Modus penipuan Wangiri makin marak di era bank digital. Pelajari cara kerjanya dan bagaimana AI perbankan Indonesia melindungi nasabah dari fraud seperti ini.
Waspada Lonjakan Penipuan Wangiri di Era Bank Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan penipuan telepon dan digital ke layanan pengaduan bank dan OJK terus naik, terutama menjelang akhir tahun ketika transaksi finansial lagi ramai-ramainya. Salah satu modus yang diam-diam banyak makan korban adalah Wangiri fraud: missed call misterius dari nomor luar negeri yang bikin pulsa tiba-tiba habis.
Masalahnya, pola penipuan seperti ini sudah tidak lagi sekadar urusan pulsa. Di era mobile banking dan bank digital, satu nomor ponsel biasanya terhubung ke rekening, e-wallet, dan berbagai layanan keuangan. Artinya, serangan sederhana seperti Wangiri bisa jadi pintu masuk ke skema penipuan yang lebih kompleks, apalagi kalau digabung dengan social engineering.
Tulisan ini membahas dua hal sekaligus:
- bagaimana sebenarnya modus penipuan Wangiri bekerja,
- dan yang lebih penting, bagaimana AI di industri perbankan Indonesia digunakan untuk mendeteksi dan menghalangi pola fraud seperti ini sebelum nasabah rugi lebih jauh.
Apa Itu Penipuan Wangiri dan Mengapa Masih Banyak Korbannya?
Wangiri adalah modus penipuan telepon yang pertama kali dikenal luas di Jepang awal tahun 2000-an, lalu beberapa kali muncul di Indonesia, termasuk sempat viral sekitar 2018 dan kembali ramai pada 2025.
Skemanya sederhana tetapi efektif:
- Penipu menggunakan sistem pemanggil otomatis (auto dialer) yang bisa melakukan ribuan panggilan sekaligus.
- Panggilan dibuat sangat singkat sehingga hanya muncul sebagai missed call.
- Nomor yang muncul biasanya nomor asing atau tampak seperti nomor premium, seringkali dengan kode negara yang tidak familiar.
- Korban yang penasaran atau takut “ini siapa ya, jangan-jangan penting” lalu menelpon balik.
- Saat korban menelpon balik, panggilan diarahkan ke nomor tarif premium (mahal per menit), atau nomor internasional dengan biaya tinggi.
- Penipu mendapatkan bagian dari biaya panggilan tersebut, dibagi dengan operator pemilik layanan tarif premium.
Korban biasanya baru sadar setelah:
- pulsa terkuras dalam hitungan menit, atau
- tagihan pascabayar melonjak tidak wajar di akhir bulan.
Kenapa modus sesederhana ini masih makan korban?
- Rasa penasaran dan khawatir: orang takut kalau itu telepon penting (kantor, keluarga, pihak bank, dll.).
- Kurangnya edukasi: banyak yang belum tahu apa itu Wangiri, apalagi di daerah atau kelompok usia tertentu.
- Tidak cek format nomor: nomor asing dianggap wajar karena kita sudah terbiasa paket roaming, kerja remote, atau jualan online ke luar negeri.
Di konteks perbankan digital, nomor ponsel yang sama ini juga dipakai untuk:
- OTP (one-time password) m-banking,
- verifikasi transaksi,
- notifikasi aktivitas rekening.
Itu sebabnya, perlindungan terhadap nomor ponsel dan pola komunikasi palsu sekarang masuk radar serius sistem keamanan bank, bukan lagi urusan operator seluler semata.
Skema Wangiri: Dari Missed Call sampai Kerugian Finansial
Skema Wangiri kelihatannya cuma soal pulsa, tapi pola kerjanya sebenarnya cukup “profesional”. Kalau dibedah, alurnya seperti ini:
1. Blast Panggilan Otomatis ke Ribuan Nomor
Penipu menggunakan jaringan dan perangkat keras auto dialer yang bisa menelpon ribuan nomor dalam waktu singkat. Sistem ini:
- memanggil nomor secara berurutan,
- menghentikan panggilan dalam hitungan satu–dua dering,
- menyisakan jejak sebagai missed call di ponsel.
Kadang dikombinasikan dengan SMS: “Silakan telepon balik penting, segera hubungi nomor ini” untuk memancing korban.
2. Korban Menelpon Balik ke Nomor Tarif Premium
Begitu korban menelpon balik:
- panggilan diarahkan ke nomor tarif premium atau nomor internasional berbiaya tinggi,
- tarif per menit bisa jauh di atas tarif biasa.
Korban biasanya tidak sadar karena fokus pada “siapa yang telpon barusan?”.
