Strategi Baru BRI: Menang di Desa, Cerdas di Kota dengan AI

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking••By 3L3C

BRI mengubah strategi: menang di desa, agresif di kota, dengan ekosistem bisnis dan dukungan AI untuk inklusi keuangan dan digital banking yang lebih cerdas.

BRIAI perbankandigital bankinginklusi keuanganUMKMekosistem bisnisstrategi bank
Share:

Featured image for Strategi Baru BRI: Menang di Desa, Cerdas di Kota dengan AI

BRI Sedang Berubah: Dari Bank Desa ke Ekosistem Digital Nasional

Selama 10 tahun terakhir, lebih dari 50% rekening bank baru di Indonesia dibuka oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, banyak di antaranya tinggal di desa dan kota kecil. Di sisi lain, transaksi digital melonjak, mobile banking makin jadi pilihan utama, dan bank dituntut hemat biaya sekaligus makin personal dalam melayani nasabah.

Di tengah tekanan itu, BRI tidak lagi cukup hanya dikenal sebagai “banknya orang desa” atau “bank UMKM”. Lewat strategi rebranding dan transformasi menuju universal bank, BRI ingin menang di dua dunia: tetap kuat di akar rumput pedesaan, tapi juga agresif dan relevan di pusat-pusat ekonomi perkotaan.

Artikel ini membedah arah baru BRI tersebut, lalu mengaitkannya dengan tema besar seri “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”: bagaimana kecerdasan buatan bisa memperkuat strategi desa–kota BRI, mendorong inklusi keuangan, dan membuka peluang baru bagi UMKM dan generasi muda.


Arah Baru BRI: Ekosistem, Bukan Sekadar Produk

Inti dari strategi baru BRI adalah bergeser dari bank dengan segmen terpisah menjadi bank berbasis ekosistem.

Komisaris Utama BRI, Kartika Wirjoatmodjo, menekankan bahwa BRI ingin menyatukan seluruh segmen bisnis—korporasi, komersial, konsumer, hingga mikro—dalam satu ekosistem yang saling terhubung melalui rantai pasok (supply chain).

Ide besarnya: nasabah mikro BRI bukan lagi berdiri sendiri, tapi menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan besar, BUMN, koperasi, hingga program pemerintah.

Apa artinya ekosistem bagi nasabah?

Bagi pelaku UMKM, pendekatan ekosistem berarti:

  • Akses pembiayaan lebih terukur: bank melihat data transaksi di rantai pasok (misal, UMKM pemasok pabrik besar), sehingga penilaian kredit bisa lebih akurat.
  • Pendampingan lebih terarah: pelatihan, kurasi produk, dan dukungan bisnis yang disesuaikan dengan sektor atau klaster usaha.
  • Akses pasar yang lebih luas: bukan cuma jual ke tetangga atau pasar lokal, tapi bisa masuk ke jaringan distribusi nasional.

Bagi segmen korporasi dan komersial, ekosistem berarti mereka mendapat:

  • Jaringan pemasok dan distributor yang lebih kuat (UMKM binaan BRI)
  • Skema pembiayaan terintegrasi dari hulu ke hilir

Di sinilah AI dan digital banking mulai jadi “mesin” yang membuat ekosistem ini jalan secara efisien.


Menang di Desa: AI sebagai Mesin Inklusi Keuangan

BRI sudah lama punya keunggulan di pedesaan melalui unit, agen BRILink, dan penyaluran KUR. Strategi baru “menang di desa” bukan sekadar membuka lebih banyak kantor, tapi menggunakan teknologi untuk membuat layanan di desa jadi lebih pintar dan murah.

1. Skoring Kredit Alternatif untuk Petani dan UMKM Desa

Banyak pelaku usaha di desa tidak punya slip gaji, laporan keuangan rapi, atau jaminan formal. Di sinilah AI dalam penilaian kredit (credit scoring) bisa mengubah permainan.

Contoh penerapan:

  • Menggunakan data transaksi dari agen BRILink, e-commerce lokal, atau pembayaran digital sebagai dasar penilaian risiko.
  • Memanfaatkan data pola pembayaran KUR sebelumnya untuk memprediksi kemampuan bayar.
  • Menggabungkan data sektor (harga komoditas, musim tanam, pola panen) untuk memperkirakan arus kas petani.

Hasilnya, petani dan UMKM desa yang sebelumnya dianggap “tidak bankable” bisa mendapatkan akses kredit dengan bunga dan limit yang lebih adil.

2. Chatbot & Asisten Virtual Berbahasa Indonesia (dan Daerah)

Banyak nasabah desa sungkan bertanya soal produk, takut salah, atau sekadar bingung istilah perbankan. Chatbot berbasis AI di aplikasi mobile atau WhatsApp bisa:

  • Menjawab pertanyaan sederhana: cara buka rekening, cek saldo, syarat KUR, cara bayar cicilan
  • Menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan lokal (misalnya: “cicilan per bulan”, bukan “angsuran per tenor”)
  • Aktif mengingatkan jatuh tempo cicilan secara personal

Untuk masyarakat desa yang mulai melek smartphone, ini sangat membantu mengurangi jarak pengetahuan antara nasabah dan bank.

