Fenomena “anak berekor busuk” di China jadi alarm bagi generasi muda Indonesia. Begini cara AI dalam digital banking bisa bantu bangun kemandirian finansial.
Tekanan Finansial Gen Z China & Peluang AI Banking
Di China, lebih dari 12,22 juta lulusan universitas masuk ke pasar kerja pada 2025. Banyak yang berakhir di istilah baru yang cukup pedas: “anak berekor busuk” – lulusan yang bekerja di luar keahlian, gaji rendah, dan masih sepenuhnya bergantung pada orang tua.
Fenomena ini bukan cuma soal sulitnya cari kerja. Ini juga soal kemandirian finansial yang tertunda, kegelisahan masa depan, dan sistem keuangan yang belum benar-benar membantu anak muda berdiri di kaki sendiri. Di titik ini, teknologi finansial, digital banking, dan AI dalam perbankan mulai terasa relevan, bukan hanya sebagai fitur keren, tapi sebagai alat bertahan hidup.
Tulisan ini membahas apa yang terjadi di China, pelajaran untuk Indonesia, dan bagaimana AI dalam industri perbankan bisa jadi salah satu cara paling realistis membantu generasi muda menghadapi tekanan ekonomi, sambil membangun inklusi keuangan yang lebih adil.
1. “Anak Berekor Busuk” di China: Gambaran Krisis Generasi Muda
Masalah utamanya jelas: lulusan makin banyak, pekerjaan layak makin sempit. Di China, istilah “anak berekor busuk” muncul untuk menggambarkan sarjana muda yang:
- Kerjanya jauh dari jurusan yang dipelajari
- Gajinya rendah atau tidak stabil
- Masih bergantung pada uang orang tua untuk kebutuhan dasar
Beberapa contoh nyata dari laporan lapangan:
- Hu Die, 22 tahun, lulusan desain, mengaku pasar kerja terasa "suram" dan akhirnya menurunkan ekspektasi.
- Li Mengqi, 26 tahun, sarjana teknik kimia, delapan bulan menganggur setelah lulus.
- Chen Yuyan, 26 tahun, lulusan vokasi bidang pangan dan obat, akhirnya bekerja sebagai petugas sortir paket dengan gaji yang tidak sebanding dengan pendidikannya.
Akar masalahnya?
- Ketimpangan antara usaha saat kuliah dan realita kerja setelah lulus
- Sektor-sektor yang dulu menyerap banyak lulusan (startup internet, pendidikan) justru menyusut
- Banyak perusahaan hanya mau menerima kandidat berpengalaman, sementara lulusan baru tidak diberi ruang belajar
Istilah "anak berekor busuk" sendiri terinspirasi dari proyek perumahan mangkrak yang menjadi beban ekonomi China sejak 2021. Analogi yang tajam: proyek besar yang dijanjikan muluk-muluk, berakhir setengah jadi dan menyisakan beban.
Generasi muda merasa persis seperti itu: sudah investasi waktu, tenaga, dan biaya untuk kuliah, tapi "proyek masa depan" mereka seperti berhenti di tengah jalan.
2. Dampak Psikologis & Finansial: Bukan Hanya Soal Pengangguran
Krisis kerja ini tidak berhenti di angka pengangguran. Ada lapisan lain yang lebih sunyi: mental dan finansial pribadi.
Para peneliti yang mengamati fenomena ini menyebut beberapa hal penting:
- Lulusan muda makin enggan menerima pekerjaan berkualitas rendah atau tidak stabil
- Banyak yang juga tidak tertarik lagi memulai usaha kecil tradisional, misalnya jualan di kaki lima untuk naik perlahan
- Muncul budaya “tangping” (merunduk) – memilih mundur dari persaingan hiperkompetitif, hidup dengan standar minimal, dan tidak terlalu mengejar karier mapan
Kombinasi pengangguran dan "tangping" menciptakan dua tekanan sekaligus:
-
Tekanan ekonomi:
- Cicilan pendidikan atau pinjaman konsumtif menumpuk
- Biaya hidup di kota besar terus naik
- Tabungan hampir tidak ada, dana darurat kosong
-
Tekanan martabat & identitas:
- Narasi “kalau kuliah rajin, hidupmu pasti terjamin” runtuh
- Rasa bersalah karena terus membebani orang tua
- Merasa tertinggal dibanding teman yang terlihat “sukses” di media sosial
Zhou Yun, akademisi yang meneliti isu ini, menyebut bahwa hilangnya akses ke kerja layak bukan cuma membuat masa depan ekonomi kabur, tapi juga "menghapus martabat dan tujuan hidup" generasi muda.
