RUPSLB BRI bukan sekadar agenda formal. Langkah ini menguatkan tata kelola, mematangkan strategi 2026, dan membuka ruang besar bagi adopsi AI di perbankan Indonesia.
Strategi BRI 2026: Tata Kelola Kuat, Lompatan AI & Digital
Sebagian besar bank bicara soal digitalisasi, tapi angka sering kali membongkar mana yang benar-benar serius. BRI menutup Triwulan III-2025 dengan total aset Rp2.123 triliun, kredit tumbuh 6,26% yoy, dan laba bersih konsolidasian Rp41,23 triliun. Di saat yang sama, NPL dijaga di 3,1% dengan NPL coverage 183,1%. Itu bukan cuma cerita soal cuan, tapi soal tata kelola risiko yang rapi.
RUPSLB BRI pada 17/12/2025 mungkin kelihatan seperti acara korporasi rutin. Tapi kalau dilihat dari kacamata AI dalam perbankan dan era digital banking, ini sebenarnya fondasi penting untuk akselerasi strategi 2026: memperkuat tata kelola, merapikan struktur pengurus, lalu menyiapkan bank yang siap main di “liga besar” AI—dari deteksi fraud sampai analitik kredit berbasis data besar.
Tulisan ini membahas bagaimana keputusan RUPSLB BRI tersambung langsung dengan agenda digitalisasi dan AI perbankan Indonesia, dan apa dampaknya bagi nasabah, pelaku UMKM, sampai profesional keuangan yang lagi cari partner bank yang serius di teknologi.
1. RUPSLB BRI: Di Balik Angka, Ada Agenda Digital & AI
RUPSLB BRI menyetujui tiga hal besar:
- Perubahan Anggaran Dasar Perseroan
- Pendelegasian kewenangan persetujuan RKAP 2026
- Perubahan susunan Direksi dan Komisaris
Secara permukaan, ini terlihat sangat legal dan struktural. Tapi untuk konteks AI dalam industri perbankan, tiga poin ini krusial karena:
- Anggaran Dasar yang diperbarui memungkinkan model bisnis konglomerasi keuangan yang lebih kompleks, termasuk integrasi data lintas entitas untuk AI analytics.
- Pendelegasian RKAP 2026 mempercepat proses pengambilan keputusan, termasuk alokasi budget untuk proyek digital banking dan AI.
- Susunan direksi baru, dengan posisi penting seperti Direktur Information Technology, Risk Management, dan Finance & Strategy, jadi trio kunci untuk mengawal investasi AI yang agresif tapi tetap prudent.
Realitasnya: AI yang kuat tanpa tata kelola kuat itu bahaya. Langkah BRI di RUPSLB ini adalah upaya merapikan “kerangkanya” dulu sebelum menambah “otot” teknologi.
2. Penguatan Tata Kelola: Syarat Utama AI Perbankan yang Aman
Jawaban singkatnya: AI nggak akan jalan maksimal kalau struktur hukum dan tata kelola bank masih setengah matang.
BRI menyesuaikan Anggaran Dasar dengan:
- UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN (diubah terakhir dengan UU Nomor 16 Tahun 2025)
- POJK 30 Tahun 2024 tentang Konglomerasi Keuangan dan Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan
Kenapa ini relevan untuk AI dan digital banking?
-
Manajemen data lintas entitas
Di konglomerasi keuangan, data nasabah tersebar: bank, multifinance, asuransi, dan lain-lain. POJK 30/2024 mendorong pengaturan perusahaan induk dan pengawasan terintegrasi. Untuk AI, ini artinya:- Data bisa dikelola lebih terstruktur dan terstandar
- Model machine learning bisa dilatih dengan data yang lebih kaya, tapi tetap sesuai aturan privasi dan keamanan
-
Hak khusus Saham Seri A Dwiwarna
Negara sebagai pemegang saham pengendali lewat Saham Seri A Dwiwarna tetap punya hak istimewa. Dari sisi AI & digital:- Menjamin bahwa inovasi teknologi tetap berada di jalur kepatuhan dan mandat BUMN: inklusi keuangan, UMKM, dan stabilitas sistem keuangan
- Menjaga agar proyek digitalisasi tidak hanya mengejar profit jangka pendek, tapi juga visi jangka panjang
-
Pengawasan risiko yang lebih ketat
AI di perbankan membawa risiko baru: model risk, data bias, sampai potensi penyalahgunaan data. Dengan tata kelola berbasis regulasi konglomerasi keuangan, bank dipaksa punya:- Model validation yang jelas untuk algoritma AI
- Struktur komite risiko yang paham risiko digital dan siber
- Mekanisme audit untuk sistem AI, bukan cuma produk konvensional
Kalau kamu pelaku bisnis atau profesional keuangan, bank dengan tata kelola kuat seperti ini lebih menarik karena satu hal: risiko operasional dan regulasinya lebih terkendali, terutama ketika AI makin dalam dipakai di proses inti bank.
