Transformasi BRI bukan sekadar ganti logo. Ini langkah strategis menuju bank universal berbasis digital dan AI, dengan fokus UMKM dan inklusi keuangan.

Transformasi BRI: Dari Logo Baru ke Era Digital & AI
Sebagian besar orang mengira rebranding bank itu soal ganti logo dan warna. BRI baru saja membuktikan bahwa anggapan itu terlalu dangkal. Di balik logo biru baru yang lebih cerah, ada agenda transformasi besar yang akan mengubah cara BRI beroperasi, melayani nasabah, sampai mengelola risiko di era digital banking.
Ini menarik bukan cuma buat investor BBRI, tapi juga buat pelaku UMKM, profesional perbankan, dan siapa pun yang lagi memikirkan masa depan AI dalam industri perbankan Indonesia. Karena yang BRI lakukan sekarang sedang membentuk standar baru: bagaimana bank besar bertransformasi digital, tetap inklusif, dan pelan-pelan mengadopsi kecerdasan buatan secara serius.
Di tulisan ini, kita bahas apa saja isi transformasi BRI, bagaimana kaitannya dengan digital banking dan AI, plus pelajaran praktis untuk bank lain dan pelaku usaha di ekosistem finansial Indonesia.
1. Rebranding BRI: Sinyal Perubahan Strategi, Bukan Kosmetik
Rebranding BRI dengan logo nusantara blue yang lebih modern sebenarnya adalah pernyataan strategis: BRI ingin diposisikan sebagai bank universal – satu bank untuk semua segmen, dari ultra mikro sampai korporasi – tanpa meninggalkan DNA utamanya di UMKM.
Logo baru hanyalah ujung gunung es. Agenda utamanya adalah transformasi bisnis, budaya, dan teknologi.
Beberapa pesan penting dari langkah ini:
- Reposisi merek: Dari citra “bank desa” atau “bank UMKM” menjadi bank universal yang tetap pro-rakyat, tapi juga relevan untuk segmen mass affluent dan korporasi.
- Konsistensi lintas kanal: Brand yang relevan, berbeda, dan konsisten di seluruh platform — cabang, mobile banking, internet banking, hingga channel digital lain.
- Pondasi buat ekspansi digital: Identitas visual yang modern biasanya diikuti pengalaman digital yang lebih rapi, intuitif, dan siap integrasi teknologi baru seperti AI.
Untuk era digital banking di Indonesia, ini penting. Nasabah makin jarang ke cabang, tapi setiap hari buka aplikasi. Identitas visual, UX, tone komunikasi – semuanya memengaruhi kepercayaan dan kenyamanan pakai layanan digital.
2. Fondasi Budaya & Tata Kelola: Tanpa Ini, AI Cuma Gimmick
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menekankan pembenahan budaya perusahaan dari bawah ke atas, dengan integritas sebagai kunci untuk memperkuat good corporate governance (GCG).
Kenapa ini krusial di era AI dan digital banking?
-
Data yang bersih butuh budaya yang sehat
Model AI di perbankan (misalnya untuk penilaian kredit, deteksi fraud, atau rekomendasi produk) hanya akan sebaik kualitas datanya. Kalau budaya perusahaan permisif terhadap manipulasi data, bypass prosedur, atau cara-cara “jalan pintas”, jangan harap AI menghasilkan keputusan yang adil dan akurat. -
GCG jadi tameng risiko teknologi
Pemakaian AI di bank menyentuh area sensitif: skor kredit, AML (anti pencucian uang), hingga monitoring transaksi. Tanpa GCG yang kuat, penggunaan AI bisa berujung diskriminasi, penyalahgunaan data pribadi, atau keputusan yang sulit dipertanggungjawabkan. -
Transformasi butuh mindset bertumbuh
BRI menyebut insan BRI sebagai Brilian dan mendorong mindset “terus lebih baik”. Inilah mental model yang dibutuhkan supaya karyawan cabang, IT, risk, sampai bisnis bisa menerima otomasi, data analytics, dan AI sebagai alat bantu, bukan ancaman.
Buat bank lain, pelajarannya jelas:
Jangan bicara AI dan digital banking kalau budaya integritas dan GCG belum beres. Itu sama saja membangun sistem canggih di atas pondasi rapuh.
3. Strategi Pendanaan: Kejar CASA, Siapkan Bahan Bakar untuk Digital & AI
Di sisi bisnis, BRI sedang mengubah struktur pendanaan. Targetnya jelas: mengurangi ketergantungan pada deposito berjangka yang mahal, dan menaikkan porsi dana murah (CASA).