3. Ditahan Selama Mungkin di Jalur Telepon
Supaya biaya makin besar, penipu akan berusaha menahan korban selama mungkin:
- memutar rekaman musik menunggu,
- suara otomatis “harap menunggu, petugas kami sedang sibuk”,
- seolah-olah panggilan akan segera diangkat.
Setiap detik yang lewat berarti uang mengalir ke penipu.
4. Bagi Hasil dengan Pemilik Layanan
Skema bisnis di belakangnya:
- nomor premium biasanya di-sewa penipu dari penyedia jasa,
- ada model bagi hasil dari total biaya panggilan.
Di titik ini, kerugian kelihatan sederhana: pulsa habis, tagihan bengkak. Tapi efek lanjutan di ekosistem digital banking jauh lebih serius.
Dari Wangiri ke Digital Banking: Risiko Nyata bagi Nasabah Indonesia
Penipuan Wangiri jarang berhenti di satu modus. Banyak sindikat yang menggabungkannya dengan social engineering untuk mengincar akun m-banking dan data pribadi.
Beberapa skenario yang sering saya lihat pola umumnya seperti ini:
- Setelah missed call, korban menerima telepon lanjutan yang mengaku dari pihak bank, menjelaskan soal “penyesuaian tarif internasional”, lalu meminta:
- kode OTP,
- PIN m-banking,
- data KTP atau tanggal lahir.
- Missed call jadi “umpan” untuk menguji apakah nomor tersebut aktif dan responsif. Nomor yang merespon akan dimasukkan ke daftar target penipuan berikutnya: phishing, vishing, atau penipuan m-banking.
Bagi bank digital di Indonesia, konsekuensinya jelas:
- Lonjakan transaksi mencurigakan dari nasabah yang datanya sudah dicuri.
- Meningkatnya komplain dan biaya penggantian kerugian ke nasabah.
- Turunnya kepercayaan terhadap keamanan bank digital.
Di sinilah AI dalam industri perbankan mulai jadi garda depan, bukan hanya fitur tambahan yang keren-kerenan.
Bagaimana AI Bank Digital Mendeteksi Pola Fraud seperti Wangiri
AI di perbankan bekerja paling efektif saat dipakai untuk mengenali pola – sesuatu yang manusia sulit lakukan secara konsisten kalau datanya sudah jutaan baris per hari.
Dalam konteks Wangiri dan penipuan berbasis telepon, ada beberapa pendekatan yang mulai dipakai bank dan fintech di Indonesia.
1. Analitik Perilaku Nasabah (Behavioral Analytics)
AI mempelajari kebiasaan normal tiap nasabah:
- jam transaksi biasa,
- nominal rata-rata,
- lokasi perangkat,
- pola login dan device,
- jenis transaksi (transfer, top up, pembayaran).
Saat tiba-tiba muncul pola seperti:
- login dari perangkat baru tidak lama setelah serangan telepon mencurigakan,
- percobaan transaksi besar ke rekening tujuan yang tidak pernah muncul sebelumnya,
- banyak percobaan salah PIN/OTP,
sistem fraud detection berbasis AI bisa langsung:
- menandai transaksi sebagai berisiko tinggi,
- meminta verifikasi tambahan (misalnya biometric, konfirmasi melalui aplikasi),
- menahan sementara transaksi sambil mengirim notifikasi ke nasabah.
2. Pemodelan Jaringan (Network & Graph Analysis)
Penipu jarang bergerak sendirian. Akun, nomor rekening, dan perangkat seringkali saling terkait. AI yang bagus akan membangun graph hubungan antara:
- rekening tujuan,
- nomor ponsel,
- perangkat yang digunakan,
- pola IP address,
- merchant atau channel pembayaran.
Jika satu rekening sudah teridentifikasi terlibat penipuan (misalnya dari laporan nasabah atau hasil investigasi), AI bisa:
- memetakan cluster rekening dan nomor yang sering berinteraksi dengan rekening itu,
- menurunkan skor kepercayaan untuk seluruh jaringan terkait,
- memberi sinyal “early warning” sebelum korban berikutnya jatuh.
Ini relevan dengan Wangiri saat nomor yang sama mulai:
- muncul di berbagai laporan komplain,
- terkait dengan transaksi mencurigakan pada beberapa rekening.
3. Integrasi Data Eksternal: Daftar Hitam Nomor dan Pola Panggilan
Bank bisa berkolaborasi dengan:
- operator seluler,
- penyedia layanan keamanan siber,
- asosiasi fintech,
untuk mengakses daftar hitam (blacklist):
- nomor-nomor yang sering digunakan untuk Wangiri,
- kode negara tertentu yang dicurigai,
- pola durasi panggilan dan SMS jebakan.