3. RKAP 2026: Momentum Besar untuk Investasi AI & Digital Banking
Poin penting dari RUPSLB: Dewan Komisaris mendapat mandat untuk menyetujui RKAP 2026 (dengan persetujuan tertulis pemegang saham Seri B terbanyak).
Artinya apa untuk agenda AI dan digital banking?
Kecepatan keputusan = kecepatan inovasi
AI dan teknologi digital bergerak cepat. Menunggu RUPS tahunan untuk setiap keputusan besar bisa bikin bank ketinggalan.
Dengan pendelegasian ini, beberapa hal jadi lebih mungkin:
-
Percepatan investasi infrastruktur AI
Seperti data lake, cloud computing, dan platform analitik real-time. -
Eksperimen produk digital
Misalnya uji coba credit scoring alternatif untuk segmen ultra mikro, atau model behavioural scoring berbasis transaksi dan pola penggunaan aplikasi. -
Peningkatan anggaran keamanan siber & fraud detection
Karena setiap peningkatan channel digital pasti diikuti risiko serangan digital yang lebih tinggi.
Di mana AI berperan dalam akselerasi kinerja 2026?
Beberapa area yang sangat masuk akal untuk jadi prioritas BRI (dan bank lain di Indonesia) pada 2026:
-
Deteksi fraud berbasis AI
- Analisis jutaan transaksi secara real-time
- Mencari pola tidak wajar: transaksi jam tidak lazim, lokasi mencurigakan, perangkat baru, dsb.
- Mengurangi kerugian fraud dan melindungi saldo nasabah ritel hingga korporasi
-
Analisis kredit dan early warning system
- Model prediktif untuk mengantisipasi potensi gagal bayar jauh sebelum terjadi
- Menggabungkan data tradisional (slip gaji, laporan keuangan) dengan data perilaku (riwayat transaksi, pola pembayaran tagihan)
- Mendukung NPL tetap di level terkendali, seperti yang BRI tunjukkan dengan rasio 3,1% dan coverage 183,1%
-
Personalized banking dan rekomendasi produk
- AI menganalisis pola pengeluaran dan simpanan nasabah
- Memberikan rekomendasi produk tabungan, investasi, atau kredit yang lebih relevan
- Di level UMKM, bisa membantu pemilik usaha mendapatkan jenis pembiayaan yang sesuai pola cashflow, bukan hanya jaminan
- Otomasi operasional (back office dan front office)
- Robotic Process Automation (RPA) untuk proses internal (reconciliations, verifikasi berkas)
- Chatbot bahasa Indonesia yang lebih pintar dan natural
- Turnaround time layanan yang lebih cepat, cost-to-income ratio lebih efisien
RKAP 2026 yang diputuskan dengan struktur seperti ini membuat BRI punya ruang manuver luas untuk menggenjot proyek-proyek di atas.
4. Susunan Direksi Baru: Siapa Menjaga AI, Siapa Mengendalikan Risiko?
RUPSLB juga mengesahkan susunan baru Direksi dan Komisaris BRI. Beberapa posisi sangat strategis untuk era digital dan AI:
-
Direktur Utama: Hery Gunardi
Memegang arah besar, termasuk keberlanjutan strategi digital dan fokus UMKM/ mikro. -
Wakil Direktur Utama: Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari
Posisi ini biasanya jadi jembatan antara strategi, eksekusi bisnis, dan transformasi. -
Direktur Information Technology: Saladin Dharma Nugraha Effendi
Ini “pemilik rumah” untuk infrastruktur digital, core banking, platform AI, keamanan data. -
Direktur Manajemen Risiko: Ety Yuniarti*
Kritis untuk memastikan semua inisiatif AI dan digital punya kerangka risk governance yang jelas. -
Direktur Finance and Strategy: Achmad Royadi*
Menentukan prioritas investasi teknologi dan mengukur dampak finansialnya. -
Direktur Consumer Banking & Micro/Consumer-related:
Menghubungkan pemanfaatan AI ke pengalaman nyata nasabah ritel dan pelaku usaha mikro.
Tanda bintang (*) menunjukkan masih menunggu persetujuan OJK, yang lagi-lagi menegaskan: bahkan pengangkatan pengelola yang akan menyentuh dunia AI pun harus lulus uji tata kelola dan regulasi.
Mengapa struktur direksi penting untuk AI?