Beberapa angka penting yang disampaikan Hery Gunardi:
- Komposisi CASA naik dari 64% menjadi 67% sejak ia memimpin.
- Target 70% CASA di akhir tahun.
Untuk apa? Karena:
- CASA tinggi → cost of fund turun
Biaya dana (cost of fund) yang lebih rendah memberikan ruang margin keuntungan yang lebih lebar. - Margin sehat → ruang investasi teknologi lebih besar
Implementasi AI dan transformasi digital butuh dana besar:- infrastruktur cloud & data center,
- data lake & data governance,
- pengembangan dan pelatihan model AI,
- penguatan keamanan siber.
Bank dengan cost of fund tinggi cenderung “irit” untuk investasi jangka panjang. Sebaliknya, ketika margin mulai melebar, manajemen punya ruang untuk berani menaruh dana di proyek data dan AI yang hasilnya tidak instan tapi sangat strategis.
Dari kacamata AI dalam industri perbankan Indonesia, langkah BRI mengejar CASA adalah logis:
Sebelum bicara inovasi futuristik, amankan dulu mesin uang bank. Baru setelah itu agresif membangun kapabilitas digital dan AI.
4. Penguatan Transaction Banking: BRImo, QLola, dan Potensi AI
Hery juga menyinggung bahwa BRI akan terus memperbarui super app BRImo dan platform QLola untuk mendorong volume transaksi.
Ini area yang sangat potensial untuk penerapan AI di digital banking:
4.1. Personalisasi layanan di BRImo
Dengan jutaan pengguna aktif, BRImo adalah tambang data perilaku nasabah. Di sinilah AI bisa bermain:
-
Rekomendasi produk cerdas
AI bisa memprediksi kebutuhan nasabah: KUR, KPR, kartu kredit, asuransi, investasi reksa dana – berdasarkan pola transaksi dan profil risiko. -
Notifikasi yang relevan, bukan spam
Model machine learning dapat mempelajari kapan dan jenis notifikasi apa yang paling berguna bagi masing-masing nasabah, bukan blast massal yang mengganggu.
- Chatbot bahasa Indonesia yang natural
Chatbot berbasis NLP (Natural Language Processing) berbahasa Indonesia bisa menangani:- cek saldo, mutasi, limit,
- blokir kartu,
- info status pengajuan kredit,
- edukasi fitur baru.
Di level lanjutan, chatbot ini bisa bicara dengan dialek lokal, menjawab pertanyaan UMKM soal pembiayaan, bahkan bantu literasi keuangan dengan bahasa yang mudah dipahami.
4.2. QLola untuk korporasi & bisnis
QLola menyasar segmen bisnis dan korporasi. Ini lahan subur AI untuk:
-
Prediksi arus kas dan kebutuhan modal kerja
Sistem dapat membaca pola arus kas klien dan memberikan insight: kapan butuh tambahan modal kerja, apakah struktur piutang sehat, dan lain-lain. -
Deteksi fraud dan anomali transaksi
AI dapat mengamati jutaan transaksi dan menandai pola tidak biasa dalam hitungan detik, jauh lebih cepat daripada rule-based tradisional. -
Otomasi rekonsiliasi
Proses yang dulu butuh tim keuangan berhari-hari, bisa disingkat dengan algoritma pencocokan otomatis.
Semakin tinggi volume transaksi digital BRI, semakin kaya data yang bisa dipakai untuk melatih model AI. Siklusnya seperti ini:
Adopsi digital naik → data bertambah → kualitas model AI membaik → layanan makin personal dan aman → nasabah makin nyaman pakai digital → adopsi naik lagi.
5. Perubahan Organisasi & Proses Mikro–UKM: Pondasi Inklusi Keuangan Berbasis AI
BRI juga membenahi struktur organisasi. Mulai Januari, BRI akan punya struktur area head yang melengkapi organisasi. Ini bukan sekadar tambal sulam organigram, tapi cara mendekatkan kendali manajemen ke lapangan.
Di saat yang sama, BRI memperbarui proses bisnis di segmen mikro dan UKM, dengan perhatian khusus ke CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) yang tinggi. Artinya, risiko kredit di segmen ini sedang dikelola ekstra hati-hati.
Di sinilah AI bisa menjadi pembeda:
5.1. Penilaian kredit alternatif untuk UMKM
UMKM sering terkendala agunan dan riwayat kredit formal. AI membuka jalan baru:
- Pakai data alternatif: transaksi rekening, catatan pembelian bahan baku, pembayaran utilitas, hingga data POS digital.