3. Deteksi Fraud di Agen dan Transaksi Tunai-Digital

Distribusi layanan lewat agen BRILink di desa sangat efektif, tapi juga membawa risiko fraud dan penyalahgunaan.

AI bisa digunakan untuk:

  • Mengidentifikasi pola transaksi mencurigakan di agen tertentu (misal, transaksi refund berulang, setoran tunai tidak wajar)
  • Mendeteksi potensi pencucian uang dalam jumlah kecil tapi berulang
  • Memberi peringatan dini ke tim risiko BRI dan membekukan transaksi sebelum kerugian membesar

Ini penting agar ekspansi di desa tetap aman, dipercaya, dan tidak “bocor” di tengah jalan.


Agresif di Kota: Personalisasi Layanan dengan Data & AI

Pasar perkotaan sudah penuh pemain: bank besar, bank digital, fintech, dan paylater. Kalau BRI mau agresif di kota, kuncinya bukan hanya aplikasi rapi, tapi personalisasi berbasis data.

1. Rekomendasi Produk yang Tepat Sasaran

Di kota, perilaku nasabah sangat beragam: ada yang fokus investasi, ada yang konsumtif, ada yang pebisnis online. AI bisa menganalisis pola transaksi dan memberikan penawaran yang relevan, misalnya:

  • Menawarkan kartu kredit atau paylater ke nasabah yang sering belanja online dengan batas aman
  • Menyarankan reksadana atau SBN ke nasabah dengan saldo mengendap besar
  • Menawarkan fasilitas modal kerja digital ke pemilik toko online yang omzetnya stabil

Bukan spam promo, tapi rekomendasi yang terasa masuk akal dan bermanfaat.

2. Pengalaman Mobile Banking yang “Belajar” dari Pengguna

Aplikasi perbankan modern idealnya bukan sekadar tempat cek saldo. Dengan AI, mobile banking BRI bisa:

  • Menampilkan menu yang paling sering dipakai di halaman depan (personalized home)
  • Memberi insight pengeluaran bulanan (kategori, tren, pengingat kalau pengeluaran “bocor”)
  • Menawarkan simulasi keuangan: berapa lama nabung untuk DP rumah, dana darurat, atau biaya sekolah anak

Semakin sering digunakan, semakin pintar rekomendasinya. Ini yang membedakan bank biasa dengan bank digital berbasis AI.

3. Integrasi Ekosistem Urban: Transportasi, Belanja, dan Lifestyle

Di kota, BRI bisa memperkuat posisi melalui kolaborasi dengan:

  • Platform transportasi online
  • E-commerce besar dan marketplace lokal
  • Merchant lifestyle (restoran, kafe, hiburan)

AI membantu mengelola program loyalty dan rewards yang lebih presisi:

  • Diskon di merchant yang memang sering dikunjungi nasabah
  • Promo transportasi di jam-jam tertentu berdasarkan pola perjalanan
  • Penawaran cicilan 0% untuk kategori belanja yang relevan, bukan asal tebar promo

Agresif di kota bukan berarti bakar duit, tapi pintar mengalokasikan insentif berbasis data.


Menyatukan Desa dan Kota: Supply Chain sebagai Tulang Punggung

BRI ingin menghubungkan pelaku usaha desa dengan ekonomi kota lewat rantai pasok. Di sinilah konsep ekosistem benar-benar terasa.

Contoh skenario konkret

Bayangkan satu ekosistem agribisnis:

  • Korporasi atau BUMN pangan di kota sebagai offtaker utama
  • Koperasi desa (Kopdes) sebagai pengumpul hasil panen
  • Petani sebagai produsen di desa
  • Layanan logistik yang menghubungkan desa–kota

BRI masuk di semua titik:

  • Membiayai korporasi dan offtaker
  • Memberi kredit modal kerja ke koperasi
  • Menyalurkan KUR dan kredit mikro ke petani
  • Mengelola pembayaran digital dan pencatatan transaksi di sepanjang rantai pasok

Dengan AI, BRI bisa:

  • Memprediksi kebutuhan modal kerja di tiap musim tanam
  • Mengukur risiko gagal bayar bukan hanya dari petani, tapi juga dari kekuatan kontrak offtaker
  • Memberi penilaian portofolio berbasis ekosistem, bukan nasabah per nasabah saja

Hasil akhirnya: risiko lebih menyebar, pembiayaan lebih tepat sasaran, dan desa tidak lagi hanya jadi pemasok bahan mentah tanpa akses ke nilai tambah ekonomi.


