejar SEO.

Platform besar pun terdampak:

  • Meta bikin feed khusus konten AI bernama Vibes.
  • OpenAI merilis Sora untuk video AI, bikin produksi konten makin mudah.
  • Spotify menghapus lebih dari 75 juta lagu buatan AI, termasuk "band" The Velvet Sundown yang ternyata 100% hasil AI.

Jadi, slop bukan cuma soal teknologi. Ini soal kebanjiran konten murahan di ekosistem digital yang makin pakai AI di mana-mana.


Hubungannya Apa dengan Bank dan E-commerce di Indonesia?

Slop adalah peringatan keras: AI bisa mempercepat inovasi, tapi juga bisa merusak kepercayaan kalau dipakai serampangan.

Di Indonesia, bank dan e-commerce lagi agresif memakai AI untuk:

  • Chatbot layanan nasabah
  • Rekomendasi produk di marketplace
  • Deteksi fraud dan transaksi mencurigakan
  • Personalization di aplikasi mobile banking dan e-wallet

Trennya sudah kelihatan:

  • Survei di 2025 menunjukkan sekitar seperempat lebih perusahaan di Indonesia sudah pakai AI untuk operasional bisnis.
  • Nasabah makin terbiasa ngobrol dengan chatbot, bukan lagi harus antre di cabang.

Masalahnya, batas antara AI yang membantu dan AI yang mengganggu itu tipis.

Bank dan marketplace bisa jatuh jadi "pabrik slop" kalau:

  • Chatbot jawab asal-asalan, tidak akurat, bahkan menyesatkan.
  • Push notifikasi promo muncul berlebihan, tidak relevan dengan kebutuhan nasabah.
  • Konten edukasi keuangan asal jadi, cuma di-generate tanpa cek fakta.

Di perbankan dan e-commerce, slop bukan hanya merusak feed media sosial, tapi juga bisa merusak trust. Dan trust adalah modal utama layanan keuangan.


Slop vs Smart AI: Bedanya di Kualitas dan Niat

Slop muncul ketika AI dipakai tanpa strategi, tanpa kurasi, dan tanpa tujuan jelas selain angka: views, klik, dan transaksi jangka pendek.

Ciri-ciri Slop di Konteks Perbankan & E-commerce

Kalau kita terjemahkan konsep slop ke dunia bank dan e-commerce, bentuknya bisa seperti ini:

  • Chatbot yang sok tahu
    Menjawab pertanyaan produk kredit atau investasi dengan informasi yang salah atau setengah benar.

  • Konten finansial menyesatkan
    Artikel "tips investasi" hasil AI tanpa review dari ahli, berpotensi bikin nasabah salah ambil keputusan.

  • Rekomendasi produk yang asal dorong
    Sistem rekomendasi di e-commerce atau superapp keuangan yang cuma nge-push barang margin tinggi, bukan yang paling relevan dengan profil pengguna.

  • Notifikasi spam
    AI yang dipakai untuk mengirim notifikasi masif, tanpa penyaringan minat dan konteks pengguna.

Di sisi lain, smart AI justru melakukan kebalikannya:

  • Memperkuat edukasi finansial yang benar.
  • Menyaring risiko dan fraud dengan lebih tajam.
  • Membantu nasabah membuat keputusan lebih tepat, bukan lebih bingung.

Contoh Praktis: Dari Slop ke Pengalaman Nasabah yang Lebih Baik

Kuncinya: gunakan AI untuk mengurangi kebisingan, bukan menambah.

1. Chatbot Perbankan yang Bukan Sekadar Mesin Jawab

Daripada chatbot yang jawab panjang tapi muter-muter (slop versi teks), bank bisa:

  • Batasi domain jawaban chatbot di sekitar informasi yang sudah diverifikasi.
  • Tambah fallback ke agen manusia ketika pertanyaan menyangkut nominal besar, sengketa, atau hal sensitif.
  • Latih model dengan data lokal: pola bahasa Indonesia, istilah perbankan lokal, dan konteks regulasi OJK.

Hasilnya:

  • Waktu respon turun drastis.
  • Nasabah merasa dihargai karena dapat jawaban jelas, bukan template generik.

2. AI untuk Deteksi Fraud, Bukan Sekadar Promo

Alih-alih memakai AI cuma untuk "jual lebih banyak", dunia perbankan dan e-commerce bisa memprioritaskan:

  • Deteksi anomali transaksi:
    • Transfer tidak biasa ke rekening baru.
    • Pola login dari lokasi yang tidak wajar.
  • Peringatan real time ke nasabah:
    • Notifikasi yang singkat, jelas, dan langsung beri opsi tindakan.

Ini jauh dari slop, karena output AI adalah perlindungan aset, bukan sekadar konten.

3. Rekomendasi Cerdas di E-commerce dan Superapp Keuangan

Dalam konteks seri "AI untuk E-commerce Indonesia", banyak marketplace bermimpi bisa jadi "Tokonya tahu duluan" kebutuhan pelanggan.

