Kisah TPFx di CNBC Indonesia Awards 2025 jadi contoh bagaimana teknologi dan AI mengubah trading berjangka—dan jadi gambaran masa depan digital banking Indonesia.
TPFx & AI: Saat Trading Berjangka Ketemu Era Digital Banking
Pertumbuhan bisnis pialang berjangka di Indonesia beberapa tahun terakhir tidak main‑main. Di tengah gejolak global, volume transaksi tetap naik, pemain makin banyak, dan regulator makin rapi. Di acara CNBC Indonesia Awards 2025 bertema “Turning Turbulence into Triumph” pada 11/12/2025, Trijaya Pratama Futures (TPFx) dinobatkan sebagai “Best Performing Broker Award”.
Penghargaan ini bukan cuma soal angka transaksi. Di baliknya ada cerita tentang transformasi digital, inovasi platform seperti MetaTrader 5 (MT5), dan cara baru mendekati nasabah lewat edukasi dan pengalaman trading yang lebih “asik” dan canggih. Polanya mirip dengan yang lagi terjadi di perbankan Indonesia: digital banking yang pelan‑pelan makin ditenagai AI.
Di seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking” ini, kita pakai kisah TPFx sebagai contoh nyata bagaimana teknologi – termasuk AI – mengubah cara orang berinteraksi dengan produk keuangan, dari bursa berjangka sampai mobile banking.
Dari TPFx ke Perbankan: Benang Merah Digitalisasi Layanan Keuangan
Intinya, apa yang dilakukan TPFx di bursa berjangka adalah cermin dari apa yang sedang dan akan terjadi di perbankan: semua bergeser ke digital, berbasis data, dan makin personal.
Komisaris Utama TPFx, Melanie Armelia Desky, menegaskan bahwa:
Prospek bisnis pialang berjangka di Indonesia terus tumbuh seiring transformasi dan adopsi teknologi digital.
Ada tiga benang merah yang relevan untuk bank dan fintech di Indonesia:
-
Digital dulu, offline belakangan
Nasabah mulai terbiasa buka akun, setor dana, sampai eksekusi transaksi langsung dari aplikasi. Di bank, kita lihat tren serupa: buka rekening, ajukan KTA, sampai KPR bisa mulai dari smartphone. -
Edukasi jadi senjata utama
TPFx mengaku konsisten edukasi hampir 20 tahun. Hasilnya, minat investasi di bursa berjangka naik. Di bank, edukasi keuangan digital & literasi investasi sama pentingnya kalau ingin mendorong tabungan ke produk berimbal hasil lebih tinggi. -
Teknologi transaksi sebagai “panggung utama”
TPFx mengembangkan platform digital dan mengadopsi MetaTrader 5 (MT5). Di dunia bank, analoginya adalah aplikasi mobile banking dan super app yang diperkuat AI untuk rekomendasi produk, analitik transaksi, sampai deteksi fraud.
Realitasnya, baik di trading berjangka maupun perbankan, pemenang ke depan adalah yang paling serius menggarap teknologi + pengalaman pengguna (user experience).
Cara TPFx Bikin Trading Makin Asik & Canggih
TPFx tidak sekadar menyediakan akses ke bursa berjangka. Mereka membungkusnya dengan platform, fitur, dan edukasi sehingga trading terasa lebih mudah diakses, bahkan untuk pemula.
1. Platform canggih: MetaTrader 5 & inovasi digital
Penggunaan MetaTrader 5 (MT5) jadi salah satu pilar digital TPFx. Untuk trader, ini artinya:
- Eksekusi order lebih cepat dan transparan
- Akses banyak instrumen (forex, indeks, komoditas, CFD) dalam satu tempat
- Fitur charting, indikator teknikal, dan expert advisor (robot trading) yang bisa dikustom
Kalau di-banking-kan, MT5 itu mirip aplikasi mobile banking yang bukan cuma buat cek saldo, tapi sudah:
- Menampilkan dasbor keuangan pribadi
- Memberi rekomendasi pengeluaran & tabungan berbasis AI
- Menyediakan fitur investasi reksa dana, SBN, emas, dalam satu tampilan
2. Edukasi berkelanjutan: dari webinar sampai komunitas
Selama hampir 20 tahun operasi, TPFx menggarap edukasi secara agresif. Biasanya bentuknya:
- Kelas trading (online/offline)
- Webinar tematik (manajemen risiko, strategi, psikologi trading)
- Konten edukatif di media sosial
- Pendampingan analis untuk nasabah
Strategi ini membuat minat investasi di bursa berjangka meningkat.