Di titik ini, inklusi keuangan dan akses terhadap layanan perbankan yang adil menjadi sangat krusial. Kalau akses ke kerja berat, setidaknya akses ke alat mengelola uang dan peluang finansial alternatif jangan ikut tertutup.
3. Pelajaran Penting untuk Indonesia: Kita Bisa Menghindari Jalur yang Sama
Indonesia memang bukan China, tetapi arah trennya mirip:
- Jumlah lulusan universitas dan SMK terus naik
- Persaingan kerja makin ketat, terutama di kota besar
- Banyak anak muda kerja di luar jurusan dengan gaji minim
- Ketergantungan finansial ke orang tua makin panjang
Kalau kita tidak hati-hati, istilah seperti "anak berekor busuk" bisa saja muncul dalam versi lokal.
Beberapa risiko yang perlu diwaspadai di Indonesia:
- Mismatch keahlian vs kebutuhan industri – lulusan banyak di jurusan yang "populer", tapi industri kekurangan talenta terampil di sektor strategis (misalnya manufaktur, teknologi, data)
- Minimnya literasi keuangan – banyak anak muda mulai kerja tanpa tahu cara mengelola gaji pertama, mengatur utang, dan membangun dana darurat
- Akses keuangan yang tidak merata – anak muda di kota besar relatif mudah buka rekening digital, tapi di daerah, akses ke layanan perbankan dan pembiayaan masih terbatas
Di sinilah digital banking dan AI sebenarnya bisa mengubah jalur cerita. Bukan sebagai solusi tunggal, tapi sebagai infrastruktur yang membuat transisi ke dewasa finansial jauh lebih halus.
4. Peran AI dalam Digital Banking: Dari Sekadar Aplikasi ke Teman Finansial
AI dalam industri perbankan Indonesia sering dibicarakan dalam konteks efisiensi bank. Tapi dampak yang jauh lebih menarik justru ada di level individu, terutama generasi muda.
Berikut beberapa cara AI banking bisa membantu lulusan muda menghindari jebakan "anak berekor busuk" versi Indonesia:
4.1. Asisten keuangan pribadi di ponsel
AI membuat aplikasi bank tidak lagi sekadar tempat cek saldo. Dengan analisis transaksi secara real-time, aplikasi bisa:
- Mengkategorikan pengeluaran otomatis (makan, transport, hiburan, cicilan)
- Mengirim alert saat pengeluaran mulai berlebihan dibanding bulan-bulan sebelumnya
- Menawarkan simulasi anggaran berdasarkan gaji dan kebutuhan pokok
Anda tidak perlu jadi ahli keuangan. AI bisa memecah hal-hal rumit seperti:
"Dengan gaji Rp6 juta, kalau kamu sisihkan 15% per bulan, dalam 12 bulan dana daruratmu bisa mencapai Rp10 juta."
Ini membantu anak muda yang gajinya belum besar, tapi ingin pelan-pelan lepas dari ketergantungan pada orang tua.
4.2. Skor kredit alternatif yang lebih adil untuk pemula
Banyak lulusan baru mentok ketika ingin mengajukan kartu kredit pertama, KTA, atau bahkan pembiayaan modal usaha kecil, karena tidak punya riwayat kredit.
AI memungkinkan bank untuk:
- Menilai kelayakan berdasarkan pola transaksi, kestabilan pemasukan, dan perilaku finansial
- Menggunakan data non-tradisional (misalnya histori pembayaran tagihan digital) untuk memperluas akses pembiayaan
Artinya, anak muda yang belum punya aset besar tetap bisa dinilai secara objektif dan diberi limit yang proporsional, bukan langsung ditolak.
4.3. Edukasi finansial yang dipersonalisasi
Salah satu kelemahan edukasi keuangan tradisional: kontennya generik dan sering terasa jauh dari realita.
Dengan AI, bank bisa:
- Mengirimkan konten edukasi yang relevan dengan situasi pengguna: baru dapat gaji pertama, habis mengajukan cicilan, atau pengeluaran naik drastis
- Menyajikan materi dalam format yang disukai anak muda: chat interaktif, simulasi, skenario "what if" (bagaimana kalau menunda cicilan, bagaimana kalau menabung lebih besar, dan seterusnya)
Ini membantu menggeser budaya “ya udah jalan aja dulu” ke budaya melek risiko dan rencana.
