Darurat Penipuan Online & Peran AI di Perbankan

AI untuk E-commerce Indonesia: Meningkatkan Pengalaman Pelanggan••By 3L3C

Indonesia darurat penipuan online. TikTok hapus 600 ribu konten, korban 700–800 orang per hari. Inilah peran krusial AI perbankan & e-commerce melawan fraud.

AI perbankanpenipuan onlinekeamanan digitalfraud detectione-commerce Indonesiajudi onlineperlindungan konsumen
Share:

Featured image for Darurat Penipuan Online & Peran AI di Perbankan

Darurat Penipuan Online di 2025: Alarm Keras untuk Dunia Keuangan

Setiap hari, 700–800 orang Indonesia jadi korban penipuan online. Bukan hanya masyarakat umum, tapi juga lembaga keuangan dan bahkan influencer yang namanya dicatut untuk menjerat korban baru.

Di saat yang sama, TikTok melaporkan telah menghapus lebih dari 424 ribu konten judi online dan 232 ribu konten penipuan hanya dalam paruh pertama 2025. Kalau ditambah komentar dan iklan berbayar, totalnya menyentuh angka 600 ribu konten bermasalah. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi cermin betapa rapuhnya keamanan digital kita.

Ini bukan cuma urusan platform media sosial. Setiap transaksi, setiap akun bank, setiap klik di e-commerce ikut terpapar risiko. Di sinilah AI (kecerdasan buatan) jadi bukan lagi fitur tambahan, tapi fondasi keamanan untuk perbankan dan ekosistem digital.

Tulisan ini membahas apa yang bisa dipelajari dari langkah TikTok, bagaimana pola penipuan online bergeser, dan yang paling penting: bagaimana AI di sektor perbankan dan e-commerce bisa jadi tameng utama melawan fraud.


Apa yang Bisa Dipelajari dari Langkah TikTok?

Pesan utama dari data TikTok sederhana: skalanya sudah kelewatan untuk dihadapi manusia saja.

  • 424 ribu video terkait judi online dihapus (H1 2025)

  • 1,6 juta komentar yang mengandung promosi judol diturunkan

  • 232 ribu konten penipuan dihapus
  • 180 ribu iklan berbayar bernuansa penipuan diblokir

Tak mungkin semua ini disaring manual. Ini hanya mungkin karena kombinasi AI moderasi konten + tim kebijakan. Dan persis di sini ada paralel yang kuat dengan deteksi fraud di perbankan.

Moderasi Konten vs Deteksi Fraud

Secara prinsip, moderasi konten TikTok dan deteksi fraud perbankan menghadapi tantangan yang sama:

  1. Volume sangat besar

    • Jutaan konten per hari di platform sosial
    • Jutaan transaksi per hari di perbankan & e-commerce
  2. Pola serangan terus berubah
    Penipu selalu ganti istilah, channel, dan skenario. Hari ini judi online terselubung, besok investasi kripto palsu, lusa social engineering via OTP.

  3. Butuh respons nyaris real-time

    • Konten berbahaya yang dibiarkan beberapa jam bisa viral
    • Transaksi fraud yang telat beberapa menit bisa menguras rekening nasabah

Karena itu, pola mainnya sama:

Algoritma (AI) menyaring 95% lebih kasus, manusia fokus ke 5% yang paling kompleks.

Di bank dan platform e-commerce, ini berarti:

  • AI yang memantau transaksi 24/7
  • Sistem scoring risiko untuk setiap aktivitas login, pembayaran, sampai perubahan data
  • Tim fraud yang menangani kasus-kasus yang “abu-abu” atau bernilai tinggi

Kenapa Penipuan Online Indonesia Begitu Parah?

Hilmi Adrianto dari TikTok menyebut Indonesia mencatat 700–800 korban penipuan online per hari, jauh lebih tinggi dari Malaysia dan Singapura. Ada beberapa alasan kenapa situasinya di sini lebih gawat.

1. Tingginya Adopsi Digital, Rendahnya Literasi Keamanan

Pengguna smartphone dan media sosial di Indonesia sangat besar, tapi literasi keamanan digital belum ikut naik.

Banyak orang:

  • Masih percaya pada chat yang mengatasnamakan bank tanpa verifikasi
  • Masih memberi OTP atau PIN ke orang lain
  • Masih asal klik tautan “bonus saldo”, “hadiah”, atau “undian bank”

2. Kanal Penipuan Terfragmentasi

Penipuan sekarang tidak hanya lewat SMS atau telepon:

  • Media sosial: konten, live, komentar, DM
  • Marketplace / e-commerce: toko palsu, payment di luar platform
  • Aplikasi pesan: group, broadcast, link phishing
  • Website palsu: mirip tampilan login bank atau e-wallet

Tanpa AI yang terintegrasi lintas kanal, lubang keamanan akan selalu ada.