Tapi bedanya jelas:

  • Slop recommendation
    Tiba-tiba diserbu iklan produk yang sama sekali tidak relevan, hanya karena tren.

  • Smart recommendation
    Sistem yang paham perilaku dan konteks:

    • Menawarkan paylater dengan limit wajar, bukan berlebihan.
    • Menyajikan produk yang relevan dengan riwayat belanja dan kemampuan bayar.

Bank yang punya ekosistem e-commerce (atau kerjasama dengan marketplace) bisa kolaborasi data secara aman dan terukur, untuk membangun rekomendasi yang sehat bagi nasabah.


Strategi Anti-Slop untuk Bank dan E-commerce Indonesia

Ada tiga lapis yang menentukan apakah implementasi AI akan melahirkan nilai atau slop: data, proses, dan budaya.

1. Kurasi Data dan Konten, Bukan Asal Banyak

AI generatif akan menuruti data yang diberi. Kalau input-nya campur aduk, hasilnya cenderung slop.

Langkah praktis:

  • Bangun library konten resmi: definisi produk, FAQ, kebijakan, dengan review berkala.
  • Pisahkan jelas mana konten yang boleh di-generate otomatis, mana yang wajib sentuhan manusia (misal: edukasi investasi, informasi pinjaman, produk syariah).
  • Terapkan standar bahasa: sederhana, jelas, sopan, sesuai karakter nasabah Indonesia.

2. Governance AI: Ada Aturan Main yang Tegas

Tanpa governance, tim produk mudah tergoda pakai AI "biar cepat jadi".

Beberapa prinsip yang menurut saya wajib ada:

  • Transparansi: beri tahu pengguna ketika mereka berinteraksi dengan sistem AI, bukan manusia.
  • Human-in-the-loop: untuk keputusan finansial kritis, pastikan ada persetujuan atau review manusia.
  • Audit berkala: cek akurasi, bias, dan potensi misinformasi dari sistem AI.

3. Ukur Hal yang Tepat: Bukan Cuma Klik dan Trafik

Slop lahir ketika KPI terlalu dangkal: views, klik, waktu baca, jumlah chat.

Di bank dan e-commerce, metrik AI seharusnya mengarah ke kualitas, misalnya:

  • Penurunan jumlah komplain terkait informasi yang tidak jelas.
  • Peningkatan resolusi masalah di kontak pertama (first-contact resolution).
  • Penurunan fraud loss per tahun.
  • Peningkatan kepuasan nasabah (NPS/CSAT) yang memang merasakan manfaat AI.

Mengapa Slop Penting Dibahas Sekarang di Indonesia?

Karena AI sudah masuk fase mainstream, tapi pemahaman pengguna belum tentu ikut naik.

Survei di Amerika yang dikutip CNBC menunjukkan penggunaan platform AI populer seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot justru turun dari 53% (Agustus) jadi 48% (Desember 2025). Salah satu alasannya: orang mulai lelah dengan banjir konten AI yang rasanya nggak berkualitas.

Di Indonesia, kalau bank dan e-commerce ikut-ikutan menghasilkan slop:

  • Nasabah bisa makin skeptis terhadap AI.
  • Edukasi keuangan digital jadi tidak dipercaya.
  • Upaya inklusi keuangan lewat digital banking bisa terhambat.

Sebaliknya, kalau AI dipakai dengan benar:

  • Orang di daerah yang jauh dari kantor cabang bisa tetap buka rekening dan dapat edukasi finansial via chatbot berkualitas.
  • UMKM bisa dapat rekomendasi produk pinjaman dan solusi pembayaran yang pas profil mereka.
  • Pengguna marketplace bisa belanja lebih aman, dengan proteksi fraud yang kuat.

Ini inti dari kampanye "AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking" dan seri "AI untuk E-commerce Indonesia: Meningkatkan Pengalaman Pelanggan":

Bukan sekadar pasang AI di mana-mana, tapi memastikan setiap penerapan AI benar-benar menaikkan kualitas pengalaman dan kepercayaan pengguna.


Penutup: Dari Slop ke AI yang Dipercaya Nasabah

Slop jadi kata tahun 2025 bukan karena keren, tapi karena jadi cermin masalah: teknologi AI sudah jauh berkembang, tapi kualitas output-nya tidak selalu sebanding.

Di perbankan dan e-commerce Indonesia, ini momen yang pas untuk memilih jalur. AI bisa dipakai untuk:

  • Produksi konten tanpa henti yang membuat nasabah lelah dan bingung, atau
  • Membangun layanan smart banking dan smart commerce yang lebih aman, relevan, dan inklusif.

Kalau Anda bagian dari tim digital bank, fintech, atau marketplace, pertanyaan pentingnya sederhana:

Sistem AI yang Anda bangun hari ini, bikin pengguna makin percaya… atau makin ragu?

Mulai dari hal kecil: periksa lagi chatbot Anda, kampanye otomatis, dan konten edukasi finansial. Pastikan mereka ada di sisi yang benar — jauh dari slop, dekat dengan nilai yang nyata untuk nasabah.