4.4. Membuka peluang kerja dan pendapatan baru
AI dalam perbankan juga bisa berkontribusi ke ekosistem peluang kerja:
- Platform digital bank bisa menjadi tempat UMKM dan freelancer muda terhubung dengan pasar, menerima pembayaran, dan membangun jejak usaha
- Analitik AI bisa membantu bank menawarkan produk pembiayaan modal kerja yang pas bagi freelancer, kreator, atau pelaku gig economy
- Kemitraan bank dengan startup fintech bisa menghasilkan program magang, pelatihan, atau sertifikasi digital yang lebih dekat dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
Ini tidak menyelesaikan semua persoalan lapangan kerja, tapi jelas memperluas ruang gerak anak muda yang tidak menemukan jalur karier tradisional.
5. Strategi Praktis untuk Generasi Muda Indonesia: Dari Bertahan ke Bertumbuh
Kondisi di China bisa jadi peringatan dini. Namun untuk Anda yang masih kuliah, baru lulus, atau sedang meraba-raba arah karier, ada beberapa langkah praktis yang realistis dilakukan mulai sekarang, dengan bantuan digital banking dan AI.
5.1. Jadikan aplikasi bank sebagai “dashboard hidup”
Bukan cuma cek saldo, tapi:
- Aktifkan semua fitur pencatatan otomatis dan kategori pengeluaran
- Buat anggaran bulanan di aplikasi dan pantau penyimpangannya
- Set auto-debit tabungan di awal gajian, bukan menunggu sisa
Fokus pertama: bangun dana darurat 3–6 bulan pengeluaran. Ini yang akan mengurangi ketakutan saat ingin pindah kerja, ambil pelatihan, atau coba jalur karier baru.
5.2. Bangun rekam jejak finansial sejak dini
Walau penghasilan belum besar, tetap bisa mulai:
- Punya rekening tabungan aktif dengan transaksi rutin
- Menggunakan produk keuangan sederhana yang terkontrol
- Menjaga pola pembayaran selalu tepat waktu
Saat bank dan sistem AI menilai perilaku finansial Anda stabil, akses ke produk kredit yang lebih sehat akan jauh lebih mudah.
5.3. Manfaatkan fitur edukasi & simulasi AI
Kalau aplikasi bank Anda sudah punya chatbot atau asisten AI, gunakan untuk:
- Tanya skenario: "Kalau saya nabung Rp500 ribu per bulan, 2 tahun lagi jadi berapa?"
- Hitung ulang rencana: "Kalau saya kurangi pengeluaran hiburan 20%, berapa tambahan tabungan saya?"
Jangan malu menggunakan fitur otomatis – justru itu yang membuat perencanaan finansial jadi lebih ringan dan tidak mengintimidasi.
5.4. Siapkan diri untuk dunia kerja yang fleksibel
Realita baru: banyak karier masa depan yang jalurnya tidak lurus. Di sinilah kemandirian finansial jadi faktor pembeda.
- Kalau punya buffer dana dan akses keuangan yang sehat, Anda lebih berani mencoba industri baru, ambil kursus, atau menerima proyek lepas
- Kalau keuangan selalu mepet, setiap keputusan karier akan terasa seperti taruhan besar
AI dalam perbankan bisa membantu Anda mengelola risiko ini dengan lebih terukur, bukan sekadar mengandalkan intuisi.
6. Masa Depan Inklusi Keuangan: Dari Krisis China ke Kesempatan Indonesia
Kisah "anak berekor busuk" di China adalah alarm keras: sistem pendidikan, pasar kerja, dan ekosistem keuangan bisa gagal menyambut generasi muda dengan layak.
Indonesia masih punya waktu untuk mengambil jalur berbeda. AI dalam industri perbankan bukan sekadar tren teknologi, tapi komponen penting untuk:
- Memperluas inklusi keuangan ke generasi muda di berbagai lapisan
- Memberikan dukungan finansial yang dipersonalisasi sesuai kondisi nyata, bukan asumsi
- Menciptakan jembatan antara dunia pendidikan, kerja, dan keuangan pribadi
Kalau Anda bagian dari generasi muda Indonesia, pertanyaannya sederhana:
Sudahkah Anda memanfaatkan penuh fitur digital banking dan AI yang ada di tangan, bukan hanya sebagai aplikasi, tapi sebagai fondasi membangun kemandirian finansial?
Karena di era pasar kerja yang tidak pasti, kadang perbedaan antara sekadar bertahan dan benar-benar bertumbuh bukan terletak pada seberapa besar gaji pertama Anda, tapi seberapa cerdas Anda mengelola setiap rupiah yang lewat, dengan bantuan teknologi yang sudah tersedia hari ini.