AI bukan proyek satu direktorat. Supaya efektif:
- IT memegang teknologi dan data
- Risk memastikan AI tidak menciptakan risiko baru yang tak terkendali
- Finance & Strategy menjaga ROI dan keberlanjutan
- Business line (Micro, Consumer, Corporate, Treasury) memastikan teknologi benar-benar menjawab kebutuhan nasabah
Kalau satu sisi terlalu dominan—misalnya IT kuat tapi Risk lemah—AI jadi “senjata makan tuan”. Struktur BRI setelah RUPSLB ini justru mengarah ke keseimbangan antara inovasi dan kehati-hatian.
5. Kinerja Keuangan BRI: Bukti Bahwa Digital & AI Bukan Sekadar Gimmick
Angka-angka BRI per Triwulan III-2025 memberi konteks kenapa mereka cukup percaya diri mengakselerasi strategi 2026:
- Total aset: Rp2.123 triliun
- Pertumbuhan kredit & pembiayaan: 6,26% yoy
- DPK: Rp1.475 triliun, tumbuh 8,25% yoy
- Komposisi dana murah (CASA): 67,7%
- NPL: 3,1% dengan NPL coverage 183,1%
- Laba bersih konsolidasian: Rp41,23 triliun
- ROA: 2,7%
- ROE: 17,0%
- CAR (konsolidasi/bank only): 25,4% dan 23,0%
Apa hubungannya dengan AI dan digital banking?
-
CASA tinggi berarti nasabah sudah nyaman dengan layanan bank
Biasanya didukung oleh kanal digital yang kuat: mobile banking, internet banking, dan jaringan agen. Di sinilah AI bisa memperhalus pengalaman nasabah, misalnya lewat antarmuka yang lebih personal. -
NPL dan NPL coverage sehat mengindikasikan risk management yang kuat
Itu pondasi bagus untuk mengintegrasikan AI-based credit scoring dan early warning system tanpa takut sistem keok ketika ekonomi bergejolak. -
CAR tebal memberi ruang untuk ekspansi bisnis dan investasi teknologi
Bank dengan modal kuat lebih leluasa mengucurkan capex untuk data center, cloud, pelatihan tim data, dan proyek AI jangka panjang. -
Laba besar memberi ruang untuk belajar dan eksperimen
Transformasi digital yang serius selalu butuh fase "belajar" yang ROI-nya nggak langsung kelihatan. BRI punya buffer finansial untuk itu.
Bagi pelaku usaha, profesional keuangan, atau pemilik UMKM, kombinasi kinerja keuangan yang kuat dan arah digital yang jelas artinya satu: kemungkinan produk dan layanan yang lebih cepat, lebih tepat sasaran, dan lebih inklusif pada 2026 ke depan.
6. Apa Artinya untuk Masa Depan AI dalam Perbankan Indonesia?
BRI bukan satu-satunya bank yang bertransformasi, tapi posisinya sebagai bank dengan fokus mikro dan UMKM menjadikannya contoh penting: kalau AI bisa bekerja di skala BRI, dengan jutaan nasabah mikro, maka AI benar-benar bisa mendorong inklusi keuangan.
Beberapa arah yang hampir pasti akan menguat di 2026:
- AI untuk skor kredit alternatif nasabah tanpa riwayat kredit formal
- Deteksi fraud digital di e-channel dan transaksi QRIS
- Chatbot dan virtual assistant berbahasa Indonesia yang makin natural, membantu nasabah di luar jam kerja kantor
- Personalized offer untuk tabungan, pinjaman, hingga investasi ritel
Sebagai bagian dari seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”, kasus BRI ini menunjukkan satu hal penting:
Transformasi AI yang sehat selalu dimulai dari tata kelola yang kuat, struktur pengurus yang tepat, dan kejelasan strategi bisnis.
Kalau Anda:
- Perusahaan yang sedang memilih bank mitra untuk transaksi besar dan pembiayaan,
- UMKM yang ingin akses kredit lebih mudah dan cepat,
- Atau profesional yang ingin bekerja sama dalam solusi fintech dan AI,
maka 2026–2027 adalah periode yang tepat untuk mulai menilai: bank mana yang betul-betul serius membangun fondasi AI, bukan hanya memasang label “digital” di permukaan.
Pada akhirnya, perbankan Indonesia akan bergerak ke arah yang sama: lebih digital, lebih berbasis data, dan lebih banyak mengandalkan AI. Perbedaannya ada di satu titik: siapa yang berhasil menggabungkan teknologi dengan tata kelola yang rapi dan keberpihakan pada nasabah. Di titik itu, langkah BRI lewat RUPSLB dan strategi 2026 layak diamati dekat-dekat.