Strategi Baru BRI: Menang di Desa, Cerdas di Kota dengan AI

AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital BankingBy 3L3C

BRI ingin menang di desa dan agresif di kota. Kuncinya bukan hanya cabang dan aplikasi, tapi pemanfaatan AI untuk ekosistem UMKM, supply chain, dan digital banking.

BRIAI perbankandigital bankingUMKMinklusi keuanganekosistem bisnissupply chain financing
Share:

Featured image for Strategi Baru BRI: Menang di Desa, Cerdas di Kota dengan AI

Strategi BRI Menang di Desa dan Kota: Kuncinya Ada di Data & AI

BRI sudah menguasai segmen mikro dan pedesaan selama puluhan tahun. Tapi lewat rebranding korporasi yang diluncurkan pada 16/12/2025, arahnya makin jelas: tetap kuat di desa, tapi jauh lebih agresif di kota, dengan pendekatan ekosistem dan supply chain.

Ini menarik untuk dibahas dalam konteks “AI dalam Industri Perbankan Indonesia: Era Digital Banking”. Karena di balik jargon universal bank dan ekosistem bisnis, fondasi nyatanya adalah data, analitik, dan kecerdasan buatan. Tanpa itu, strategi “menang di desa, agresif di kota” hanya jadi slogan.

Di artikel ini, kita bahas bagaimana strategi baru BRI bisa (dan seharusnya) ditopang AI: dari desa, kota, hingga seluruh ekosistem UMKM dan korporasi.


Dari Bank Mikro ke Universal Bank Berbasis Ekosistem

BRI tidak lagi puas hanya dikenal sebagai “bank-nya UMKM”. Melalui transformasi menjadi universal bank, BRI ingin menggarap semua segmen: korporasi, komersial, konsumer, sampai mikro. Bedanya, sekarang semua itu dikaitkan lewat satu kata kunci: ekosistem.

“Dengan pendekatan ekosistem ini harapannya memang kita bisa menyambung antara perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai supply chain, sehingga mikro kita ini juga mikro yang masuk dalam supply chain besar.” — Kartika Wirjoatmodjo, Komisaris Utama BRI

Secara sederhana, BRI ingin:

  • Tidak lagi melihat nasabah secara terpisah (korporasi di satu sisi, mikro di sisi lain)
  • Tapi sebagai rantai nilai utuh: dari perusahaan besar, distributor, koperasi, pedagang, sampai warung di desa

Di sinilah AI mulai terasa relevan

Untuk mengelola ekosistem sebesar itu, pendekatan manual sudah tidak mungkin lagi. Perlu:

  • AI untuk segmentasi nasabah berdasarkan perilaku, pola transaksi, risiko, dan potensi pertumbuhan
  • AI untuk pemetaan supply chain: siapa pemasok siapa, arus barang dan uangnya seperti apa, titik risiko di mana
  • AI untuk scoring kredit alternatif bagi pelaku mikro yang selama ini sulit mengakses kredit formal

Kalau dilakukan benar, BRI bukan sekadar “punya banyak nasabah”, tapi punya data hubungan antar-nasabah. Itu nilai strategis yang jauh lebih besar, dan jadi senjata di era digital banking.


Menang di Desa: Inklusi Keuangan Berbasis Data, Bukan Sekadar Cabang

BRI sudah kuat di desa lewat unit-unit BRI, Agen BRILink, dan penyaluran KUR. Tapi era sekarang menuntut lebih dari sekadar kehadiran fisik. Inklusi keuangan berikutnya ditentukan oleh seberapa cerdas bank membaca data masyarakat desa.