3. Targetnya Bukan Hanya Individu

Seperti yang disampaikan Hilmi, korban bukan cuma masyarakat umum:

  • Lembaga keuangan: rekening penampung, social engineering ke CS, atau pegawai
  • Influencer & figur publik: nama dan foto mereka dipakai untuk meyakinkan korban

Dari sudut pandang bank dan e-commerce, ini artinya risiko reputasi juga sangat besar. Bukan cuma kehilangan uang, tapi kehilangan kepercayaan.


Peran AI di Perbankan: Dari Deteksi Fraud ke Perlindungan Ekosistem

Kalau TikTok mengandalkan AI untuk menyaring konten, bank dan pelaku e-commerce Indonesia wajib melakukan hal yang sama untuk transaksi dan akun nasabah.

1. AI untuk Deteksi Fraud Transaksi

AI di perbankan bisa mengamati pola perilaku setiap nasabah secara terus-menerus:

  • Lokasi transaksi biasanya di mana?
  • Nominal rata-rata per transaksi?
  • Channel favorit: mobile banking, ATM, atau e-wallet?
  • Jam transaksi: cenderung pagi, siang, atau malam?

Dari pola historis itu, AI bisa memberi alert saat ada aktivitas yang mencurigakan, misalnya:

  • Tiba-tiba ada transaksi besar dari luar kota atau luar negeri
  • Banyak transaksi kecil beruntun ke rekening yang belum pernah digunakan
  • Perubahan device login yang drastis dalam waktu singkat

Manfaat langsungnya:

  • Bank bisa menahan atau memberi challenge (OTP tambahan, verifikasi biometrik)
  • Nasabah dapat notifikasi cepat di aplikasi mobile banking atau via e-mail

Ini pendekatan yang sama dengan TikTok saat menurunkan konten dan komentar yang terdeteksi melanggar kebijakan.

2. AI untuk Verifikasi Identitas dan Pencegahan Akun Palsu

Di dunia yang penuh manipulasi visual (deepfake, wajah dicuri, identitas dicatut), AI untuk verifikasi identitas jadi krusial, baik di bank maupun e-commerce.

Fitur yang biasanya diterapkan:

  • Face recognition dan liveness detection saat pembukaan rekening digital
  • Deteksi KTP palsu atau manipulasi dokumen
  • Pencocokan identitas lintas sistem (bank, fintech, e-commerce) melalui konsorsium data yang legal dan diatur regulator

Dengan cara ini, bank bisa meminimalkan:

  • Rekening penampung hasil kejahatan
  • Akun bodong yang dipakai untuk penipuan marketplace

3. AI di E-commerce: Perlindungan dari Sisi Pembeli & Penjual

Dalam konteks seri “AI untuk E-commerce Indonesia: Meningkatkan Pengalaman Pelanggan”, keamanan adalah bagian penting dari pengalaman itu sendiri. Pelanggan nggak akan nyaman belanja kalau:

  • Takut ditipu seller
  • Takut data kartunya bocor
  • Takut produknya palsu

AI bisa membantu di beberapa titik:

  • Deteksi toko palsu
    Menganalisis pola: nama toko mirip brand besar, harga jauh di bawah pasar, review mencurigakan, dan pola pengiriman yang tidak konsisten.

  • Analisis sentimen ulasan
    Sistem membaca review dengan NLP untuk mendeteksi kata-kata terkait penipuan: “barang tidak dikirim”, “tiba-tiba diblokir”, “diminta transfer di luar platform”, dan sebagainya.

  • Keamanan pembayaran
    Menggabungkan data dari dunia perbankan (fraud scoring kartu dan rekening) dengan perilaku di marketplace untuk menentukan apakah sebuah transaksi aman.

Semua ini ujungnya ke satu hal: pengalaman pelanggan yang tenang dan percaya diri saat belanja online.


Dari Moderasi Konten ke Ekosistem Anti-Fraud Lintas Industri

Hilmi menekankan bahwa penipuan online adalah tantangan lintas platform, lintas industri, bahkan lintas perusahaan. Artinya, solusi yang efektif tidak bisa berdiri sendiri.