Di perbankan, pendekatan yang sama bisa diterjemahkan menjadi:
- Konten edukasi finansial di aplikasi bank
- Simulasi kredit dan investasi langsung dari HP
- Chatbot edukatif bertenaga AI yang menjawab pertanyaan awam dengan bahasa “manusia”
3. Fokus pada pengalaman pengguna: trading yang “asik”
Istilah “asik dan canggih” yang diangkat CNBC Indonesia bukan kebetulan. Banyak orang masih melihat bursa berjangka sebagai:
- Rumit
- Berisiko tinggi
- Hanya untuk “trader profesional”
TPFx berusaha membalik kesan itu dengan:
- Antarmuka yang lebih bersih dan mudah dipahami
- Laporan transaksi dan portofolio yang rapi
- Respons customer support yang cepat
- Edukasi risiko yang jujur, bukan janji profit instan
Bank digital yang serius membangun loyalitas nasabah bisa belajar dari sini: bikin fitur yang relevan, bukan cuma menambahkan menu baru yang bikin aplikasi makin penuh tapi membingungkan.
Peran AI: Dari Robot Trading ke Smart Digital Banking
Di ekosistem TPFx, banyak trader sudah mengenal robot trading di MT5 melalui expert advisor. Walaupun tidak selalu berbasis AI canggih, logikanya sama:
Algoritma menganalisis data pasar dan mengeksekusi order sesuai aturan yang sudah ditetapkan.
Sekarang, bayangkan pendekatan serupa tetapi diterapkan bank Indonesia dengan AI modern.
Contoh konkret penerapan AI di bank yang sejalan dengan tren trading
-
Personalisasi layanan seperti “robot advisor” investasi
- Trading: EA di MT5 menganalisis harga, volume, dan indikator teknikal.
- Perbankan: AI membaca pola transaksi, profil risiko, dan tujuan keuangan nasabah.
Hasilnya: - Rekomendasi produk (reksa dana, deposito, obligasi) yang relevan
- Notifikasi: “pengeluaran makan di luar Anda naik 35% bulan ini, mau atur batas pengeluaran?”
-
Penilaian kredit alternatif (alternative credit scoring)
Banyak UMKM dan pekerja informal tidak punya slip gaji, tapi punya jejak transaksi di rekening, e-wallet, dan marketplace. AI bisa:- Menganalisis aliran kas (cash flow) beberapa bulan
- Mengidentifikasi pola pendapatan musiman
- Menghitung skor risiko lebih akurat daripada sekadar cek BI Checking
Dampaknya ke inklusi keuangan mirip dengan saat TPFx membantu nasabah ritel masuk ke bursa berjangka:
- Lebih banyak orang punya akses pembiayaan formal
- Produk bisa disesuaikan dengan profil risiko nyata, bukan asumsi kasar
-
Deteksi fraud dan keamanan transaksi real-time
Di trading, anomali harga dan pola order bisa dianalisis algoritma. Di bank, AI:- Mendeteksi transaksi mencurigakan yang tidak sesuai pola nasabah
- Mengirim peringatan dan bahkan menunda transaksi untuk verifikasi
- Mengurangi kerugian akibat penipuan dan social engineering
-
Chatbot bahasa Indonesia yang benar‑benar membantu
Nasabah tidak mau lagi sekadar disodori menu IVR panjang atau chatbot yang hanya menjawab FAQ kaku. AI bahasa Indonesia yang matang bisa:- Menjawab pertanyaan kompleks (bedanya KPR anuitas vs efektif, misalnya)
- Menjelaskan biaya, bunga, dan risiko dengan bahasa lugas
- Mengarahkan nasabah ke produk tepat tanpa harus ke cabang
Mirip dengan trader yang terbantu indikator dan robot di MT5, nasabah bank akan terbantu “co‑pilot” finansial yang selalu aktif di aplikasi.
Inklusi Keuangan: Dari Bursa Berjangka ke Dompet Digital Rakyat
Satu benang merah lain antara TPFx dan bank digital: inklusi keuangan.
TPFx, lewat edukasi dan platform digital, membantu:
- Masyarakat mengenal aset seperti emas, indeks, atau komoditas
- Individu yang dulunya cuma nabung di tabungan biasa mulai belajar diversifikasi
Di sisi lain, bank dan fintech bisa menggunakan AI untuk mengakselerasi inklusi keuangan dalam beberapa cara:
1. Onboarding nasabah yang lebih mudah & aman
- KYC digital dengan face recognition dan e‑KTP
- Verifikasi otomatis mengurangi antrean di cabang
- AI memvalidasi dokumen dan mengurangi human error
Hasilnya mirip dengan nasabah TPFx yang cukup registrasi online untuk mulai trading: friksi masuk ke sistem keuangan formal makin rendah.