1. AI untuk penilaian kredit pelaku UMKM desa

Selama ini banyak pelaku usaha di desa tidak punya laporan keuangan rapi. Di sinilah AI credit scoring relevan:

  • Menggunakan data transaksi di rekening, e-commerce lokal, QRIS, hingga data bayar listrik/pulsa
  • Mengukur kemampuan bayar tanpa harus menunggu laporan keuangan formal
  • Memberi limit yang dinamis: plafon bisa naik otomatis kalau perilaku bayar bagus

Dampaknya:

  • Akses pembiayaan untuk petani, nelayan, pedagang pasar, dan pelaku UMKM desa naik drastis
  • Risiko kredit bisa ditekan karena model skor lebih presisi dibanding penilaian manual semata

2. Ekosistem desa: Kopdes, MBG, dan program sosial ekonomi

BRI menyebut akan menyelaraskan strategi ekosistemnya dengan:

  • Penguatan koperasi desa (Kopdes)
  • Program sosial ekonomi nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG)

Dengan pendekatan AI, ini bisa naik kelas menjadi ekosistem digital pedesaan:

  • Data penyaluran bantuan sosial, belanja pangan, dan aktivitas koperasi dianalisis
  • Terlihat pola konsumsi, kebutuhan modal kerja, titik rawan gagal bayar
  • Produk pembiayaan dan edukasi keuangan bisa dipersonalisasi per kelompok atau wilayah

3. Chatbot & edukasi keuangan dalam bahasa yang mudah

Banyak masyarakat desa masih sungkan bertanya langsung ke petugas bank. Di sinilah chatbot perbankan berbasis AI bahasa Indonesia dan bahasa daerah bisa jadi jembatan:

  • Menjawab pertanyaan dasar soal tabungan, KUR, cicilan, hingga pinjaman digital
  • Aktif memberi pengingat: jatuh tempo cicilan, promo, hingga tips mengelola arus kas
  • Mengurangi ketergantungan pada tatap muka, tapi tetap terasa “dekat” dan ramah

Menang di desa di 2026 ke depan artinya menang di data dan pemahaman perilaku nasabah, bukan hanya menang di jumlah kantor cabang.


Agresif di Kota: Digital Banking Harus Ditopang AI, Bukan UI Cantik Saja

Untuk wilayah urban, BRI ingin lebih agresif. Artinya harus berhadapan langsung dengan bank digital, fintech, dan super-app yang sudah sangat kuat di kota-kota besar.

Kunci menang di sini: digital banking yang benar-benar cerdas, bukan hanya sekadar aplikasi mobile.

1. Personalisasi layanan digital berbasis AI

Nasabah kota punya ekspektasi berbeda:

  • Tidak mau antri di cabang
  • Ingin produk yang relevan dengan gaya hidup dan profil risiko
  • Sensitif dengan biaya dan kecepatan layanan

AI bisa mengubah aplikasi BRI dari sekadar “aplikasi transaksi” menjadi asisten keuangan pribadi:

  • Rekomendasi produk investasi dan tabungan berdasarkan pola pengeluaran dan profil risiko
  • Next best offer yang kontekstual: misalnya tawaran KTA ringan saat ada pola transaksi renovasi rumah
  • Notifikasi pintar: mengingatkan tagihan, arus kas minus, hingga anomali transaksi mencurigakan

2. Deteksi fraud dan keamanan transaksi real-time

Nasabah kota banyak bertransaksi digital dengan nominal besar dan frekuensi tinggi. Risiko fraud juga lebih tinggi. Di sini AI untuk deteksi fraud wajib ada:

  • Menganalisis pola transaksi abnormal dalam hitungan detik
  • Menghentikan atau menahan transaksi otomatis jika terdeteksi aneh
  • Memberi notifikasi ke nasabah dan meminta konfirmasi cepat

Nasabah yang merasa aman dan dilindungi akan lebih loyal. Ini poin penting kalau BRI ingin kompetitif di pusat ekonomi perkotaan.

3. Integrasi dengan ekosistem urban: e-commerce, transportasi, dan paylater

Ekosistem di kota sangat digital:

  • E-commerce
  • Transportasi online
  • Platform makanan
  • Paylater & cicilan digital

BRI bisa menggunakan AI untuk:

  • Menilai risiko paylater dan pembiayaan konsumtif berbasis data transaksi multi-platform
  • Menentukan skema cicilan yang paling cocok per segmen nasabah
  • Mengoptimalkan promo agar tidak “bakar duit” tapi benar-benar meningkatkan profitabilitas

Singkatnya, agresif di kota tanpa AI dan data analytics yang kuat hanya akan membuat bank kalah cepat dan kalah relevan.