Peran Program Pemerintah: Kopdes & Makan Bergizi Gratis

Kartika Wirjoatmodjo menyebut bahwa strategi ekosistem BRI juga diselaraskan dengan program pemerintah seperti penguatan koperasi desa (Kopdes) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di mana teknologi dan AI bisa masuk?

  1. Digitalisasi Kopdes

    • Sistem pencatatan keuangan koperasi berbasis aplikasi
    • Analitik AI untuk menilai kesehatan koperasi dan kebutuhan pembiayaan
    • Integrasi dengan sistem BRI sehingga data koperasi bisa meningkatkan skor kredit anggotanya
  2. Penyaluran dana program sosial (seperti MBG)

    • Verifikasi penerima manfaat menggunakan data kependudukan dan data transaksi
    • Monitoring penggunaan dana agar tepat sasaran dan minim kebocoran
    • Analisis dampak ekonomi lokal (misalnya kenaikan omzet warung, pedagang bahan makanan di desa)

BRI yang sudah punya jaringan luas sampai desa bisa jadi mitra kunci pemerintah, sementara AI membantu menjaga transparansi dan efisiensi program.


Tantangan Nyata: Data, SDM, dan Kepercayaan

Semua ini terdengar ideal, tapi implementasi AI dalam perbankan Indonesia punya beberapa tantangan yang tidak boleh diremehkan.

1. Kualitas dan Integrasi Data

BRI punya jutaan nasabah dengan sistem yang sudah berjalan puluhan tahun. Tantangannya:

  • Mengintegrasikan data lama dan baru (core banking, mobile, agen, koperasi, dll.)
  • Membersihkan data ganda, tidak lengkap, atau tidak konsisten
  • Menjaga keamanan dan privasi data sesuai regulasi

Tanpa fondasi data yang rapi, AI hanya akan menghasilkan insight yang bias atau keliru.

2. Kapasitas SDM dan Budaya Kerja

AI bukan hanya tentang membeli teknologi mahal. Bank perlu:

  • Data scientist, data engineer, dan AI specialist yang mengerti konteks perbankan Indonesia
  • Relationship manager dan petugas lapangan yang mampu menggunakan insight AI dalam keputusan sehari-hari
  • Budaya kerja yang mau mengandalkan data, bukan hanya intuisi

3. Kepercayaan Nasabah

Masyarakat perlu diyakinkan bahwa:

  • Data mereka aman dan tidak disalahgunakan
  • Keputusan AI (misalnya penolakan kredit) tetap bisa diklarifikasi dan diajukan banding
  • Teknologi ini dipakai untuk membantu, bukan mempersulit

Transparansi dan edukasi ke nasabah akan jadi kunci agar transformasi digital ini diterima luas.


Apa Artinya untuk Pelaku Usaha dan Profesional Keuangan?

Bagi pelaku UMKM, profesional keuangan, maupun pengambil keputusan di bank dan fintech, strategi baru BRI memberi beberapa pelajaran penting:

  1. Ekosistem lebih kuat daripada produk tunggal.
    Menghubungkan desa–kota, mikro–korporasi, dan publik–pemerintah menciptakan nilai yang lebih tahan lama.

  2. AI bukan tujuan, tapi alat.
    Fokusnya tetap pada inklusi keuangan, efisiensi, dan pengalaman nasabah. AI hanya membantu mempercepat dan memperdalam.

  3. Desa adalah pasar strategis, bukan sekadar CSR.
    Dengan pendekatan digital dan data, pembiayaan desa bisa dikelola sehat dan menguntungkan.

  4. Kota menuntut personalisasi ekstrem.
    Tanpa pemanfaatan data dan AI, bank mudah kalah dari fintech dan bank digital yang lebih lincah.

Kalau Anda mengelola bisnis, koperasi, atau program pemerintah, ini saat yang tepat untuk mulai bertanya: “Data apa yang saya punya, dan bagaimana saya bisa memanfaatkannya agar lebih menarik di mata bank dan investor?”


Penutup: Masa Depan Bank Indonesia Ada di Desa, Kota, dan Data

Strategi baru BRI—menang di desa, agresif di kota, berbasis ekosistem—sangat selaras dengan arah besar AI dalam industri perbankan Indonesia. Desa memberi volume dan kedalaman inklusi keuangan; kota memberi kompleksitas dan potensi profit; data dan AI menjahit semuanya jadi satu.

Kalau dikelola serius, BRI bukan hanya akan tetap jadi pemain utama di akar rumput, tapi juga menjadi contoh bank nasional yang benar-benar digital dan berbasis data, bukan sekadar punya aplikasi.

Langkah selanjutnya ada di tangan para pelaku usaha, pemimpin keuangan, dan regulator: berani memanfaatkan data, berkolaborasi dalam ekosistem, dan memastikan AI dipakai untuk memperluas akses, bukan memperlebar kesenjangan.

Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah bisnis dan organisasi Anda sudah siap menjadi bagian dari ekosistem digital yang sama—dari desa hingga kota?