- Model credit scoring AI yang menilai kelayakan bukan hanya dari jaminan, tapi dari perilaku finansial riil.
Hal ini mendukung inklusi keuangan: makin banyak pelaku usaha kecil yang bisa mengakses pembiayaan formal dengan proses lebih cepat dan objektif.
5.2. Risk management yang “embedded” di bisnis UKM
Hery menyebut target agar bisnis UKM BRI nantinya embedded dengan risk management. Ini sangat sejalan dengan pemanfaatan AI:
- Model risiko berjalan real-time, bukan hanya cek tahunan.
- Early warning system memberi sinyal lebih awal ketika ada gejala penurunan kualitas kredit.
- Portfolio bisa dioptimalkan per wilayah, sektor usaha, dan skala bisnis.
Bagi ekonomi Indonesia, jika BRI berhasil melakukan ini dengan baik, dampaknya besar:
UMKM tetap mendapat akses kredit, tapi kualitas portofolio bank tetap sehat. Inklusi keuangan berjalan berdampingan dengan kehati-hatian prudensial.
6. Apa Artinya untuk Investor, Nasabah, dan Pelaku Industri?
Transformasi BRI membawa beberapa implikasi praktis:
6.1. Untuk investor BBRI
- Fokus ke perbaikan CASA dan cost of fund akan memengaruhi profitabilitas.
- Pembenahan GCG dan struktur organisasi memperkecil risiko tata kelola.
- Transformasi digital dan potensi penerapan AI (meski tidak dibahas rinci di berita) biasanya punya horizon hasil menengah–panjang, tapi bisa menjadi katalis valuasi jika terlihat di angka efisiensi dan kualitas aset.
6.2. Untuk nasabah ritel & UMKM
- Aplikasi seperti BRImo kemungkinan akan menjadi pusat interaksi dengan BRI, dengan fitur transaksi, kredit, investasi dalam satu platform.
- Dengan proses bisnis mikro–UKM yang diperbarui, ke depan pengajuan dan monitoring kredit diharapkan lebih cepat, transparan, dan data-driven.
- Chatbot dan sistem layanan berbasis AI akan membuat layanan 24/7 lebih realistis, tanpa harus antre di cabang.
6.3. Untuk bank lain & fintech
- BRI sedang mengirim sinyal: transformasi nyata itu multi-dimensi – brand, budaya, pendanaan, organisasi, teknologi.
- Kalau BRI bisa menggabungkan kekuatan jaringan fisik (cabang, unit, agen BRILink) dengan AI dan digital banking, standar kompetisi di industri akan naik.
Buat fintech dan neobank, peluang kolaborasi juga terbuka: dari integrasi API, co-lending, sampai pemanfaatan data bersama (dengan tata kelola privasi yang ketat).
7. Langkah Berikutnya: Dari Rebranding ke AI yang Terlihat Dampaknya
Transformasi BRI baru resmi diumumkan 16/12/2025. Banyak agenda yang masih di tahap awal: pembenahan organisasi, target CASA 70%, penyempurnaan BRImo dan QLola, serta perbaikan proses bisnis mikro–UKM.
Kalau ditarik ke konteks “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, posisinya kira-kira begini:
- Tahap 1: Bereskan pondasi – pendanaan, GCG, budaya, organisasi.
- Tahap 2: Perkuat kanal digital – super app, transaction banking, integrasi data.
- Tahap 3: Skala pemanfaatan AI – credit scoring UMKM, deteksi fraud, personalisasi, chatbot, dan otomatisasi risiko.
BRI sekarang sedang kuat di Tahap 1 dan 2. Tahap 3 adalah ruang bermain berikutnya, dan itu yang menarik untuk dipantau beberapa tahun ke depan.
Bagi Anda yang bergerak di perbankan, fintech, atau UMKM, ini saat yang tepat untuk bertanya:
Jika BRI mulai memadukan kekuatan jaringan fisik terbesar di Indonesia dengan AI dan digital banking, apakah strategi Anda hari ini sudah siap menghadapi standar layanan baru yang akan tercipta?
Era logo baru BRI baru saja dimulai. Era AI di perbankan Indonesia juga begitu. Yang bertahan bukan yang paling besar, tapi yang paling cepat beradaptasi — dengan data, teknologi, dan keberpihakan nyata pada kebutuhan nasabah.