Ekosistem & Supply Chain: Area Paling Menarik untuk AI di BRI

Bagian paling strategis dari pernyataan Komisaris Utama BRI adalah soal mengaitkan pelaku mikro ke supply chain perusahaan besar. Di sinilah peran AI bisa sangat dominan.

1. Pemetaan ekosistem nasabah end-to-end

BRI punya potensi data luar biasa:

  • Nasabah korporasi (pabrik, eksportir, importir)
  • Nasabah komersial dan SME (distributor, subkontraktor)
  • Nasabah mikro dan ultra mikro (warung, reseller, petani plasma)

Dengan AI graph analytics, bank bisa:

  • Memetakan siapa memasok ke siapa, jumlah transaksinya, dan pola perputaran uang
  • Mengukur risiko bukan hanya per nasabah, tapi per rantai pasok
  • Menentukan titik mana yang siap diberi pembiayaan lebih besar

2. Pembiayaan berbasis invoice & kontrak dengan risiko lebih terukur

Setelah supply chain terbaca jelas, BRI bisa mendorong:

  • Pembiayaan invoice dan piutang untuk UMKM yang memasok ke korporasi besar
  • Skema kredit dengan tenor, bunga, dan limit yang sangat spesifik

AI membantu dengan cara:

  • Menilai probabilitas bayar berdasarkan histori bayar perusahaan besar
  • Mengelompokkan UMKM mana yang paling sehat berdasarkan pola penjualan
  • Mengurangi subjektivitas analis kredit manual

Dari sisi UMKM, ini sangat menguntungkan: mereka tidak lagi dinilai hanya dari jaminan, tapi dari kekuatan posisinya di ekosistem bisnis.

3. Menjaga keberlanjutan bisnis UMKM

Kartika menegaskan bahwa pendekatan ekosistem akan menjaga keberlanjutan UMKM. Kalau ditambah AI, keberlanjutan ini bisa dimonitor dengan lebih presisi:

  • Deteksi dini UMKM yang arus kasnya mulai seret
  • Penawaran restrukturisasi atau produk tambahan sebelum benar-benar gagal bayar
  • Saran otomatis: mengatur stok, mengoptimalkan pembayaran ke pemasok, mengatur jadwal cicilan

BRI tidak hanya menjadi pemberi pinjaman, tapi mitra data yang membantu UMKM bertahan dan tumbuh.


Apa Artinya untuk Masa Depan AI di Perbankan Indonesia?

Strategi “menang di desa, agresif di kota” yang dibawa BRI lewat rebranding universal bank dan pendekatan ekosistem sebenarnya menggambarkan arah baru perbankan Indonesia di era AI dan digital banking.

Ada beberapa pelajaran penting:

  1. Inklusi keuangan tidak bisa lagi dipisah dari teknologi AI. Tanpa credit scoring alternatif, chatbot lokal, dan analitik perilaku, desa akan selalu tertinggal.
  2. Bank universal masa kini adalah bank data. Menghubungkan mikro, konsumer, komersial, dan korporasi dalam satu ekosistem supply chain butuh pondasi data yang sangat kuat.
  3. Persaingan di kota dimenangkan oleh kecerdasan aplikasi, bukan sekadar tampilan. Personalisasi, keamanan, dan integrasi ekosistem harus berbasis AI.

Kalau Anda pelaku UMKM, pengelola koperasi desa, profesional di bank, atau founder fintech, ini saat yang tepat untuk bertanya:

Di mana posisi Anda di dalam ekosistem baru ini, dan sudah sejauh apa Anda memanfaatkan AI dalam pengelolaan keuangan dan bisnis?

Era berikutnya bukan lagi sekadar siapa yang punya cabang terbanyak, tapi siapa yang paling paham data nasabahnya dan paling cepat bertindak berdasarkan insight. Dan di titik ini, AI bukan lagi opsi tambahan, tapi fondasi.