1. Kolaborasi Platform – Bank – Regulator

Contoh yang sudah berjalan dan perlu diperkuat:

  • Platform media sosial mendeteksi dan memblokir konten & akun penipu
  • Bank memantau transaksi mencurigakan yang terkait akun tersebut
  • E-commerce memblokir akun penjual/pembeli yang terhubung dengan pola fraud
  • Regulator (OJK, Komdigi, BI, dsb.) menyediakan payung hukum dan mekanisme berbagi data yang aman

Dengan AI di tiap sisi, datanya jadi lebih kaya dan keputusan bisa dibuat lebih cepat.

2. AI sebagai “Radar Bersama” Ekosistem Digital

Bayangkan AI di berbagai lembaga ini saling mengirim sinyal risiko (dalam koridor aturan privasi dan perizinan):

  • Sebuah nomor rekening yang berkali-kali dilaporkan korban
  • Nomor telepon yang digunakan di berbagai akun penipu
  • Pola domain dan URL phishing yang terus berulang dengan variasi kecil

Kalau “radar bersama” ini aktif:

  • Penipuan yang sukses di satu platform lebih sulit diulang di platform lain
  • Pelaku kejahatan digital cepat ke-detect saat mulai membangun pola yang sama

Inilah arah yang menurut saya harus dituju Indonesia: AI tidak jalan sendirian di tiap perusahaan, tapi saling menguatkan lewat kolaborasi yang diatur regulator.


Langkah Praktis untuk Bank, E-commerce, dan Pengguna

Supaya tulisan ini tidak berhenti di wacana, berikut langkah praktis yang bisa dilakukan tiga pihak sekaligus.

Untuk Bank & Pelaku E-commerce

  1. Jadikan AI anti-fraud sebagai prioritas utama, bukan proyek sampingan.
    Integrasikan model AI ke core system transaksi dan sistem autentikasi.

  2. Bangun tim gabungan data + risk + IT security.
    AI hanya sekuat data dan interpretasinya. Tim yang solid bisa menerjemahkan alert menjadi aksi nyata.

  3. Desain pengalaman pengguna yang aman tapi tetap mulus.
    Contoh: hanya meminta verifikasi ekstra di transaksi berisiko, bukan setiap transaksi kecil.

  4. Edukasi nasabah dan pengguna di titik yang tepat.
    Pop-up edukasi saat user akan membagikan OTP, saat akan transfer ke rekening baru, atau saat terdeteksi login dari device asing.

  5. Bangun kanal pelaporan yang mudah dan real-time.
    Pelaporan di in-app chat, tombol “Laporkan Penipuan”, dan integrasi dengan sistem pemblokiran otomatis.

Untuk Pengguna (Nasabah, Pembeli, Konten Kreator)

AI sekuat apa pun tetap butuh kesadaran penggunanya.

Beberapa kebiasaan sederhana yang efeknya besar:

  • Jangan pernah membagikan OTP, PIN, atau password ke siapa pun, termasuk yang mengaku dari bank.
  • Cek dua kali nama penerima, nama toko, dan rating sebelum transfer atau belanja.
  • Jangan klik link pembayaran di luar aplikasi resmi bank atau marketplace.
  • Laporkan segera jika ada akun yang mengatasnamakan bank atau influencer untuk menawarkan investasi/bonus.

Semakin banyak laporan, semakin “tajam” model AI di belakang layar.


Menutup 2025: AI Bukan Lagi Opsi, Tapi Syarat Kepercayaan

Kasus yang diungkap TikTok hanyalah satu potongan dari peta besar darurat digital di Indonesia. Dari judi online sampai rekening terkuras lewat HP, polanya sama: serangan makin kreatif, menyasar semua level masyarakat, dan bergerak cepat.

Bagi sektor perbankan dan e-commerce, AI kini adalah fondasi kepercayaan, bukan sekadar fitur canggih. Tanpa AI yang kuat untuk deteksi fraud dan keamanan digital, sulit berharap pengguna akan merasa aman menyimpan uang, bertransaksi, dan berbelanja di ekosistem digital.

Ke depan, bank dan platform e-commerce yang akan menang adalah mereka yang bisa menggabungkan tiga hal sekaligus:

  • AI yang kuat di belakang layar
  • Pengalaman pengguna yang nyaman dan tidak ribet
  • Edukasi keamanan yang konsisten dan mudah dipahami

Kalau Anda bergerak di dunia perbankan, fintech, atau e-commerce, ini saat yang tepat untuk mengevaluasi: apakah sistem AI anti-fraud Anda sudah selevel ancaman yang ada?

Karena para pelaku penipuan sudah jelas: mereka tidak menunggu.