AI bisa memanfaatkan data ini untuk:
- menyesuaikan skor risiko sebuah aktivitas,
- memicu verifikasi tambahan saat ada perubahan nomor telepon nasabah,
- memperkuat proses KYC saat pendaftaran dan perubahan data.
4. NLP (Natural Language Processing) untuk Deteksi Vishing & Social Engineering
Banyak penipuan m-banking sekarang dilakukan lewat telepon langsung (vishing). Di negara lain, beberapa bank sudah mulai menguji sistem yang:
- menganalisis transkrip percakapan call center,
- mengenali pola kalimat penipu (meminta OTP, mengaku dari “tim keamanan bank”, mengancam akun akan diblokir, dll.),
- menandai nomor atau profil penelpon tertentu berisiko tinggi.
Di Indonesia, pendekatan seperti ini bisa dikombinasikan dengan model bahasa Indonesia yang peka terhadap:
- variasi bahasa gaul,
- logat dan gaya bicara lokal,
- kata-kata kunci penipuan yang sering muncul.
Ini bukan berarti semua panggilan direkam bebas. Bank tetap wajib patuh pada aturan privasi. Tapi dengan kebijakan dan persetujuan yang jelas, AI bisa membantu memisahkan interaksi normal dan pola yang mengarah ke social engineering.
Tips Praktis: Kolaborasi Nasabah dan AI untuk Menghindari Wangiri
AI di sistem bank digital sudah makin canggih, tapi tetap tidak bisa menggantikan kewaspadaan dasar nasabah. Kombinasinya yang bikin aman.
Beberapa langkah praktis yang realistis untuk dilakukan:
1. Jangan Pernah Menelpon Balik Nomor Asing yang Mencurigakan
- Abaikan missed call dari nomor dengan kode negara yang tidak Anda kenali.
- Kalau memang penting, mereka akan menghubungi lagi atau lewat kanal lain.
2. Aktifkan Fitur Keamanan Tambahan di Aplikasi Bank Digital
Manfaatkan fitur yang biasanya sudah ada:
- notifikasi real-time untuk setiap transaksi,
- konfirmasi via aplikasi (in-app confirmation), bukan hanya SMS,
- login biometric (sidik jari/face ID).
3. Waspada Jika Setelah Missed Call, Ada Telepon Mengaku dari Bank
Tanda-tanda telepon penipu:
- meminta OTP, PIN, CVV, atau password,
- mengancam akun akan diblokir dalam hitungan menit,
- memaksa Anda segera mengikuti instruksi tanpa sempat berpikir.
Bank yang sehat tidak akan pernah meminta OTP dan PIN lewat telepon.
4. Laporkan ke Bank atau OJK Saat Ada Aktivitas Mencurigakan
Begitu Anda lapor:
- sistem AI bank bisa menandai akun Anda untuk perlindungan ekstra,
- data laporan Anda membantu melatih model AI agar makin jeli mengenali pola penipuan baru.
Semakin banyak nasabah aktif melapor, semakin kuat pula “radar kolektif” yang dimiliki bank dan regulator.
AI sebagai Garda Depan Keamanan Bank Digital Indonesia
Penipuan Wangiri mengingatkan bahwa serangan keuangan tidak selalu datang lewat aplikasi atau website, tapi juga lewat kanal yang kelihatannya jadul seperti telepon dan SMS. Di era AI dalam industri perbankan Indonesia, semua kanal ini akhirnya bertemu di satu titik: data.
Dengan pendekatan yang tepat, AI membantu bank untuk:
- memahami perilaku normal nasabah dan menangkap anomali,
- menghubungkan titik-titik kecil (nomor ponsel, rekening, perangkat, lokasi) menjadi gambaran besar jaringan penipu,
- merespon serangan lebih cepat daripada yang bisa dilakukan tim manual.
Untuk Anda sebagai nasabah, peranannya sederhana tapi krusial:
- jaga data pribadi,
- jangan terpancing missed call mencurigakan,
- manfaatkan fitur keamanan yang sudah disiapkan bank,
- dan jangan ragu melapor kalau ada yang janggal.
Seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking” ini ada untuk menunjukkan bahwa AI bukan hanya dipakai bank untuk efisiensi internal, tapi juga untuk melindungi dompet dan data Anda. Tantangannya ke depan bukan cuma bagaimana teknologi ini makin pintar, tapi juga bagaimana nasabah makin melek sehingga penipu kehilangan celah.
Pertanyaannya sekarang: di akhir tahun yang sibuk transaksi seperti ini, apakah sistem keamanan bank Anda — dan kebiasaan Anda sendiri — sudah cukup siap menghadapi serangan sederhana seperti Wangiri hingga skema fraud yang jauh lebih kompleks?