RUPSLB BRI mengangkat Viviana Dyah sebagai Wadirut. Apa artinya bagi masa depan digital banking dan AI di perbankan Indonesia, khususnya untuk BRI?

Pergantian Wadirut BRI yang Diam-Diam Penting untuk Masa Depan AI
RUPSLB BRI pada 17/12/2025 bukan sekadar acara rutin pemegang saham. Di balik keputusan mengangkat Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari sebagai Wakil Direktur Utama (Wadirut) baru, ada sinyal kuat soal arah transformasi digital, digital banking, dan pemanfaatan AI di perbankan Indonesia.
BRI sudah jadi salah satu pemain paling agresif di ranah perbankan digital lewat BRImo, ekosistem ultra mikro, dan berbagai inisiatif inklusi keuangan. Pergantian di level puncak seperti ini hampir selalu berhubungan dengan penyesuaian strategi, terutama ketika industri sedang bergerak ke AI, data, dan otomasi layanan.
Tulisan ini membedah:
- siapa sebenarnya Viviana Dyah dan apa jejak rekamnya di BRI,
- bagaimana perubahan ini bisa memengaruhi strategi digital banking dan AI BRI,
- peluang dan risiko AI di perbankan Indonesia,
- dan apa artinya semua ini bagi nasabah, pelaku UMKM, dan pelaku industri keuangan.
Siapa Viviana Dyah dan Kenapa Posisi Wadirut Penting?
Pengangkatan Viviana Dyah sebagai Wadirut BRI bukan keputusan mendadak. Ini kelanjutan dari perjalanan panjang di internal BRI dan dunia keuangan.
Profil Singkat Viviana Dyah
Beberapa poin penting dari perjalanan kariernya:
- Pernah menjabat Direktur Finance & Strategy BRI sejak 2021
- Sebelumnya meniti karier di area equity management dan subsidiary management (mengelola anak usaha)
- Latar pendidikan:
- S2 Master of Business Administration (MBA) – Finance di University of Rochester
- S1 Peternakan di IPB (menarik, karena menunjukkan kemampuan adaptasi lintas disiplin)
- Berkarier lama di BRI, dari Assistant Vice President (Equity Management) hingga Executive Vice President Subsidiary Management, lalu naik ke jajaran direktur
Posisi Wadirut di bank sebesar BRI itu strategis. Biasanya Wadirut memegang:
- penyelarasan strategi korporat,
- eksekusi agenda transformasi,
- koordinasi lintas direktorat (termasuk IT, digital, dan bisnis ritel/UMKM),
- jembatan antara visi direksi inti dan implementasi di lapangan.
Dengan background keuangan dan strategi, Wadirut seperti Viviana sangat mungkin mendorong penggunaan AI yang terukur secara bisnis, bukan sekadar proyek teknologi yang keren di atas kertas tapi tidak terasa ke nasabah.
BRI Sedang ke Mana? Konteks Digital Banking dan AI
Untuk memahami dampak pergantian Wadirut, kita perlu lihat posisi BRI saat ini di peta digital banking Indonesia.
Beberapa fakta penting tentang arah BRI
Tanpa menyebutkan semua angka detail, pola besarnya seperti ini:
- Pengguna BRImo sudah puluhan juta dan terus tumbuh dua digit per tahun.
- Fokus kuat pada segmen UMKM dan ultra mikro, yang secara tradisional sulit dijangkau bank konvensional.
- BRI agresif mengembangkan ekosistem digital: integrasi dengan agen BRILink, merchant, fintech, hingga platform pemerintah.
- Transformasi bisnis yang mereka sebut sebagai penguatan “BRI sebagai bank dengan DNA mikro” tapi beroperasi dengan teknologi kelas bank besar.
Di era AI dalam industri perbankan Indonesia, ada beberapa area kunci di mana BRI (dan bank lain) sedang bertarung:
- Scoring kredit berbasis AI untuk UMKM dan individu yang minim riwayat kredit formal.
- Deteksi fraud realtime di mobile banking dan transaksi ritel.