2. Produk keuangan mikro yang benar‑benar pas
Dengan analitik data dan AI, bank bisa:
- Menawarkan limit kredit mikro yang sesuai kemampuan bayar
- Menyusun cicilan fleksibel mengikuti pola pendapatan
- Menghindari over‑indebtedness yang sering terjadi kalau penilaian manual asal setujui
Ini seperti memberi “lot size” yang pas untuk trader ritel, bukan langsung dipaksa ke volume besar yang berisiko.
3. Edukasi finansial yang terasa personal
Daripada cuma kirim artikel generik, AI memungkinkan:
- Edukasi berbasis pola transaksi (misal: “Kamu sering tarik tunai di ATM jaringan lain, biaya bulananmu naik sekian rupiah”)
- Simulasi tujuan keuangan (DP rumah, dana pensiun, dana pendidikan) langsung di aplikasi
- Bahasa yang disesuaikan: formal, santai, atau campuran, tergantung kebiasaan pengguna
Pendekatannya mirip kelas edukasi trading TPFx, hanya saja dimasukkan ke dalam alur penggunaan aplikasi bank.
Apa yang Bisa Dipelajari Bank dari Strategi Digital TPFx?
Kalau disederhanakan, ada beberapa pelajaran praktis dari cara TPFx membangun bisnis pialang berjangka di era digital yang sangat relevan untuk bank di Indonesia.
1. Jadikan teknologi sebagai “tulang punggung”, bukan aksesori
TPFx tidak berhenti di slogan digital. Mereka mengadopsi MT5 dan mengembangkan platform secara serius.
Untuk bank, artinya:
- Core banking, aplikasi, dan sistem analitik harus benar‑benar terintegrasi
- Investasi di AI bukan proyek satu kali, tapi perjalanan jangka panjang
- Setiap fitur digital harus menjawab masalah nyata nasabah, bukan sekadar ikut tren
2. Edukasi bukan nice to have, tapi faktor pertumbuhan
TPFx membuktikan edukasi yang konsisten berkorelasi dengan naiknya minat investasi di bursa berjangka.
Bank bisa meniru pola ini dengan:
- Menjadwalkan kampanye edukasi rutin di aplikasi
- Menggunakan AI untuk mengirim konten sesuai kebutuhan masing‑masing nasabah
- Mengukur dampak edukasi ke perilaku (misalnya, peningkatan tabungan, penurunan penarikan tunai berlebihan)
3. Pengalaman pengguna harus “asik”, tapi tetap jujur soal risiko
Trading berjangka berisiko tinggi, begitu juga produk bank tertentu (kredit konsumtif, investasi pasar modal). Pendekatan sehat adalah:
- UI/UX yang ramah, cepat, dan jelas
- Penjelasan risiko yang tampil di momen yang tepat (misal sebelum klik “Setuju”)
- Fitur risk alert berbasis AI (contoh: peringatan jika cicilan sudah di atas persentase sehat dari pendapatan)
4. Bangun kepercayaan lewat transparansi data
Trader butuh transparansi harga dan eksekusi. Nasabah bank butuh:
- Rincian biaya yang jelas di setiap transaksi
- Riwayat dan alasan penolakan kredit yang mudah dipahami
- Kontrol terhadap data pribadi yang dipakai AI untuk analitik
AI yang kuat tanpa kepercayaan hanya akan menambah kecurigaan. Kepercayaan adalah mata uang utama di era digital banking.
Menatap 2026: Saat AI Jadi “Mesin di Balik Layar” Keuangan Indonesia
Cerita TPFx di CNBC Indonesia Awards 2025 menunjukkan bahwa perusahaan yang berani serius di digital dan edukasi bisa bersinar, bahkan di tengah turbulensi global. Bursa berjangka yang dulu terasa eksklusif, pelan‑pelan jadi lebih mudah diakses.
Di perbankan, kita sedang berada di titik yang sama. AI dalam industri perbankan Indonesia bukan lagi konsep masa depan, tapi sudah terlihat di:
- Chatbot cerdas di aplikasi bank
- Skor kredit alternatif untuk UMKM
- Deteksi fraud real-time
- Personalisasi rekomendasi produk keuangan
Langkah berikutnya adalah menggabungkan semua itu menjadi pengalaman digital banking yang terasa senatural ngobrol dengan konsultan keuangan pribadi, tapi skalanya jutaan nasabah.
Kalau Anda pelaku industri keuangan, pertanyaannya sederhana:
Apakah strategi digital Anda hari ini sudah sekuat TPFx menggarap bursa berjangka, dan apakah AI sudah ditempatkan sebagai “mesin di balik layar” yang benar‑benar membantu nasabah, bukan sekadar jargon di presentasi?
Karena ke depan, baik di bursa berjangka maupun di perbankan, pemain yang menang adalah yang paling cepat menggabungkan teknologi, AI, dan empati ke dalam satu pengalaman digital yang utuh.