- Chatbot dan virtual assistant berbahasa Indonesia (dan bahkan bahasa daerah) untuk layanan 24/7.
- Personalisasi penawaran produk di aplikasi mobile (pinjaman, investasi, tabungan berjangka) berbasis data transaksi.
Di titik inilah posisi dan visi Wadirut baru akan sangat menentukan kecepatan dan kedalaman adopsi AI.
Bagaimana Wadirut Baru Bisa Mempercepat Adopsi AI di BRI?
Jawaban singkatnya: dengan menjadikan AI bukan proyek teknologi, tapi strategi bisnis inti.
1. AI untuk Efisiensi dan Profitabilitas
Sebagai mantan Direktur Finance & Strategy, Viviana paham satu hal: AI hanya masuk akal jika terbukti menaikkan return atau menekan biaya.
Beberapa contoh dampak langsung yang biasanya jadi fokus:
- Otomasi proses kredit: analisis data calon debitur (SLIK, data transaksi, pola pendapatan) dengan AI bisa memangkas waktu analisis dari hari menjadi menit.
- Optimasi pricing kredit: AI bisa membantu menentukan bunga pinjaman yang paling optimal untuk tiap segmen nasabah, bukan rata-rata kasar.
- Quality assurance otomatis di proses operasional cabang dan call center lewat analisis suara dan teks.
Kalau ini diorkestrasi dengan benar lewat level Wadirut, efeknya:
- cost to income ratio turun,
- kualitas aset (NPL) lebih terkontrol,
- kapasitas melayani nasabah naik tanpa menambah banyak SDM.
2. AI untuk Inklusi Keuangan, Bukan Hanya Nasabah Mapan
BRI selama ini dikenal sebagai bank rakyat. Tantangannya di era AI: jangan sampai teknologi hanya menguntungkan nasabah kelas menengah ke atas yang digital savvy.
Di sinilah kombinasi DNA mikro BRI dan visi strategis Wadirut baru bisa berbeda:
- AI dipakai untuk mengolah data warung, petani, pedagang pasar, ojek pangkalan, dan pelaku ultra mikro dari transaksi agen BRILink, dompet digital, sampai histori pembayaran tagihan.
- Scoring alternatif: nasabah yang tidak punya slip gaji dan laporan keuangan formal tetap bisa dinilai kelayakan kreditnya lewat pola pemasukan dan pengeluaran di rekening/agen.
- Segmentasi lebih halus: petani padi di Jawa Tengah, nelayan di Sulawesi, atau pedagang daring di marketplace bisa diperlakukan beda, dengan produk yang lebih nyambung.
Kalau Wadirut mendorong AI ke arah ini, efek sosialnya besar: inklusi keuangan yang lebih adil.
3. AI di Garis Depan: BRImo, Chatbot, dan Layanan 24/7
Di sisi nasabah, AI paling terasa di titik-titik berikut:
- Chatbot pintar di aplikasi BRImo dan website yang bisa:
- jawab keluhan,
- bantu reset akses,
- jelaskan produk dengan bahasa yang mudah,
- bahkan bantu edukasi keuangan.
- Rekomendasi personal di BRImo:
- saran top up tabungan otomatis,
- notifikasi “kebocoran” pengeluaran,
- penawaran pinjaman produktif yang relevan (bukan spam).
- Keamanan transaksi dengan AI yang memantau pola transaksi dan memblokir yang mencurigakan sebelum nasabah sadar.
Peran Wadirut di sini adalah memastikan tiga hal:
- pengalaman nasabah tetap simple, tidak teknokratik,
- investasi AI diarahkan ke fitur yang benar-benar dipakai, bukan hanya pamer teknologi,
- koordinasi antara tim bisnis, IT, dan risk berjalan rapi.
Tantangan Besar: Regulasi, Etika, dan Data Privacy
AI di perbankan tidak bisa jalan liar. Ada regulasi OJK, BI, dan aturan perlindungan data pribadi yang harus dipatuhi.
Apa saja isu sensitif yang harus dipegang Wadirut?
-
Transparansi algoritma kredit
Nasabah berhak tidak didiskriminasi hanya karena model AI membaca pola data tertentu. Bank harus bisa menjelaskan secara garis besar kenapa kredit ditolak atau bunganya lebih tinggi. -
Perlindungan data pribadi
Dengan AI, bank tergoda mengumpulkan data sebanyak mungkin. Tantangannya:- data harus dipakai sesuai persetujuan nasabah,
- disimpan dan diproses dengan standar keamanan tinggi,
- tidak dijual atau dibagi sembarangan.
-
Bias dan keadilan
Kalau data historis cenderung “menguntungkan” kelompok tertentu, AI bisa mengulang bias yang sama. Di sinilah kepemimpinan korporat (termasuk Wadirut) perlu menetapkan prinsip AI yang etis:- audit model AI secara berkala,
- tes fairness lintas segmen wilayah, gender, dan kelas ekonomi,
- koreksi manual jika ditemukan bias.
Pemimpin dengan latar keuangan dan strategi, seperti Viviana, biasanya cukup peka terhadap balance antara risiko, regulasi, dan peluang bisnis. Ini modal penting agar AI BRI tidak hanya kencang, tapi juga patuh aturan dan berkelanjutan.
Apa Artinya bagi Nasabah, UMKM, dan Pelaku Industri?
Dari sudut pandang praktis, pergantian Wadirut ini punya beberapa implikasi nyata.
Bagi nasabah ritel
Kalau agenda transformasi digital dan AI dipercepat, dalam 1–3 tahun ke depan kita bisa melihat:
- proses buka rekening dan ajukan kredit di BRImo makin cepat,
- layanan bantuan 24/7 yang lebih pintar dan manusiawi,
- notifikasi dan rekomendasi keuangan yang lebih personal, bukan massal.
Bagi UMKM dan ultra mikro
Ini kelompok yang paling bisa diuntungkan:
- akses kredit bisa lebih mudah berkat AI credit scoring berbasis data transaksi,
- proses survei dan analisis usaha lebih singkat,
- program pendampingan keuangan bisa dipersonalisasi (misalnya edukasi sederhana soal arus kas, stok, dan pembukuan).
Kalau digarap serius, AI dan digital banking bisa membuat UMKM yang sebelumnya “tak terlihat” menjadi “bankable”.
Bagi pelaku industri dan profesional keuangan
Bagi Anda yang bekerja di bank, fintech, atau konsultan:
- pergantian Wadirut ini sinyal bahwa kompetensi di data, AI, dan digital strategy makin krusial untuk karier di industri keuangan,
- kolaborasi bank–fintech di area data dan AI kemungkinan makin terbuka,
- ruang untuk solusi B2B (fraud detection, analitik risiko, customer experience analytics) di perbankan akan melebar.
Saya pribadi melihatnya begini: siapa pun yang menguasai kombinasi bisnis keuangan + data + AI dalam 3–5 tahun ke depan, akan jadi pemain kunci di sektor ini.
Penutup: Momentum Baru untuk AI di Perbankan Indonesia
Pergantian Wadirut BRI ke tangan Viviana Dyah terjadi di momen yang pas: akhir 2025, ketika AI dalam industri perbankan Indonesia sudah bukan konsep, tapi kebutuhan kompetitif.
Jika Wadirut baru mampu memadukan:
- kekuatan jaringan dan basis nasabah BRI,
- strategi keuangan yang solid,
- dan pemanfaatan AI yang etis dan fokus ke inklusi,
kita bisa melihat BRI bukan hanya sebagai bank terbesar untuk rakyat, tetapi juga bank digital dan AI paling matang di kawasan.
Bagi Anda yang terlibat di dunia keuangan—baik sebagai nasabah, pelaku UMKM, profesional bank, maupun founder fintech—ini saat yang tepat untuk berpikir serius:
Bagaimana peran Anda di ekosistem baru ini, ketika AI, digital banking, dan kepemimpinan seperti Viviana Dyah semakin menentukan arah industri keuangan Indonesia?